Pendahuluan
Dalam pembahasan sebelumnya, Imam
Al-Muhasibi menjelaskan berbagai buah dari akal yang benar, mulai dari
ma'rifatullah, kerinduan kepada akhirat, zuhud terhadap dunia, hingga kasih
sayang kepada sesama manusia. Pada bagian ini, beliau menguraikan salah satu
buah akal yang paling mendalam, yaitu kemampuan untuk melihat kelemahan diri
sendiri, memperbanyak muhasabah, dan tidak tertipu oleh amal maupun ilmu yang dimiliki.
Menurut Imam Al-Muhasibi, semakin
sempurna akal seseorang dalam mengenal Allah, semakin besar pula rasa takutnya
terhadap dirinya sendiri. Ia tidak sibuk mencari-cari kesalahan orang lain,
tetapi justru lebih fokus memeriksa kekurangan dan dosa-dosanya sendiri.
Akal Membuat Seseorang Mengenali Bahaya Nafsunya
Orang yang benar-benar berakal
memahami apa yang Allah jelaskan tentang jiwa manusia. Ia menyadari bahwa nafsu
memiliki kecenderungan untuk mengajak kepada keburukan dan memudahkan seseorang
terjerumus ke dalam dosa.
Karena itu, ia tidak merasa aman
terhadap dirinya sendiri. Ia mengetahui bahwa banyak dosa yang telah dilakukan
dan seluruhnya tercatat di sisi Allah. Kesadaran ini membuatnya selalu waspada
terhadap kemungkinan murka Allah akibat kelalaian dan kesalahannya.
Berbeda dengan orang yang tertipu
oleh dirinya sendiri, orang yang berakal tidak mudah merasa puas dengan keadaan
spiritualnya. Ia menyadari bahwa setiap hari ia berhadapan dengan ujian yang
dapat menyeretnya kepada perkara yang dibenci Allah.
Semakin Banyak Ilmu, Semakin Besar Tanggung Jawab
Imam Al-Muhasibi mengingatkan bahwa
ilmu bukan sekadar kemuliaan, tetapi juga amanah yang akan
dipertanggungjawabkan.
Orang yang diberi ilmu dan pemahaman
agama memiliki hujjah yang lebih besar dibandingkan kebanyakan manusia. Karena
itu, ia tidak merasa bangga dengan ilmunya. Justru ia merasa bahwa tanggung
jawabnya di hadapan Allah lebih berat.
Akibatnya, ia memandang kecil
amal-amal yang telah dilakukannya, sementara ia menghargai dan membesarkan amal
orang lain. Ia mengetahui dosa-dosanya sendiri secara rinci, sedangkan ia tidak
mengetahui apa yang tersembunyi dalam diri orang lain.
Inilah salah satu ciri akal yang
matang: tidak mudah mengagumi diri sendiri dan tidak meremehkan kebaikan orang
lain.
Memahami Besarnya Dosa dan Beratnya Hisab
Akal yang hidup membuat seorang
mukmin memahami siapa yang telah ia durhakai ketika berbuat maksiat. Ia sadar
bahwa dosa bukan sekadar pelanggaran aturan, melainkan bentuk pembangkangan
terhadap Allah Yang Maha Agung.
Karena itu, ia merenungkan:
- Besarnya keagungan Allah.
- Beratnya murka Allah.
- Dahsyatnya azab Allah.
- Lamanya hukuman di akhirat apabila tidak mendapatkan
ampunan-Nya.
Kesadaran ini menjadikan dosa terasa
berat di dalam hatinya. Ia tidak menganggap remeh kesalahan sekecil apa pun,
karena memahami kepada siapa dosa itu dilakukan.
Menyesali Pilihan yang Mendahulukan Dunia
Imam Al-Muhasibi juga menjelaskan
bahwa orang yang berakal akan menyesali kebodohannya ketika mendahulukan dunia
daripada ridha Allah.
Ia menyadari bahwa banyak manusia
mengorbankan ketaatan demi mencari pujian makhluk yang sebenarnya tidak
memiliki kuasa memberi manfaat atau menolak mudarat. Mereka mengejar dunia yang
fana, sementara yang tersisa setelah dunia berlalu adalah hisab dan
pertanggungjawaban.
Orang yang berakal memahami bahwa:
- Dunia akan meninggalkannya atau ia yang akan
meninggalkan dunia.
- Kenikmatan dunia bersifat sementara.
- Pertanggungjawaban atas dunia bersifat kekal akibatnya.
Karena itu, ia tidak pernah merasa
aman dari kemungkinan murka Allah selama masih memiliki dosa yang belum
diampuni.
Selalu Takut terhadap Su’ul Khatimah
Salah satu pelajaran paling mendalam
dalam pembahasan ini adalah rasa takut terhadap akhir kehidupan.
Orang yang berakal menyadari bahwa
Allah telah menutupi banyak dosa-dosanya dari pandangan manusia. Ia juga
menyadari bahwa berbagai nikmat, kemudahan, dan kedudukan yang diterimanya bisa
jadi merupakan ujian yang tidak ia pahami hakikatnya.
Karena itu, ia tidak merasa aman
dari kemungkinan terjadinya su’ul khatimah. Ia terus memohon agar diwafatkan di
atas Islam dan dijauhkan dari dosa-dosa besar yang dapat merusak akhir
kehidupannya.
Rasa takut ini bukanlah
keputusasaan, melainkan bentuk kewaspadaan yang membuatnya terus memperbaiki
diri hingga akhir hayat.
Tidak Merasa Lebih Baik dari Siapa Pun
Buah lain dari akal yang benar
adalah hilangnya perasaan lebih mulia dibandingkan orang lain.
Ketika melihat orang-orang saleh, ia
menganggap mereka lebih baik daripada dirinya. Ia berharap dapat meneladani
amal mereka dan mencapai kedudukan seperti mereka.
Bahkan ketika melihat orang yang
secara lahir tampak lebih rendah dalam urusan agama, ia tetap tidak merasa
aman. Ia khawatir justru orang tersebut memperoleh akhir yang baik, sedangkan
dirinya mendapatkan akhir yang buruk.
Sikap ini lahir karena ia memahami:
- Besarnya amanah ilmu yang dipikulnya.
- Banyaknya dosa yang ia ketahui dari dirinya sendiri.
- Tidak diketahuinya keadaan hati dan akhir kehidupan
manusia.
Dengan demikian, ia tidak memiliki
ruang untuk merasa sombong.
Kerendahan Hati sebagai Buah Akal yang Sempurna
Pada akhirnya, seluruh proses
muhasabah dan rasa takut ini melahirkan tawadhu'.
Imam Al-Muhasibi menggambarkan bahwa
orang yang benar-benar berakal menjadi rendah hati kepada seluruh manusia
karena besarnya rasa takut terhadap dirinya sendiri. Ia tidak merasa lebih
suci, lebih aman, atau lebih dekat kepada keselamatan dibandingkan orang lain.
Kerendahan hati yang lahir dari
ma'rifatullah berbeda dengan kerendahan hati yang dibuat-buat. Tawadhu' seperti
ini muncul karena seseorang benar-benar menyadari kelemahan dirinya, banyaknya
dosanya, dan kebutuhannya yang sangat besar terhadap rahmat Allah.
Pelajaran Penting dari Bagian Ini
Beberapa pelajaran yang dapat
diambil dari penjelasan Imam Al-Muhasibi adalah:
- Akal yang benar membuat seseorang lebih sibuk
mengoreksi dirinya daripada menghakimi orang lain.
- Ilmu yang banyak berarti tanggung jawab yang lebih
besar di hadapan Allah.
- Dosa menjadi berat ketika seseorang memahami keagungan
Zat yang didurhakai.
- Dunia tidak layak didahulukan di atas ridha Allah.
- Seorang mukmin tidak boleh merasa aman dari su’ul
khatimah.
- Orang yang berakal tidak merasa lebih baik daripada
orang lain.
- Muhasabah yang benar melahirkan kerendahan hati dan
ketundukan kepada Allah.
Penutup
Dalam pandangan Imam Al-Muhasibi,
salah satu tanda paling jelas dari akal yang hidup adalah kemampuan melihat
kekurangan diri sendiri. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia menyadari
besarnya dosa-dosanya, beratnya amanah yang dipikulnya, dan pentingnya
mempersiapkan akhir kehidupan yang baik.
Karena itu, orang yang paling
berakal bukanlah orang yang paling banyak membicarakan kesalahan orang lain,
melainkan orang yang paling serius melakukan muhasabah terhadap dirinya
sendiri. Dari muhasabah itulah lahir rasa takut kepada Allah, harapan akan
rahmat-Nya, dan kerendahan hati yang menjadi ciri khas para hamba-Nya yang
saleh.
Referensi:
وعقل عَن الله تَعَالَى مَا وصف بِهِ نَفسه أَنَّهَا
بالسوء أَمارَة وللذنوب مسولة وَأَنَّهَا هِيَ الَّتِي جنت عَلَيْهِ مَا قد
أَحْصَاهُ ربه عَلَيْهِ وَلم يَأْمَن أَن يكون قد حل بِهِ غَضَبه وَأَنه لَا يكَاد
يعدل فِي بعض أَحْوَاله أَن يتَعَرَّض لبَعض مساخطه وَأَنه قد لَزِمته عَظِيم
حجَّة مَا خص بِهِ من الْعلم وَمَا من عَلَيْهِ بِهِ من الْمعرفَة دون أَكثر
الْعَوام فَاسْتَكْثر قَلِيل طاعتهم واستعظمها مَعَ استصغار كثير الطَّاعَات من
نَفسه لِأَنَّهُ أعلم بِنَفسِهِ وبذنوبه من ذنوبهم وَأَن الْحجَّة عَلَيْهِ أعظم
مِنْهَا عَلَيْهِم
وعقل قدر من عَصَاهُ وَخَالفهُ فِيمَا أمره بِهِ فعقل
قدر عَظمَة من عَصَاهُ وَشدَّة غَضَبه وَشدَّة عَذَابه وهول الْمكْث فِي عِقَابه
إِن لم يعف عَنهُ
فعقل كَثْرَة ذنُوبه وَسُوء رَغْبَة نَفسه ودناءة همته
وَعَجِيب جَهله إِذْ كَانَ قد آثر على رِضَاهُ من العبيد مَا لَا معنى لَهُم فِي
دنيا وَلَا آخِرَة بِملك وَلَا نفع وَلَا ضرّ وإيثاره من الدُّنْيَا المكدر المنغص
الفاني مِنْهُ والفاني هُوَ عَنهُ وَالْبَاقِي عَلَيْهِ بعد فنائه شدَّة الْحساب
وعظيم السُّؤَال عَنهُ ثمَّ لَا يَأْمَن من سخط الله فِي الْآخِرَة على ذَلِك أَن
يحل بِهِ
فَلَمَّا عقل عَن الله عز وجل جَمِيع ذَلِك من نَفسه
وتستر عَنهُ عَامَّة ذنُوب الْخلق وحقت عَلَيْهِم الْحجَّة بِدُونِ مَا وَجَبت من
الله عز وجل من أجل الْعلم الَّذِي استودعه والستر عَلَيْهِ لذنوبه وَمَا حببه
إِلَى عباده لم يَأْمَن أَن يكون استدراجا لَهُ وَأَنه وكل بالخوف على نَفسه قبل
غَيره وَأَنه لَا يَأْمَن لسالف ذنُوبه وتضييع شكر نعم ربه وعظيم مَا لزمَه من
الْحجَّة وَأَن يخْتم لَهُ بِغَيْر دين الْإِسْلَام أَو بعظيم الذُّنُوب مَعَ
الْإِيمَان فَلم تقع عينه على أحد وَلم يستمع بِهِ من الْمُسلمين إِلَّا خَافَ أَن
ينجوا وَيهْلك هُوَ دونه يكسر قلبه من يرى من أهل الطَّاعَات وَيقطع عَلَيْهِ أَنه
خير مِنْهُ ويتمنى أَن يكون مثله ويهيج عَلَيْهِ الْخَوْف من قلبه من رَآهُ دونه
فِي الدّين يخَاف أَن يهْلك هُوَ دونه أَو يخْتم لَهُ
بأشر الْأَعْمَال لعَظيم حجَّة الْعلم وَجَمِيل
السّتْر عَلَيْهِ وَلما أَمر بِهِ من خوف سوء الْخَوَاتِم الَّتِي مَاتَ عَلَيْهَا
الأشقياء فَهُوَ متواضع للعباد كلهم لشدَّة ذلة الْخَوْف على نَفسه
Sumber;
الكتاب: ماهية
العقل ومعناه واختلاف الناس فيه
المؤلف: الحارث
بن أسد المحاسبي، أبو عبد الله (ت ٢٤٣هـ)
Baca juga:
Hakikat AkalMenurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 10): Akal yang Melahirkan Rahmat kepada Sesama
Hakikat AkalMenurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 13): Memahami Perbandingan Dunia dan Akhirat
%20Akal%20yang%20Melahirkan%20Muhasabah,%20Rasa%20Takut,%20dan%20Kerendahan%20Hati.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar