Pendahuluan
Salah satu sifat kesempurnaan Allah
yang wajib diimani adalah Al-'Ilmu (Maha Mengetahui). Tidak ada satu pun
yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya, baik yang tampak maupun yang
tersembunyi, yang telah terjadi, sedang terjadi, maupun yang akan terjadi.
Dalam kitab At-Tabr al-Masbūk fī Naṣīḥat al-Mulūk, Abu Hamid Muhammad
bin Muhammad al-Ghazali al-Tusi menjelaskan bahwa ilmu Allah meliputi seluruh
alam semesta, sedangkan semua kejadian berlangsung atas kehendak, pengaturan,
dan ketetapan-Nya. Pemahaman ini menjadi bagian penting dalam membangun akidah
yang kokoh.
Sumber Nasihat :
Kitab: At-Tabr al-Masbūk fī Naṣīḥat al-Mulūk
Bab: الأصل الرابع في العلم (Pokok Keempat: Tentang Ilmu Allah)
Penulis :
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
Al-Ghazali Ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M) merupakan
ulama besar yang dikenal sebagai Hujjatul Islam. Melalui karya-karyanya,
beliau memadukan pembahasan akidah, fikih, akhlak, dan tasawuf sehingga menjadi
rujukan umat Islam selama berabad-abad.
Tema :
Kesempurnaan Ilmu Allah dan
Kehendak-Nya yang Meliputi Seluruh Alam Semesta
Terjemahan Lengkap
Pokok
Keempat: Tentang Ilmu Allah
Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala Maha
Mengetahui segala sesuatu yang dapat diketahui.
Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.
Tidak ada sesuatu pun, dari langit yang paling tinggi hingga bumi yang paling
bawah, melainkan telah dicakup oleh ilmu-Nya.
Seluruh makhluk muncul dengan
ilmu-Nya, diciptakan dengan kehendak-Nya, dan diwujudkan dengan kekuasaan-Nya.
Allah mengetahui jumlah butiran
pasir di padang pasir, tetesan hujan, daun-daun yang berguguran dari pepohonan,
serta rahasia-rahasia yang tersembunyi dalam pikiran manusia.
Segala sesuatu yang diterbangkan
oleh angin dan udara pun nyata dalam ilmu-Nya sebagaimana jumlah
bintang-bintang di langit.
Seluruh yang ada di alam semesta terjadi
dengan kehendak dan kemauan Allah.
Tidak ada sesuatu pun, baik sedikit
maupun banyak, kecil maupun besar, baik maupun buruk, manfaat maupun mudarat,
bertambah maupun berkurang, kenyamanan maupun kesusahan, kesehatan maupun
penyakit, kecuali semuanya berlangsung berdasarkan hukum, pengaturan, kehendak,
dan ketetapan Allah.
Seandainya seluruh manusia, jin,
malaikat, dan setan berkumpul untuk menggerakkan atau menghentikan satu butir
zarrah di alam semesta, atau menambah maupun menguranginya tanpa kehendak,
kekuasaan, dan pertolongan Allah, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya.
Apa yang Allah kehendaki pasti
terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi.
Kehendak Allah tidak dapat ditolak.
Apa pun yang telah terjadi, sedang terjadi, maupun yang akan terjadi, semuanya
berlangsung dengan pengaturan, perintah, dan ketetapan-Nya.
Artikel Pengembangan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
ilmu Allah adalah ilmu yang sempurna dan tidak terbatas. Berbeda dengan ilmu
manusia yang diperoleh melalui belajar dan pengalaman, ilmu Allah bersifat
azali, tidak didahului oleh ketidaktahuan, dan tidak mengalami penambahan
ataupun pengurangan.
Untuk menggambarkan keluasan ilmu
Allah, beliau menyebut berbagai contoh yang dekat dengan kehidupan manusia,
seperti jumlah butiran pasir, tetesan hujan, daun yang gugur, hingga lintasan
pikiran yang tersembunyi di dalam hati. Semua itu diketahui Allah secara
sempurna tanpa ada sedikit pun yang luput dari pengetahuan-Nya.
Selain menjelaskan keluasan ilmu
Allah, Imam Al-Ghazali juga menegaskan hubungan erat antara ilmu, kehendak (iradah),
dan kekuasaan (qudrah) Allah. Alam semesta tidak berjalan secara
kebetulan. Segala sesuatu berlangsung sesuai ilmu Allah, dikehendaki oleh-Nya,
lalu diwujudkan dengan kekuasaan-Nya. Tidak ada satu peristiwa pun yang keluar
dari pengaturan-Nya.
Pernyataan bahwa seluruh manusia,
jin, malaikat, dan setan tidak mampu menggerakkan satu zarrah tanpa izin Allah
menunjukkan betapa mutlaknya kekuasaan dan kehendak-Nya. Semua makhluk hanyalah
pelaksana yang berada di bawah ketetapan Allah. Tidak ada kekuatan yang dapat
menandingi atau membatalkan keputusan-Nya.
Namun demikian, keyakinan bahwa
segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah tidak menghilangkan kewajiban
manusia untuk berikhtiar. Islam mengajarkan bahwa manusia tetap diperintahkan
berusaha, berdoa, dan memilih jalan yang benar, sementara hasil akhirnya berada
dalam ilmu dan ketetapan Allah. Dengan demikian, seorang mukmin akan memadukan
usaha yang sungguh-sungguh dengan tawakal kepada-Nya.
Kesadaran bahwa Allah mengetahui
segala sesuatu juga mendorong lahirnya keikhlasan. Seorang hamba tidak hanya
menjaga amal yang tampak di hadapan manusia, tetapi juga memperbaiki niat dan
isi hatinya, karena Allah mengetahui segala rahasia yang tidak diketahui oleh
siapa pun.
Hikmah
- Allah Maha Mengetahui segala sesuatu tanpa batas.
- Tidak ada satu pun peristiwa yang tersembunyi dari ilmu
Allah.
- Semua makhluk diciptakan berdasarkan ilmu, kehendak,
dan kekuasaan Allah.
- Allah mengetahui hal-hal yang tampak maupun yang
tersembunyi, termasuk isi hati manusia.
- Semua kejadian berlangsung sesuai dengan ketetapan dan
pengaturan Allah.
- Kehendak Allah tidak dapat dihalangi oleh siapa pun.
- Keimanan kepada ilmu Allah mendorong seorang muslim
untuk ikhlas, jujur, dan selalu merasa diawasi oleh-Nya.
- Seorang mukmin diperintahkan untuk berikhtiar dengan
sungguh-sungguh, kemudian bertawakal kepada Allah atas hasil yang
ditetapkan-Nya.
Penutup
Pokok keempat dalam nasihat Imam
Al-Ghazali menegaskan bahwa Allah memiliki ilmu yang sempurna dan meliputi
segala sesuatu. Tidak ada satu pun makhluk, peristiwa, ataupun rahasia hati
yang luput dari pengetahuan-Nya. Seluruh alam semesta berjalan berdasarkan
ilmu, kehendak, dan kekuasaan Allah yang Mahasempurna. Dengan mengimani sifat Al-'Ilmu,
seorang muslim akan semakin yakin bahwa setiap amal, doa, dan niat diketahui
oleh Allah. Keyakinan ini melahirkan keikhlasan, ketenangan, rasa tanggung
jawab, serta dorongan untuk senantiasa berbuat baik karena menyadari bahwa
Allah Maha Mengetahui segala yang tampak maupun yang tersembunyi.
Teks Arab :
الأصل الرابع في العلم
وأنه تعالى عالم بكل معلوم وعلمه
محيط بكل شيء، فليس شيء في العلا إلى الثرى إلا قد أحاط به علمه لأن الأشياء
جميعها بعلمه ظهرت وبإرادته خلقها وبقدرته كونها، وأنه تعالى يعلم عدة رمال
القفار، وقطرات الأمطار، وورق الأشجار، وغوامض الأفكار، وما دارت عليه الرياح
والهواء في علمه ظاهر مثل عدد نجوم السماء. وأن جميع ما في العالم بإرادته ومشيئته
وليس شيء من قليل أو كثير، صغير أو كبير، خير أو شر، نفع أو
ضر، زيادة أو نقصان، راحة أو تعب،
صحة أو صب، إلا بحكمه وتدبيره، ومشيئته وتقديره. لو اجتمع الأنس والجن والملائكة
والشياطين على أن يحرَكوا في العالم ذرة أو يسكنوها أو ينقصوا منها أو يزيدوا فيها
بغير إرادته وحوله وقوته لعجزوا عن ذلك ولم يقدروا، وما شاء الله كان وما لا يشاء
لا يكون، ولا ترد مشيئته ومهما كان ويكون أو هو كائن فإنه بتدبيره وأمره وتسخيره.
Baca juga:
Sifat Qudrah Allah Menurut ImamAl-Ghazali: Allah Mahakuasa atas Segala Sesuatu
Pensucian Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Memahami Tanzih Allah dari Segala Sifat Makhluk
Sifat As-Samī' dan Al-Baṣīr Menurut
Imam Al-Ghazali: Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar