Raja Tubba' dan Ramalan Kedatangan Nabi Muhammad ﷺ: Wasiat yang Dijaga Berabad-Abad

Pendahuluan

Dalam berbagai riwayat sejarah Arab kuno, terdapat kisah menarik tentang para raja Himyar dan Tubba' yang disebut telah mengetahui kabar akan datangnya Nabi Muhammad jauh sebelum beliau dilahirkan. Salah satu riwayat yang terkenal menceritakan bagaimana seorang raja Tubba' mengumpulkan para raja, pangeran, dan pemimpin dari berbagai bangsa, lalu menyampaikan wasiat penting mengenai kemunculan seorang nabi terakhir yang akan membawa petunjuk bagi seluruh umat manusia.

Kisah ini menjadi bagian dari tradisi sejarah Islam yang menunjukkan bahwa berita tentang Nabi Muhammad telah dikenal oleh sebagian ahli hikmah, ulama, dan tokoh-tokoh besar sebelum masa kenabian beliau.

Raja Tubba' Mengatur Kerajaan-Kerajaan Arab dan Ajam

Dikisahkan bahwa Tubba' menata wilayah kekuasaannya dengan sangat rapi. Ia mengangkat para raja dan pemimpin dari kalangan keturunannya untuk memimpin berbagai suku Arab maupun bangsa-bangsa non-Arab.

Setiap kabilah Arab memiliki pemimpin yang ditaati oleh kaumnya. Demikian pula berbagai wilayah bangsa Ajam memiliki penguasa yang berasal dari keturunan Himyar atau Kahlan yang bertugas menjaga ketertiban dan kestabilan kerajaan.

Sistem ini menjadikan kekuasaan Tubba' tetap kokoh meskipun wilayah yang dipimpinnya sangat luas.

Nasihat Tubba' kepada Para Raja dan Pangeran

Pada suatu kesempatan, Tubba' mengumpulkan para raja, putra-putra raja, dan para pemimpin bangsawan dari kalangan Himyar serta Kahlan.

Dalam pidatonya, ia berkata:

"Sesungguhnya sebagian besar umur dunia telah berlalu dan yang tersisa hanyalah sedikit. Sesuatu yang banyak apabila telah berkurang lebih dekat kepada habis daripada bertambah."

Nasihat tersebut mengingatkan bahwa kehidupan dunia tidaklah kekal. Setiap manusia, betapapun tinggi kedudukannya, akan menghadapi akhir kehidupan sebagaimana para leluhur mereka.

Karena itu Tubba' mendorong para pemimpin untuk berlomba dalam kebajikan, kemuliaan akhlak, dan amal saleh sebelum kesempatan itu hilang.

Kesadaran Bahwa Kematian Selalu Dekat

Tubba' mengingatkan para penguasa bahwa:

  • Orang yang selamat hari ini belum tentu selamat esok hari.
  • Orang yang selamat esok hari belum tentu selamat pada hari berikutnya.
  • Semua manusia akan kembali kepada Allah sebagaimana para leluhur mereka telah kembali terlebih dahulu.

Nasihat ini menunjukkan kebijaksanaan seorang pemimpin yang tidak tertipu oleh kemegahan dunia dan kekuasaan.

Ia memahami bahwa kerajaan sebesar apa pun pada akhirnya akan ditinggalkan oleh pemiliknya.

Kabar Tentang Nabi Terakhir

Bagian paling menarik dari pidato Tubba' adalah ketika ia berbicara mengenai kemunculan seorang nabi di akhir zaman.

Ia menjelaskan bahwa akan datang seorang nabi yang:

  • Dimuliakan oleh Allah.
  • Membawa kitab yang jelas dan terang.
  • Menjadi rahmat bagi orang-orang beriman.
  • Menjadi hujjah atas orang-orang yang ingkar.
  • Muncul setelah masa panjang tanpa kehadiran para rasul.

Menurut riwayat tersebut, Tubba' memerintahkan agar berita ini diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya.

Ia berkata agar anak-anak dan cucu-cucu mereka terus menunggu kemunculan nabi tersebut, beriman kepadanya, dan siap membelanya ketika saatnya tiba.

Wasiat Turun-Temurun Menanti Rasulullah

Tubba' tidak ingin pesan itu berhenti pada satu generasi saja.

Karena itu ia memerintahkan agar wasiat tersebut diwariskan:

  • Dari ayah kepada anak.
  • Dari generasi kepada generasi.
  • Dari abad ke abad.

Tujuannya agar ketika nabi yang dijanjikan muncul, mereka telah siap menerima dan menolongnya.

Riwayat ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Arab kuno memiliki pengetahuan mengenai kedatangan nabi terakhir berdasarkan tradisi yang diwariskan turun-temurun.

Syair Tubba' tentang Nabi Muhammad

Setelah menyampaikan pidatonya, Tubba' melantunkan syair yang terkenal dalam literatur sejarah Islam.

Di antara maknanya adalah:

Aku bersaksi bahwa Ahmad adalah utusan Allah, Pencipta seluruh makhluk.

Kemudian ia berkata:

Seandainya umurku dipanjangkan hingga masa beliau, niscaya aku akan menjadi penolong dan pembantunya.

Tubba' bahkan menyatakan bahwa ia akan memerintahkan seluruh bangsa Arab dan Ajam untuk mengikuti Nabi Muhammad apabila ia hidup pada zaman beliau.

Syair tersebut juga memuji Rasulullah sebagai:

  • Pemimpin para rasul.
  • Nabi pilihan Allah.
  • Manusia terbaik yang pernah menginjak bumi.
  • Pembawa umat terbaik sepanjang sejarah.

Mengapa Tubba' Disebut Beriman kepada Nabi Muhammad ?

Dalam sejumlah riwayat klasik disebutkan bahwa sebagian raja Tubba' telah beriman kepada Nabi Muhammad sebelum beliau lahir.

Keimanan ini bukan karena mereka pernah bertemu dengan Rasulullah , melainkan karena mereka menerima kabar dari kitab-kitab terdahulu dan para ulama yang mengetahui tanda-tanda kemunculan nabi akhir zaman.

Karena itu banyak ulama sejarah menyebut bahwa sebagian raja Himyar telah mengenal sifat-sifat Nabi Muhammad jauh sebelum masa kenabian.

Pengaruh Wasiat Tubba' terhadap Bangsa Yaman

Riwayat menyebutkan bahwa keturunan Himyar dan Kahlan terus mewariskan pesan tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ketika Rasulullah diutus, banyak orang Yaman termasuk kelompok yang paling cepat menerima dakwah Islam.

Mereka dikenal sebagai kaum yang lembut hati, mudah menerima kebenaran, dan memiliki kecintaan besar kepada agama Islam.

Hal ini dianggap sebagai salah satu buah dari wasiat yang diwariskan oleh para leluhur mereka.

Hubungan dengan Kaum Anshar

Sebagian ahli sejarah mengaitkan wasiat Tubba' dengan kemuliaan kaum Anshar yang berasal dari keturunan bangsa Yaman.

Al-Qur'an memuji mereka dalam firman Allah:

"Mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka dan mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri meskipun mereka juga memerlukan."

Sifat pengorbanan dan kesetiaan yang ditunjukkan kaum Anshar dianggap sejalan dengan pesan yang diwariskan oleh para leluhur mereka untuk menolong nabi akhir zaman.

Kisah Saif bin Dzi Yazan dan Kabar Nabi Muhammad

Riwayat ini juga berkaitan dengan kisah terkenal Raja Saif bin Dzi Yazan Al-Himyari.

Ketika Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad , berkunjung kepadanya, Saif bin Dzi Yazan dikisahkan telah menyampaikan berita tentang akan lahirnya seorang nabi dari keturunan Quraisy.

Sebagian ahli sejarah berpendapat bahwa pengetahuan Saif bin Dzi Yazan tentang Nabi Muhammad berasal dari warisan informasi yang telah ditinggalkan oleh Tubba' dan para leluhurnya.

Dengan demikian, berita tentang Nabi Muhammad telah dikenal di kalangan tertentu di Yaman jauh sebelum beliau diangkat menjadi rasul.

Pelajaran Berharga dari Kisah Tubba'

Dari kisah ini terdapat banyak hikmah yang dapat dipetik:

1. Kekuasaan Dunia Tidak Kekal

Sebesar apa pun kerajaan yang dimiliki seseorang, semuanya akan berakhir dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

2. Pentingnya Mewariskan Nilai

Tubba' tidak hanya mewariskan kekuasaan, tetapi juga ilmu, keimanan, dan harapan akan datangnya kebenaran.

3. Menanti Kebenaran dengan Penuh Keyakinan

Para keturunan Himyar dan Kahlan diajarkan untuk menunggu kemunculan nabi yang dijanjikan dan membelanya ketika ia datang.

4. Keutamaan Menolong Agama Allah

Orang-orang yang menolong agama Allah akan mendapatkan kemuliaan sebagaimana kaum Anshar yang dipuji dalam Al-Qur'an.

5. Nabi Muhammad Telah Dikenal Sebelum Kenabiannya

Berbagai kitab dan riwayat terdahulu telah mengabarkan kedatangan Rasulullah sehingga sebagian tokoh besar telah menanti kemunculannya.

Penutup

Kisah Raja Tubba' yang mewasiatkan para raja dan keturunannya untuk menunggu kedatangan Nabi Muhammad merupakan salah satu riwayat menarik dalam sejarah Islam. Melalui nasihatnya, Tubba' mengingatkan bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara dan bahwa kemuliaan sejati terletak pada mengikuti petunjuk Allah serta menolong agama-Nya.

Terlepas dari berbagai perbedaan pandangan mengenai rincian sejarahnya, kisah ini menunjukkan betapa besar harapan dan penantian sebagian masyarakat Arab terhadap munculnya nabi terakhir yang akan menerangi dunia dengan wahyu dan petunjuk dari Allah SWT.

Referensi:

ويقال: إنه زين الملوك وأبناء الملوك من قومه من قبائل العرب والعجم ومدائنها وأمصارها. فكان لكل قبيلة من العرب ولكل حي من العجم ملك من قومه إما حميري وإما كهلاني، يسمع له ويطاع. ويقال إنه جمع الملوك وأبناء الملوك الأوائل وأبناء المقاول من قومه فقال لهم: أيها الناس، إن الدهر قد نفد أكثره، ولم يبق إلا أقله، وإن الكثير إذا قل إلى نقصان أحرى منه إلى زيادة، فسارعوا إلى المكارم، فإنها تقربكم إلى الفلاح، واعملوا على أن من سلم من يومه لم يسلم من غده، ومن سلم من غده لم يسلم مما بعده. وإنكم لتؤوبون مآب الآباء والأجداد، وتصيرون إلى ما صاروا إليه الأولون، وكل يوم الموت أقرب إلى المرء من حياته منه، ولكل زمان أهل، ولكل دائرة سبب، وسبب عطلان هذه الفترة التي من عزَّ فيها بزمن هو دونه ظهور نبي، يعزُّ الله به دينه، ويخصه بالكتاب المبين على يأس من المرسلين، رحمة للمؤمنين وحجة على الكافرين، فليكن ذلك عندكم وعند أبنائكم من بعدكم وأبناء أبنائكم قرنًا فقرنًا وجيلًا فجيلًا، لتتوقعوا ظهوره، ولتؤمنوا به، ولتجتهدوا في نصرته على كافة الأحياء، حتى يفيء الناس له إلى أمر الله.

ثم أنشأ يقول: «من المتقارب»

شَهِدتُ على أحمدٍ أنَّهُ ... رسولُ منَ اللهِ باري النَّسمْ

فلو مُدَّ دهري إلى دهرِهِ ... لكُنُتُ وزيرًا لهُ وابنَ عمْ

وَألزمتُ طَاعتَهُ كُلَّ مَنْ ... على الأرضِ منْ عَرَبٍ أو عجمْ

فأَحمَدُنا سَيَّدُ المُرسَلِين ... وأُمَّتهُ تلكَ خيرُ الأممْ

هو المُرتَضَى وهُو المُصطَفَى ... وأكرَمُ مَنْ حملتْهُ القَدَمْ

ويقال: إن الملوك وأبناء الملوك من حمير وكهلان لم تزل تتوقع ظهور النبي ﷺ، وتبشر به، وتوصي بالطاعة له والإيمان به والجهاد معه والقيام بنصرته من ذلك العصر إلى أن ظهر رسول الله ﷺ، فكانوا له حين بعث من أحرص الناس على نصرته وطاعته؛ فمنهم من سمع له وأطاعه وآمن به قبل أن يراه، ومنهم من وصل به كتابه فسمع له وأطاع وآمن وصدق، ومنهم من وازره ونصره وأيَّده وجاهد في سبيل الله دونه حتى أتاه اليقين. نطق بذلك كتاب رب العالمين في قوله جلَّ شأنه: «والذين تبوءو الدار والإيمان من قبلهم يحبون من هاجر إليهم ولا يجدون في صدورهم حاجة مما أوتوا ويؤثرون على أنفسهم ولو كان بهم خصاصة ومن يوق شح نفسه فأولئك هم المفلحون». وقوله تبارك وتعالى: «يا أيها الذين آمنوا من يرتد منكم عن دينه فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه أذلة على المؤمنين أعزة على الكافرين يجاهدون في سبيل الله ولا يخافون لومة لائم» ذلك فضل الله يؤتيه من يشاء والله واسع عليم". يقال إنهم همدان. وقد كان من خبر سيف بن ذي يزن الحميري في أمر النبي ﷺ وكلامه وإلقائه إلى عبد المطلب بن هاشم بن عبد مناف عند وفوده على سيف بن ذي يزن ما كان. ويقال: إنه لم يكن لسيف بن ذي يزن ذلك العلم في أمر النبي ﷺ إلا من جهة تبع، وما تناهى إليه مما كان ألقاه إليهم تُبَّع وعرّفهم به من أمر النبي ﷺ.

Sumber :

ـ[وصايا الملوك وأبناء الملوك من ولد قحطان بن هود]ـ

المؤلف: دعبل بن علي الخزاعي الشاعر المشهور (المتوفى: ٢٤٦هـ)

رواية: علي محمد بن دعبل الخزاعي

Baca juga:

Wasiat Yasar Yan'um kepada Syammar Dzul Janah: Rahasia Kepemimpinan Raja Tubba' Terbesar

Yusuf Dzu Nuwas:Rahasia Kekuatan Kerajaan dan Pentingnya Persatuan dalam Kepemimpinan

Ihya 'Ulumiddin jilid 4 makna petuk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Maulid Simthudduror Makna Pesantren

Download Kitab PDF : Maulid Simthudduror Makna Pesantren | Google Drive Download Kitab PDF : Maulid Simthudduror Ma...