Pendahuluan: Mengapa Ilmu Menjadi
Harta Paling Berharga?
Dalam kehidupan manusia, ada banyak
hal yang dikejar: harta, jabatan, popularitas, dan berbagai kenikmatan dunia.
Namun para ulama sejak dahulu sepakat bahwa tidak ada yang lebih berharga
daripada ilmu.
Harta dapat habis, jabatan dapat
dicabut, dan popularitas dapat hilang dalam sekejap. Akan tetapi ilmu yang
bermanfaat akan tetap melekat pada pemiliknya, menjadi cahaya bagi dirinya,
serta memberi manfaat kepada orang lain bahkan setelah ia meninggal dunia.
Perkataan hikmah yang kita bahas
kali ini menjelaskan betapa agungnya kedudukan ilmu dan betapa buruknya
kebodohan. Kalimat-kalimat tersebut bukan hanya nasihat, tetapi juga peta jalan
bagi siapa saja yang ingin meraih kebahagiaan dunia dan keselamatan akhirat.
Terjemahan Teks
"Ilmu, seandainya tidak memiliki
keutamaan selain bahwa orang-orang bodoh merasa segan dan menghormatimu, serta
para ulama mencintai dan memuliakanmu, maka itu saja sudah cukup menjadi alasan
kuat untuk mewajibkan pencariannya. Maka bagaimana lagi jika ditambah dengan
berbagai keutamaannya di dunia dan akhirat?
Dan seandainya kebodohan tidak
memiliki kekurangan selain bahwa pelakunya dengki kepada para ulama dan iri
kepada sesama orang bodoh, maka itu saja sudah cukup menjadi alasan untuk lari
darinya. Maka bagaimana lagi jika ditambah dengan berbagai keburukannya di
dunia dan akhirat?
Seandainya manfaat ilmu dan
kesibukan dengannya tidak ada selain bahwa ilmu memutus seseorang dari
bisikan-bisikan yang melelahkan, angan-angan kosong yang hanya menghasilkan
kegelisahan, serta pikiran-pikiran yang menyakitkan jiwa, maka itu saja sudah
menjadi pendorong terbesar untuk mencarinya. Maka bagaimana lagi jika ilmu
memiliki begitu banyak keutamaan yang tidak mungkin disebutkan seluruhnya?
Bahkan apa yang telah disebutkan hanyalah sebagian kecil dari manfaat yang
diperoleh oleh seorang pencari ilmu."
Keutamaan Ilmu: Membuat Pemiliknya
Dihormati
Penulis menjelaskan bahwa salah satu
keutamaan ilmu adalah membuat pemiliknya dihormati oleh banyak orang.
Orang yang berilmu memiliki wibawa
yang tidak dapat dibeli dengan uang. Bahkan orang-orang yang tidak memahami
ilmu sekalipun biasanya tetap menghormati mereka yang memiliki pengetahuan.
Hal ini dapat kita saksikan dalam
kehidupan sehari-hari. Seorang ulama, guru, atau ahli yang memiliki ilmu sering
kali mendapatkan penghormatan yang tidak diberikan kepada orang lain yang hanya
memiliki kekayaan.
Mengapa demikian?
Karena ilmu adalah sumber manfaat.
Manusia secara fitrah menghormati orang yang mampu memberi petunjuk, solusi,
dan bimbingan.
Allah mengangkat derajat orang-orang
berilmu di atas manusia lainnya. Semakin tinggi ilmu seseorang disertai
ketakwaan dan akhlak yang baik, semakin besar pula penghormatan yang diberikan
kepadanya.
Para Ulama Mencintai Sesama Pencari
Ilmu
Keutamaan lain yang disebutkan dalam
teks adalah bahwa para ulama mencintai dan memuliakan orang yang menuntut ilmu.
Hubungan antara ahli ilmu berbeda
dengan hubungan yang dibangun atas dasar kepentingan dunia.
Persahabatan yang lahir dari ilmu
biasanya dibangun di atas:
- Keikhlasan
- Kecintaan kepada kebenaran
- Semangat saling menasihati
- Keinginan untuk berkembang bersama
Karena itu para penuntut ilmu sering
menemukan lingkungan yang penuh keberkahan. Mereka duduk bersama orang-orang
saleh, berdiskusi tentang kebaikan, dan saling membantu dalam ketaatan.
Inilah salah satu nikmat yang tidak
dapat diukur dengan materi.
Kebodohan Melahirkan Kedengkian
Sebaliknya, penulis menjelaskan
bahwa salah satu akibat kebodohan adalah munculnya rasa dengki terhadap
orang-orang berilmu.
Orang yang tidak memahami nilai ilmu
sering merasa terancam oleh keberhasilan orang lain. Ketika melihat seorang
ulama dihormati masyarakat, ia tidak berusaha belajar, tetapi justru iri hati.
Inilah penyakit yang sangat
berbahaya.
Kedengkian membuat seseorang:
- Sulit menerima kebenaran
- Menolak nasihat
- Membenci orang saleh
- Merusak ketenangan batin
Karena itu para ulama mengatakan
bahwa ilmu melahirkan kerendahan hati, sedangkan kebodohan sering melahirkan
kesombongan.
Semakin luas ilmu seseorang, semakin
ia menyadari betapa sedikit yang telah diketahuinya.
Ilmu Menyelamatkan Jiwa dari Pikiran
yang Melelahkan
Salah satu poin paling menarik dalam
teks ini adalah penjelasan bahwa ilmu mampu membebaskan manusia dari berbagai
pikiran yang menyiksa.
Banyak orang hidup dalam kegelisahan
karena:
- Terlalu banyak berangan-angan
- Memikirkan hal yang tidak bermanfaat
- Terjebak dalam kecemasan
- Sibuk dengan gosip dan urusan orang lain
Sebaliknya, orang yang sibuk dengan
ilmu memiliki tujuan yang jelas.
Waktunya dipenuhi dengan:
- Membaca
- Meneliti
- Menghafal
- Menulis
- Mengajar
- Berdiskusi tentang kebaikan
Kesibukan seperti ini menjaga hati
dari berbagai penyakit yang muncul akibat kekosongan jiwa.
Karena itulah banyak ulama
menganggap menuntut ilmu sebagai salah satu terapi terbaik untuk menjaga
kesehatan mental dan spiritual.
Ilmu Mengarahkan Manusia kepada
Tujuan Hidup
Ketika seseorang tidak memiliki
ilmu, ia mudah kehilangan arah.
Ia mungkin bekerja keras sepanjang
hidupnya, tetapi tidak mengetahui tujuan akhir dari semua usahanya.
Ilmu memberikan panduan tentang:
- Siapa penciptanya
- Untuk apa ia hidup
- Apa yang harus dilakukan
- Ke mana ia akan kembali
Dengan ilmu, kehidupan menjadi lebih
terarah.
Seseorang tidak lagi menghabiskan
waktunya untuk perkara-perkara yang sia-sia. Ia memahami mana yang bermanfaat
dan mana yang hanya membuang umur.
Inilah sebabnya para ulama menyebut
ilmu sebagai cahaya yang menerangi jalan kehidupan.
Keutamaan Ilmu di Dunia
Manfaat ilmu di dunia sangat banyak,
di antaranya:
1.
Meninggikan Derajat
Orang berilmu dihormati masyarakat
dan menjadi rujukan dalam berbagai urusan.
2.
Membuka Pintu Rezeki
Keahlian dan pengetahuan yang benar
sering menjadi sebab datangnya berbagai peluang rezeki.
3.
Menenangkan Hati
Ilmu menghilangkan kebingungan dan
memberikan keyakinan.
4.
Memperbaiki Akhlak
Orang yang memahami ajaran agama
dengan baik akan lebih mudah mengendalikan diri.
5.
Menjadi Sumber Manfaat
Ilmu memungkinkan seseorang membantu
banyak orang sepanjang hidupnya.
Keutamaan Ilmu di Akhirat
Keutamaan ilmu tidak berhenti di
dunia.
Di akhirat, ilmu menjadi sebab:
- Meningkatnya derajat di sisi Allah
- Mendapatkan pahala yang terus mengalir
- Menjadi petunjuk menuju keselamatan
- Mendekatkan diri kepada surga
Ilmu yang diamalkan bahkan dapat
menjadi amal jariyah yang terus mengalir setelah kematian.
Selama ilmu tersebut masih diajarkan
dan diamalkan, pahala akan terus mengalir kepada pemiliknya.
Mengapa Kita Harus Menjadi Penuntut
Ilmu?
Teks hikmah ini memberikan jawaban
yang sangat jelas.
Jika manfaat ilmu hanya satu saja,
yaitu membuat manusia dihormati dan menyelamatkan hati dari kegelisahan, maka
itu sudah cukup menjadi alasan untuk mencarinya.
Namun kenyataannya manfaat ilmu jauh
lebih besar daripada yang dapat dihitung.
Ilmu memperbaiki akal, membersihkan
hati, mengangkat derajat, memperluas wawasan, mendekatkan diri kepada Allah,
dan menjadi bekal menuju kehidupan akhirat.
Karena itulah para ulama sepanjang
sejarah rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan harta mereka demi memperoleh
ilmu yang bermanfaat.
Penutup
Ilmu adalah cahaya yang menerangi kehidupan
manusia. Dengan ilmu, seseorang memperoleh kemuliaan, ketenangan, dan petunjuk
menuju kebahagiaan dunia serta akhirat.
Sebaliknya, kebodohan adalah sumber
berbagai penyakit hati, seperti iri, dengki, kesombongan, dan kebingungan dalam
menjalani hidup.
Maka setiap Muslim hendaknya
menjadikan menuntut ilmu sebagai prioritas utama. Semakin banyak ilmu yang
dipelajari dan diamalkan, semakin dekat pula seseorang kepada kemuliaan yang
dijanjikan Allah.
Sebagaimana hikmah yang telah
disebutkan, jika sebagian kecil manfaat ilmu saja sudah begitu besar, maka
bagaimana lagi dengan seluruh keutamaannya yang tidak terhitung jumlahnya?
Wallahu
a‘lam.
Teks
Asli :
الْعلم لَو
لم يكن من فضل الْعلم إِلَّا أَن الْجُهَّال يهابونك ويجلونك وَأَن الْعلمَاء
يحبونك ويكرمونك لَكَانَ ذَلِك سَببا إِلَى وجوب طلبه فَكيف بِسَائِر فضائله فِي
الدُّنْيَا وَالْآخِرَة وَلَو لم يكن من نقص الْجَهْل إِلَّا أَن صَاحبه يحْسد
الْعلمَاء ويغبط نظراءه من الْجُهَّال لَكَانَ ذَلِك سَببا إِلَى وجوب الْفِرَار عَنهُ فَكيف بِسَائِر
رذائله فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَة لَو لم يكن من فَائِدَة الْعلم والاشتغال بِهِ
إِلَّا أَنه يقطع المشتغل بِهِ عَن الوساوس المضنية ومطارح الآمال الَّتِي لَا
تفِيد غير الْهم وكفاية الأفكار المؤلمة للنَّفس لَكَانَ ذَلِك أعظم دَاع إِلَيْهِ
فَكيف وَله من الْفَضَائِل مَا يطول ذكره وَمن أقلهَا مَا ذكرنَا مِمَّا يحصل
عَلَيْهِ طَالب الْعلم
Judul Kitab: Al-Akhlaq wa As-Siyar Fi Mudāwāt
an-Nufūs (Akhlak dan Perjalanan Hidup dalam Mengobati Jiwa)
Penulis: Ali bin
Ahmad bin Sa'id bin Hazm al-Andalusi al-Qurthubi az-Zhahiri (Abu Muhammad Ali
bin Ahmad bin Sa'id bin Hazm al-Andalusi al-Qurthubi az-Zhahiri, wafat tahun
456 H)
Baca juga:
Jangan
Sia-Siakan Umur: Nasihat Ulama tentang Ilmu, Waktu, dan Kesibukan yang
Bermanfaat


