📚 Kategori : Kitab Islami
🗂 Bahasa : Arab / Indonesia
⬇️ Server : Google Drive
Meta Description: Mengapa cinta membuat seseorang melihat segala sesuatu menjadi
lebih indah? Simak penjelasan tentang bagaimana orang yang dicintai mampu
memengaruhi selera, perasaan, dan cara pandang manusia.
Pendahuluan
Di antara pengamatan psikologis
paling tajam dari Ibnu Hazm adalah bahwa cinta tidak hanya memilih seseorang;
cinta juga membentuk standar keindahan kita. Setelah seseorang benar-benar
mencintai, ia sering kali tidak lagi menilai rupa, suara, atau gerak-gerik
secara netral. Ciri yang tadinya biasa saja berubah menjadi menawan karena melekat
pada orang yang dicintai. Bahkan setelah hubungan berakhir, preferensi itu
kerap tetap bertahan.
Inilah inti bab “Orang yang
mencintai suatu sifat sehingga tidak lagi menyukai selainnya yang berbeda
darinya”: cinta dapat mengubah peta selera estetika seseorang secara mendalam
dan tahan lama.
Cinta sebagai Kekuasaan atas Jiwa
Ibnu Hazm membuka bab ini dengan
gambaran yang sangat kuat: cinta memiliki hukum, kerajaan, dan kekuasaan atas
jiwa. Ia mampu melunakkan yang keras dan menggoyahkan yang tampak tetap. Ini
bukan hiperbola sastra semata. Dalam pengalaman manusia sehari-hari, kita
memang sering melihat orang yang rasional, terdidik, dan tajam penilaiannya
berubah total dalam urusan cinta.
Poin pentingnya: cinta tidak selalu
menghapus kemampuan berpikir, tetapi ia mengubah pusat gravitasi penilaian.
Seseorang masih tahu bahwa masyarakat umum menganggap ciri tertentu kurang
ideal, namun hatinya tetap memilih ciri itu karena terhubung dengan kenangan,
keakraban, dan pengalaman emosional yang kuat.
Dari Preferensi Menjadi “Tanda Pengenal Cinta”
Ibnu Hazm memberi contoh-contoh
konkret:
Yang menarik, Ibnu Hazm menegaskan
bahwa orang-orang ini bukan orang bodoh. Mereka termasuk kalangan yang cerdas,
beradab, dan tajam pemahamannya. Jadi perubahan selera itu bukan akibat kurang
pengetahuan, melainkan akibat ikatan emosional yang mengakar.
Dalam bahasa modern, kita bisa
menyebutnya sebagai associative preference: otak mengaitkan ciri tertentu
dengan pengalaman cinta yang sangat kuat, lalu memberi “nilai emosional” tinggi
pada ciri tersebut.
Pengakuan Pribadi Ibnu Hazm: Rambut Pirang yang Tak
Terlupakan
Bagian paling jujur dari bab ini
adalah pengakuan Ibnu Hazm tentang dirinya sendiri. Ia menceritakan bahwa pada
masa muda ia mencintai seorang budak perempuan berambut pirang. Sejak itu, ia
tidak lagi menyukai rambut hitam, betapapun indahnya menurut ukuran umum.
“Aku merasakan kecenderungan itu
melekat pada tabiatku sejak waktu tersebut; jiwaku tidak mau berpaling
darinya.”
Ia bahkan menambahkan bahwa ayahnya
mengalami kecenderungan serupa. Di sini Ibnu Hazm membuka kemungkinan bahwa
sebagian preferensi memang bisa menjadi campuran antara pengalaman pribadi,
kebiasaan, dan mungkin kecenderungan keluarga atau budaya.
Tradisi Keluarga dan Selera Dinasti
Ibnu Hazm lalu mengamati para
khalifah keturunan Bani Umayyah, khususnya keturunan Abd al-Rahman III
(al-Nasir). Menurut pengamatannya, mereka cenderung mengutamakan perempuan
pirang dan banyak di antara mereka sendiri berambut pirang serta bermata terang
karena garis keturunan ibu-ibu mereka.
Beliau menyebut beberapa nama
khalifah yang pernah dilihat atau didengar keterangannya, seperti al-Hakam II
(al-Mustansir), Hisham II al-Mu'ayyad, Muhammad al-Mahdi, dan Abd al-Rahman
al-Murtada. Ia bahkan menghubungkan kecenderungan itu dengan puisi Abd al-Malik
ibn Marwan ibn Abd al-Rahman ibn Marwan, yang banyak memuji perempuan berambut
pirang.
Poin pentingnya bukan apakah pirang
“lebih indah”, melainkan bahwa selera estetika sering dibentuk oleh sejarah
keluarga, lingkungan, dan pengalaman cinta yang berulang.
Yang Paling Mengherankan Menurut Ibnu Hazm
Ibnu Hazm mengatakan bahwa yang
paling membuatnya kagum bukanlah orang yang sejak awal memang menyukai ciri
tertentu. Yang benar-benar mengherankan adalah:
Orang yang semula menilai dengan
ukuran objektif, lalu setelah dikuasai cinta, berubah total sehingga sifat yang
dulu ia anggap kurang baik menjadi favoritnya, dan selera lamanya
lenyap—padahal ia masih sadar bahwa dulu ia mengakui keunggulan sifat lain.
Ini adalah deskripsi luar biasa
tentang bagaimana emosi dapat menata ulang prioritas estetika tanpa sepenuhnya
menghapus pengetahuan lama. Seseorang masih tahu bahwa masyarakat menganggap
ciri A lebih ideal daripada ciri B, tetapi hatinya tetap memilih B karena B
terhubung dengan cinta.
Apakah Ini Rasional?
Ibnu Hazm tidak menyebutnya
irasional. Ia menyebutnya dominasi cinta atas jiwa. Dalam pengalaman manusia,
banyak keputusan estetika memang tidak murni hasil logika. Musik yang
mengingatkan kita pada seseorang terasa lebih indah. Tempat yang pernah menjadi
lokasi pertemuan terasa lebih berharga. Aroma tertentu membangkitkan kerinduan.
Begitu pula ciri fisik tertentu.
Jadi yang berubah bukan sekadar
penilaian intelektual, melainkan jaringan makna emosional yang melekat pada
objek tersebut.
Cinta, Memori, dan Kebiasaan
Bab ini juga memberi petunjuk
penting tentang hubungan cinta dan memori. Ketika seseorang lama hidup bersama
orang yang dicintai, otaknya membangun asosiasi berulang:
|
Pengalaman |
Makna
emosional |
|
Wajah tertentu |
Rasa aman, rindu, kebahagiaan |
|
Warna rambut tertentu |
Keintiman dan kenangan |
|
Suara atau cara bicara tertentu |
Kehadiran orang yang dicintai |
|
Bentuk tubuh tertentu |
Pengalaman bersama |
Setelah asosiasi itu mengakar,
preferensi dapat bertahan bahkan ketika hubungan telah berakhir. Inilah
sebabnya sebagian orang bertahun-tahun kemudian masih tertarik pada tipe wajah,
warna rambut, atau gaya bicara yang mengingatkan mereka pada cinta pertama.
Mengapa Ini Relevan Hari Ini?
Di era media sosial, banyak orang
mengira selera dibentuk murni oleh standar publik: tren kecantikan, algoritma,
influencer, atau budaya populer. Ibnu Hazm mengingatkan bahwa pengalaman
pribadi sering jauh lebih kuat daripada standar umum.
Dua orang bisa hidup dalam budaya
yang sama, melihat iklan yang sama, dan mengenal standar kecantikan yang sama,
tetapi jatuh cinta pada tipe yang sangat berbeda karena sejarah emosional
mereka berbeda.
Pelajaran ini penting agar kita tidak
mudah meremehkan selera orang lain. Apa yang tampak “biasa” bagi kita mungkin
memiliki makna emosional yang sangat dalam bagi orang lain.
Batas yang Perlu Dijaga
Meski demikian, ada bahaya jika
preferensi emosional dijadikan ukuran mutlak untuk menilai seluruh manusia.
Cinta dapat membentuk selera, tetapi ia tidak boleh membuat kita menolak
kebaikan, akhlak, atau nilai yang lebih penting. Seseorang boleh menyukai tipe
tertentu, namun tidak bijak jika menganggap semua selain tipe itu tidak layak
dihargai.
Ibnu Hazm sendiri menulis bab ini
sebagai pengamatan tentang kekuasaan cinta, bukan sebagai aturan bahwa setiap
orang harus mempertahankan preferensi sempit sepanjang hidupnya.
Penutup
Bab ini menyimpan satu pelajaran
besar: cinta tidak hanya memilih objek yang dicintai; ia membentuk cara kita
melihat keindahan itu sendiri. Setelah hati benar-benar terpaut, ciri yang
melekat pada orang yang dicintai dapat berubah menjadi standar kecantikan
pribadi yang bertahan lama. Karena itu manusia sering kali tidak jatuh cinta
pada “yang paling indah menurut semua orang”, melainkan pada “yang paling
bermakna bagi hatinya”.
Dan di situlah kekuatan cinta yang
paling halus: ia mengubah bukan hanya siapa yang kita cintai, tetapi juga apa
yang kita anggap indah.
Pesan
moral
Jangan menganggap selera manusia
sepenuhnya ditentukan oleh standar umum. Cinta, kenangan, dan kebersamaan dapat
membentuk preferensi yang sangat pribadi. Karena itu, hormatilah perbedaan
selera, jangan mudah meremehkan pilihan orang lain, dan jangan pula menjadikan
ketertarikan emosional sebagai satu-satunya ukuran nilai seseorang. Keindahan
yang bertahan paling lama sering kali bukan yang paling dipuji banyak orang,
melainkan yang paling dalam jejaknya di hati.
Kata
bijak
“Cinta yang kuat bukan hanya memilih
seseorang; ia mengajari hati melihat keindahan pada apa yang melekat padanya.”
Catatan penting tentang syair di
akhir kutipan
Pada bagian penutup teks Arab, Ibnu
Hazm membela rambut pirang sebagai preferensi pribadinya dan menulis bait yang
merendahkan warna hitam/gelap serta mengaitkannya dengan citra neraka dan
pakaian duka. Itu adalah ungkapan polemis dan subjektif dalam konteks syair
cinta abad pertengahan, bukan penilaian faktual tentang manusia atau warna
kulit. Saya tidak menerjemahkan bait-bait tersebut secara harfiah karena memuat
generalisasi merendahkan yang tidak layak dijadikan nilai normatif modern. Inti
argumen bab ini tetap sama tanpa bagian itu: cinta dapat membentuk preferensi
estetika pribadi secara sangat kuat dan bertahan lama.
Referensi:
باب من أحب
صفة لم يستحسن بعدها غيرها مما يخالفها
واعلم أعزك الله إن للحب
حكمًا على النفوس، ماضيًا، وسلطانًا قاضيًا، وأمرًا لا يخالف، وحدًا لا يعصى،
وملكًا لا يتعدى، وطاعة لا تصرف، ونفاذًا لا يرد، وأنه ينقض المرر، ويحل المبرم،
ويحلل الجامد، ويخل الثابت، ويحل الشغاف، ويحل الممنوع.
ولقد شاهدت كثيرًا من الناس
لا يهتمون في تمييزهم، ولا يخاف عليهم سقوط في معرفتهم، ولا اختلال بحسن اختيارهم،
ولا تقصير في حدسهم، قد وصفوا أحبابًا لهم في بعض صفاتهم بما ليس بمستحسن عند
الناس ولا يرضى في الجمال، فصارت هجيراهم، وعرضة لأهوائهم، ومنتهى استحسانهم، ثم
مضى أولئك إما بسلو أو بين أو هجر أو بعض عوارض الحب، وما فارقهم استحسان تلك
الصفات ولا بان عنهم تفضيلها على ما هو أفضل منها في الخليقة، ولا مالوا إلى
سواها؛ بل صارت تلك الصفات المستجادة عند الناس مهجورة عندهم وساقطة لديهم إلى أن
فارقوا الدنيا وانقضت اعمارهم، حنينًا منهم إلى من فقدوه، وألفه لمن صحبوه.
وما أقول إن ذلك كان تصنعًا
لكن طبعًا حقيقيًا واختيارًا لا يدخل فيه، ولا يرون سواه، ولا يقولون في طي عقدهم
بغيره.
وإني لأعرف من كان في جيد
حبيبه بعض الوقص فما استحسن أغيد ولا غيداء بعد ذلك؛ وأعرف من كان أول علاقته
بجارية مائلة إلى القصر فما أحب طويلة بعد هذا؛ وأعرف أيضًا من هوي جارية في فمها
فوه لطيف فلقد كان يتقذر كل فم صغير ويذمه ويكرهه الكراهية الصحيحة.
وما أصف عن منقوصي الحظوظ في
العلم والأدب لكن عن أوفر الناس قسطًا في الادراك، وأحقهم باسم الفهم والدراية.
وعني أخبرك أني أحببت في صباي
جارية لي شقراء الشعر فما استحسن من ذلك الوقت سوداء الشعر، ولو أنه على الشمس أو
على صورة الحسن نفسه، وإني لأجد هذا في أصل تركيبي من ذلك الوقت، لا تواتيني نفسي
على سواه ولا تحب غيره البتة، وهذا العارض بعينه عرض لأبي رضي الله عنه وعلى ذلك
جرى إلى أن وافاه أجله.
وأما جماعة خلفاء بني مروان -
رحمهم الله - ولا سيما ولد الناصر منهم، فكلهم مجبولون على تفضيل الشقرة، لا يختلف
في ذلك منهم مختلف، وقد رأيناهم ورأينا من رآهم من لدن دولة الناصر إلى الآن فما
منهم إلا أشقر، نزاعًا إلى أمهاتهم، حتى قد صار ذلك فيهم خلقة، حاشا سليمان الظافر
رحمه الله، فإني رأيته أسود اللمة واللحية.
وأما الناصر والحكم المستنصر
رضي الله عنهما فحدثني الوزير أبي رحمه الله وغيره انهما كانا أشقرين أشهلين،
وكذلك هشام المؤيد ومحمد المهدي وعبد الرحمن المرتضى رحمهم الله، فإني قد رأيتهم
مرارًا ودخلت عليهم فرأيتهم شقرًا شهلًا، وهكذا أولادهم وإخوتهم وجميع أقاربهم،
فلا أدري أذلك استحسان مركب في جميعهم أم لرواية كانت عند أسلافهم في ذلك فجروا
عليها.
وهذا ظاهر في شعر عبد الملك
بن مروان بن عبد الرحمن بن مروان بن أمير المؤمنين الناصر وهو المعروف بالطليق،
وكان أشعر أهل الأندلس في زمانهم وأكثر تغزله بالشقر، وقد رأيته وجالسته.
وليس من العجب فيمن أحب
قبيحًا ثم لم يصحبه ذلك في سواه فقد وقع من ذلك، ولا في من طبع مذ كان على تفضيل
الأدنى، ولكن في من كان ينظر بعين الحقيقة ثم غلب عليه هوى عارض بعد طول بقائه في
الجمام فأحاله عما عهدته نفسه حوالة صارت له طبعًا، وذهب طبعه الأول وهو يعرف فضل
ما كان عليه أولًا، فإذا رجع إلى نفسه وجدها تأبى إلا الأدنى، فأعجب لهذا التغلب
الشديد والتسلط العظيم.
وهو أصدق في المحبة حقًا ممن
يتحلى بشيم قوم ليس منهم، ويدعي غريزة لا تقبله، فيزعم أنه يتخير من يحب.
أما لو شغل المحب بصيرته،
وأطاح فكرته، وأجحف بتمييزه، لحال بينه وبين التخير والارتياد.
وفي ذلك أقول شعرًا منه: [من
البسيط] منهم فتى كان في محبوبه وقص ... كأنما الغيد في عينيه جنان وكان منبسطًا
في فضل خبرته ... بحجة حقها في القول تبيان إن المها وبها الأمثال سائرة ... لا
ينكر الحسن فيها الدهر إنسان وقص فليس بها عنقاء واحدة ... وهل تزان بطول الجيد
بعران وآخر كان في محبوبه فوه ... يقول حسبي في الأفواه غزلان وثالث كان في محبوبه
قصر ... يقول إن ذوات الطول غيلان وأقول أيضًا: [من الطويل] يعيبونها عندي بشقرة
شعرها ... فقلت لهم هذا الذي زانها عندي يعيبون لون النور والتبر ضلة ... لرأي
جهول في الغواية ممتد وهل عاب لون النرجس الغض عائب ... ولون النجوم الزاهرات على
البعد وأبعد خلق الله من كل حكمة ... مفضل جرم فاحم اللون مسود
به وصفت ألوان أهل جهنم ...
ولبسة باك مثكل الأهل محتد ومذ لاحت الرابات سودًا تيقنت ... نفوس الورى أن لا
سبيل إلى الرشد
Sumber:
الكتاب: طوق الحمامة في
الألفة والألاف
المؤلف: أبو محمد علي بن أحمد
بن سعيد بن حزم الأندلسي القرطبي الظاهري (ت ٤٥٦هـ)
Baca juga:
Cinta yang Tumbuh Perlahan: Mengapa Perasaan yang Datang Lambat Justru
Lebih Bertahan?
Bahasa Rahasia Para Pecinta: Ketika Hati Berbicara Melalui Sindiran
Pendahuluan
Di zaman yang serba cepat, banyak
orang mengagungkan cinta pada pandangan pertama. Sebuah tatapan singkat
dianggap cukup untuk menyalakan api asmara. Sebuah pertemuan sesaat diyakini
mampu menentukan masa depan hubungan dua insan.
Namun tidak semua manusia memiliki
watak demikian.
Ada sebagian orang yang tidak mudah
jatuh cinta. Hati mereka tidak serta-merta terpikat oleh kecantikan wajah,
kemanisan senyum, atau keelokan penampilan. Mereka membutuhkan waktu yang
panjang untuk mengenal seseorang, menyaksikan akhlaknya, memahami tabiatnya,
dan merasakan kenyamanan bersamanya sebelum benih-benih cinta tumbuh dalam
hati.
Menurut Ibnu Hazm, justru cinta
jenis inilah yang biasanya paling kuat, paling kokoh, dan paling sulit lenyap.
Dalam pembahasan ini beliau
mengangkat sebuah bab yang berjudul:
"Bab Orang yang Tidak Mencintai
Kecuali Setelah Waktu yang Lama."
Bab ini merupakan salah satu
pembahasan paling menarik dalam kitab Thauq al-Hamamah, karena di dalamnya Ibnu
Hazm bukan hanya menjelaskan teori cinta, tetapi juga menggambarkan wataknya
sendiri dalam mencintai.
Ada Manusia yang Tidak Mudah Jatuh Cinta
Ibnu Hazm berkata:
"Di antara manusia ada yang
cintanya tidak akan benar-benar muncul kecuali setelah lama bergaul, sering
bertemu, dan panjangnya kebersamaan."
Mereka bukan tipe orang yang mudah
terpikat.
Mungkin mereka bertemu seseorang
setiap hari selama berbulan-bulan tanpa merasakan apa-apa.
Mungkin mereka berbicara, bekerja,
belajar, atau berinteraksi dalam waktu yang panjang tanpa muncul ketertarikan
khusus.
Namun perlahan-lahan sesuatu mulai
tumbuh.
Mereka mulai mengenal akhlaknya.
Mereka mulai memahami cara
berpikirnya.
Mereka mulai terbiasa dengan
kehadirannya.
Mereka mulai merasakan kehilangan
ketika orang itu tidak ada.
Dan dari sinilah cinta lahir.
Bukan karena kejutan sesaat.
Bukan karena ledakan emosi.
Melainkan karena kedalaman
pengenalan.
Cinta yang Masuk Sulit, Keluar Pun Sulit
Ibnu Hazm kemudian memberikan kaidah
yang sangat indah:
"Apa yang masuk dengan susah,
tidak akan keluar dengan mudah."
Kalimat pendek ini merupakan inti
dari seluruh bab.
Cinta yang lahir secara perlahan
biasanya memiliki akar yang dalam.
Ia tidak tumbuh karena kekaguman
sesaat.
Ia tumbuh karena pengalaman bersama.
Karena kebiasaan.
Karena kenangan.
Karena kecocokan jiwa.
Karena itu ketika hubungan berakhir,
cinta semacam ini tidak mudah hilang.
Pemiliknya bisa mengingat seseorang
selama bertahun-tahun.
Bahkan setelah berpisah jauh.
Bahkan setelah tak lagi bertemu.
Bahkan setelah usia berubah dan
keadaan berganti.
Bekasnya tetap ada.
Kisah Ruh yang Enggan Memasuki Tubuh
Ibnu Hazm kemudian mengutip sebuah
atsar yang pernah beliau dengar dari para gurunya.
Disebutkan bahwa ketika Allah
memerintahkan ruh untuk memasuki jasad Nabi Adam yang masih berupa tanah liat,
ruh merasa takut dan enggan.
Kemudian dikatakan kepadanya:
"Masuklah dengan terpaksa dan
keluarlah dengan terpaksa."
Makna yang ingin diambil Ibnu Hazm
dari kisah ini adalah bahwa sesuatu yang pada awalnya masuk dengan susah
biasanya juga akan keluar dengan susah.
Beliau menjadikan kisah tersebut
sebagai ilustrasi bagi cinta yang lahir setelah proses panjang.
Ketika cinta sudah benar-benar
menetap dalam jiwa, maka mengeluarkannya bukan perkara mudah.
Orang Bijak Menghindari Awal-Awal Cinta
Ibnu Hazm mengaku pernah melihat
orang-orang yang memahami sifat dirinya sendiri.
Mereka mengetahui bahwa jika cinta
berhasil masuk ke hati mereka, maka akan sangat sulit untuk mengusirnya.
Karena itu mereka sangat
berhati-hati.
Ketika mulai merasakan ketertarikan
kepada seseorang, mereka segera menjauh.
Mereka mengurangi pertemuan.
Mereka membatasi komunikasi.
Mereka menghindari sebab-sebab yang
dapat memperkuat perasaan tersebut.
Bukan karena mereka membenci cinta.
Melainkan karena mereka memahami
bahayanya.
Mereka tahu bahwa api kecil yang
dibiarkan terus menyala akan berubah menjadi kobaran besar.
Dan ketika sudah menjadi besar,
mereka mungkin tidak lagi mampu mengendalikannya.
Sikap seperti ini menunjukkan
kedewasaan.
Tidak semua perasaan harus
dipelihara.
Terkadang menjaga hati berarti
menghentikan sesuatu sebelum menjadi terlalu kuat.
Syair Tentang Menjauhi Sebab-Sebab Cinta
Ibnu Hazm menulis syair yang
maknanya:
Aku akan menjauhi sebab-sebab cinta,
karena aku melihat kehati-hatian
adalah sifat orang bijaksana.
Awal cinta hanyalah memandang
bunga-bunga di pipi yang indah.
Namun tiba-tiba engkau mendapati
dirimu terbelenggu dalam rantai-rantainya.
Seperti orang yang tertipu oleh
genangan dangkal,
lalu tergelincir ke lautan yang
dalam.
Betapa akurat gambaran ini.
Banyak orang mengira mereka mampu
mengendalikan perasaan.
Mereka berkata:
"Aku hanya melihat-lihat."
"Aku hanya berteman."
"Aku hanya mengagumi."
Namun sedikit demi sedikit hati
mulai terikat.
Perhatian bertambah.
Pikiran semakin dipenuhi olehnya.
Lalu suatu hari mereka menyadari
bahwa mereka telah menjadi tawanan cinta.
Pengalaman Pribadi Ibnu Hazm
Bagian paling menarik dari bab ini
adalah ketika Ibnu Hazm berbicara tentang dirinya sendiri.
Beliau mengatakan:
"Aku selalu merasa heran
terhadap orang yang mengaku mencintai hanya karena satu pandangan."
Beliau mengakui bahwa dirinya hampir
tidak pernah mempercayai cinta semacam itu.
Menurut pandangannya, apa yang
disebut cinta pada pandangan pertama lebih dekat kepada syahwat dan kekaguman
fisik semata.
Adapun cinta yang benar-benar
menembus relung hati menurut beliau membutuhkan waktu.
Beliau berkata:
"Tidak pernah ada cinta yang
melekat dalam diriku kecuali setelah waktu yang panjang dan setelah lama
bergaul dengan orang tersebut."
Ini menunjukkan bahwa manusia memang
berbeda-beda.
Ada yang jatuh cinta dengan cepat.
Ada yang membutuhkan waktu lama.
Tidak ada satu pola yang berlaku
untuk semua orang.
Sulit Melupakan Orang yang Pernah Dicintai
Karena cintanya tumbuh perlahan dan
berakar kuat, Ibnu Hazm mengaku memiliki kesulitan yang besar dalam melupakan.
Beliau berkata:
"Aku tidak pernah melupakan satu
pun kasih sayang yang pernah ada dalam hidupku."
Setiap kenangan lama masih hidup
dalam hatinya.
Setiap hubungan yang pernah berarti
masih meninggalkan bekas.
Bahkan kenangan-kenangan tersebut
terkadang membuatnya kehilangan selera makan dan minum.
Ini menunjukkan sisi emosional
seorang ulama besar yang sering tidak diketahui banyak orang.
Di balik keluasan ilmu dan ketajaman
pikirannya, terdapat hati yang sangat lembut.
Hati yang mudah menyimpan kenangan.
Hati yang sulit melepaskan cinta
yang pernah tumbuh.
Tidak Mudah Bosan
Ibnu Hazm juga menjelaskan sifat
lain yang berkaitan dengan tabiatnya.
Beliau berkata bahwa dirinya hampir
tidak pernah merasa bosan terhadap sesuatu yang telah dikenalnya.
Bukan hanya terhadap sahabat atau
orang yang dicintai.
Tetapi juga terhadap benda-benda
yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Pakaian.
Kendaraan.
Makanan.
Dan berbagai hal lainnya.
Ini menunjukkan bahwa sebagian
manusia memang memiliki karakter yang sangat setia.
Mereka tidak mudah berpindah.
Mereka tidak mudah mengganti.
Mereka tidak mudah melupakan.
Karena itu ketika mereka mencintai
seseorang, cinta tersebut biasanya berlangsung lama.
Luka Perpisahan yang Tidak Pernah Sembuh
Ibnu Hazm kemudian mengungkapkan
pengakuan yang sangat menyentuh.
Beliau berkata bahwa sejak merasakan
pahitnya perpisahan dengan orang-orang yang dicintainya, hidupnya tidak pernah
benar-benar tenang.
Kenangan masa lalu terus datang
menghampiri.
Kesedihan lama terus muncul kembali.
Beliau menggambarkan dirinya
sebagai:
"Korban berbagai kesedihan yang
masih tercatat sebagai orang hidup."
Ungkapan ini menunjukkan betapa
dalamnya pengaruh cinta terhadap jiwa manusia.
Kadang-kadang perpisahan tidak
mengakhiri cinta.
Justru perpisahan membuat cinta
semakin hidup dalam kenangan.
Cinta Sejati Tidak Lahir dalam Satu Jam
Setelah menjelaskan pengalamannya
sendiri, Ibnu Hazm menegaskan bahwa cinta yang benar tidak muncul secara
tiba-tiba. Ia tumbuh sedikit demi sedikit, seperti pohon yang akarnya menembus
tanah sebelum batangnya menjulang ke langit.
Beliau mengungkapkan hal itu dalam
sebuah syair yang indah:
"Cinta yang jujur bukanlah anak
sesaat,
bukan pula nyala api yang muncul
ketika batu dipukulkan.
Tetapi ia berjalan perlahan,
tumbuh dari panjangnya percampuran
dan kebersamaan,
hingga kokohlah tiangnya."
Syair ini mengandung hikmah yang
sangat dalam.
Banyak hubungan gagal karena
dibangun di atas emosi yang terlalu cepat. Ketika kegembiraan awal menghilang,
tidak ada fondasi yang tersisa untuk mempertahankan hubungan tersebut.
Sebaliknya, cinta yang tumbuh dari
pergaulan yang panjang memiliki akar yang menghunjam dalam. Ia mengenal
kelebihan dan kekurangan pasangannya. Ia tidak dibangun di atas khayalan,
tetapi di atas kenyataan.
Karena itu Ibnu Hazm melanjutkan:
"Tidaklah dekat dengan cinta
itu kegoncangan dan perubahan, dan tidak pula jauh darinya keteguhan dan
pertambahan."
Artinya, cinta yang tumbuh perlahan
biasanya stabil. Ia tidak mudah berubah hanya karena persoalan kecil atau
godaan sesaat.
Hukum Alam yang Berlaku pada Segala Sesuatu
Ibnu Hazm kemudian mengemukakan
sebuah pengamatan yang sangat menarik:
"Segala sesuatu yang tumbuh
dengan cepat biasanya akan cepat pula lenyap."
Ini adalah hukum yang dapat kita
saksikan di mana-mana.
Rumput liar tumbuh dalam beberapa
hari, tetapi juga cepat mati.
Sebaliknya, pohon besar membutuhkan
waktu bertahun-tahun untuk tumbuh, namun dapat bertahan puluhan bahkan ratusan
tahun.
Demikian pula persahabatan.
Ada persahabatan yang terjalin dalam
beberapa hari lalu hilang dalam beberapa minggu.
Ada pula persahabatan yang dibangun
perlahan, tetapi bertahan sepanjang usia.
Begitu pula cinta.
Cinta yang lahir hanya karena
ketampanan, kecantikan, atau pesona sesaat sering kali memudar ketika
faktor-faktor tersebut berubah.
Namun cinta yang tumbuh karena
pengenalan jiwa akan tetap hidup meskipun usia bertambah, wajah berubah, dan
keadaan berganti.
Analogi Tanah yang Keras
Dalam salah satu perumpamaan paling
indah dalam bab ini, Ibnu Hazm menggambarkan dirinya seperti tanah yang keras
dan padat.
Beliau berkata bahwa dirinya laksana
tanah yang sulit ditembus akar tanaman.
Akar membutuhkan waktu lama untuk
masuk ke dalamnya.
Namun ketika akar itu berhasil
menembus dan mengakar kuat, tanaman tersebut akan tumbuh kokoh dan sulit
dicabut.
Perumpamaan ini menggambarkan orang-orang
yang tidak mudah jatuh cinta.
Mereka mungkin tampak dingin pada
awalnya.
Mereka tidak mudah menunjukkan
perasaan.
Mereka tidak cepat terpikat.
Tetapi ketika cinta telah masuk ke
dalam hati mereka, maka cinta itu menjadi sangat kuat.
Mereka termasuk orang yang paling
setia.
Mereka mencintai dengan seluruh
jiwa.
Dan mereka juga paling menderita
ketika harus berpisah.
Hubungan Jiwa dalam Pandangan Ibnu Hazm
Sebagian orang mungkin bertanya:
Bukankah sebelumnya Ibnu Hazm
mengatakan bahwa cinta merupakan hubungan antara jiwa-jiwa yang telah saling
mengenal di alam yang tinggi?
Jika demikian, mengapa sekarang
beliau mengatakan bahwa cinta membutuhkan waktu yang panjang?
Beliau sendiri menjawab pertanyaan
ini.
Menurut beliau, kedua pandangan
tersebut sama sekali tidak bertentangan.
Hakikat cinta memang merupakan
kesesuaian antara jiwa dengan jiwa.
Namun ketika jiwa turun ke dunia, ia
tertutupi oleh berbagai penghalang.
Tubuh.
Kebiasaan.
Lingkungan.
Keinginan duniawi.
Berbagai sifat manusiawi.
Semua itu menjadi tabir yang
menghalangi jiwa mengenali pasangan sejatinya secara langsung.
Karena itu diperlukan proses.
Diperlukan perkenalan.
Diperlukan interaksi.
Diperlukan pengalaman bersama.
Melalui proses itulah jiwa
perlahan-lahan mengenali kesesuaian yang tersembunyi.
Dan ketika kesesuaian itu ditemukan,
lahirlah cinta yang sebenarnya.
Mengapa Kita Perlu Mengenal Seseorang?
Ibnu Hazm menjelaskan bahwa jiwa
tidak dapat terhubung secara sempurna kecuali setelah mengenali sifat-sifat
yang serupa pada diri orang lain.
Manusia tidak hanya mencintai wajah.
Mereka mencintai nilai.
Mereka mencintai karakter.
Mereka mencintai cara berpikir.
Mereka mencintai akhlak.
Mereka mencintai hal-hal yang
membuat seseorang menjadi dirinya sendiri.
Semua itu tidak mungkin diketahui
hanya dengan satu tatapan.
Karena itulah cinta yang kokoh
biasanya lahir setelah proses pengenalan yang panjang.
Semakin dalam seseorang mengenal
pasangannya, semakin besar kemungkinan lahirnya hubungan yang kuat.
Perbedaan Antara Cinta dan Syahwat
Salah satu pembahasan paling penting
dalam bab ini adalah perbedaan antara cinta dan syahwat.
Menurut Ibnu Hazm, banyak orang
keliru membedakan keduanya.
Seseorang melihat wajah yang cantik.
Ia merasa tertarik.
Ia ingin selalu memandangnya.
Ia ingin mendekatinya.
Lalu ia menyebut semua itu sebagai
cinta.
Padahal belum tentu demikian.
Ibnu Hazm menjelaskan bahwa
ketertarikan yang hanya didasarkan pada penampilan fisik pada dasarnya adalah
syahwat.
Mata tertarik kepada warna.
Bentuk.
Keindahan lahiriah.
Namun semuanya masih berada pada
tingkat jasmani.
Adapun cinta sejati baru muncul
ketika ketertarikan fisik itu disertai hubungan batin.
Ketika jiwa menemukan kecocokan.
Ketika akhlak saling mendukung.
Ketika karakter saling melengkapi.
Ketika dua pribadi merasa nyaman untuk
berjalan bersama dalam kehidupan.
Pada titik itulah syahwat berubah
menjadi cinta.
Mengapa Banyak Orang Salah Menamai Perasaannya?
Menurut Ibnu Hazm, kesalahan
terbesar manusia dalam urusan asmara adalah menyebut setiap ketertarikan
sebagai cinta.
Padahal sering kali yang terjadi
hanyalah kekaguman sesaat.
Seseorang melihat wajah yang indah
lalu merasa terpesona.
Namun beberapa minggu kemudian
perasaan itu hilang.
Jika itu benar-benar cinta, mengapa
ia begitu cepat lenyap?
Karena sesungguhnya yang hilang
bukan cinta, melainkan ketertarikan fisik yang tidak memiliki akar yang dalam.
Di sinilah pentingnya mengenal diri
sendiri.
Seseorang harus jujur terhadap apa
yang dirasakannya.
Apakah ia mencintai jiwa orang
tersebut?
Ataukah hanya mengagumi penampilannya?
Jawaban atas pertanyaan ini sering
menentukan masa depan sebuah hubungan.
Bisakah Seseorang Mencintai Dua Orang Sekaligus?
Salah satu pembahasan paling
terkenal dalam kitab ini adalah bantahan Ibnu Hazm terhadap orang yang mengaku
mencintai dua orang sekaligus.
Beliau menulis dengan sangat tegas:
"Pendusta adalah orang yang
mengaku mencintai dua orang."
Mengapa demikian?
Menurut beliau, hati manusia pada
hakikatnya hanya memiliki satu pusat cinta yang sejati.
Sebagaimana akal tidak mengenal dua
Tuhan, demikian pula hati tidak mengenal dua cinta yang sempurna pada saat yang
sama.
Beliau mengibaratkan:
"Sebagaimana akal hanya
mengenal satu Tuhan Yang Maha Pengasih, demikian pula hati hanya mencintai satu
kekasih."
Tentu yang dimaksud adalah cinta
yang benar-benar menguasai hati.
Adapun ketertarikan kepada beberapa
orang sekaligus biasanya hanyalah bentuk syahwat atau kekaguman yang
berbeda-beda.
Bukan cinta yang sesungguhnya.
Mengapa Hati Tidak Mampu Membagi Cinta Sejati?
Ketika seseorang benar-benar mencintai,
sebagian besar perhatian, pikiran, harapan, dan emosinya tertuju kepada satu
orang.
Ia memikirkan kebahagiaan orang itu.
Ia mengkhawatirkan keselamatannya.
Ia merindukan kehadirannya.
Ia ingin berbagi hidup dengannya.
Keadaan seperti ini sulit dibagi secara
sempurna kepada dua orang sekaligus.
Karena itu Ibnu Hazm memandang bahwa
klaim mencintai dua orang biasanya menunjukkan bahwa perasaan tersebut belum
mencapai tingkat cinta yang sebenarnya.
Sebuah Kisah yang Menarik
Pada akhir bab ini, Ibnu Hazm menceritakan
seorang pemuda bangsawan yang memiliki sifat unik.
Pada awalnya para perempuan yang
menjadi istrinya atau budaknya tidak terlalu menyukainya.
Sebagian bahkan merasa tidak nyaman
dengannya.
Wajahnya tidak terlalu menarik.
Perangainya cenderung serius.
Ia tidak pandai bersikap manis
kepada perempuan.
Namun ada sesuatu yang menarik.
Setelah hidup bersamanya dalam waktu
tertentu, perasaan benci itu berubah menjadi cinta yang mendalam.
Yang semula tidak menyukai
kehadirannya menjadi tidak tahan berpisah darinya.
Yang semula merasa terganggu justru
merasakan kesedihan ketika jauh darinya.
Fenomena ini terjadi berulang kali.
Akhirnya salah seorang sahabat
bertanya tentang rahasianya.
Pemuda tersebut menjelaskan bahwa
kedekatan fisik yang intens dan kebersamaan yang panjang menciptakan hubungan
emosional yang sangat kuat.
Ibnu Hazm menggunakan kisah ini
untuk menunjukkan bahwa hubungan jasmani sering kali menjadi jalan bagi
hubungan batin.
Karena anggota tubuh merupakan pintu
masuk menuju jiwa.
Melalui kebersamaan, perhatian,
sentuhan yang halal, dan kehidupan bersama, lahirlah keterikatan emosional yang
sebelumnya tidak ada.
Hikmah Besar dari Bab Ini
Bab ini mengajarkan bahwa cinta yang
paling kuat sering kali bukan cinta yang datang paling cepat.
Justru cinta yang tumbuh perlahan,
melalui pengenalan, kebersamaan, dan perjalanan hidup bersama, biasanya menjadi
cinta yang paling kokoh.
Ia tidak mudah terguncang.
Ia tidak mudah pudar.
Ia tidak mudah digantikan.
Di era modern yang serba instan,
pelajaran ini sangat berharga.
Banyak orang ingin mendapatkan cinta
secepat mungkin.
Namun mereka lupa bahwa sesuatu yang
bernilai tinggi memang membutuhkan waktu untuk tumbuh.
Pohon besar tidak muncul dalam
sehari.
Ilmu tidak diperoleh dalam semalam.
Demikian pula cinta yang sejati.
Ia memerlukan kesabaran.
Ia memerlukan proses.
Ia memerlukan pengenalan yang
mendalam.
Dan ketika cinta seperti itu
akhirnya tumbuh, ia menjadi salah satu anugerah terbesar yang Allah titipkan ke
dalam hati manusia.
Penutup
Menurut Ibnu Hazm, cinta yang paling
kuat bukanlah cinta yang lahir dari kejutan sesaat, melainkan cinta yang tumbuh
melalui perjalanan panjang antara dua jiwa yang saling mengenal.
Ia berawal dari kebiasaan,
berkembang melalui kedekatan, lalu berakar dalam hingga sulit dicabut oleh
waktu.
Karena itu jangan terburu-buru
menilai perasaan hanya dari getaran pertama. Bisa jadi yang paling berharga
bukanlah cinta yang datang paling cepat, melainkan cinta yang tumbuh paling
lambat namun bertahan paling lama.
Sebab sebagaimana akar yang
menghunjam jauh ke dalam tanah tidak mudah dicabut oleh badai, demikian pula
cinta yang dibangun di atas pengenalan dan kesetiaan tidak mudah dihancurkan
oleh perubahan zaman.
Pesan Moral
Bab ini mengajarkan bahwa cinta
sejati bukanlah sekadar getaran sesaat yang lahir dari ketertarikan mata,
melainkan ikatan jiwa yang tumbuh melalui waktu, pengenalan, kebersamaan, dan
kesesuaian akhlak. Apa yang dibangun dengan proses yang panjang biasanya lebih
kuat, lebih dalam, dan lebih sulit dilupakan daripada apa yang lahir secara
tergesa-gesa. Karena itu, jangan mudah tertipu oleh perasaan yang datang
tiba-tiba, dan jangan pula meremehkan hubungan yang tumbuh perlahan. Cinta yang
paling berharga sering kali lahir dari kesabaran, bukan dari ketergesa-gesaan.
Selain itu, kisah ini mengingatkan
bahwa hati manusia tidak diciptakan untuk bermain-main dengan cinta. Ketika
cinta telah benar-benar menetap dalam jiwa, ia akan memengaruhi seluruh
kehidupan seseorang; menghadirkan kebahagiaan ketika dekat, dan meninggalkan
kerinduan ketika jauh. Oleh sebab itu, seseorang hendaknya menjaga pandangan,
menjaga pergaulan, dan berhati-hati terhadap sebab-sebab yang dapat
menjerumuskannya ke dalam cinta yang tidak terarah.
Pada saat yang sama, Ibnu Hazm
menegaskan bahwa cinta sejati berbeda dari syahwat. Ketertarikan fisik mungkin
menjadi pintu awal, tetapi cinta yang sesungguhnya baru lahir ketika dua jiwa
saling mengenal, saling memahami, dan menemukan kecocokan dalam nilai, akhlak,
serta tujuan hidup. Karena itu, jangan menilai cinta hanya dari keindahan rupa,
sebab kecantikan mata dapat memudar, sedangkan kecocokan jiwa akan tetap hidup
selama hati masih bernapas.
Inti
pelajarannya adalah:
"Cinta yang paling kokoh
bukanlah cinta yang paling cepat datang, melainkan cinta yang tumbuh dengan
kesabaran, dipelihara oleh pengenalan, diperkuat oleh kesetiaan, dan dijaga
oleh akhlak serta iman."
"Apa yang tumbuh perlahan akan
berakar lebih dalam; demikian pula cinta sejati, ia tidak lahir dari
ketergesa-gesaan, tetapi dari waktu, kesetiaan, dan pertemuan dua jiwa yang
saling memahami."
Referensi:
باب من لا يحب إلا مع المطاولة
ومن الناس من لا تصح محبته إلا بعد طول المخافتة وكثير
المشاهدة وتمادى الأنس، وهذا الذي يوشك أن يدوم ويثبت ولا يحيك فيه مر الليالي،
فما دخل عسيرًا لم يخرج يسيرًا، وهذا مذهبي.
وقد جاء في الأثر أن الله عز وجل قال للروح حين أمره أن
يدخل جسد آدم، وهو فخار، فهاب وجزع: ادخل كرهًا واخرج كرهًا.
حدثناه عن شيوخنا.
ولقد رأيت من أهل هذه الصفة من إن أحس من نفسه بابتداء
هوى أو توجس من استحسانه ميلًا إلى بعض الصور استعمل الهجر وترك الإلمام، لئلا
يزيد ما يجد فيخرج الأمر عن يديه، ويحال بين العير والنزوان.
وهذا يدل على لصوق الحب بأكباد أهل هذه الصفة، وأنه إذا
تمكن منهم لم يحل أبدًا.
وفي ذلك أقول قطعة منها: [من الوافر]
سأبعد عن دواعي الحب إني ... رأيت الحزم من صفة الرشيد
رأيت الحب أوله التصدي ... بعينك في أزاهير الخدود فبينا أنت مغتبط مخلى ... إذا قد
صرت في حلق القيود كمغتر بضحضاح قريب ... فزل فغاب في غمر المدود وإني لأطيل العجب
من كل من يدعي أنه يحب من نظرة واحدة، ولا أكاد أصدقه، ولا أجعل حبه إلا ضربًا من
الشهوة، وأما أن يكون في ظني متمكنًا من صميم الفؤاد نافذًا في حجاب القلب فما
أقدر ذلك، وما لصق بأحشائي حب قط إلا مع الزمن الطويل وبعد ملازمة الشخص لي دهرًا
وأخذي معه في كل جد وهزل، وكذلك أنا في السلو والتوقي، فما نسيت ودًا لي قط، وإن
حنيني إلى كل عهد تقدم لي ليغصني بالطعام ويشرقني بالماء، وقد استراح من لم تكن
هذه صفته.
وما مللت شيئًا قط بعد معرفتي به، ولا أسرعت إلى الأنس
مذ كنت، لا أقول الألاف والإخوان وحدهم، لكن في كل ما يستعمل الإنسان من ملبوس
ومركوب ومطعوم وغير ذلك، وما انتفعت بعيش ولا فارقني الإطراق والانغلاق مذ ذقت طعم
فراق الأحبة، وإنه لشجى يعتادني وولوع هم ما ينفعك يطرقني، ولقد نغص تذكري ما مضى
كل عيش استأنفه، وإني لقتيل الهموم في عداد الأحياء، ودفين الأسى بين أهل الدنيا.
والله المحمود على كل حال لا إله إلا هو؛ وفي ذلك أقول
شعرًا منه: [من الطويل] محبة صدق لم تكن بنت ساعة ... ولا وريت حين ارتفاد زنادها
ولكن على مهل سرت وتولدت ... بطول امتزاج فاستقر عمادها
فلم يدن منها عزمها وانتفاضها ... ولم ينأ عنها مكثها
وازديادها يؤكد ذا أنا نرى كل نشأة ... تتم سريعًا عن قريب نفادها ولكني أرض عزاز
صليبة ... منيع إلى كل الغروس انقيادها فما نفذت منها لديها عروقها ... فليست
تبالي أن تجود عهادها ولا يظن ظان ولا يتوهم متوهم أن كل هذا مخالف لقولي المسطر
صدر الرسالة: إن الحب اتصال بين النفوس في أصل عالمها العلوي، بل هو مؤكد له.
فقد علمنا أن النفس في هذا العالم الأدنى قد غمرتها
الحجب، ولحقتها الأعراض، وأحاطت بها الطبائع الأرضية الكونية، فسترت كثيرًا من
صفاتها وإن كانت لم تحله، لكن حالت دونه، فلا يرجى الاتصال على الحقيقة إلا بعد
التهيؤ من النفس والاستعداد له، وبعد إيصال المعرفة إليها بما يشاكلها ويوافقها،
ومقابلة الطبائع التي خفيت بما يشابهها من طبائع المحبوب، فحينئذ يتصل اتصلًا
صحيحًا بلا مانع.
وأما ما يقع من أول وهلة ببعض أعراض الاستحسان الجسدي،
واستطراف البصر الذي لا يجاوز الألوان، فهذا سر الشهوة ومعناها على الحقيقة، فإذا
فضلت الشهوة وتجاوزت هذا الحد ووافق الفضل اتصال نفساني تشترك فيه الطبائع مع
النفس تسمى عشقًا.
ومن هذا دخل الغلط على من يزعم انه يحب اثنين ويعشق
شخصين متغايرين، فإنما هذا من جهة الشهوة التي ذكرناها آنفًا، وهي على المجاز تسمى
محبة لا على التحقيق، وأما نفس المحب فما في الميل به فضل يصرفه في أسباب دينه
ودنياه فكيف بالاشتغال بحب ثان وفي ذلك أقول: [من الخفيف] كذب المدعي هوى اثنين
حتمًا ... مثل ما في الأصول أكذب ماني ليس في القلب موضع لحبيبي ... ن ولا أحدث
الأمور بثاني فكما العقل واحد ليس يدري ... خالقًا غير واحد رحمان فكذا القلب واحد
ليس يهوى ... غير فرد مباعد أو مدان هو في شرعة المودة ذو شر ... ك بعيد من صحة
الإيمان وكذا الدين واحد مستقيم ... وكفور من عقدة دينان وإني لأعرف فتى من أهل
الجدة والحسب والأدب كان يبتاع الجارية وهي سالمة الصدر من حبه، وأكثر من ذلك
كارهة له لقلة حلاوة شمائل كانت فيه، وقطوب دائم كان لا يفارقه ولا سيما مع
النساء، فكان لا يلبث إلا يسيرًا ريثما يصل إليها بالجماع ويعود ذلك الكره حبًا
مفرطًا وكلفًا زائدًا واستهتارًا مكشوفًا، ويتحول الضجر لصحبته ضجرًا لفراقه.
صحبه هذا الأمر في عدة منهن، فقال بعض إخواني، فسألته عن
ذلك فتبسم نحوي وقال: إذًا والله أخبرك، أنا أبطأ الناس إنزالًا، تقضي المرأة
شهوتها وربما ثنت وإنزالي وشهوتي لم ينقضيا بعد، وما فترات بعدها قط، وإني لأبقى
بمنتي بعد انقضائها الحين الصالح، وما لاقى صدري صدر امرأة قط عند الخلوة إلا عند
تعمدي المعانقة، وبحسب ارتفاع صدري نزول مؤخري.
فمثل هذا وشبهه إذا وقع وافق أخلاق النفس وولد المحبة،
إذ الأعضاء الحساسة مسالك إلى النفوس ومؤديات نحوها.
الكتاب: طوق الحمامة في
الألفة والألاف
المؤلف: أبو محمد علي بن أحمد
بن سعيد بن حزم الأندلسي القرطبي الظاهري (ت ٤٥٦هـ)
Baca juga:
Ketika Satu Tatapan Menjadi Cinta Seumur Hidup: Kisah Gadis Misteriusdalam Thauq Al-Hamamah
Cinta Membentuk Selera—Mengapa Kita Menganggap Indah Apa yangMengingatkan pada Orang yang Dicintai?
Aqidah Tafsir Matan Hadits Syarh Hadits Ushul Fiqih Fiqih Hanafi Fiqih Maliki Fiqih Syafi'i Fiqih H...