Pendahuluan
Dalam pandangan ulama besar
Andalusia, Ibnu Hazm, ucapan manusia—baik berupa pujian maupun celaan—bukanlah
sesuatu yang sederhana. Keduanya dapat menjadi sarana perbaikan diri, pahala,
atau bahkan ujian bagi hati manusia.
Ibnu Hazm menjelaskan dengan sangat
dalam bahwa seorang mukmin yang memahami hakikat ini tidak akan terguncang oleh
penilaian manusia, karena ia melihat di balik ucapan itu terdapat hikmah besar
dari Allah.
Teks Terjemahan
Ibnu Hazm berkata:
Adapun celaan manusia terhadap
seseorang, jika celaan itu benar dan sampai kepadanya, maka bisa jadi itu
menjadi sebab ia meninggalkan hal-hal yang tercela pada dirinya.
Ini adalah keuntungan besar yang
tidak akan ditinggalkan kecuali oleh orang yang kurang akal.
Jika celaan itu tidak benar dan
sampai kepadanya, lalu ia bersabar, maka ia memperoleh keutamaan tambahan berupa
kesabaran dan kelembutan hati.
Selain itu, ia juga mendapatkan
keuntungan karena orang yang mencelanya secara dusta akan memberikan pahala
kebaikan kepadanya di hari kiamat, tanpa ia bersusah payah melakukannya.
Ini adalah keuntungan besar yang
tidak akan ditinggalkan kecuali oleh orang yang tidak berakal.
Adapun jika pujian manusia tidak
sampai kepadanya, maka antara ucapan dan diam manusia baginya sama saja.
Namun celaan berbeda, karena ia
tetap mendapatkan pahala dalam segala kondisi, baik celaan itu sampai kepadanya
atau tidak.
Seandainya tidak ada sabda
Rasulullah ﷺ tentang pujian yang baik sebagai kabar
gembira bagi orang beriman, maka orang berakal mungkin akan lebih memilih
celaan palsu daripada pujian yang benar.
Namun karena ada sabda tersebut,
maka kabar gembira itu hanya berlaku pada kebenaran, bukan kebohongan.
Karena kabar gembira itu harus
berdasarkan apa yang benar-benar ada dalam diri seseorang, bukan sekadar ucapan
pujian.
Tidak ada perbedaan antara kebaikan
dan keburukan, serta antara ketaatan dan kemaksiatan, kecuali pada
kecenderungan hati: apakah ia menyukai atau menjauhinya.
Hikmah Celaan dalam Kehidupan
Ibnu Hazm menjelaskan bahwa celaan
manusia memiliki tiga kemungkinan manfaat:
1.
Jika celaan itu benar
Maka ia menjadi peringatan dan
koreksi diri, sehingga seseorang bisa memperbaiki kekurangan.
2.
Jika celaan itu salah
Maka ia menjadi ladang pahala,
karena kesabaran atas fitnah dan kebohongan.
3.
Dalam semua keadaan
Orang yang dicela tetap mendapatkan
manfaat spiritual, baik dunia maupun akhirat.
Pujian dan Bahayanya
Sebaliknya, pujian manusia:
- Tidak selalu sampai kepada seseorang
- Bisa menimbulkan kesombongan (ujub)
- Bisa membuat hati lalai
Oleh karena itu, pujian tidak selalu
lebih baik daripada celaan jika tidak disikapi dengan benar.
Pahala dari Orang yang Mencela
Salah satu hikmah terbesar yang
dijelaskan Ibnu Hazm adalah:
Orang yang mencela dengan kebohongan
justru memberikan kebaikan kepada orang yang dicelanya di hari kiamat.
Ini karena:
- Pahala diberikan kepada yang dizalimi
- Dosa dipikul oleh yang menzalimi
- Tanpa perlu usaha tambahan dari korban celaan
Keseimbangan antara Pujian dan Celaan
Dalam Islam, baik pujian maupun
celaan harus dipahami dengan bijak:
- Pujian → bisa menjadi kabar gembira jika sesuai
kebenaran
- Celaan → bisa menjadi peringatan atau pahala
Namun semua itu tergantung pada isi
hati dan kebenaran amal, bukan sekadar ucapan manusia.
Pelajaran Penting
1.
Celaan bisa menjadi nikmat tersembunyi
Karena dapat memperbaiki diri atau
menambah pahala.
2.
Pujian tidak selalu baik
Bisa menipu hati dan menimbulkan
kesombongan.
3.
Orang beriman tidak bergantung pada manusia
Ia bergantung pada penilaian Allah.
4.
Semua ucapan manusia memiliki hikmah
Jika dipahami dengan benar.
Penutup
Nasihat Ibnu Hazm ini mengajarkan
bahwa seorang mukmin tidak boleh terjebak dalam pujian atau celaan manusia.
Keduanya hanyalah ujian yang bisa menjadi jalan kebaikan jika disikapi dengan
benar.
Orang yang bijak akan melihat di balik
setiap ucapan manusia terdapat kesempatan untuk memperbaiki diri, bersabar, dan
meraih pahala dari Allah.
Dengan demikian, tidak ada ucapan
manusia yang benar-benar merugikan orang beriman—semuanya bisa menjadi jalan
menuju kebaikan.
Wallahu
a‘lam.
Teks
Asli :
وَأما ذمّ
النَّاس إِيَّاه فَإِن كَانَ بِحَق فَبَلغهُ فَرُبمَا كَانَ ذَلِك سَببا إِلَى
تجنبه مَا يعاب عَلَيْهِ وَهَذَا حَظّ عَظِيم لَا يزهد فِيهِ إِلَّا نَاقص وَإِن
كَانَ بباطل وبلغه فَصَبر اكْتسب فضلا زَائِدا بالحلم وَالصَّبْر وَكَانَ مَعَ
ذَلِك غانما لِأَنَّهُ يَأْخُذ حَسَنَات من ذمه بِالْبَاطِلِ فيحظى بهَا فِي دَار
الْجَزَاء أحْوج مَا يكون إِلَى النجَاة بأعمال لم يتعب فِيهَا وَلَا تكلفها
وَهَذَا حَظّ عَظِيم لَا يزهد فِيهِ إِلَّا مَجْنُون وَأما إِن لم يبلغهُ مدح
النَّاس إِيَّاه فكلامهم وسكوتهم سَوَاء وَلَيْسَ كَذَلِك ذمهم إِيَّاه لِأَنَّهُ
غَانِم لِلْأجرِ على كل حَال بلغه ذمهم أَو لم يبلغهُ وَلَوْلَا قَول رَسُول الله
ﷺ فِي الثَّنَاء الْحسن (ذَلِك عَاجل بشرى الْمُؤمن) لوَجَبَ أَن يرغب الْعَاقِل
فِي الذَّم بِالْبَاطِلِ أَكثر من رغبته فِي الْمَدْح بِالْحَقِّ وَلَكِن إِذْ
جَاءَ هَذَا القَوْل فَإِنَّمَا تكون الْبُشْرَى بِالْحَقِّ لَا بِالْبَاطِلِ
فَإِنَّمَا تجب الْبُشْرَى بِمَا فِي الممدوح لَا بِنَفس الْمَدْح لَيْسَ بَين
الْفَضَائِل والرذائل وَلَا بَين الطَّاعَات والمعاصي إِلَّا نفار النَّفس وأنسها
فَقَط
Judul Kitab: Al-Akhlaq wa As-Siyar Fi Mudāwāt
an-Nufūs (Akhlak dan Perjalanan Hidup dalam Mengobati Jiwa)
Penulis: Ali bin
Ahmad bin Sa'id bin Hazm al-Andalusi al-Qurthubi az-Zhahiri (Abu Muhammad Ali
bin Ahmad bin Sa'id bin Hazm al-Andalusi al-Qurthubi az-Zhahiri, wafat tahun
456 H)
Baca juga:
Akal dan Ketenangan Jiwa Menurut Ibnu Hazm: MenanggalkanPenilaian Manusia dan Mengutamakan Allah
Tujuan Hidup Menurut Ibnu Hazm: Menghilangkan Kegelisahandengan Amal untuk Allah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar