Pendahuluan
Mengenal Allah bukan hanya dengan
menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi-Nya, tetapi juga dengan menyucikan-Nya
(tanzih) dari segala sifat yang merupakan ciri makhluk. Dalam kitab At-Tabr
al-Masbūk fī Naṣīḥat al-Mulūk, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali
al-Tusi menjelaskan bahwa akidah yang benar menuntut seorang muslim untuk
meyakini bahwa Allah Mahasuci dari bentuk, tempat, arah, ukuran, perubahan, dan
segala hal yang menjadi karakter makhluk. Penjelasan ini merupakan salah satu
fondasi utama dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Sumber Nasihat :
Kitab: At-Tabr al-Masbūk fī Naṣīḥat al-Mulūk
Bab: الأصل الثاني في تنزيه الخالق تعالى (Pokok Kedua: Menyucikan Allah Ta'ala dari
Segala Kekurangan dan Sifat Makhluk)
Penulis :
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
Al-Ghazali Ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M) adalah
seorang ulama besar yang menguasai berbagai disiplin ilmu Islam, terutama
akidah, fikih, usul fikih, tasawuf, dan akhlak. Karya-karyanya hingga kini
menjadi rujukan penting dalam dunia Islam.
Tema :
Pensucian Allah dari Segala Sifat
Makhluk sebagai Dasar Akidah Islam
Terjemahan Lengkap
Pokok
Kedua: Menyucikan Sang Pencipta Yang Maha Tinggi
Ketahuilah bahwa Allah, Mahabesar
dan Mahatinggi nama-Nya, tidak mempunyai bentuk dan tidak memiliki sesuatu yang
menyerupai-Nya.
Dia tidak turun menjadi suatu bentuk
makhluk dan tidak menempati suatu jasad.
Allah Mahasuci dari pertanyaan
tentang bagaimana keadaan-Nya, berapa ukuran-Nya, mengapa demikian, ataupun
berapa jumlah-Nya.
Dia tidak menyerupai sesuatu pun,
dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.
Segala sesuatu yang terlintas dalam
angan-angan, khayalan, maupun pikiran berupa gambaran, perumpamaan, atau bentuk
tertentu, maka Allah Mahasuci dari semua itu. Sebab semuanya merupakan sifat
makhluk, sedangkan Allah adalah Pencipta sifat-sifat tersebut, sehingga tidak
boleh disifati dengan sifat-sifat makhluk.
Allah Mahasuci, tidak berada dalam
suatu tempat dan tidak berada di atas tempat dalam arti membutuhkan tempat,
karena tempat tidak dapat meliputi-Nya.
Segala sesuatu yang ada di alam
semesta berada di bawah Arasy-Nya, sedangkan Arasy berada di bawah kekuasaan
dan pengaturan-Nya.
Sebelum menciptakan Arasy, Allah
telah ada tanpa membutuhkan tempat. Arasy bukanlah penyangga bagi Allah, bahkan
Arasy dan para malaikat yang memikulnya semuanya ditopang oleh kelembutan,
kekuasaan, dan kehendak Allah.
Istiwa Allah di atas Arasy adalah
sebagaimana yang Allah firmankan, dengan cara yang Allah kehendaki dan makna
yang Allah maksudkan, tanpa dipahami sebagai menetap, bersentuhan, menempati
ruang, menyatu dengan sesuatu, ataupun berpindah dari satu tempat ke tempat
lain.
Allah Mahatinggi di atas Arasy dan
di atas seluruh makhluk hingga ke dasar bumi, namun pada saat yang sama Dia
dekat dengan setiap makhluk-Nya.
Dia lebih dekat kepada yang jauh
maupun yang dekat daripada urat leher manusia.
Dia Mahakuasa atas segala sesuatu
dan Maha Menyaksikan segala sesuatu.
Dia berbuat sesuai dengan apa yang
Dia kehendaki.
Allah senantiasa memiliki
sifat-sifat keindahan dan keagungan, serta Mahasuci dari perubahan dan
perpindahan.
Dia tidak membutuhkan tambahan apa
pun untuk menjadi sempurna.
Allah tidak membutuhkan tempat, baik
sebelum menciptakan Arasy maupun sesudah menciptakannya.
Dia tetap memiliki sifat-sifat
kesempurnaan sebagaimana adanya sejak azali, dan tidak mungkin mengalami
perubahan ataupun pergantian pada sifat-sifat-Nya.
Allah Mahasuci dari seluruh sifat
makhluk.
Di dunia ini Allah diketahui melalui
dalil dan keimanan, sedangkan di akhirat kelak Allah akan dapat dilihat oleh
orang-orang beriman, sebagaimana kita mengenal-Nya di dunia tanpa
menyerupakan-Nya dengan makhluk.
Penglihatan tersebut tidak sama
dengan penglihatan terhadap makhluk di dunia.
Sebagaimana firman Allah:
"Tidak ada sesuatu pun yang
serupa dengan-Nya. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Artikel Pengembangan
Pembahasan tentang tanzih
merupakan salah satu inti akidah Islam. Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa Allah
tidak boleh dibayangkan seperti makhluk. Apa pun yang dapat digambarkan oleh
akal dan khayalan manusia pasti merupakan ciptaan, sedangkan Allah adalah
Pencipta segala sesuatu. Oleh karena itu, setiap gambaran tentang Allah yang
menyerupai makhluk harus ditolak.
Beliau juga menegaskan bahwa Allah
tidak membutuhkan tempat. Tempat adalah ciptaan Allah, sedangkan Sang Pencipta
telah ada sebelum adanya ruang, waktu, dan seluruh alam semesta. Karena itu,
keberadaan Allah tidak dibatasi oleh dimensi sebagaimana makhluk.
Ketika Al-Qur'an menyebut bahwa
Allah beristiwa di atas Arasy, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hal itu harus
dipahami sesuai dengan kemuliaan Allah tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk.
Istiwa bukan berarti duduk, menetap, atau membutuhkan Arasy sebagai tempat.
Sebaliknya, Arasy sendiri berada di bawah kekuasaan Allah.
Di sisi lain, Allah tetap dekat
dengan seluruh makhluk-Nya. Kedekatan ini bukan kedekatan fisik atau jarak,
melainkan kedekatan ilmu, kekuasaan, rahmat, dan pengawasan-Nya. Tidak ada satu
pun amal, doa, atau bisikan hati manusia yang tersembunyi dari pengetahuan
Allah.
Imam Al-Ghazali juga menegaskan
bahwa sifat-sifat Allah tidak mengalami perubahan. Kesempurnaan-Nya bersifat
azali dan abadi. Allah tidak bertambah sempurna karena sesuatu dan tidak pula
berkurang karena apa pun. Inilah perbedaan mendasar antara Sang Pencipta dan
seluruh makhluk.
Pada bagian akhir, beliau
mengingatkan tentang nikmat terbesar bagi orang-orang beriman di akhirat, yaitu
dapat melihat Allah. Namun, penglihatan tersebut tidak dapat disamakan dengan
melihat makhluk, karena Allah tetap Mahasuci dari segala bentuk penyerupaan.
Hikmah
- Mengenal Allah harus disertai keyakinan bahwa Dia
Mahasuci dari segala sifat makhluk.
- Akal manusia tidak mampu menggambarkan hakikat zat
Allah.
- Allah tidak membutuhkan tempat, arah, maupun ruang.
- Seluruh alam berada di bawah kekuasaan Allah, termasuk
Arasy.
- Istiwa Allah di atas Arasy diimani sebagaimana
datangnya nash tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk.
- Allah senantiasa dekat dengan hamba-hamba-Nya melalui
ilmu, kekuasaan, rahmat, dan pengawasan-Nya.
- Sifat-sifat Allah bersifat sempurna, azali, dan tidak
mengalami perubahan.
- Orang-orang beriman akan memperoleh kenikmatan melihat
Allah di akhirat dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, bukan
seperti melihat makhluk.
Penutup
Imam Al-Ghazali menempatkan tanzih
sebagai bagian penting dari akidah yang benar. Seorang muslim tidak hanya
meyakini keberadaan Allah, tetapi juga menyucikan-Nya dari segala kekurangan dan
penyerupaan dengan makhluk. Dengan memahami bahwa Allah Mahatinggi,
Mahasempurna, tidak membutuhkan tempat, serta tidak dapat diserupakan dengan
apa pun, keimanan akan menjadi lebih kokoh dan terhindar dari pemahaman yang
menyimpang. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an, "Tidak ada
sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Melihat." Ayat ini menjadi landasan utama bahwa Allah memiliki
sifat-sifat kesempurnaan tanpa menyerupai satu pun dari makhluk-Nya.
Teks Arab :
الأصل الثاني في تنزيه الخالق
تعالى
إعلم أن البارئ، تعالى ذكره، ليس
له صورة ولا مثل، وأنه لا ينزل ولا يحل في قالب، وأنه تعالى منزّه عن الكيف والكم،
وعن لماذا وكم، وأنه لا يشبه شيئًا ولا يشبه شيء، وكلما يخطر في الوهم والخيال
والفكر من التخيل والتمثيل والتكيف فانه منزّه عن ذلك، لأن ذلك من صفات المخلوقين
وهو خالقها فلا يوصف بها، وأنه تعالى جدّه ليس في مكان ولا على مكان، فإن المكان
لا يحصره، وكل ما في العالم فإنه تحت عرشه، وعرشه تحت قدرته وتسخيره، وأنه قبل
العرش كان فترها عن المكان وليس العرش بحامل له بل العرش وحملته يحملهم لطفه
وقدرته، واستواؤه على العرش كما قال، وعلى الوجه الذي قال وبالمعنى الذي أراد،
استواء منزهًا عن الاستقرار والمماسة والتمكن والحلول والانتقال، وهو سبحانه فوق
العرش وفوق كل شيء إلى تخوم الثرى، وهو مع ذلك قريب من كل موجود، وهو أقرب الى
البعيد
والقريب من حبل الوريد، وهوعلى كل
شيء قدير وشهيد، فعّال لما يريد لا يزال في نعوت الجمال، وصفات الجلال، منزهًا عن
الزوال والانتقال، مستعينًا عن زيادة الاستكمال، وأنه منزه عن الحاجة إلى المكان
قبل خلقه العرش وبعد خلقه العرش، وأنه متّصف بالصفة التي كان عليها في الأزل، ولا
سبيل إلى التغير والانقلاب إلى صفاته، وهو سبحانه مقدّس عن صفات المخلوقين ومنزّه
عنهم، وهو في الدنيا معلوم وفي الآخرة مرئي كما نعلمه ي الدنيا بلا مثل ولا شبيه،
لأن تلك الرؤية لا تشابه رؤية الدنيا، ليس كمثله شيء وهو السميع البصير.
Baca juga:
Ushul Iman Menurut Imam Al-Ghazali: Dasar Akidah yang Menjadi Pokok Keimanan
Sifat Qudrah Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Allah
Mahakuasa atas Segala Sesuatu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar