Pendahuluan
Bagaimana sebuah kata dapat mewakili
suatu benda? Mengapa ketika seseorang mengucapkan kata langit, pikiran
kita langsung membayangkan hamparan biru di atas kepala? Pertanyaan-pertanyaan
ini tampak sederhana, tetapi menjadi salah satu pembahasan mendalam dalam kitab
Al-Maqshad Al-Asna karya Imam Al-Ghazali.
Pada bagian ini, beliau menjelaskan
hubungan erat antara lafaz (kata), ilmu (gambaran dalam pikiran),
dan ma'lum (objek yang diketahui). Ketiganya bukanlah satu hakikat yang
sama, tetapi saling berkaitan dan membentuk proses manusia dalam mengenal
realitas. Penjelasan ini menjadi fondasi penting untuk memahami bagaimana
Asmaul Husna menunjukkan kepada Dzat Allah tanpa menyamakan nama dengan
Dzat-Nya.
Sumber
Kitab: Al-Maqshad Al-Asna fi Syarh Ma'ani Asma'illah Al-Husna
Bab: Penjelasan Hakikat Ism (Nama)
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
Al-Ghazali (450–505 H) adalah
seorang ulama besar yang dikenal sebagai Hujjatul Islam. Melalui
karya-karyanya, beliau berhasil memadukan akidah Ahlus Sunnah, ilmu logika,
filsafat, tasawuf, dan ushul fikih dalam satu metode yang runtut dan mudah
dipahami. Kitab Al-Maqshad Al-Asna menjadi salah satu rujukan utama
dalam memahami makna Asmaul Husna secara ilmiah dan spiritual.
Tema
Hubungan Lafaz, Ilmu, dan Realitas
dalam Memahami Hakikat Nama Menurut Imam Al-Ghazali
Terjemahan Lengkap
Adapun keberadaan dalam bahasa
(al-wujūd fi al-lisān) adalah lafaz yang tersusun dari suara-suara.
Sebagai contoh adalah kata "samā'"
(langit) yang tersusun dari beberapa bunyi huruf. Bunyi-bunyi tersebut
kemudian membentuk satu kata yang disebut samā'.
Lafaz itu menjadi petunjuk terhadap
sesuatu yang ada di dalam pikiran.
Sedangkan apa yang ada di dalam
pikiran merupakan gambaran yang sesuai dengan sesuatu yang benar-benar ada di
alam nyata.
Seandainya tidak ada keberadaan
sesuatu di alam nyata, tentu tidak akan tercetak gambaran tentangnya di dalam
pikiran.
Apabila tidak ada gambaran dalam
pikiran, maka manusia tidak akan mengetahuinya.
Dan jika manusia tidak
mengetahuinya, maka ia tidak akan mampu mengungkapkannya melalui lisan.
Dengan demikian, lafaz, ilmu,
dan objek yang diketahui merupakan tiga hal yang berbeda.
Namun ketiganya saling bersesuaian
dan berjalan sejajar.
Kadang-kadang orang yang kurang
teliti mencampuradukkan ketiganya sehingga tidak mampu membedakan antara satu
dengan yang lain.
Bagaimana mungkin ketiga bentuk
keberadaan itu dianggap sama, padahal masing-masing memiliki sifat-sifat yang
tidak dimiliki oleh yang lain?
Sebagai contoh, manusia ditinjau
dari keberadaannya di alam nyata memiliki sifat-sifat seperti tidur, bangun,
hidup, mati, berdiri, berjalan, duduk, dan sebagainya.
Sedangkan manusia ditinjau dari
keberadaannya di dalam pikiran dapat menjadi subjek, predikat, bersifat umum,
khusus, parsial, universal, atau menjadi bagian dari suatu proposisi dalam
pembahasan ilmiah.
Adapun manusia ditinjau dari
keberadaannya dalam bahasa dapat disebut dengan berbagai bahasa, seperti bahasa
Arab, bahasa asing, bahasa Turki, bahasa Habasyah, dan lainnya.
Lafaz tersebut juga dapat terdiri
dari huruf yang banyak atau sedikit, dapat berbentuk isim, fi'il, atau huruf.
Keberadaan dalam bahasa ini dapat
berubah sesuai perkembangan zaman dan berbeda menurut kebiasaan masyarakat di
berbagai negeri.
Artikel Pengembangan
Lafaz Bukanlah Hakikat Benda
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa
sebuah kata hanyalah simbol.
Ketika seseorang mengucapkan kata "langit",
yang keluar hanyalah getaran suara.
Suara itu tidak memiliki warna biru,
tidak memiliki awan, dan tidak berada di atas kepala manusia.
Namun karena manusia telah memiliki
gambaran tentang langit di dalam pikirannya, maka lafaz tersebut langsung
mengarahkan pikiran kepada objek yang dimaksud.
Inilah fungsi bahasa sebagai alat
penunjuk, bukan sebagai hakikat benda.
Rantai Pengetahuan Menurut Imam Al-Ghazali
Beliau menjelaskan adanya hubungan
yang sangat sistematis.
Realitas → Gambaran dalam Pikiran →
Lafaz
Urutannya adalah sebagai berikut:
- Sesuatu terlebih dahulu ada di alam nyata.
- Keberadaan itu ditangkap oleh pancaindra.
- Gambarannya tersimpan dalam akal dan ingatan.
- Setelah manusia memahaminya, lahirlah kata-kata untuk
mengungkapkannya.
Karena itu, bahasa merupakan tahap
terakhir dari proses pengetahuan manusia.
Mengapa Banyak Orang Keliru?
Menurut Imam Al-Ghazali, orang yang
tidak teliti sering mencampuradukkan tiga hal berikut:
- lafaz (kata),
- ilmu (konsep dalam pikiran),
- dan ma'lum (objek nyata).
Misalnya, seseorang mengira bahwa
menyebut nama suatu benda sama dengan memahami hakikat benda tersebut. Padahal,
menghafal istilah belum tentu berarti memahami realitas yang ditunjuk oleh
istilah itu.
Pelajaran ini sangat penting dalam
memahami istilah-istilah agama. Seseorang mungkin hafal nama-nama Allah, tetapi
belum tentu memahami makna dan kandungan yang terdapat di dalam setiap nama
tersebut.
Setiap Bentuk Keberadaan Memiliki Karakteristik Berbeda
Imam Al-Ghazali memberikan contoh
yang sangat menarik.
Keberadaan
Nyata
Pada alam nyata, manusia dapat:
- hidup,
- mati,
- berjalan,
- tidur,
- makan,
- berbicara.
Semua sifat ini hanya dimiliki oleh
manusia sebagai makhluk nyata.
Keberadaan
dalam Pikiran
Dalam dunia ilmu dan logika, manusia
dapat menjadi:
- subjek,
- predikat,
- konsep umum,
- konsep khusus,
- konsep universal,
- konsep parsial.
Ini adalah sifat-sifat yang hanya
dimiliki oleh konsep dalam pikiran.
Keberadaan
dalam Bahasa
Dalam bahasa, manusia dapat disebut
dengan berbagai nama sesuai budaya dan bahasa.
Misalnya:
- insān
dalam bahasa Arab,
- human
dalam bahasa Inggris,
- manusia
dalam bahasa Indonesia.
Walaupun lafaznya berbeda, semuanya
menunjuk kepada objek yang sama.
Hal ini menunjukkan bahwa bahasa
bersifat konvensional dan dapat berubah mengikuti tempat, budaya, dan zaman.
Relevansi dengan Asmaul Husna
Pembahasan ini menjadi pengantar
penting sebelum memasuki penjelasan nama-nama Allah.
Nama-nama Allah merupakan lafaz yang
menunjukkan kepada Dzat Yang Mahasempurna.
Lafaz Ar-Rahman, Al-'Alim,
Al-Malik, atau Al-Quddus bukanlah Dzat Allah itu sendiri,
melainkan nama yang menunjukkan kepada Dzat Allah beserta sifat-sifat
kesempurnaan-Nya.
Dengan memahami perbedaan antara
lafaz, ilmu, dan realitas, seorang Muslim akan lebih berhati-hati dalam
memahami Asmaul Husna sehingga tidak terjatuh pada kekeliruan dalam akidah.
Hikmah
Beberapa pelajaran yang dapat
dipetik dari pembahasan Imam Al-Ghazali ini antara lain:
- Lafaz hanyalah simbol yang menunjuk kepada suatu makna.
- Ilmu merupakan gambaran mental yang sesuai dengan
realitas.
- Objek nyata, konsep dalam pikiran, dan kata-kata
memiliki hakikat yang berbeda.
- Bahasa berkembang mengikuti budaya, tempat, dan zaman.
- Kesalahan memahami istilah sering menjadi penyebab
munculnya kekeliruan dalam berpikir.
- Memahami Asmaul Husna harus dimulai dengan membedakan
antara nama, makna, dan Dzat Allah yang ditunjuk oleh nama tersebut.
Penutup
Dalam pembahasan ini, Imam
Al-Ghazali memperlihatkan keluasan ilmunya dengan menjelaskan hubungan antara
realitas, pikiran, dan bahasa secara sangat sistematis. Beliau menegaskan bahwa
lafaz, ilmu, dan objek yang diketahui merupakan tiga bentuk keberadaan yang
berbeda, meskipun saling berkaitan dan saling menunjukkan.
Melalui metode ini, beliau
mengajarkan bahwa memahami nama tidak cukup hanya dengan menghafalkan bunyinya.
Seseorang harus memahami makna yang terkandung di balik lafaz dan hakikat yang
ditunjuk olehnya. Prinsip inilah yang menjadi dasar penting dalam memahami
Asmaul Husna, sehingga setiap nama Allah tidak hanya dibaca dengan lisan,
tetapi juga dihayati maknanya oleh akal dan diresapi oleh hati.
Teks Arab :
وَأما الْوُجُود فِي اللِّسَان فَهُوَ اللَّفْظ الْمركب من
أصوات قطعت أَربع تقطيعات يعبر عَن الْقطعَة الأولى بِالسِّين وَعَن الثَّانِيَة
بِالْمِيم وَعَن الثَّالِثَة بِالْألف وَعَن الرَّابِعَة بِالْهَمْزَةِ وَهُوَ
قَوْلنَا سَمَاء فَالْقَوْل دَلِيل على مَا هُوَ فِي الذِّهْن وَمَا فِي الذِّهْن
صُورَة لما فِي الْوُجُود مُطَابقَة لَهُ وَلَو لم يكن وجود فِي
الْأَعْيَان لم ينطبع صُورَة فِي الأذهان وَلَو لم ينطبع
فِي صُورَة الأذهان لم يشْعر بهَا إِنْسَان وَلَو لم يشْعر بهَا الْإِنْسَان لم
يعبر عَنْهَا بِاللِّسَانِ فَإِذا اللَّفْظ وَالْعلم والمعلوم ثَلَاثَة أُمُور
متباينة لَكِنَّهَا مُتَطَابِقَة متوازية وَرُبمَا تَلْتَبِس على البليد فَلَا
يُمَيّز الْبَعْض مِنْهَا عَن الْبَعْض
وَكَيف لَا تكون هَذِه الوجودات متمايزة وَيلْحق كل وَاحِد
مِنْهَا خَواص لَا يلْحق الْأُخْرَى فَإِن ذالإنسان مثلا من حَيْثُ أَنه مَوْجُود
فِي الْأَعْيَان يلْحقهُ أَنه نَائِم ويقظان وَحي وميت وقائم وماش وقاعد وَغير
ذَلِك وَمن حَيْثُ أَنه مَوْجُود فِي الأذهان يلْحقهُ أَنه مُبْتَدأ وَخبر وعام
وخاص وجزئي وكلي وَقَضِيَّة وَغير ذَلِك وَمن حَيْثُ أَنه مَوْجُود فِي اللِّسَان
يلْحقهُ أَنه عَرَبِيّ وعجمي وتركي وزنجي وَكثير الْحُرُوف وقليلها وَأَنه اسْم
وَفعل وحرف وَغير ذَلِك وَهَذَا الْوُجُود يجوز أَن يخْتَلف بالأعصار ويتفاوت فِي
عَادَة أهل الْأَمْصَار
Baca juga:
Hakikat Ism Menurut ImamAl-Ghazali: Tiga Bentuk Keberadaan Sesuatu dalam Al-Maqshad Al-Asna
Hakikat Lafaz Menurut Imam Al-Ghazali: Mengapa NamaBerbeda di Setiap Bahasa dan Zaman?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar