Pendahuluan
Salah satu anggapan yang sering
beredar di tengah masyarakat adalah bahwa cinta akan memudar apabila dua orang
terlalu lama bersama. Menurut anggapan ini, kerinduan hanya hidup karena adanya
jarak. Ketika pertemuan menjadi terlalu sering, rasa cinta perlahan akan
berkurang hingga akhirnya hilang.
Namun benarkah demikian?
Dalam pembahasan Bab Al-Washl,
seorang ulama besar memberikan pandangan yang berbeda. Beliau menjelaskan bahwa
cinta yang sejati justru tidak berkurang karena pertemuan. Sebaliknya, semakin
dekat hubungan dua orang yang saling mencintai, semakin kuat pula keterikatan
hati mereka.
Pandangan ini bukan sekadar teori,
melainkan lahir dari pengalaman, pengamatan, dan pemahaman mendalam terhadap
tabiat manusia.
Benarkah Terlalu Sering Bersama Membuat Cinta Memudar?
Sebagian orang berpendapat bahwa
banyaknya pertemuan akan menghilangkan rasa cinta.
Menurut mereka, cinta hanya hidup
karena adanya kerinduan.
Ketika seseorang terlalu sering
bertemu dengan orang yang dicintainya, maka rasa penasaran akan hilang,
kebiasaan akan muncul, dan cinta perlahan memudar.
Namun penulis kitab menolak pandangan
tersebut.
Beliau menyebut bahwa anggapan itu
hanya berlaku bagi orang-orang yang mudah bosan.
Adapun cinta yang benar-benar
berakar dalam hati tidak akan hilang hanya karena sering bertemu.
Justru yang terjadi adalah
kebalikannya.
Semakin banyak pertemuan, semakin
kuat keterikatan.
Semakin lama kebersamaan, semakin
dalam rasa kasih sayang.
Semakin dekat hubungan, semakin
besar keinginan untuk tetap bersama.
Pandangan ini sangat relevan dengan
kehidupan rumah tangga yang dibangun di atas cinta dan ketulusan.
Mengapa Kedekatan Justru Menambah Cinta?
Penulis menjelaskan pengalamannya
sendiri.
Beliau mengaku bahwa dirinya tidak
pernah merasa puas dengan kebersamaan bersama orang yang dicintainya.
Setiap kali memperoleh kesempatan
untuk dekat, keinginannya untuk semakin dekat justru bertambah.
Beliau mengibaratkan keadaan
tersebut seperti seseorang yang mengobati penyakitnya dengan sesuatu yang
justru menjadi penyebab penyakit itu sendiri.
Kerinduan memang sedikit berkurang.
Namun pada saat yang sama, cinta
semakin bertambah kuat.
Inilah salah satu keunikan cinta.
Tidak seperti kebutuhan dunia yang
akan hilang setelah terpenuhi, cinta sering kali justru bertambah ketika diberi
ruang untuk tumbuh.
Karena itu banyak pasangan yang
telah hidup bersama selama puluhan tahun tetap merasakan kasih sayang yang
mendalam terhadap pasangannya.
Ketika Kebersamaan Tidak Pernah Membosankan
Penulis mengaku pernah mencapai
tingkat kedekatan yang sangat tinggi dengan orang yang dicintainya.
Namun meskipun waktu kebersamaan berlangsung
lama, beliau tidak pernah merasakan kejenuhan.
Tidak ada rasa bosan.
Tidak ada rasa ingin menjauh.
Tidak ada perasaan lelah.
Sebaliknya, semakin dekat hubungan
itu, semakin besar pula kerinduan yang tumbuh di dalam hati.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa
cinta sejati berbeda dengan ketertarikan sesaat.
Ketertarikan fisik mungkin memudar.
Kekaguman sementara mungkin hilang.
Tetapi cinta yang dibangun atas
kecocokan jiwa, akhlak, dan kasih sayang akan semakin matang seiring
berjalannya waktu.
Gambaran Kebahagiaan Terbesar dalam Kehidupan
Dalam bagian yang sangat indah,
penulis menggambarkan keadaan yang menurutnya termasuk kenikmatan terbesar di
dunia.
Yaitu ketika dua orang yang saling
mencintai:
- Terhindar dari pengawasan yang mengganggu.
- Aman dari fitnah dan adu domba.
- Tidak terpisahkan oleh jarak.
- Tidak saling meninggalkan.
- Terhindar dari kebosanan.
- Tidak diganggu oleh orang-orang yang iri.
- Memiliki akhlak yang cocok.
- Saling mencintai dengan kadar yang seimbang.
- Memiliki rezeki yang cukup.
- Menjalani kehidupan yang tenang.
- Hidup dalam hubungan yang halal dan diridhai Allah.
Menurut beliau, keadaan seperti ini
merupakan karunia yang sangat besar.
Tidak semua orang dapat
merasakannya.
Banyak yang menginginkannya, tetapi
sedikit yang benar-benar mendapatkannya.
Rumah Tangga Bahagia Menurut Pandangan Islam
Jika diperhatikan, gambaran yang
disebutkan di atas sangat mirip dengan konsep keluarga sakinah dalam Islam.
Kebahagiaan rumah tangga bukan hanya
tentang harta.
Bukan pula semata-mata tentang cinta
romantis.
Melainkan perpaduan antara:
- Kasih sayang.
- Ketenangan.
- Kesetiaan.
- Kecukupan rezeki.
- Kecocokan akhlak.
- Hubungan yang halal.
- Ridha Allah.
Karena itulah Islam menjadikan
pernikahan sebagai jalan yang mulia untuk menjaga cinta.
Melalui pernikahan, perasaan yang
sebelumnya dipenuhi kekhawatiran berubah menjadi ketenangan.
Hubungan yang sebelumnya dibatasi
menjadi ibadah.
Kasih sayang yang sebelumnya
tersembunyi berubah menjadi keberkahan.
Tidak Ada Kebahagiaan Dunia yang Sempurna
Meskipun menggambarkan keadaan yang
sangat indah, penulis tetap mengingatkan bahwa kebahagiaan dunia tidak pernah
benar-benar sempurna.
Selalu ada kemungkinan datangnya
ujian.
Selalu ada kemungkinan munculnya
perpisahan.
Selalu ada kemungkinan datangnya
kematian.
Manusia tidak pernah mengetahui apa
yang tersimpan dalam takdir Allah.
Karena itu, kebahagiaan dunia harus
selalu disertai rasa syukur dan kesadaran bahwa semua nikmat bersifat
sementara.
Pemahaman ini membuat seorang Muslim
tidak berlebihan dalam mencintai dunia dan tidak terlalu larut dalam kesedihan
ketika kehilangan.
Ketika Cinta Dirusak oleh Buruknya Akhlak
Penulis kemudian menceritakan kisah
dua orang yang sebenarnya memiliki cinta yang kuat.
Mereka saling mencintai.
Mereka hidup bersama.
Mereka memiliki banyak sebab untuk
bahagia.
Namun ada satu masalah besar.
Keduanya memiliki sifat keras.
Mereka mudah marah.
Mereka mudah bertengkar.
Hampir setiap hari terjadi
perselisihan di antara mereka.
Menariknya, pertengkaran itu bukan
karena kurang cinta.
Justru karena masing-masing terlalu
yakin bahwa dirinya dicintai oleh pasangannya.
Akibatnya mereka merasa aman untuk
meluapkan emosi tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Kisah ini mengandung pelajaran yang
sangat penting.
Cinta saja tidak cukup.
Hubungan juga membutuhkan akhlak yang
baik.
Mengapa Akhlak Lebih Penting daripada Cinta?
Banyak orang beranggapan bahwa cinta
adalah kunci utama kebahagiaan.
Padahal dalam kenyataannya, banyak
hubungan yang hancur bukan karena hilangnya cinta, tetapi karena buruknya
akhlak.
Sikap kasar.
Ucapan yang menyakitkan.
Ego yang berlebihan.
Ketidakmampuan mengendalikan emosi.
Semua itu dapat merusak hubungan
yang sebenarnya dibangun atas dasar kasih sayang.
Karena itulah para ulama selalu
menekankan pentingnya akhlak dalam kehidupan berumah tangga.
Cinta akan memperindah hubungan.
Namun akhlaklah yang menjaganya
tetap bertahan.
Kehidupan Sederhana yang Dicemburui Banyak Orang
Dalam sebuah riwayat yang disebutkan
dalam kitab, seorang pemimpin pernah ditanya tentang siapa manusia yang paling
bahagia.
Orang-orang mengira bahwa
kebahagiaan terbesar dimiliki oleh penguasa.
Namun jawabannya justru berbeda.
Beliau mengatakan bahwa orang yang
paling bahagia adalah seorang Muslim yang memiliki:
- Istri yang salehah.
- Kehidupan yang cukup.
- Saling ridha satu sama lain.
- Hidup tenang tanpa urusan kekuasaan dan konflik dunia.
Jawaban ini mengandung hikmah yang
sangat dalam.
Kebahagiaan tidak selalu berada pada
kedudukan tinggi atau kekayaan besar.
Sering kali kebahagiaan justru hadir
dalam kehidupan sederhana yang dipenuhi ketenangan dan kasih sayang.
Salah Satu Tanda Cinta yang Tulus
Di bagian akhir pembahasan, penulis
menjelaskan salah satu pemandangan yang paling menyentuh dalam hubungan cinta.
Yaitu ketika seseorang merasa
khawatir telah membuat orang yang dicintainya marah atau sedih.
Saat itu ia berusaha mencari alasan.
Menyusun kata-kata.
Memberikan penjelasan.
Mencari cara untuk memperbaiki
keadaan.
Semua dilakukan karena ia tidak
ingin kehilangan cinta orang yang dicintainya.
Penulis menganggap keadaan ini sebagai
salah satu bukti cinta yang paling jelas.
Sebab seseorang tidak akan bersusah
payah memperbaiki hubungan kecuali kepada orang yang benar-benar memiliki
tempat istimewa di hatinya.
Penutup
Bab Al-Washl mengajarkan bahwa cinta
yang sejati tidak selalu berkurang karena banyaknya pertemuan. Justru dalam
banyak keadaan, kedekatan yang halal dan penuh kasih sayang akan membuat cinta
semakin kuat dan semakin mendalam.
Namun kebahagiaan hubungan tidak
hanya ditentukan oleh besarnya cinta. Akhlak yang baik, kesabaran, kemampuan
mengendalikan emosi, serta ketaatan kepada Allah merupakan faktor yang menjaga
cinta tetap hidup hingga akhir hayat.
Pada akhirnya, kebahagiaan terbesar
bukanlah sekadar memiliki orang yang dicintai, melainkan hidup bersama dalam
ketenangan, saling mencintai karena Allah, dan menempuh perjalanan hidup dalam
hubungan yang halal serta penuh keberkahan.
Referensi:
ومن الناس من يقول: إن دوام
الوصل يودي بالحب، وهذا هجين من القول، إنما ذلك لأهل الملل، بل كلما زاد وصلًا
زاد اتصالًا.
وعني أخبرك أني ما رويت قط من
ماء الوصل ولا زادني إلا ظلمًا، وهذا حكم من تداوى بدائه وإن رفه عنه شيئًا ما.
ولقد بلغت من التمكن بمن أحب
أبعد الغايات التي لا يجد الإنسان وراءها مرمى فما وجدتني إلا مستزيدًا، ولقد طال
بي ذلك فما أحسست بسآمة ولا رهقتني فترة.
وقد ضمني مجلس مع بعض من كنت
أحب فلم أجل خاطري في فن من فنون الوصل إلا وجدته مقصرًا عن مرادي، وغير شاف وجدي
ولا قاض أقل لبانة من لباناتي، ووجدتني كلما ازددت دنوًا ازددت ولوعًا، وقدحت زناد
الشوق نار الوجد بين ضلوعي، فقلت في ذلك المجلس: [من الطويل] .
وددت بان القلب شق بمدية ...
وأدخلت فيه ثم أطبق في صدري فأصبحت فيه لا تحلين غيره ... إلى مقتضى يوم القيامة
والحشر تعيسين فيه ما حييت فإن أمت ... سكنت شغاف القلب في ظلم القبر وما في
الدنيا حالة تعدل محبين إذا عدما الرقباء وأمنا الوشاة، وسلما من البين ورغبا عن
الهجر، وبعدا عن الملل وفقدا العذال، وتوافقا في الأخلاق، وتكافيا في المحبة،
وأتاح الله لهما رزقًا دارًا، وعيشًا قارًا، وزمانًا هاديًا، وكان اجتماعهما على
ما يرضي الرب من الحلال، وطالت صحبتهما واتصلت إلى وقت حلول الحمام الذي لا مرد له
ولا بد منه، هذا عطاء لم يحصل عليه أحدا، وحاجة لم تقض لكل طالب.
ولولا أن مع هذه الحال
الإشفاق من بغتات المقادير المحكمة في غيب الله عز وجل، من حلول فراق لم يكتسب،
واخترام منية في حال الشباب، أو ما أشبه ذلك، لقلت إنها حال بعيدة من كل آفة،
وسليمة من كل داخلة.
ولقد رأيت من اجتمع له هذا
كله، إلا أنه كان دهي في من كان بحبه بشراسة أخلاق، ودالة على المحبة، فكانا لا
يتهنيان العيش ولا تطلع الشمس في يوم إلا وكان بينهما خلاف فيه، وكلاهما كان
مطبوعا بهذا الخلق، لثقة كل واحد منهما بمحبة صاحبه، إلى أن دبت النوى بينهما
فتفرقا بالموت المرتب لهذا العالم، وفي ذلك أقول: [من المنسرح] .
كيف أذم النوى واظلمها ...
وكل أخلاق من احب نوى قد كان يكفي هوى أضيق به ... فكيف إذ حل بي نوى وهوى وروي عن
زياد بن أبي سفيان رحمه الله انه قال لجلسائه: من انعم الناس عيشة قالوا: أمير
المؤمنين.
فقال: وأين ما يلقى من قريش
قيل: فأنت.
قال أين ما ألقى من الخوارج
والثغور قيل: فمن أيها الأمير قال: رجل مسلم له زوجة مسلمة لهما كفاف من العيش، قد
رضيت به ورضي بها، لا يعرفنا ولا نعرفه.
وهل فيما وافق إعجاب
المخلوقين، وجلا القلوب، واستمال الحواس، واستهوى النفوس، واستولى على الأهواء،
واقتطع الألباب،
وأختلس العقول، مستحسن يعدل
إشفاق محب على محبوب.
ولقد شاهدت من هذا المعنى
كثيرًا، وإنه لمن المناظر العجيبة الباعثة على الرقة الرائقة المعنى، لا سيما إن
كان هوى يكتتم به.
فلو رأيت المحبوب حين يعرض
بالسؤال عن سبب تغضب بمحبة، وخجلته في الخروج مما وقع فيه بالاعتذار، وتوجيهه إلى
غير وجهه، وتحيله في استنباط معنى يقيمه عند جلسائه، لرأيت عجبًا ولذة مخفية لا
تقاومها لذة.
وما رأيت أجلب للقلوب ولا أغوص
على حباتها ولا أنفذ للمقاتل من هذا الفعل.
Sumber;
الكتاب: طوق الحمامة في
الألفة والألاف
المؤلف: أبو محمد علي بن أحمد
بن سعيد بن حزم الأندلسي القرطبي الظاهري (ت ٤٥٦هـ)
Baca juga:
Awal Pertemuan yang Mengubah Segalanya: Kisah Cinta dalam Bab Al-Washl
Keindahan Pertemuan Setelah Kerinduan: Makna Wushul dalam Cinta danKebahagiaan Hati
Pengorbanan dan Kesetiaan dalam Cinta: Kesedihan Setelah Kehilangan
Orang Tercinta


