Pendahuluan
Dalam pembahasan sebelumnya, Imam
Al-Muhasibi menjelaskan bagaimana seorang mukmin yang berakal senantiasa memandang
dirinya penuh kekurangan, takut terhadap dosa-dosanya, serta tidak pernah
merasa aman dari makar Allah. Kesadaran itu melahirkan tawadhu dan menjauhkan
dirinya dari sikap ujub maupun merasa lebih baik daripada orang lain.
Pada bagian ini, Al-Muhasibi
melanjutkan penjelasan tentang buah akal yang lebih dalam lagi, yaitu kemampuan
membandingkan secara benar antara dunia dan akhirat. Ketika seseorang
benar-benar memahami nilai dunia dibandingkan dengan kehidupan akhirat, maka
orientasi hidupnya berubah. Ia tidak lagi terpesona oleh kemuliaan dunia,
tetapi lebih mengutamakan apa yang bernilai di sisi Allah.
Akal yang Memahami Perbedaan Dunia dan Akhirat
Imam Al-Muhasibi berkata:
"Orang yang berakal memahami
dari Allah tentang hakikat dunia dan akhirat. Ia memahami sifat akhirat dengan
segala kenikmatan, kerajaan, kemuliaan, kehormatan, dan kedudukan agung para
penghuninya karena mereka berada di sisi Sang Penguasa. Ia juga memahami
buruknya kehidupan dunia serta rendahnya kedudukannya di sisi Allah pada hari
Dia menghisab hamba-hamba-Nya."
Menurut Al-Muhasibi, akal yang sehat
tidak hanya memahami informasi agama secara teoritis. Akal yang benar akan
melihat segala sesuatu berdasarkan ukuran Allah, bukan berdasarkan ukuran
manusia.
Manusia biasanya menilai kemuliaan
dari jabatan, kekayaan, popularitas, dan pengaruh. Akan tetapi, orang yang
berakal menilai sesuatu berdasarkan nilainya di akhirat.
Ia mengetahui bahwa seluruh
kemuliaan dunia akan lenyap. Sementara kemuliaan di akhirat bersifat kekal dan
berada dalam kedekatan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Kemuliaan Dunia Tidak Bernilai di Hadapan Allah
Al-Muhasibi mengingatkan bahwa apa
yang dianggap tinggi oleh manusia sering kali tidak memiliki nilai di sisi
Allah.
Beliau menyebutkan bahwa Allah
memperlihatkan betapa rendahnya dunia ketika hari kebangkitan tiba. Bahkan
orang-orang yang dahulu sombong dan membanggakan diri akan mendapatkan kehinaan
yang luar biasa.
Kesombongan yang di dunia tampak
megah akan berubah menjadi kerendahan yang memalukan di hadapan seluruh
makhluk.
Karena itu, orang yang berakal tidak
tertipu oleh kedudukan dunia. Ia mengetahui bahwa ukuran kemuliaan yang
sesungguhnya bukanlah apa yang dipuji manusia hari ini, melainkan apa yang
diridhai Allah pada hari kiamat nanti.
Orang Berakal Melihat Hakikat Para Penghuni Akhirat
Al-Muhasibi menggambarkan bahwa akal
yang tercerahkan akan memahami betapa mulianya para penghuni akhirat.
Mereka memperoleh:
- Kedekatan dengan Allah.
- Kenikmatan yang tidak pernah berakhir.
- Kehormatan yang kekal.
- Keamanan dari segala bentuk ketakutan.
- Kemuliaan yang tidak tercampur dengan kehinaan.
Ketika hati memahami hal ini, maka
kecintaan terhadap kemewahan dunia perlahan akan memudar.
Bukan karena dunia haram secara
mutlak, tetapi karena nilainya sangat kecil dibandingkan dengan apa yang Allah
sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang taat.
Mengapa Orang Berakal Memilih Tawadhu?
Setelah memahami hakikat dunia dan
akhirat, seseorang akan menyadari bahwa kebanggaan dunia hanyalah sementara.
Ia melihat bahwa:
- Jabatan akan hilang.
- Kekayaan akan ditinggalkan.
- Popularitas akan dilupakan.
- Kekuatan akan melemah.
- Kehidupan akan berakhir.
Sebaliknya, tawadhu justru
mengangkat derajat seseorang di sisi Allah.
Karena itu, orang yang berakal tidak
sibuk mencari pengakuan manusia. Ia lebih sibuk memperbaiki dirinya dan
mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang kekal.
Mengapa Kefakiran Lebih Dicintai daripada Kekayaan?
Pada bagian penutup teks,
Al-Muhasibi menjelaskan bahwa Allah mengabarkan tentang keutamaan orang yang
tidak terikat dengan dunia.
Beliau menulis bahwa ketika seorang
hamba memahami semua hakikat tersebut:
"Maka kefakiran di dunia lebih
ia cintai daripada kekayaan, tawadhu lebih ia cintai daripada kemuliaan dunia,
dan kerendahan lebih ia cintai daripada kemuliaan yang berasal dari
dunia."
Yang dimaksud bukanlah mencintai
kemiskinan karena kemiskinan itu sendiri.
Maksudnya adalah tidak bergantung
kepada dunia.
Orang yang berakal lebih memilih:
- Keselamatan daripada kemewahan.
- Kerendahan hati daripada kebanggaan.
- Ketaatan daripada popularitas.
- Kedekatan dengan Allah daripada pujian manusia.
Jika kekayaan datang, ia bersyukur.
Jika tidak datang, ia tetap tenang. Hatinya tidak bergantung kepada harta.
Inilah makna kekayaan jiwa yang
sebenarnya.
Pelajaran Penting dari Imam Al-Muhasibi
Dari uraian ini, terdapat beberapa
pelajaran besar:
1.
Akal yang benar selalu melihat akhirat sebagai tujuan utama
Ukuran keberhasilan bukanlah
banyaknya harta atau kedudukan, tetapi sejauh mana seseorang dekat kepada
Allah.
2.
Dunia hanyalah sarana, bukan tujuan
Orang berakal memanfaatkan dunia
untuk beribadah, bukan menjadikan dunia sebagai tujuan hidup.
3.
Tawadhu adalah buah dari akal yang sehat
Semakin mengenal Allah dan akhirat,
semakin kecil seseorang memandang dirinya.
4.
Kekayaan hati lebih penting daripada kekayaan materi
Orang yang tidak bergantung kepada
dunia akan lebih tenang dan lebih mudah bersyukur.
5.
Kemuliaan sejati berada di sisi Allah
Kemuliaan dunia bisa hilang kapan
saja, sedangkan kemuliaan akhirat bersifat kekal.
Penutup
Menurut Imam Al-Muhasibi, salah satu
tanda kesempurnaan akal adalah kemampuan melihat dunia dan akhirat dengan
ukuran yang benar. Ketika seseorang memahami betapa agungnya akhirat dan betapa
rendahnya dunia dibandingkan dengannya, maka orientasi hidupnya akan berubah.
Ia tidak lagi mengejar kemuliaan
yang fana, tetapi mencari kemuliaan yang abadi. Ia lebih mencintai tawadhu
daripada kesombongan, lebih memilih ketergantungan kepada Allah daripada
ketergantungan kepada harta, dan lebih mengutamakan keselamatan akhirat
daripada kemewahan dunia.
Inilah akal yang dipuji oleh Imam
Al-Muhasibi: akal yang mengantarkan pemiliknya untuk melihat segala sesuatu
dengan cahaya akhirat, bukan dengan tipuan dunia yang sementara.
Referensi:
وعقل عَن الله تَعَالَى مَا أمره بِهِ وَأخْبر أَن
الْفَقِير من اسْتغنى بالدنيا عَنْهَا وَمن يجازي بِمَا ١١٢ حرمه من خفَّة الْحساب
والتصاعد فِي معالي درجاته
فَلَمَّا عقل ذَلِك كُله عَن ربه كَانَ الْفقر فِي
الدُّنْيَا أحب إِلَيْهِ من الْغنى بهَا وَكَانَ التَّوَاضُع أحب إِلَيْهِ من
الشّرف فِيهَا وَكَانَ الذل أحب إِلَيْهِ من الْعِزّ بهَا
Sumber;
الكتاب: ماهية
العقل ومعناه واختلاف الناس فيه
المؤلف: الحارث
بن أسد المحاسبي، أبو عبد الله (ت ٢٤٣هـ)
Baca juga:
Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 13): Memahami Perbandingan Dunia dan Akhirat
Hakikat AkalMenurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 15): Akal, Dalil, dan Hujjah dalam MencariKebenaran
%20Mengapa%20Orang%20Berakal%20Lebih%20Mencintai%20Kefakiran,%20Tawadhu,%20dan%20Kerendahan%20di%20Dunia.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar