Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 14): Mengapa Orang Berakal Lebih Mencintai Kefakiran, Tawadhu, dan Kerendahan di Dunia?

Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 14): Mengapa Orang Berakal Lebih Mencintai Kefakiran, Tawadhu, dan Kerendahan di Dunia?

Pendahuluan

Dalam pembahasan sebelumnya, Imam Al-Muhasibi menjelaskan bagaimana seorang mukmin yang berakal senantiasa memandang dirinya penuh kekurangan, takut terhadap dosa-dosanya, serta tidak pernah merasa aman dari makar Allah. Kesadaran itu melahirkan tawadhu dan menjauhkan dirinya dari sikap ujub maupun merasa lebih baik daripada orang lain.

Pada bagian ini, Al-Muhasibi melanjutkan penjelasan tentang buah akal yang lebih dalam lagi, yaitu kemampuan membandingkan secara benar antara dunia dan akhirat. Ketika seseorang benar-benar memahami nilai dunia dibandingkan dengan kehidupan akhirat, maka orientasi hidupnya berubah. Ia tidak lagi terpesona oleh kemuliaan dunia, tetapi lebih mengutamakan apa yang bernilai di sisi Allah.

 

Akal yang Memahami Perbedaan Dunia dan Akhirat

Imam Al-Muhasibi berkata:

"Orang yang berakal memahami dari Allah tentang hakikat dunia dan akhirat. Ia memahami sifat akhirat dengan segala kenikmatan, kerajaan, kemuliaan, kehormatan, dan kedudukan agung para penghuninya karena mereka berada di sisi Sang Penguasa. Ia juga memahami buruknya kehidupan dunia serta rendahnya kedudukannya di sisi Allah pada hari Dia menghisab hamba-hamba-Nya."

Menurut Al-Muhasibi, akal yang sehat tidak hanya memahami informasi agama secara teoritis. Akal yang benar akan melihat segala sesuatu berdasarkan ukuran Allah, bukan berdasarkan ukuran manusia.

Manusia biasanya menilai kemuliaan dari jabatan, kekayaan, popularitas, dan pengaruh. Akan tetapi, orang yang berakal menilai sesuatu berdasarkan nilainya di akhirat.

Ia mengetahui bahwa seluruh kemuliaan dunia akan lenyap. Sementara kemuliaan di akhirat bersifat kekal dan berada dalam kedekatan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kemuliaan Dunia Tidak Bernilai di Hadapan Allah

Al-Muhasibi mengingatkan bahwa apa yang dianggap tinggi oleh manusia sering kali tidak memiliki nilai di sisi Allah.

Beliau menyebutkan bahwa Allah memperlihatkan betapa rendahnya dunia ketika hari kebangkitan tiba. Bahkan orang-orang yang dahulu sombong dan membanggakan diri akan mendapatkan kehinaan yang luar biasa.

Kesombongan yang di dunia tampak megah akan berubah menjadi kerendahan yang memalukan di hadapan seluruh makhluk.

Karena itu, orang yang berakal tidak tertipu oleh kedudukan dunia. Ia mengetahui bahwa ukuran kemuliaan yang sesungguhnya bukanlah apa yang dipuji manusia hari ini, melainkan apa yang diridhai Allah pada hari kiamat nanti.

Orang Berakal Melihat Hakikat Para Penghuni Akhirat

Al-Muhasibi menggambarkan bahwa akal yang tercerahkan akan memahami betapa mulianya para penghuni akhirat.

Mereka memperoleh:

  • Kedekatan dengan Allah.
  • Kenikmatan yang tidak pernah berakhir.
  • Kehormatan yang kekal.
  • Keamanan dari segala bentuk ketakutan.
  • Kemuliaan yang tidak tercampur dengan kehinaan.

Ketika hati memahami hal ini, maka kecintaan terhadap kemewahan dunia perlahan akan memudar.

Bukan karena dunia haram secara mutlak, tetapi karena nilainya sangat kecil dibandingkan dengan apa yang Allah sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang taat.

Mengapa Orang Berakal Memilih Tawadhu?

Setelah memahami hakikat dunia dan akhirat, seseorang akan menyadari bahwa kebanggaan dunia hanyalah sementara.

Ia melihat bahwa:

  • Jabatan akan hilang.
  • Kekayaan akan ditinggalkan.
  • Popularitas akan dilupakan.
  • Kekuatan akan melemah.
  • Kehidupan akan berakhir.

Sebaliknya, tawadhu justru mengangkat derajat seseorang di sisi Allah.

Karena itu, orang yang berakal tidak sibuk mencari pengakuan manusia. Ia lebih sibuk memperbaiki dirinya dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang kekal.

Mengapa Kefakiran Lebih Dicintai daripada Kekayaan?

Pada bagian penutup teks, Al-Muhasibi menjelaskan bahwa Allah mengabarkan tentang keutamaan orang yang tidak terikat dengan dunia.

Beliau menulis bahwa ketika seorang hamba memahami semua hakikat tersebut:

"Maka kefakiran di dunia lebih ia cintai daripada kekayaan, tawadhu lebih ia cintai daripada kemuliaan dunia, dan kerendahan lebih ia cintai daripada kemuliaan yang berasal dari dunia."

Yang dimaksud bukanlah mencintai kemiskinan karena kemiskinan itu sendiri.

Maksudnya adalah tidak bergantung kepada dunia.

Orang yang berakal lebih memilih:

  • Keselamatan daripada kemewahan.
  • Kerendahan hati daripada kebanggaan.
  • Ketaatan daripada popularitas.
  • Kedekatan dengan Allah daripada pujian manusia.

Jika kekayaan datang, ia bersyukur. Jika tidak datang, ia tetap tenang. Hatinya tidak bergantung kepada harta.

Inilah makna kekayaan jiwa yang sebenarnya.

Pelajaran Penting dari Imam Al-Muhasibi

Dari uraian ini, terdapat beberapa pelajaran besar:

1. Akal yang benar selalu melihat akhirat sebagai tujuan utama

Ukuran keberhasilan bukanlah banyaknya harta atau kedudukan, tetapi sejauh mana seseorang dekat kepada Allah.

2. Dunia hanyalah sarana, bukan tujuan

Orang berakal memanfaatkan dunia untuk beribadah, bukan menjadikan dunia sebagai tujuan hidup.

3. Tawadhu adalah buah dari akal yang sehat

Semakin mengenal Allah dan akhirat, semakin kecil seseorang memandang dirinya.

4. Kekayaan hati lebih penting daripada kekayaan materi

Orang yang tidak bergantung kepada dunia akan lebih tenang dan lebih mudah bersyukur.

5. Kemuliaan sejati berada di sisi Allah

Kemuliaan dunia bisa hilang kapan saja, sedangkan kemuliaan akhirat bersifat kekal.

Penutup

Menurut Imam Al-Muhasibi, salah satu tanda kesempurnaan akal adalah kemampuan melihat dunia dan akhirat dengan ukuran yang benar. Ketika seseorang memahami betapa agungnya akhirat dan betapa rendahnya dunia dibandingkan dengannya, maka orientasi hidupnya akan berubah.

Ia tidak lagi mengejar kemuliaan yang fana, tetapi mencari kemuliaan yang abadi. Ia lebih mencintai tawadhu daripada kesombongan, lebih memilih ketergantungan kepada Allah daripada ketergantungan kepada harta, dan lebih mengutamakan keselamatan akhirat daripada kemewahan dunia.

Inilah akal yang dipuji oleh Imam Al-Muhasibi: akal yang mengantarkan pemiliknya untuk melihat segala sesuatu dengan cahaya akhirat, bukan dengan tipuan dunia yang sementara.

Referensi:

وعقل عَن الله تَعَالَى مَا أمره بِهِ وَأخْبر أَن الْفَقِير من اسْتغنى بالدنيا عَنْهَا وَمن يجازي بِمَا ١١٢ حرمه من خفَّة الْحساب والتصاعد فِي معالي درجاته
فَلَمَّا عقل ذَلِك كُله عَن ربه كَانَ الْفقر فِي الدُّنْيَا أحب إِلَيْهِ من الْغنى بهَا وَكَانَ التَّوَاضُع أحب إِلَيْهِ من الشّرف فِيهَا وَكَانَ الذل أحب إِلَيْهِ من الْعِزّ بهَا

Sumber;

الكتاب: ماهية العقل ومعناه واختلاف الناس فيه

المؤلف: الحارث بن أسد المحاسبي، أبو عبد الله (ت ٢٤٣هـ)

Baca juga:

Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 13): Memahami Perbandingan Dunia dan Akhirat

Hakikat AkalMenurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 12): Akal yang Melahirkan Muhasabah, RasaTakut, dan Kerendahan Hati

Hakikat AkalMenurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 15): Akal, Dalil, dan Hujjah dalam MencariKebenaran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Maulid Simthudduror Makna Pesantren

Download Kitab PDF : Maulid Simthudduror Makna Pesantren | Google Drive Download Kitab PDF : Maulid Simthudduror Ma...