Pendahuluan
Dalam pembahasan mengenai hubungan
antara isim (nama) dan musamma (yang dinamai), Imam Al-Ghazali
tidak hanya menguraikan berbagai pendapat ulama, tetapi juga menguji setiap
pendapat dengan kaidah logika yang ketat. Salah satu pendapat yang beliau
kritik adalah anggapan bahwa ada nama yang tidak dapat dikatakan sama dengan
musamma, tetapi juga tidak dapat dikatakan berbeda darinya.
Menurut Imam Al-Ghazali, pernyataan
seperti itu lahir karena tidak membedakan sudut pandang ketika menilai suatu
nama. Jika perbedaan antara lafaz, makna, dan zat dipahami dengan benar,
maka persoalan tersebut menjadi jelas. Tidak mungkin dalam satu sudut pandang
yang sama sesuatu itu sekaligus bukan identik dan bukan pula berbeda. Penjelasan
ini menjadi salah satu argumentasi logis terpenting dalam Al-Maqshad Al-Asna.
Sumber
Kitab: Al-Maqshad Al-Asna fi Syarh Ma'ani Asma'illah Al-Husna
Bab: Bantahan terhadap Pendapat bahwa Isim Tidak Sama dan Tidak
Berbeda dengan Musamma
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
Al-Ghazali (450–505 H)
Tema
Kekeliruan Pendapat "Tidak Sama
dan Tidak Berbeda" dalam Hubungan Isim dan Musamma Menurut Imam Al-Ghazali
Terjemahan Lengkap
Adapun pendapat yang mengatakan
bahwa ada nama yang tidak dapat dikatakan sebagai musamma dan juga tidak
dapat dikatakan berbeda dari musamma, maka pendapat itu juga keliru.
Mereka biasanya menjelaskan hal
tersebut dengan contoh kata 'alim (orang yang berilmu).
Jika mereka beralasan bahwa syariat
tidak mengizinkan penggunaan ungkapan itu terhadap Allah Ta'ala, maka dapat
dikatakan bahwa menyatakan sesuatu yang benar dan jujur tidak bergantung pada
adanya izin khusus dari syariat.
Untuk sementara, marilah kita tinggalkan
pembahasan mengenai Allah dan mengalihkannya kepada manusia.
Apabila seseorang memiliki ilmu,
apakah engkau akan mengatakan bahwa ilmu itu bukan selain manusia?
Padahal manusia telah ada sebelum
ilmu itu ada, dan jelas bahwa hakikat ilmu berbeda dengan hakikat manusia.
Jika mereka berkata:
"Ilmu memang berbeda dari
manusia. Akan tetapi, apabila kita mengatakan tentang seseorang bahwa ia adalah
manusia dan sekaligus seorang alim, maka alim bukan manusia dan bukan pula
selain manusia, karena manusia adalah subjek yang disifati dengan ilmu."
Kami menjawab:
Konsekuensi yang sama juga berlaku
pada kata penulis dan tukang kayu, sebab subjek yang disifati
oleh kedua nama itu juga adalah manusia.
Sesungguhnya pendapat yang benar
dalam masalah ini memerlukan perincian.
Makna lafaz manusia berbeda
dari makna lafaz alim.
Makna manusia adalah hewan yang
berakal dan mampu berbicara, sedangkan makna alim adalah sesuatu yang
memiliki ilmu, tanpa menjelaskan hakikat zatnya.
Karena itu, dari sisi makna, kedua
lafaz tersebut berbeda.
Maka dalam sudut pandang ini, salah
satunya adalah selain yang lain, dan tidak boleh dikatakan keduanya identik.
Namun dari sudut pandang yang lain,
keduanya dapat dikatakan sama.
Yaitu apabila dilihat kepada satu
zat yang sama, yang disifati sebagai manusia sekaligus sebagai orang yang
berilmu.
Musamma dari kata manusia
adalah zat yang sama dengan zat yang disifati sebagai alim, sebagaimana
musamma dari kata salju adalah sesuatu yang disifati sebagai putih dan
dingin.
Maka menurut sudut pandang ini,
keduanya adalah satu.
Sedangkan menurut sudut pandang
pertama, keduanya berbeda.
Adalah mustahil secara akal bahwa
dalam satu sudut pandang yang sama sesuatu itu tidak identik dan tidak pula
berbeda.
Sebagaimana mustahil sesuatu itu
sekaligus identik dan berbeda pada saat yang sama.
Sebab konsep "identik"
dan "berbeda" saling bertentangan seperti hubungan antara
penetapan dan penafian.
Tidak ada posisi tengah di antara
keduanya.
Artikel Pengembangan
Asal
Mula Kesalahpahaman
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
kekeliruan ini muncul karena sebagian orang mencampurkan beberapa sudut pandang
sekaligus.
Mereka melihat nama, makna, sifat,
dan zat dalam satu pembahasan tanpa membedakan mana yang sedang dibandingkan.
Akibatnya, lahirlah kesimpulan bahwa
sesuatu bukan identik dan juga bukan berbeda.
Padahal menurut kaidah logika,
kesimpulan seperti itu tidak dapat dipertahankan.
Mengapa
Kata "Manusia" Berbeda dengan "'Alim"?
Imam Al-Ghazali mengajak kita
memperhatikan makna setiap kata.
Manusia menunjukkan hakikat suatu jenis makhluk, yaitu hewan yang
berakal.
Sedangkan 'alim tidak
menjelaskan hakikat manusia.
Kata itu hanya menunjukkan adanya
sifat ilmu pada sesuatu.
Karena makna kedua lafaz berbeda,
maka keduanya bukan sinonim.
Dari sisi konsep dan makna, keduanya
jelas berbeda.
Tetapi
Mengapa Keduanya Bisa Dikatakan Sama?
Di sisi lain, ketika kita menunjuk
seseorang lalu berkata:
- "Dia manusia."
- "Dia seorang alim."
kedua kalimat tersebut menunjuk
kepada orang yang sama.
Yang berubah hanyalah cara
penyebutannya.
Yang satu menyebut hakikat jenisnya.
Yang lain menyebut sifat yang
dimilikinya.
Oleh sebab itu, dari sisi musamma,
keduanya menunjuk kepada satu individu yang sama.
Dua
Sudut Pandang yang Harus Dibedakan
Imam Al-Ghazali menegaskan adanya
dua cara memandang persoalan ini.
Pertama, melihat makna lafaz.
Dalam sudut pandang ini, kata manusia
dan alim memiliki makna yang berbeda.
Kedua, melihat zat yang ditunjuk oleh kedua lafaz.
Dalam sudut pandang ini, keduanya
menunjuk kepada orang yang sama.
Dengan membedakan dua sudut pandang
tersebut, seluruh perdebatan menjadi jelas dan tidak menimbulkan kontradiksi.
Prinsip
Logika yang Sangat Penting
Pada akhir pembahasan, Imam
Al-Ghazali mengemukakan prinsip logika yang mendasar.
Dua hal yang saling bertentangan
tidak mungkin berkumpul dalam satu sudut pandang.
Sesuatu tidak mungkin sekaligus:
- sama,
- berbeda,
atau:
- bukan sama,
- bukan berbeda,
dalam satu pengertian yang sama.
Karena konsep identitas dan perbedaan
merupakan dua hal yang saling berlawanan seperti penetapan dan penafian.
Tidak ada posisi tengah di antara
keduanya.
Inilah alasan mengapa Imam
Al-Ghazali menolak pendapat yang mengatakan bahwa suatu nama tidak sama dan
tidak pula berbeda dengan musamma.
Hikmah
Beberapa pelajaran penting dari
pembahasan ini adalah:
- Perbedaan sudut pandang sangat menentukan ketepatan
dalam memahami istilah-istilah akidah.
- Makna suatu lafaz dapat berbeda, meskipun keduanya
menunjuk kepada objek yang sama.
- Kata manusia menjelaskan hakikat, sedangkan alim
menjelaskan sifat yang melekat pada hakikat tersebut.
- Dalam satu sudut pandang yang sama, sesuatu tidak
mungkin sekaligus identik dan berbeda.
- Logika yang benar membantu menghindarkan kesalahan
dalam memahami nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya.
- Ketelitian Imam Al-Ghazali menunjukkan pentingnya
membedakan antara lafaz, makna, sifat, dan musamma sebelum menarik
kesimpulan teologis.
Penutup
Melalui pembahasan ini, Imam
Al-Ghazali berhasil menyelesaikan salah satu perdebatan klasik dalam ilmu kalam
dengan pendekatan yang sederhana tetapi sangat kuat. Beliau menunjukkan bahwa
pernyataan "isim tidak sama dan tidak berbeda dengan musamma"
lahir karena mencampuradukkan dua sudut pandang yang berbeda. Jika yang
dibandingkan adalah makna lafaz, maka keduanya dapat berbeda. Namun jika
yang diperhatikan adalah zat yang ditunjuk oleh lafaz, maka keduanya
dapat menunjuk kepada objek yang sama.
Penjelasan ini mengajarkan bahwa
ketelitian dalam berpikir merupakan bagian dari menjaga kemurnian akidah.
Dengan membedakan antara makna, sifat, dan musamma sebagaimana dijelaskan Imam
Al-Ghazali, seorang Muslim akan lebih mudah memahami Asmaul Husna serta
terhindar dari kontradiksi dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah
Ta'ala.
Teks Arab :
وَأما قَوْله إِن من الِاسْم مَا لَا يُقَال إِنَّه
الْمُسَمّى وَلَا يُقَال هُوَ غَيره فَهُوَ أَيْضا خطأ لِأَنَّهُ سيفسر ذَلِك
بالعالم وَهَذَا إِذا اعتذر فِيهِ بِأَن الشَّرْع لم يَأْذَن فِي إِطْلَاق ذَلِك
فِي حق الله عز وجل فَرُبمَا قيل لَيْسَ التَّصْرِيح بِالْحَقِّ والصدق مَوْقُوفا
على إِذن خَاص وَرُبمَا سومح الْآن فِيهِ ورد النّظر مَعَه إِلَى الْإِنْسَان إِذا
وصف بِالْعلمِ أفتقول إِن الْعلم لَيْسَ غير الْإِنْسَان وَقد كَانَ الْإِنْسَان
مَوْجُودا وَلم يكن الْعلم وحد الْعلم غير حد الْإِنْسَان لَا محَالة فَإِن قَالَ
الْعلم غير الْإِنْسَان وَلَكِن إِذا قُلْنَا عَن شخص وَاحِد إِنَّه عَالم
وَإنَّهُ إِنْسَان لم يكن الْعَالم هُوَ الْإِنْسَان وَلَا هُوَ غير الْإِنْسَان
لِأَن الْإِنْسَان هُوَ الْمَوْصُوف بِهِ قُلْنَا وَيلْزم هَذَا من الْكَاتِب
والنجار فَإِن الْمَوْصُوف بِهِ أَيْضا هُوَ الْإِنْسَان
على أَن الْحق فِيهِ التَّفْصِيل وَهُوَ أَن يُقَال
مَفْهُوم لفظ الْإِنْسَان غير مَفْهُوم
لفظ الْعَالم إِذْ مَفْهُوم الْإِنْسَان حَيَوَان نَاطِق
عَاقل وَمَفْهُوم الْعَالم شَيْء مُبْهَم لَهُ علم فأحد اللَّفْظَيْنِ غير
اللَّفْظ الآخر وَمَفْهُوم أَحدهمَا غير مَفْهُوم الآخر فَهُوَ بِهَذَا الْوَجْه
هُوَ غير لَا يجوز أَن يُقَال هُوَ هُوَ وبوجه آخر هُوَ هُوَ وَلَا يجوز أَن
يُقَال بذلك الْوَجْه إِلَّا هُوَ غَيره وَذَلِكَ إِذا نظرت إِلَى الذَّات
الْوَاحِدَة الَّتِي تُوصَف بِأَنَّهَا إِنْسَان وَأَنَّهَا عَالِمَة فَإِن
الْمُسَمّى بالإنسان هُوَ الْمَوْصُوف بِأَنَّهُ عَالم كَمَا أَن الْمُسَمّى
بالثلج هُوَ الْمَوْصُوف بِأَنَّهُ بَارِد وأبيض فَبِهَذَا النَّوْع من النّظر
وَالِاعْتِبَار هُوَ هُوَ وبالاعتبار الأول هُوَ غَيره ومحال فِي الْعقل أَن يكون
الِاعْتِبَار وَاحِدًا وَيكون لَا هُوَ هُوَ وَلَا غَيره كَمَا يَسْتَحِيل أَن
يكون هُوَ هُوَ وَغَيره لِأَن الْغَيْر والهو هُوَ متقابلان تقَابل النَّفْي
وَالْإِثْبَات فَلَيْسَ بَينهمَا وَاسِطَة
Baca juga:
Apakah Sifat Allah Berbeda dari Zat-Nya? Penjelasan Imam
Al-Ghazali tentang Makna "Ghair" dalam Ilmu Kalam


