شرح التحرير على تحفة الطلاب - 3


Download Kitab PDF
Silakan baca preview kitab terlebih dahulu sebelum mengunduh file PDF.
📄 Format File : PDF
📚 Kategori : Kitab Islami
🗂 Bahasa : Arab / Indonesia
⬇️ Server : Google Drive
Tombol download akan muncul dalam 10 detik
Jika tombol download tidak muncul, refresh halaman lalu tunggu timer selesai.












شرح التحرير على تحفة الطلاب - 2


Download Kitab PDF
Silakan baca preview kitab terlebih dahulu sebelum mengunduh file PDF.
📄 Format File : PDF
📚 Kategori : Kitab Islami
🗂 Bahasa : Arab / Indonesia
⬇️ Server : Google Drive
Tombol download akan muncul dalam 10 detik
Jika tombol download tidak muncul, refresh halaman lalu tunggu timer selesai.











شرح التحرير على تحفة الطلاب - 1


Download Kitab PDF
Silakan baca preview kitab terlebih dahulu sebelum mengunduh file PDF.
📄 Format File : PDF
📚 Kategori : Kitab Islami
🗂 Bahasa : Arab / Indonesia
⬇️ Server : Google Drive
Tombol download akan muncul dalam 10 detik
Jika tombol download tidak muncul, refresh halaman lalu tunggu timer selesai.











Cinta Membentuk Selera—Mengapa Kita Menganggap Indah Apa yang Mengingatkan pada Orang yang Dicintai?

Meta Description: Mengapa cinta membuat seseorang melihat segala sesuatu menjadi lebih indah? Simak penjelasan tentang bagaimana orang yang dicintai mampu memengaruhi selera, perasaan, dan cara pandang manusia.

Pendahuluan

Di antara pengamatan psikologis paling tajam dari Ibnu Hazm adalah bahwa cinta tidak hanya memilih seseorang; cinta juga membentuk standar keindahan kita. Setelah seseorang benar-benar mencintai, ia sering kali tidak lagi menilai rupa, suara, atau gerak-gerik secara netral. Ciri yang tadinya biasa saja berubah menjadi menawan karena melekat pada orang yang dicintai. Bahkan setelah hubungan berakhir, preferensi itu kerap tetap bertahan.

Inilah inti bab “Orang yang mencintai suatu sifat sehingga tidak lagi menyukai selainnya yang berbeda darinya”: cinta dapat mengubah peta selera estetika seseorang secara mendalam dan tahan lama.

Cinta sebagai Kekuasaan atas Jiwa

Ibnu Hazm membuka bab ini dengan gambaran yang sangat kuat: cinta memiliki hukum, kerajaan, dan kekuasaan atas jiwa. Ia mampu melunakkan yang keras dan menggoyahkan yang tampak tetap. Ini bukan hiperbola sastra semata. Dalam pengalaman manusia sehari-hari, kita memang sering melihat orang yang rasional, terdidik, dan tajam penilaiannya berubah total dalam urusan cinta.

Poin pentingnya: cinta tidak selalu menghapus kemampuan berpikir, tetapi ia mengubah pusat gravitasi penilaian. Seseorang masih tahu bahwa masyarakat umum menganggap ciri tertentu kurang ideal, namun hatinya tetap memilih ciri itu karena terhubung dengan kenangan, keakraban, dan pengalaman emosional yang kuat.

Dari Preferensi Menjadi “Tanda Pengenal Cinta”

Ibnu Hazm memberi contoh-contoh konkret:

  1. Seseorang mencintai perempuan dengan leher yang tidak jenjang, lalu tidak lagi mengagumi leher jenjang sebagaimana lazimnya orang lain.
  2. Seseorang jatuh cinta pada gadis bertubuh agak pendek, lalu perempuan tinggi kehilangan daya tarik baginya.
  3. Seseorang terpikat pada perempuan bermulut kecil, lalu bentuk mulut lain terasa kurang menarik.

Yang menarik, Ibnu Hazm menegaskan bahwa orang-orang ini bukan orang bodoh. Mereka termasuk kalangan yang cerdas, beradab, dan tajam pemahamannya. Jadi perubahan selera itu bukan akibat kurang pengetahuan, melainkan akibat ikatan emosional yang mengakar.

Dalam bahasa modern, kita bisa menyebutnya sebagai associative preference: otak mengaitkan ciri tertentu dengan pengalaman cinta yang sangat kuat, lalu memberi “nilai emosional” tinggi pada ciri tersebut.

Pengakuan Pribadi Ibnu Hazm: Rambut Pirang yang Tak Terlupakan

Bagian paling jujur dari bab ini adalah pengakuan Ibnu Hazm tentang dirinya sendiri. Ia menceritakan bahwa pada masa muda ia mencintai seorang budak perempuan berambut pirang. Sejak itu, ia tidak lagi menyukai rambut hitam, betapapun indahnya menurut ukuran umum.

“Aku merasakan kecenderungan itu melekat pada tabiatku sejak waktu tersebut; jiwaku tidak mau berpaling darinya.”

Ia bahkan menambahkan bahwa ayahnya mengalami kecenderungan serupa. Di sini Ibnu Hazm membuka kemungkinan bahwa sebagian preferensi memang bisa menjadi campuran antara pengalaman pribadi, kebiasaan, dan mungkin kecenderungan keluarga atau budaya.

Tradisi Keluarga dan Selera Dinasti

Ibnu Hazm lalu mengamati para khalifah keturunan Bani Umayyah, khususnya keturunan Abd al-Rahman III (al-Nasir). Menurut pengamatannya, mereka cenderung mengutamakan perempuan pirang dan banyak di antara mereka sendiri berambut pirang serta bermata terang karena garis keturunan ibu-ibu mereka.

Beliau menyebut beberapa nama khalifah yang pernah dilihat atau didengar keterangannya, seperti al-Hakam II (al-Mustansir), Hisham II al-Mu'ayyad, Muhammad al-Mahdi, dan Abd al-Rahman al-Murtada. Ia bahkan menghubungkan kecenderungan itu dengan puisi Abd al-Malik ibn Marwan ibn Abd al-Rahman ibn Marwan, yang banyak memuji perempuan berambut pirang.

Poin pentingnya bukan apakah pirang “lebih indah”, melainkan bahwa selera estetika sering dibentuk oleh sejarah keluarga, lingkungan, dan pengalaman cinta yang berulang.

Yang Paling Mengherankan Menurut Ibnu Hazm

Ibnu Hazm mengatakan bahwa yang paling membuatnya kagum bukanlah orang yang sejak awal memang menyukai ciri tertentu. Yang benar-benar mengherankan adalah:

Orang yang semula menilai dengan ukuran objektif, lalu setelah dikuasai cinta, berubah total sehingga sifat yang dulu ia anggap kurang baik menjadi favoritnya, dan selera lamanya lenyap—padahal ia masih sadar bahwa dulu ia mengakui keunggulan sifat lain.

Ini adalah deskripsi luar biasa tentang bagaimana emosi dapat menata ulang prioritas estetika tanpa sepenuhnya menghapus pengetahuan lama. Seseorang masih tahu bahwa masyarakat menganggap ciri A lebih ideal daripada ciri B, tetapi hatinya tetap memilih B karena B terhubung dengan cinta.

Apakah Ini Rasional?

Ibnu Hazm tidak menyebutnya irasional. Ia menyebutnya dominasi cinta atas jiwa. Dalam pengalaman manusia, banyak keputusan estetika memang tidak murni hasil logika. Musik yang mengingatkan kita pada seseorang terasa lebih indah. Tempat yang pernah menjadi lokasi pertemuan terasa lebih berharga. Aroma tertentu membangkitkan kerinduan. Begitu pula ciri fisik tertentu.

Jadi yang berubah bukan sekadar penilaian intelektual, melainkan jaringan makna emosional yang melekat pada objek tersebut.

Cinta, Memori, dan Kebiasaan

Bab ini juga memberi petunjuk penting tentang hubungan cinta dan memori. Ketika seseorang lama hidup bersama orang yang dicintai, otaknya membangun asosiasi berulang:

Pengalaman

Makna emosional

Wajah tertentu

Rasa aman, rindu, kebahagiaan

Warna rambut tertentu

Keintiman dan kenangan

Suara atau cara bicara tertentu

Kehadiran orang yang dicintai

Bentuk tubuh tertentu

Pengalaman bersama

Setelah asosiasi itu mengakar, preferensi dapat bertahan bahkan ketika hubungan telah berakhir. Inilah sebabnya sebagian orang bertahun-tahun kemudian masih tertarik pada tipe wajah, warna rambut, atau gaya bicara yang mengingatkan mereka pada cinta pertama.

Mengapa Ini Relevan Hari Ini?

Di era media sosial, banyak orang mengira selera dibentuk murni oleh standar publik: tren kecantikan, algoritma, influencer, atau budaya populer. Ibnu Hazm mengingatkan bahwa pengalaman pribadi sering jauh lebih kuat daripada standar umum.

Dua orang bisa hidup dalam budaya yang sama, melihat iklan yang sama, dan mengenal standar kecantikan yang sama, tetapi jatuh cinta pada tipe yang sangat berbeda karena sejarah emosional mereka berbeda.

Pelajaran ini penting agar kita tidak mudah meremehkan selera orang lain. Apa yang tampak “biasa” bagi kita mungkin memiliki makna emosional yang sangat dalam bagi orang lain.

Batas yang Perlu Dijaga

Meski demikian, ada bahaya jika preferensi emosional dijadikan ukuran mutlak untuk menilai seluruh manusia. Cinta dapat membentuk selera, tetapi ia tidak boleh membuat kita menolak kebaikan, akhlak, atau nilai yang lebih penting. Seseorang boleh menyukai tipe tertentu, namun tidak bijak jika menganggap semua selain tipe itu tidak layak dihargai.

Ibnu Hazm sendiri menulis bab ini sebagai pengamatan tentang kekuasaan cinta, bukan sebagai aturan bahwa setiap orang harus mempertahankan preferensi sempit sepanjang hidupnya.

Penutup

Bab ini menyimpan satu pelajaran besar: cinta tidak hanya memilih objek yang dicintai; ia membentuk cara kita melihat keindahan itu sendiri. Setelah hati benar-benar terpaut, ciri yang melekat pada orang yang dicintai dapat berubah menjadi standar kecantikan pribadi yang bertahan lama. Karena itu manusia sering kali tidak jatuh cinta pada “yang paling indah menurut semua orang”, melainkan pada “yang paling bermakna bagi hatinya”.

Dan di situlah kekuatan cinta yang paling halus: ia mengubah bukan hanya siapa yang kita cintai, tetapi juga apa yang kita anggap indah.

Pesan moral

Jangan menganggap selera manusia sepenuhnya ditentukan oleh standar umum. Cinta, kenangan, dan kebersamaan dapat membentuk preferensi yang sangat pribadi. Karena itu, hormatilah perbedaan selera, jangan mudah meremehkan pilihan orang lain, dan jangan pula menjadikan ketertarikan emosional sebagai satu-satunya ukuran nilai seseorang. Keindahan yang bertahan paling lama sering kali bukan yang paling dipuji banyak orang, melainkan yang paling dalam jejaknya di hati.

Kata bijak

“Cinta yang kuat bukan hanya memilih seseorang; ia mengajari hati melihat keindahan pada apa yang melekat padanya.”

Catatan penting tentang syair di akhir kutipan

Pada bagian penutup teks Arab, Ibnu Hazm membela rambut pirang sebagai preferensi pribadinya dan menulis bait yang merendahkan warna hitam/gelap serta mengaitkannya dengan citra neraka dan pakaian duka. Itu adalah ungkapan polemis dan subjektif dalam konteks syair cinta abad pertengahan, bukan penilaian faktual tentang manusia atau warna kulit. Saya tidak menerjemahkan bait-bait tersebut secara harfiah karena memuat generalisasi merendahkan yang tidak layak dijadikan nilai normatif modern. Inti argumen bab ini tetap sama tanpa bagian itu: cinta dapat membentuk preferensi estetika pribadi secara sangat kuat dan bertahan lama.

Referensi:

باب من أحب صفة لم يستحسن بعدها غيرها مما يخالفها

واعلم أعزك الله إن للحب حكمًا على النفوس، ماضيًا، وسلطانًا قاضيًا، وأمرًا لا يخالف، وحدًا لا يعصى، وملكًا لا يتعدى، وطاعة لا تصرف، ونفاذًا لا يرد، وأنه ينقض المرر، ويحل المبرم، ويحلل الجامد، ويخل الثابت، ويحل الشغاف، ويحل الممنوع.

ولقد شاهدت كثيرًا من الناس لا يهتمون في تمييزهم، ولا يخاف عليهم سقوط في معرفتهم، ولا اختلال بحسن اختيارهم، ولا تقصير في حدسهم، قد وصفوا أحبابًا لهم في بعض صفاتهم بما ليس بمستحسن عند الناس ولا يرضى في الجمال، فصارت هجيراهم، وعرضة لأهوائهم، ومنتهى استحسانهم، ثم مضى أولئك إما بسلو أو بين أو هجر أو بعض عوارض الحب، وما فارقهم استحسان تلك الصفات ولا بان عنهم تفضيلها على ما هو أفضل منها في الخليقة، ولا مالوا إلى سواها؛ بل صارت تلك الصفات المستجادة عند الناس مهجورة عندهم وساقطة لديهم إلى أن فارقوا الدنيا وانقضت اعمارهم، حنينًا منهم إلى من فقدوه، وألفه لمن صحبوه.

وما أقول إن ذلك كان تصنعًا لكن طبعًا حقيقيًا واختيارًا لا يدخل فيه، ولا يرون سواه، ولا يقولون في طي عقدهم بغيره.

وإني لأعرف من كان في جيد حبيبه بعض الوقص فما استحسن أغيد ولا غيداء بعد ذلك؛ وأعرف من كان أول علاقته بجارية مائلة إلى القصر فما أحب طويلة بعد هذا؛ وأعرف أيضًا من هوي جارية في فمها فوه لطيف فلقد كان يتقذر كل فم صغير ويذمه ويكرهه الكراهية الصحيحة.

وما أصف عن منقوصي الحظوظ في العلم والأدب لكن عن أوفر الناس قسطًا في الادراك، وأحقهم باسم الفهم والدراية.

وعني أخبرك أني أحببت في صباي جارية لي شقراء الشعر فما استحسن من ذلك الوقت سوداء الشعر، ولو أنه على الشمس أو على صورة الحسن نفسه، وإني لأجد هذا في أصل تركيبي من ذلك الوقت، لا تواتيني نفسي على سواه ولا تحب غيره البتة، وهذا العارض بعينه عرض لأبي رضي الله عنه وعلى ذلك جرى إلى أن وافاه أجله.

وأما جماعة خلفاء بني مروان - رحمهم الله - ولا سيما ولد الناصر منهم، فكلهم مجبولون على تفضيل الشقرة، لا يختلف في ذلك منهم مختلف، وقد رأيناهم ورأينا من رآهم من لدن دولة الناصر إلى الآن فما منهم إلا أشقر، نزاعًا إلى أمهاتهم، حتى قد صار ذلك فيهم خلقة، حاشا سليمان الظافر رحمه الله، فإني رأيته أسود اللمة واللحية.

وأما الناصر والحكم المستنصر رضي الله عنهما فحدثني الوزير أبي رحمه الله وغيره انهما كانا أشقرين أشهلين، وكذلك هشام المؤيد ومحمد المهدي وعبد الرحمن المرتضى رحمهم الله، فإني قد رأيتهم مرارًا ودخلت عليهم فرأيتهم شقرًا شهلًا، وهكذا أولادهم وإخوتهم وجميع أقاربهم، فلا أدري أذلك استحسان مركب في جميعهم أم لرواية كانت عند أسلافهم في ذلك فجروا عليها.

وهذا ظاهر في شعر عبد الملك بن مروان بن عبد الرحمن بن مروان بن أمير المؤمنين الناصر وهو المعروف بالطليق، وكان أشعر أهل الأندلس في زمانهم وأكثر تغزله بالشقر، وقد رأيته وجالسته.

وليس من العجب فيمن أحب قبيحًا ثم لم يصحبه ذلك في سواه فقد وقع من ذلك، ولا في من طبع مذ كان على تفضيل الأدنى، ولكن في من كان ينظر بعين الحقيقة ثم غلب عليه هوى عارض بعد طول بقائه في الجمام فأحاله عما عهدته نفسه حوالة صارت له طبعًا، وذهب طبعه الأول وهو يعرف فضل ما كان عليه أولًا، فإذا رجع إلى نفسه وجدها تأبى إلا الأدنى، فأعجب لهذا التغلب الشديد والتسلط العظيم.

وهو أصدق في المحبة حقًا ممن يتحلى بشيم قوم ليس منهم، ويدعي غريزة لا تقبله، فيزعم أنه يتخير من يحب.

أما لو شغل المحب بصيرته، وأطاح فكرته، وأجحف بتمييزه، لحال بينه وبين التخير والارتياد.

وفي ذلك أقول شعرًا منه: [من البسيط] منهم فتى كان في محبوبه وقص ... كأنما الغيد في عينيه جنان وكان منبسطًا في فضل خبرته ... بحجة حقها في القول تبيان إن المها وبها الأمثال سائرة ... لا ينكر الحسن فيها الدهر إنسان وقص فليس بها عنقاء واحدة ... وهل تزان بطول الجيد بعران وآخر كان في محبوبه فوه ... يقول حسبي في الأفواه غزلان وثالث كان في محبوبه قصر ... يقول إن ذوات الطول غيلان وأقول أيضًا: [من الطويل] يعيبونها عندي بشقرة شعرها ... فقلت لهم هذا الذي زانها عندي يعيبون لون النور والتبر ضلة ... لرأي جهول في الغواية ممتد وهل عاب لون النرجس الغض عائب ... ولون النجوم الزاهرات على البعد وأبعد خلق الله من كل حكمة ... مفضل جرم فاحم اللون مسود

به وصفت ألوان أهل جهنم ... ولبسة باك مثكل الأهل محتد ومذ لاحت الرابات سودًا تيقنت ... نفوس الورى أن لا سبيل إلى الرشد

Sumber:

الكتاب: طوق الحمامة في الألفة والألاف

المؤلف: أبو محمد علي بن أحمد بن سعيد بن حزم الأندلسي القرطبي الظاهري (ت ٤٥٦هـ)

Baca juga:

Cinta yang Tumbuh Perlahan: Mengapa Perasaan yang Datang Lambat Justru Lebih Bertahan?

Bahasa Rahasia Para Pecinta: Ketika Hati Berbicara Melalui Sindiran

Apa yang Masuk dengan Susah Tidak Akan Keluar dengan Mudah


Pendahuluan

Di zaman yang serba cepat, banyak orang mengagungkan cinta pada pandangan pertama. Sebuah tatapan singkat dianggap cukup untuk menyalakan api asmara. Sebuah pertemuan sesaat diyakini mampu menentukan masa depan hubungan dua insan.

Namun tidak semua manusia memiliki watak demikian.

Ada sebagian orang yang tidak mudah jatuh cinta. Hati mereka tidak serta-merta terpikat oleh kecantikan wajah, kemanisan senyum, atau keelokan penampilan. Mereka membutuhkan waktu yang panjang untuk mengenal seseorang, menyaksikan akhlaknya, memahami tabiatnya, dan merasakan kenyamanan bersamanya sebelum benih-benih cinta tumbuh dalam hati.

Menurut Ibnu Hazm, justru cinta jenis inilah yang biasanya paling kuat, paling kokoh, dan paling sulit lenyap.

Dalam pembahasan ini beliau mengangkat sebuah bab yang berjudul:

"Bab Orang yang Tidak Mencintai Kecuali Setelah Waktu yang Lama."

Bab ini merupakan salah satu pembahasan paling menarik dalam kitab Thauq al-Hamamah, karena di dalamnya Ibnu Hazm bukan hanya menjelaskan teori cinta, tetapi juga menggambarkan wataknya sendiri dalam mencintai.

Ada Manusia yang Tidak Mudah Jatuh Cinta

Ibnu Hazm berkata:

"Di antara manusia ada yang cintanya tidak akan benar-benar muncul kecuali setelah lama bergaul, sering bertemu, dan panjangnya kebersamaan."

Mereka bukan tipe orang yang mudah terpikat.

Mungkin mereka bertemu seseorang setiap hari selama berbulan-bulan tanpa merasakan apa-apa.

Mungkin mereka berbicara, bekerja, belajar, atau berinteraksi dalam waktu yang panjang tanpa muncul ketertarikan khusus.

Namun perlahan-lahan sesuatu mulai tumbuh.

Mereka mulai mengenal akhlaknya.

Mereka mulai memahami cara berpikirnya.

Mereka mulai terbiasa dengan kehadirannya.

Mereka mulai merasakan kehilangan ketika orang itu tidak ada.

Dan dari sinilah cinta lahir.

Bukan karena kejutan sesaat.

Bukan karena ledakan emosi.

Melainkan karena kedalaman pengenalan.

Cinta yang Masuk Sulit, Keluar Pun Sulit

Ibnu Hazm kemudian memberikan kaidah yang sangat indah:

"Apa yang masuk dengan susah, tidak akan keluar dengan mudah."

Kalimat pendek ini merupakan inti dari seluruh bab.

Cinta yang lahir secara perlahan biasanya memiliki akar yang dalam.

Ia tidak tumbuh karena kekaguman sesaat.

Ia tumbuh karena pengalaman bersama.

Karena kebiasaan.

Karena kenangan.

Karena kecocokan jiwa.

Karena itu ketika hubungan berakhir, cinta semacam ini tidak mudah hilang.

Pemiliknya bisa mengingat seseorang selama bertahun-tahun.

Bahkan setelah berpisah jauh.

Bahkan setelah tak lagi bertemu.

Bahkan setelah usia berubah dan keadaan berganti.

Bekasnya tetap ada.

Kisah Ruh yang Enggan Memasuki Tubuh

Ibnu Hazm kemudian mengutip sebuah atsar yang pernah beliau dengar dari para gurunya.

Disebutkan bahwa ketika Allah memerintahkan ruh untuk memasuki jasad Nabi Adam yang masih berupa tanah liat, ruh merasa takut dan enggan.

Kemudian dikatakan kepadanya:

"Masuklah dengan terpaksa dan keluarlah dengan terpaksa."

Makna yang ingin diambil Ibnu Hazm dari kisah ini adalah bahwa sesuatu yang pada awalnya masuk dengan susah biasanya juga akan keluar dengan susah.

Beliau menjadikan kisah tersebut sebagai ilustrasi bagi cinta yang lahir setelah proses panjang.

Ketika cinta sudah benar-benar menetap dalam jiwa, maka mengeluarkannya bukan perkara mudah.

Orang Bijak Menghindari Awal-Awal Cinta

Ibnu Hazm mengaku pernah melihat orang-orang yang memahami sifat dirinya sendiri.

Mereka mengetahui bahwa jika cinta berhasil masuk ke hati mereka, maka akan sangat sulit untuk mengusirnya.

Karena itu mereka sangat berhati-hati.

Ketika mulai merasakan ketertarikan kepada seseorang, mereka segera menjauh.

Mereka mengurangi pertemuan.

Mereka membatasi komunikasi.

Mereka menghindari sebab-sebab yang dapat memperkuat perasaan tersebut.

Bukan karena mereka membenci cinta.

Melainkan karena mereka memahami bahayanya.

Mereka tahu bahwa api kecil yang dibiarkan terus menyala akan berubah menjadi kobaran besar.

Dan ketika sudah menjadi besar, mereka mungkin tidak lagi mampu mengendalikannya.

Sikap seperti ini menunjukkan kedewasaan.

Tidak semua perasaan harus dipelihara.

Terkadang menjaga hati berarti menghentikan sesuatu sebelum menjadi terlalu kuat.

Syair Tentang Menjauhi Sebab-Sebab Cinta

Ibnu Hazm menulis syair yang maknanya:

Aku akan menjauhi sebab-sebab cinta,

karena aku melihat kehati-hatian adalah sifat orang bijaksana.

Awal cinta hanyalah memandang bunga-bunga di pipi yang indah.

Namun tiba-tiba engkau mendapati dirimu terbelenggu dalam rantai-rantainya.

Seperti orang yang tertipu oleh genangan dangkal,

lalu tergelincir ke lautan yang dalam.

Betapa akurat gambaran ini.

Banyak orang mengira mereka mampu mengendalikan perasaan.

Mereka berkata:

"Aku hanya melihat-lihat."

"Aku hanya berteman."

"Aku hanya mengagumi."

Namun sedikit demi sedikit hati mulai terikat.

Perhatian bertambah.

Pikiran semakin dipenuhi olehnya.

Lalu suatu hari mereka menyadari bahwa mereka telah menjadi tawanan cinta.

Pengalaman Pribadi Ibnu Hazm

Bagian paling menarik dari bab ini adalah ketika Ibnu Hazm berbicara tentang dirinya sendiri.

Beliau mengatakan:

"Aku selalu merasa heran terhadap orang yang mengaku mencintai hanya karena satu pandangan."

Beliau mengakui bahwa dirinya hampir tidak pernah mempercayai cinta semacam itu.

Menurut pandangannya, apa yang disebut cinta pada pandangan pertama lebih dekat kepada syahwat dan kekaguman fisik semata.

Adapun cinta yang benar-benar menembus relung hati menurut beliau membutuhkan waktu.

Beliau berkata:

"Tidak pernah ada cinta yang melekat dalam diriku kecuali setelah waktu yang panjang dan setelah lama bergaul dengan orang tersebut."

Ini menunjukkan bahwa manusia memang berbeda-beda.

Ada yang jatuh cinta dengan cepat.

Ada yang membutuhkan waktu lama.

Tidak ada satu pola yang berlaku untuk semua orang.

Sulit Melupakan Orang yang Pernah Dicintai

Karena cintanya tumbuh perlahan dan berakar kuat, Ibnu Hazm mengaku memiliki kesulitan yang besar dalam melupakan.

Beliau berkata:

"Aku tidak pernah melupakan satu pun kasih sayang yang pernah ada dalam hidupku."

Setiap kenangan lama masih hidup dalam hatinya.

Setiap hubungan yang pernah berarti masih meninggalkan bekas.

Bahkan kenangan-kenangan tersebut terkadang membuatnya kehilangan selera makan dan minum.

Ini menunjukkan sisi emosional seorang ulama besar yang sering tidak diketahui banyak orang.

Di balik keluasan ilmu dan ketajaman pikirannya, terdapat hati yang sangat lembut.

Hati yang mudah menyimpan kenangan.

Hati yang sulit melepaskan cinta yang pernah tumbuh.

Tidak Mudah Bosan

Ibnu Hazm juga menjelaskan sifat lain yang berkaitan dengan tabiatnya.

Beliau berkata bahwa dirinya hampir tidak pernah merasa bosan terhadap sesuatu yang telah dikenalnya.

Bukan hanya terhadap sahabat atau orang yang dicintai.

Tetapi juga terhadap benda-benda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pakaian.

Kendaraan.

Makanan.

Dan berbagai hal lainnya.

Ini menunjukkan bahwa sebagian manusia memang memiliki karakter yang sangat setia.

Mereka tidak mudah berpindah.

Mereka tidak mudah mengganti.

Mereka tidak mudah melupakan.

Karena itu ketika mereka mencintai seseorang, cinta tersebut biasanya berlangsung lama.

Luka Perpisahan yang Tidak Pernah Sembuh

Ibnu Hazm kemudian mengungkapkan pengakuan yang sangat menyentuh.

Beliau berkata bahwa sejak merasakan pahitnya perpisahan dengan orang-orang yang dicintainya, hidupnya tidak pernah benar-benar tenang.

Kenangan masa lalu terus datang menghampiri.

Kesedihan lama terus muncul kembali.

Beliau menggambarkan dirinya sebagai:

"Korban berbagai kesedihan yang masih tercatat sebagai orang hidup."

Ungkapan ini menunjukkan betapa dalamnya pengaruh cinta terhadap jiwa manusia.

Kadang-kadang perpisahan tidak mengakhiri cinta.

Justru perpisahan membuat cinta semakin hidup dalam kenangan.

Cinta Sejati Tidak Lahir dalam Satu Jam

Setelah menjelaskan pengalamannya sendiri, Ibnu Hazm menegaskan bahwa cinta yang benar tidak muncul secara tiba-tiba. Ia tumbuh sedikit demi sedikit, seperti pohon yang akarnya menembus tanah sebelum batangnya menjulang ke langit.

Beliau mengungkapkan hal itu dalam sebuah syair yang indah:

"Cinta yang jujur bukanlah anak sesaat,

bukan pula nyala api yang muncul ketika batu dipukulkan.

Tetapi ia berjalan perlahan,

tumbuh dari panjangnya percampuran dan kebersamaan,

hingga kokohlah tiangnya."

Syair ini mengandung hikmah yang sangat dalam.

Banyak hubungan gagal karena dibangun di atas emosi yang terlalu cepat. Ketika kegembiraan awal menghilang, tidak ada fondasi yang tersisa untuk mempertahankan hubungan tersebut.

Sebaliknya, cinta yang tumbuh dari pergaulan yang panjang memiliki akar yang menghunjam dalam. Ia mengenal kelebihan dan kekurangan pasangannya. Ia tidak dibangun di atas khayalan, tetapi di atas kenyataan.

Karena itu Ibnu Hazm melanjutkan:

"Tidaklah dekat dengan cinta itu kegoncangan dan perubahan, dan tidak pula jauh darinya keteguhan dan pertambahan."

Artinya, cinta yang tumbuh perlahan biasanya stabil. Ia tidak mudah berubah hanya karena persoalan kecil atau godaan sesaat.

Hukum Alam yang Berlaku pada Segala Sesuatu

Ibnu Hazm kemudian mengemukakan sebuah pengamatan yang sangat menarik:

"Segala sesuatu yang tumbuh dengan cepat biasanya akan cepat pula lenyap."

Ini adalah hukum yang dapat kita saksikan di mana-mana.

Rumput liar tumbuh dalam beberapa hari, tetapi juga cepat mati.

Sebaliknya, pohon besar membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh, namun dapat bertahan puluhan bahkan ratusan tahun.

Demikian pula persahabatan.

Ada persahabatan yang terjalin dalam beberapa hari lalu hilang dalam beberapa minggu.

Ada pula persahabatan yang dibangun perlahan, tetapi bertahan sepanjang usia.

Begitu pula cinta.

Cinta yang lahir hanya karena ketampanan, kecantikan, atau pesona sesaat sering kali memudar ketika faktor-faktor tersebut berubah.

Namun cinta yang tumbuh karena pengenalan jiwa akan tetap hidup meskipun usia bertambah, wajah berubah, dan keadaan berganti.

Analogi Tanah yang Keras

Dalam salah satu perumpamaan paling indah dalam bab ini, Ibnu Hazm menggambarkan dirinya seperti tanah yang keras dan padat.

Beliau berkata bahwa dirinya laksana tanah yang sulit ditembus akar tanaman.

Akar membutuhkan waktu lama untuk masuk ke dalamnya.

Namun ketika akar itu berhasil menembus dan mengakar kuat, tanaman tersebut akan tumbuh kokoh dan sulit dicabut.

Perumpamaan ini menggambarkan orang-orang yang tidak mudah jatuh cinta.

Mereka mungkin tampak dingin pada awalnya.

Mereka tidak mudah menunjukkan perasaan.

Mereka tidak cepat terpikat.

Tetapi ketika cinta telah masuk ke dalam hati mereka, maka cinta itu menjadi sangat kuat.

Mereka termasuk orang yang paling setia.

Mereka mencintai dengan seluruh jiwa.

Dan mereka juga paling menderita ketika harus berpisah.

Hubungan Jiwa dalam Pandangan Ibnu Hazm

Sebagian orang mungkin bertanya:

Bukankah sebelumnya Ibnu Hazm mengatakan bahwa cinta merupakan hubungan antara jiwa-jiwa yang telah saling mengenal di alam yang tinggi?

Jika demikian, mengapa sekarang beliau mengatakan bahwa cinta membutuhkan waktu yang panjang?

Beliau sendiri menjawab pertanyaan ini.

Menurut beliau, kedua pandangan tersebut sama sekali tidak bertentangan.

Hakikat cinta memang merupakan kesesuaian antara jiwa dengan jiwa.

Namun ketika jiwa turun ke dunia, ia tertutupi oleh berbagai penghalang.

Tubuh.

Kebiasaan.

Lingkungan.

Keinginan duniawi.

Berbagai sifat manusiawi.

Semua itu menjadi tabir yang menghalangi jiwa mengenali pasangan sejatinya secara langsung.

Karena itu diperlukan proses.

Diperlukan perkenalan.

Diperlukan interaksi.

Diperlukan pengalaman bersama.

Melalui proses itulah jiwa perlahan-lahan mengenali kesesuaian yang tersembunyi.

Dan ketika kesesuaian itu ditemukan, lahirlah cinta yang sebenarnya.

Mengapa Kita Perlu Mengenal Seseorang?

Ibnu Hazm menjelaskan bahwa jiwa tidak dapat terhubung secara sempurna kecuali setelah mengenali sifat-sifat yang serupa pada diri orang lain.

Manusia tidak hanya mencintai wajah.

Mereka mencintai nilai.

Mereka mencintai karakter.

Mereka mencintai cara berpikir.

Mereka mencintai akhlak.

Mereka mencintai hal-hal yang membuat seseorang menjadi dirinya sendiri.

Semua itu tidak mungkin diketahui hanya dengan satu tatapan.

Karena itulah cinta yang kokoh biasanya lahir setelah proses pengenalan yang panjang.

Semakin dalam seseorang mengenal pasangannya, semakin besar kemungkinan lahirnya hubungan yang kuat.

Perbedaan Antara Cinta dan Syahwat

Salah satu pembahasan paling penting dalam bab ini adalah perbedaan antara cinta dan syahwat.

Menurut Ibnu Hazm, banyak orang keliru membedakan keduanya.

Seseorang melihat wajah yang cantik.

Ia merasa tertarik.

Ia ingin selalu memandangnya.

Ia ingin mendekatinya.

Lalu ia menyebut semua itu sebagai cinta.

Padahal belum tentu demikian.

Ibnu Hazm menjelaskan bahwa ketertarikan yang hanya didasarkan pada penampilan fisik pada dasarnya adalah syahwat.

Mata tertarik kepada warna.

Bentuk.

Keindahan lahiriah.

Namun semuanya masih berada pada tingkat jasmani.

Adapun cinta sejati baru muncul ketika ketertarikan fisik itu disertai hubungan batin.

Ketika jiwa menemukan kecocokan.

Ketika akhlak saling mendukung.

Ketika karakter saling melengkapi.

Ketika dua pribadi merasa nyaman untuk berjalan bersama dalam kehidupan.

Pada titik itulah syahwat berubah menjadi cinta.

Mengapa Banyak Orang Salah Menamai Perasaannya?

Menurut Ibnu Hazm, kesalahan terbesar manusia dalam urusan asmara adalah menyebut setiap ketertarikan sebagai cinta.

Padahal sering kali yang terjadi hanyalah kekaguman sesaat.

Seseorang melihat wajah yang indah lalu merasa terpesona.

Namun beberapa minggu kemudian perasaan itu hilang.

Jika itu benar-benar cinta, mengapa ia begitu cepat lenyap?

Karena sesungguhnya yang hilang bukan cinta, melainkan ketertarikan fisik yang tidak memiliki akar yang dalam.

Di sinilah pentingnya mengenal diri sendiri.

Seseorang harus jujur terhadap apa yang dirasakannya.

Apakah ia mencintai jiwa orang tersebut?

Ataukah hanya mengagumi penampilannya?

Jawaban atas pertanyaan ini sering menentukan masa depan sebuah hubungan.

Bisakah Seseorang Mencintai Dua Orang Sekaligus?

Salah satu pembahasan paling terkenal dalam kitab ini adalah bantahan Ibnu Hazm terhadap orang yang mengaku mencintai dua orang sekaligus.

Beliau menulis dengan sangat tegas:

"Pendusta adalah orang yang mengaku mencintai dua orang."

Mengapa demikian?

Menurut beliau, hati manusia pada hakikatnya hanya memiliki satu pusat cinta yang sejati.

Sebagaimana akal tidak mengenal dua Tuhan, demikian pula hati tidak mengenal dua cinta yang sempurna pada saat yang sama.

Beliau mengibaratkan:

"Sebagaimana akal hanya mengenal satu Tuhan Yang Maha Pengasih, demikian pula hati hanya mencintai satu kekasih."

Tentu yang dimaksud adalah cinta yang benar-benar menguasai hati.

Adapun ketertarikan kepada beberapa orang sekaligus biasanya hanyalah bentuk syahwat atau kekaguman yang berbeda-beda.

Bukan cinta yang sesungguhnya.

Mengapa Hati Tidak Mampu Membagi Cinta Sejati?

Ketika seseorang benar-benar mencintai, sebagian besar perhatian, pikiran, harapan, dan emosinya tertuju kepada satu orang.

Ia memikirkan kebahagiaan orang itu.

Ia mengkhawatirkan keselamatannya.

Ia merindukan kehadirannya.

Ia ingin berbagi hidup dengannya.

Keadaan seperti ini sulit dibagi secara sempurna kepada dua orang sekaligus.

Karena itu Ibnu Hazm memandang bahwa klaim mencintai dua orang biasanya menunjukkan bahwa perasaan tersebut belum mencapai tingkat cinta yang sebenarnya.

Sebuah Kisah yang Menarik

Pada akhir bab ini, Ibnu Hazm menceritakan seorang pemuda bangsawan yang memiliki sifat unik.

Pada awalnya para perempuan yang menjadi istrinya atau budaknya tidak terlalu menyukainya.

Sebagian bahkan merasa tidak nyaman dengannya.

Wajahnya tidak terlalu menarik.

Perangainya cenderung serius.

Ia tidak pandai bersikap manis kepada perempuan.

Namun ada sesuatu yang menarik.

Setelah hidup bersamanya dalam waktu tertentu, perasaan benci itu berubah menjadi cinta yang mendalam.

Yang semula tidak menyukai kehadirannya menjadi tidak tahan berpisah darinya.

Yang semula merasa terganggu justru merasakan kesedihan ketika jauh darinya.

Fenomena ini terjadi berulang kali.

Akhirnya salah seorang sahabat bertanya tentang rahasianya.

Pemuda tersebut menjelaskan bahwa kedekatan fisik yang intens dan kebersamaan yang panjang menciptakan hubungan emosional yang sangat kuat.

Ibnu Hazm menggunakan kisah ini untuk menunjukkan bahwa hubungan jasmani sering kali menjadi jalan bagi hubungan batin.

Karena anggota tubuh merupakan pintu masuk menuju jiwa.

Melalui kebersamaan, perhatian, sentuhan yang halal, dan kehidupan bersama, lahirlah keterikatan emosional yang sebelumnya tidak ada.

Hikmah Besar dari Bab Ini

Bab ini mengajarkan bahwa cinta yang paling kuat sering kali bukan cinta yang datang paling cepat.

Justru cinta yang tumbuh perlahan, melalui pengenalan, kebersamaan, dan perjalanan hidup bersama, biasanya menjadi cinta yang paling kokoh.

Ia tidak mudah terguncang.

Ia tidak mudah pudar.

Ia tidak mudah digantikan.

Di era modern yang serba instan, pelajaran ini sangat berharga.

Banyak orang ingin mendapatkan cinta secepat mungkin.

Namun mereka lupa bahwa sesuatu yang bernilai tinggi memang membutuhkan waktu untuk tumbuh.

Pohon besar tidak muncul dalam sehari.

Ilmu tidak diperoleh dalam semalam.

Demikian pula cinta yang sejati.

Ia memerlukan kesabaran.

Ia memerlukan proses.

Ia memerlukan pengenalan yang mendalam.

Dan ketika cinta seperti itu akhirnya tumbuh, ia menjadi salah satu anugerah terbesar yang Allah titipkan ke dalam hati manusia.

Penutup

Menurut Ibnu Hazm, cinta yang paling kuat bukanlah cinta yang lahir dari kejutan sesaat, melainkan cinta yang tumbuh melalui perjalanan panjang antara dua jiwa yang saling mengenal.

Ia berawal dari kebiasaan, berkembang melalui kedekatan, lalu berakar dalam hingga sulit dicabut oleh waktu.

Karena itu jangan terburu-buru menilai perasaan hanya dari getaran pertama. Bisa jadi yang paling berharga bukanlah cinta yang datang paling cepat, melainkan cinta yang tumbuh paling lambat namun bertahan paling lama.

Sebab sebagaimana akar yang menghunjam jauh ke dalam tanah tidak mudah dicabut oleh badai, demikian pula cinta yang dibangun di atas pengenalan dan kesetiaan tidak mudah dihancurkan oleh perubahan zaman.

Pesan Moral

Bab ini mengajarkan bahwa cinta sejati bukanlah sekadar getaran sesaat yang lahir dari ketertarikan mata, melainkan ikatan jiwa yang tumbuh melalui waktu, pengenalan, kebersamaan, dan kesesuaian akhlak. Apa yang dibangun dengan proses yang panjang biasanya lebih kuat, lebih dalam, dan lebih sulit dilupakan daripada apa yang lahir secara tergesa-gesa. Karena itu, jangan mudah tertipu oleh perasaan yang datang tiba-tiba, dan jangan pula meremehkan hubungan yang tumbuh perlahan. Cinta yang paling berharga sering kali lahir dari kesabaran, bukan dari ketergesa-gesaan.

Selain itu, kisah ini mengingatkan bahwa hati manusia tidak diciptakan untuk bermain-main dengan cinta. Ketika cinta telah benar-benar menetap dalam jiwa, ia akan memengaruhi seluruh kehidupan seseorang; menghadirkan kebahagiaan ketika dekat, dan meninggalkan kerinduan ketika jauh. Oleh sebab itu, seseorang hendaknya menjaga pandangan, menjaga pergaulan, dan berhati-hati terhadap sebab-sebab yang dapat menjerumuskannya ke dalam cinta yang tidak terarah.

Pada saat yang sama, Ibnu Hazm menegaskan bahwa cinta sejati berbeda dari syahwat. Ketertarikan fisik mungkin menjadi pintu awal, tetapi cinta yang sesungguhnya baru lahir ketika dua jiwa saling mengenal, saling memahami, dan menemukan kecocokan dalam nilai, akhlak, serta tujuan hidup. Karena itu, jangan menilai cinta hanya dari keindahan rupa, sebab kecantikan mata dapat memudar, sedangkan kecocokan jiwa akan tetap hidup selama hati masih bernapas.

Inti pelajarannya adalah:

"Cinta yang paling kokoh bukanlah cinta yang paling cepat datang, melainkan cinta yang tumbuh dengan kesabaran, dipelihara oleh pengenalan, diperkuat oleh kesetiaan, dan dijaga oleh akhlak serta iman."

"Apa yang tumbuh perlahan akan berakar lebih dalam; demikian pula cinta sejati, ia tidak lahir dari ketergesa-gesaan, tetapi dari waktu, kesetiaan, dan pertemuan dua jiwa yang saling memahami."

Referensi:

باب من لا يحب إلا مع المطاولة

ومن الناس من لا تصح محبته إلا بعد طول المخافتة وكثير المشاهدة وتمادى الأنس، وهذا الذي يوشك أن يدوم ويثبت ولا يحيك فيه مر الليالي، فما دخل عسيرًا لم يخرج يسيرًا، وهذا مذهبي.

وقد جاء في الأثر أن الله عز وجل قال للروح حين أمره أن يدخل جسد آدم، وهو فخار، فهاب وجزع: ادخل كرهًا واخرج كرهًا.

حدثناه عن شيوخنا.

ولقد رأيت من أهل هذه الصفة من إن أحس من نفسه بابتداء هوى أو توجس من استحسانه ميلًا إلى بعض الصور استعمل الهجر وترك الإلمام، لئلا يزيد ما يجد فيخرج الأمر عن يديه، ويحال بين العير والنزوان.

وهذا يدل على لصوق الحب بأكباد أهل هذه الصفة، وأنه إذا تمكن منهم لم يحل أبدًا.

وفي ذلك أقول قطعة منها: [من الوافر]

سأبعد عن دواعي الحب إني ... رأيت الحزم من صفة الرشيد رأيت الحب أوله التصدي ... بعينك في أزاهير الخدود فبينا أنت مغتبط مخلى ... إذا قد صرت في حلق القيود كمغتر بضحضاح قريب ... فزل فغاب في غمر المدود وإني لأطيل العجب من كل من يدعي أنه يحب من نظرة واحدة، ولا أكاد أصدقه، ولا أجعل حبه إلا ضربًا من الشهوة، وأما أن يكون في ظني متمكنًا من صميم الفؤاد نافذًا في حجاب القلب فما أقدر ذلك، وما لصق بأحشائي حب قط إلا مع الزمن الطويل وبعد ملازمة الشخص لي دهرًا وأخذي معه في كل جد وهزل، وكذلك أنا في السلو والتوقي، فما نسيت ودًا لي قط، وإن حنيني إلى كل عهد تقدم لي ليغصني بالطعام ويشرقني بالماء، وقد استراح من لم تكن هذه صفته.

وما مللت شيئًا قط بعد معرفتي به، ولا أسرعت إلى الأنس مذ كنت، لا أقول الألاف والإخوان وحدهم، لكن في كل ما يستعمل الإنسان من ملبوس ومركوب ومطعوم وغير ذلك، وما انتفعت بعيش ولا فارقني الإطراق والانغلاق مذ ذقت طعم فراق الأحبة، وإنه لشجى يعتادني وولوع هم ما ينفعك يطرقني، ولقد نغص تذكري ما مضى كل عيش استأنفه، وإني لقتيل الهموم في عداد الأحياء، ودفين الأسى بين أهل الدنيا.

والله المحمود على كل حال لا إله إلا هو؛ وفي ذلك أقول شعرًا منه: [من الطويل] محبة صدق لم تكن بنت ساعة ... ولا وريت حين ارتفاد زنادها ولكن على مهل سرت وتولدت ... بطول امتزاج فاستقر عمادها

فلم يدن منها عزمها وانتفاضها ... ولم ينأ عنها مكثها وازديادها يؤكد ذا أنا نرى كل نشأة ... تتم سريعًا عن قريب نفادها ولكني أرض عزاز صليبة ... منيع إلى كل الغروس انقيادها فما نفذت منها لديها عروقها ... فليست تبالي أن تجود عهادها ولا يظن ظان ولا يتوهم متوهم أن كل هذا مخالف لقولي المسطر صدر الرسالة: إن الحب اتصال بين النفوس في أصل عالمها العلوي، بل هو مؤكد له.

فقد علمنا أن النفس في هذا العالم الأدنى قد غمرتها الحجب، ولحقتها الأعراض، وأحاطت بها الطبائع الأرضية الكونية، فسترت كثيرًا من صفاتها وإن كانت لم تحله، لكن حالت دونه، فلا يرجى الاتصال على الحقيقة إلا بعد التهيؤ من النفس والاستعداد له، وبعد إيصال المعرفة إليها بما يشاكلها ويوافقها، ومقابلة الطبائع التي خفيت بما يشابهها من طبائع المحبوب، فحينئذ يتصل اتصلًا صحيحًا بلا مانع.

وأما ما يقع من أول وهلة ببعض أعراض الاستحسان الجسدي، واستطراف البصر الذي لا يجاوز الألوان، فهذا سر الشهوة ومعناها على الحقيقة، فإذا فضلت الشهوة وتجاوزت هذا الحد ووافق الفضل اتصال نفساني تشترك فيه الطبائع مع النفس تسمى عشقًا.

ومن هذا دخل الغلط على من يزعم انه يحب اثنين ويعشق شخصين متغايرين، فإنما هذا من جهة الشهوة التي ذكرناها آنفًا، وهي على المجاز تسمى محبة لا على التحقيق، وأما نفس المحب فما في الميل به فضل يصرفه في أسباب دينه ودنياه فكيف بالاشتغال بحب ثان وفي ذلك أقول: [من الخفيف] كذب المدعي هوى اثنين حتمًا ... مثل ما في الأصول أكذب ماني ليس في القلب موضع لحبيبي ... ن ولا أحدث الأمور بثاني فكما العقل واحد ليس يدري ... خالقًا غير واحد رحمان فكذا القلب واحد ليس يهوى ... غير فرد مباعد أو مدان هو في شرعة المودة ذو شر ... ك بعيد من صحة الإيمان وكذا الدين واحد مستقيم ... وكفور من عقدة دينان وإني لأعرف فتى من أهل الجدة والحسب والأدب كان يبتاع الجارية وهي سالمة الصدر من حبه، وأكثر من ذلك كارهة له لقلة حلاوة شمائل كانت فيه، وقطوب دائم كان لا يفارقه ولا سيما مع النساء، فكان لا يلبث إلا يسيرًا ريثما يصل إليها بالجماع ويعود ذلك الكره حبًا مفرطًا وكلفًا زائدًا واستهتارًا مكشوفًا، ويتحول الضجر لصحبته ضجرًا لفراقه.

صحبه هذا الأمر في عدة منهن، فقال بعض إخواني، فسألته عن ذلك فتبسم نحوي وقال: إذًا والله أخبرك، أنا أبطأ الناس إنزالًا، تقضي المرأة شهوتها وربما ثنت وإنزالي وشهوتي لم ينقضيا بعد، وما فترات بعدها قط، وإني لأبقى بمنتي بعد انقضائها الحين الصالح، وما لاقى صدري صدر امرأة قط عند الخلوة إلا عند تعمدي المعانقة، وبحسب ارتفاع صدري نزول مؤخري.

فمثل هذا وشبهه إذا وقع وافق أخلاق النفس وولد المحبة، إذ الأعضاء الحساسة مسالك إلى النفوس ومؤديات نحوها.

الكتاب: طوق الحمامة في الألفة والألاف

المؤلف: أبو محمد علي بن أحمد بن سعيد بن حزم الأندلسي القرطبي الظاهري (ت ٤٥٦هـ)

Baca juga:

Ketika Satu Tatapan Menjadi Cinta Seumur Hidup: Kisah Gadis Misteriusdalam Thauq Al-Hamamah

Cinta Membentuk Selera—Mengapa Kita Menganggap Indah Apa yangMengingatkan pada Orang yang Dicintai?

شرح التحرير على تحفة الطلاب - 3

Aqidah Tafsir Matan Hadits Syarh Hadits Ushul Fiqih Fiqih Hanafi Fiqih Maliki Fiqih Syafi'i Fiqih H...