Pendahuluan
Di antara sifat kesempurnaan Allah
yang wajib diimani adalah As-Samī' (Maha Mendengar) dan Al-Baṣīr
(Maha Melihat). Pendengaran dan penglihatan Allah tidak sama dengan makhluk,
tidak membutuhkan telinga maupun mata, serta meliputi seluruh ciptaan tanpa
batas. Dalam kitab At-Tabr al-Masbūk fī Naṣīḥat al-Mulūk, Abu Hamid
Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Tusi menjelaskan bahwa Allah mendengar
seluruh suara dan melihat seluruh makhluk dengan kesempurnaan yang sesuai
dengan keagungan-Nya. Pemahaman ini memperkuat keyakinan bahwa tidak ada amal
maupun ucapan yang tersembunyi dari Allah.
Sumber :
Kitab : At-Tabr
al-Masbūk fī Naṣīḥat al-Mulūk
Bab : الأصل
الخامس والسادس في أنه سميع بصير (Pokok Kelima dan Keenam: Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat)
Penulis :
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
Al-Ghazali Ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M) adalah
ulama besar yang dijuluki Hujjatul Islam. Melalui karya-karyanya, beliau
menjelaskan prinsip-prinsip akidah Ahlus Sunnah dengan bahasa yang mudah
dipahami sekaligus mendalam.
Tema :
Kesempurnaan Pendengaran dan
Penglihatan Allah yang Tidak Menyerupai Makhluk
Terjemahan Lengkap
Pokok
Kelima dan Keenam: Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat
Sebagaimana Allah Maha Mengetahui
seluruh yang diketahui, demikian pula Dia Maha Mendengar setiap suara yang
dapat didengar dan Maha Melihat setiap sesuatu yang dapat dilihat.
Dengan satu pendengaran dan satu
penglihatan yang sempurna, Allah melihat langkah semut yang berjalan pada malam
yang sangat gelap.
Tidak tersembunyi dari
pendengaran-Nya suara seekor ulat yang bergerak di bawah lapisan-lapisan bumi.
Pendengaran Allah bukan dengan
telinga, dan penglihatan-Nya bukan dengan mata.
Sebagaimana ilmu Allah tidak
diperoleh melalui proses berpikir, demikian pula perbuatan-Nya tidak
membutuhkan alat ataupun sarana.
Apabila Allah menghendaki sesuatu,
Dia hanya berfirman, "Jadilah!", maka terjadilah apa yang Dia
kehendaki.
Artikel Pengembangan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
pendengaran dan penglihatan Allah merupakan sifat-sifat kesempurnaan yang wajib
diyakini oleh setiap muslim. Allah mendengar seluruh suara tanpa ada satu pun
yang luput dari pendengaran-Nya, baik suara yang keras maupun yang sangat
pelan, doa yang diucapkan dengan lisan maupun bisikan yang hanya terlintas
dalam hati.
Beliau memberikan gambaran yang
sangat menyentuh, yaitu bahwa Allah melihat langkah seekor semut pada malam
yang gelap gulita dan mendengar suara ulat yang bergerak di bawah lapisan bumi.
Gambaran ini menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu yang terlalu kecil atau
terlalu tersembunyi bagi Allah.
Namun, Imam Al-Ghazali juga
menegaskan bahwa pendengaran dan penglihatan Allah sama sekali tidak menyerupai
makhluk. Manusia membutuhkan telinga untuk mendengar dan mata untuk melihat,
sedangkan Allah tidak membutuhkan organ ataupun alat. Sifat-sifat Allah berdiri
sendiri sebagai sifat kesempurnaan yang sesuai dengan keagungan-Nya.
Beliau kemudian menghubungkan
pembahasan ini dengan kekuasaan Allah dalam menciptakan. Sebagaimana ilmu Allah
tidak diperoleh melalui proses berpikir, Allah juga tidak memerlukan alat,
bahan, ataupun bantuan ketika menciptakan sesuatu. Kehendak-Nya cukup
diwujudkan dengan firman-Nya, "Kun" (Jadilah), maka terjadilah
sesuai dengan kehendak-Nya.
Keimanan terhadap sifat As-Samī'
dan Al-Baṣīr memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan seorang muslim.
Seseorang akan lebih berhati-hati dalam berbicara karena yakin bahwa Allah
mendengar setiap ucapan. Ia juga akan menjaga perbuatannya karena menyadari
bahwa Allah melihat seluruh amal, baik yang dilakukan di hadapan manusia maupun
ketika sendirian.
Kesadaran bahwa Allah selalu
mendengar dan melihat juga menumbuhkan ketenangan ketika berdoa. Tidak ada doa
yang terlalu lirih untuk didengar oleh Allah, dan tidak ada air mata yang jatuh
secara diam-diam yang luput dari penglihatan-Nya. Allah mengetahui keadaan
hamba-Nya secara sempurna dan memberikan pertolongan sesuai dengan hikmah-Nya.
Hikmah
- Allah Maha Mendengar seluruh suara tanpa batas.
- Allah Maha Melihat seluruh makhluk, baik yang tampak
maupun yang tersembunyi.
- Pendengaran dan penglihatan Allah tidak membutuhkan
telinga ataupun mata seperti makhluk.
- Tidak ada doa, bisikan, maupun amal yang luput dari
pendengaran dan penglihatan Allah.
- Allah menciptakan segala sesuatu tanpa alat maupun
sarana, cukup dengan kehendak-Nya.
- Keyakinan terhadap sifat As-Samī' dan Al-Baṣīr
mendorong seorang muslim untuk menjaga lisan, hati, dan perbuatannya.
- Seorang mukmin akan semakin khusyuk dalam berdoa karena
yakin bahwa Allah selalu mendengar dan mengetahui kebutuhannya.
Penutup
Pokok kelima dan keenam dalam nasihat
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa Allah memiliki sifat As-Samī' dan Al-Baṣīr
dengan kesempurnaan yang mutlak. Pendengaran dan penglihatan-Nya tidak
bergantung pada alat sebagaimana makhluk, tetapi merupakan sifat yang sesuai
dengan keagungan-Nya. Tidak ada suara yang terlalu pelan, tidak ada makhluk
yang terlalu kecil, dan tidak ada amal yang tersembunyi dari Allah. Keyakinan
terhadap kedua sifat ini akan melahirkan rasa muraqabah, yaitu kesadaran
bahwa Allah senantiasa mendengar setiap ucapan dan melihat setiap perbuatan,
sehingga seorang muslim terdorong untuk menjaga keikhlasan, memperbaiki akhlak,
dan semakin dekat kepada-Nya.
Teks Arab :
الأصل الخامس والسادس في أنه سميع
بصير
وكما أنه عالم بجميع المعلومات
فإنه سميع لكل مسموع، بصير لكل مبصر، وأنه بسمع واحد وبصر واحد يرى دبيب النملة في
الليلة المظلمة، ولا يخفى عن سمعه صوت الدود تحت أطباق الأرض، وأن سمعه ليس بأذن
وبصره ليس بعين. وكما أن علمه لا يصدر عن فكرة ففعله بغير آلة وعدة يقول للشيء كن
فيكون.
Baca juga:
Sifat Qudrah Allah Menurut ImamAl-Ghazali: Allah Mahakuasa atas Segala Sesuatu
Sifat Kalam Allah Menurut Imam Al-Ghazali: MemahamiFirman Allah dalam Akidah Islam
Sifat Ilmu Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Allah MahaMengetahui Segala Sesuatu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar