Pendahuluan
Pembahasan mengenai hubungan antara isim
(nama), musamma (yang dinamai), dan tasmiyah (proses pemberian
nama) merupakan salah satu diskusi paling rumit dalam ilmu kalam. Berbagai
pendapat telah dikemukakan untuk menjelaskan apakah ketiganya merupakan satu
hakikat ataukah berbeda. Imam Al-Ghazali dalam Al-Maqshad Al-Asna
mengkaji seluruh kemungkinan tersebut dengan pendekatan logika, bahasa Arab,
dan analisis makna yang sangat mendalam.
Pada bagian ini, beliau menyampaikan
kesimpulan akhir dari pembahasan panjang tersebut. Setelah menguji tiga bentuk
makna ungkapan "هو هو" (dia adalah
dia), Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa tidak satu pun dapat dijadikan dasar
untuk menyatakan bahwa isim adalah musamma atau bahwa isim adalah tasmiyah.
Kesimpulan ini menjadi fondasi penting dalam memahami Asmaul Husna dan menjaga
ketepatan akidah Islam.
Sumber Kajian
Kitab: Al-Maqshad Al-Asna fi Syarh Ma'ani Asma'illah Al-Husna
Bab: Penjelasan Hakikat Isim, Musamma, dan Tasmiyah
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
Al-Ghazali At-Thusi (450–505 H)
adalah ulama besar yang dijuluki Hujjatul Islam. Beliau menguasai
berbagai disiplin ilmu seperti akidah, fikih, ushul fikih, logika, filsafat,
dan tasawuf. Dalam kitab Al-Maqshad Al-Asna, beliau menjelaskan makna
Asmaul Husna dengan metode ilmiah yang memadukan ketelitian bahasa dan kedalaman
pemikiran.
Tema
Kesimpulan Imam Al-Ghazali tentang
Perbedaan Isim, Musamma, dan Tasmiyah
Terjemahan Lengkap
Adapun bentuk ketiga, yaitu yang
kembali kepada kesatuan satu objek dengan banyak sifat, maka bentuk ini
juga—meskipun lebih jauh—tidak dapat diterapkan pada hubungan antara isim dan
musamma, maupun antara isim dan tasmiyah.
Sehingga tidak dapat dikatakan bahwa
satu hakikat yang sama dinamakan sekaligus sebagai isim dan tasmiyah,
sebagaimana contoh salju yang merupakan satu benda tetapi memiliki dua sifat,
yaitu putih dan dingin.
Kalaupun hendak diberikan contoh,
maka yang lebih tepat ialah seperti ucapan:
"Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu
adalah putra Abu Quhafah."
Maksudnya ialah bahwa orang yang
memiliki gelar Ash-Shiddiq adalah orang yang sama yang dinisbatkan
sebagai anak Abu Quhafah.
Dengan demikian, makna ungkapan "dia
adalah dia" di sini adalah kesatuan objek dengan tetap memastikan
bahwa kedua sifat tersebut berbeda.
Sebab pengertian Ash-Shiddiq
berbeda dengan pengertian anak Abu Quhafah.
Karena itu, seluruh bentuk
penafsiran terhadap ungkapan "dia adalah dia" sama sekali
tidak berlaku pada hubungan antara isim dan musamma ataupun antara isim dan
tasmiyah, baik secara hakiki maupun secara majazi.
Makna hakiki dari ungkapan tersebut
hanyalah yang kembali kepada sinonim sempurna, seperti ucapan:
"Al-Laits adalah Al-Asad."
Itu pun dengan syarat tidak ada
sedikit pun perbedaan makna antara kedua lafaz tersebut dalam bahasa.
Apabila terdapat perbedaan makna,
maka hendaknya dicari contoh yang lain.
Keadaan ini menunjukkan adanya satu
hakikat dengan banyak nama.
Dalam setiap ungkapan "dia
adalah dia" pasti terdapat unsur banyak dari satu sisi dan unsur satu
dari sisi yang lain.
Bentuk yang paling tepat adalah
apabila kesatuan terdapat pada makna, sedangkan keberagaman hanya terdapat pada
lafaz.
Penjelasan ini telah cukup untuk
menyingkap hakikat perdebatan yang panjang tetapi sedikit manfaatnya.
Kini telah jelas bagimu bahwa isim,
tasmiyah, dan musamma adalah istilah-istilah yang berbeda
pengertian dan berbeda tujuan penggunaannya.
Karena itu, yang benar adalah
mengatakan bahwa masing-masing berbeda dari yang lain, bukan mengatakan
bahwa salah satunya adalah yang lain.
Sebab istilah "ghair"
(berbeda) merupakan lawan dari istilah "huwa huwa" (identik).
Artikel Pengembangan
Imam Al-Ghazali Mengakhiri Perdebatan
Setelah membahas berbagai pendapat
para ahli kalam, Imam Al-Ghazali menutup diskusi ini dengan kesimpulan yang
sangat tegas. Menurut beliau, seluruh penafsiran terhadap ungkapan "هو هو" tidak dapat diterapkan pada
hubungan antara isim, musamma, dan tasmiyah.
Dengan kata lain, tidak ada dasar
ilmiah yang kuat untuk mengatakan bahwa ketiganya merupakan satu hakikat.
Contoh Abu Bakar Ash-Shiddiq
Imam Al-Ghazali menggunakan contoh
yang mudah dipahami.
Beliau menyebut:
Ash-Shiddiq adalah putra Abu
Quhafah.
Kalimat tersebut menunjuk kepada
satu orang yang sama, yaitu Abu Bakar radhiyallahu 'anhu.
Namun kedua sebutan itu memiliki
makna yang berbeda.
- Ash-Shiddiq
adalah gelar yang menunjukkan keutamaan beliau dalam membenarkan
Rasulullah ﷺ.
- Putra Abu Quhafah
menunjukkan hubungan keturunan dengan ayahnya.
Objeknya satu, tetapi konsep yang
ditunjukkan oleh masing-masing lafaz berbeda. Inilah contoh adanya kesatuan
objek tanpa kesatuan makna.
Kapan Dua Nama Benar-Benar Sama?
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
ungkapan "dia adalah dia" hanya tepat digunakan apabila dua
lafaz benar-benar sinonim.
Beliau memberi contoh:
Keduanya berarti singa.
Namun syaratnya ialah tidak boleh
ada perbedaan makna sedikit pun. Jika salah satu lafaz mengandung makna
tambahan, maka keduanya bukan lagi sinonim sempurna.
Ini menunjukkan betapa telitinya
para ulama dalam menganalisis bahasa.
Perbedaan Hakikat Isim, Musamma, dan Tasmiyah
Kesimpulan Imam Al-Ghazali dapat
diringkas sebagai berikut:
- Isim
adalah lafaz yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu.
- Musamma
adalah hakikat atau objek yang ditunjuk oleh lafaz tersebut.
- Tasmiyah
adalah tindakan atau proses memberikan nama.
Ketiganya saling berhubungan, tetapi
masing-masing memiliki definisi yang berdiri sendiri. Oleh karena itu, tidak
boleh dicampuradukkan.
Mengapa Pembahasan Ini Penting?
Sekilas pembahasan ini tampak hanya
berkaitan dengan bahasa. Namun sesungguhnya ia memiliki dampak besar terhadap
pemahaman akidah.
Saat seorang Muslim mengucapkan nama-nama
Allah, ia perlu memahami bahwa:
- lafaz adalah nama yang diucapkan,
- makna menunjukkan sifat yang sempurna,
- sedangkan Allah adalah Dzat Yang Mahatinggi yang
ditunjuk oleh nama tersebut.
Jika ketiga hal ini tidak dibedakan
dengan benar, seseorang dapat mengalami kekeliruan dalam memahami Asmaul Husna.
Metode Ilmiah Imam Al-Ghazali
Salah satu keistimewaan pembahasan
ini adalah metode berpikir yang digunakan Imam Al-Ghazali.
Beliau selalu memulai dengan:
- Mendefinisikan istilah.
- Membedakan setiap konsep.
- Menguji setiap analogi.
- Menarik kesimpulan berdasarkan hakikat makna, bukan
sekadar kemiripan lafaz.
Metode ini menunjukkan bahwa ilmu
akidah dibangun di atas argumentasi yang kuat, bukan sekadar dugaan atau
kebiasaan penggunaan bahasa.
Hikmah
Beberapa pelajaran penting dari
pembahasan ini adalah:
- Isim, musamma, dan tasmiyah merupakan tiga konsep yang
berbeda meskipun saling berkaitan.
- Kesamaan objek tidak berarti kesamaan makna.
- Sinonim yang sempurna hanya terjadi apabila tidak ada
perbedaan makna sama sekali.
- Ketelitian dalam memahami istilah merupakan kunci
memahami ilmu akidah.
- Analisis bahasa yang benar dapat menghindarkan
seseorang dari kekeliruan dalam memahami sifat-sifat Allah.
- Metode Imam Al-Ghazali mengajarkan pentingnya berpikir
sistematis sebelum mengambil kesimpulan.
Penutup
Melalui pembahasan ini, Imam
Al-Ghazali berhasil mengakhiri perdebatan panjang mengenai hubungan antara
isim, musamma, dan tasmiyah. Beliau menunjukkan bahwa ketiganya memiliki
hubungan yang erat, tetapi tetap berbeda dalam pengertian dan hakikatnya. Oleh
sebab itu, tidak benar mengatakan bahwa isim adalah musamma ataupun bahwa isim
adalah tasmiyah.
Kesimpulan ini menjadi fondasi
penting dalam memahami Asmaul Husna. Dengan membedakan antara lafaz, makna, dan
hakikat Dzat Allah, seorang Muslim dapat memahami nama-nama Allah secara lebih
tepat sesuai dengan prinsip akidah Ahlus Sunnah. Inilah salah satu bukti
kedalaman pemikiran Imam Al-Ghazali yang memadukan ilmu bahasa, logika, dan
teologi dalam satu penjelasan yang utuh dan kokoh.
Teks Arab :
وَأما الْوَجْه الثَّالِث الَّذِي يرجع إِلَى اتِّحَاد
الْمحل مَعَ تعدد الصّفة فَهُوَ أَيْضا مَعَ بعده غير جَار فِي الِاسْم والمسمى
وَلَا فِي الِاسْم وَالتَّسْمِيَة حَتَّى يُقَال إِن شَيْئا وَاحِدًا مَوْضُوع
لِأَن يُسمى اسْما وَيُسمى تَسْمِيَة كَمَا كَانَ فِي مِثَال الثَّلج إِذْ هُوَ
معنى وَاحِد مَوْصُوف بالبارد والأبيض وَإِلَّا هُوَ كَقَوْل الْقَائِل الصّديق
رضي الله عنه هُوَ ابْن أبي قُحَافَة لِأَن تَأْوِيله أَن الشَّخْص الَّذِي وصف
بِأَنَّهُ صديق هُوَ الَّذِي نسب بِالْولادَةِ إِلَى أبي قُحَافَة فَيكون معنى ال
هُوَ هُوَ اتِّحَاد الْمَوْضُوع مَعَ الْقطع بتباين الصفتين فَإِن مَفْهُوم
الصّديق رضي الله عنه غير مَفْهُوم بنوة أبي قُحَافَة
فالتأويلات الَّتِي تطلق عَلَيْهَا هُوَ هُوَ غير جَارِيَة
فِي الِاسْم والمسمى وَفِي الِاسْم وَالتَّسْمِيَة الْبَتَّةَ لَا حَقِيقَتهَا
وَلَا مجازها والحقيقة من جُمْلَتهَا مَا يرجع إِلَى ترادف الْأَسْمَاء
كَقَوْلِنَا اللَّيْث هُوَ الْأسد بِشَرْط أَن لَا يكون فِي اللُّغَة فرق بَين
مَفْهُوم اللَّفْظَيْنِ فَإِن كَانَ بَينهمَا فرق فليطلب لَهُ مِثَال آخر وَهَذَا
يرجع إِلَى اتِّحَاد الْحَقِيقَة وَكَثْرَة الِاسْم وَلَا بُد فِي قَوْلنَا هُوَ
هُوَ من كَثْرَة من وَجه ووحدة من وَجه وأحق الْوُجُوه أَن تكون الْوحدَة فِي
الْمَعْنى وَالْكَثْرَة فِي مُجَرّد اللَّفْظ
وَهَذَا الْقدر كَاف فِي الْكَشْف عَن هَذَا الْخلاف
الطَّوِيل الذيل الْقَلِيل النّيل فقد ظهر لَك أَن الِاسْم وَالتَّسْمِيَة والمسمى
أَلْفَاظ متباينة الْمَفْهُوم مُخْتَلفَة الْمَقْصُود وَإِنَّمَا يَصح على
الْوَاحِد مِنْهَا أَن يُقَال هُوَ غير الثَّانِي لَا أَنه هُوَ لِأَن الْغَيْر
فِي مُقَابلَة الهو هُوَ
Baca juga:
Benarkah Isim Mencakup Musamma? Bantahan Imam Al-Ghazalitentang Hubungan Nama dan Hakikat
Apakah Isim Sama dengan Musamma? Jawaban Imam Al-Ghazalitentang Hakikat Nama dalam Islam
Pembagian Isim Menurut Imam Al-Ghazali: Mana yang
Menunjuk Zat dan Mana yang Menunjuk Sifat?