Pendahuluan
Dalam pandangan ulama besar
Andalusia, Ibnu Hazm, kebahagiaan sejati manusia tidak diukur dari kekuatan
fisik, suara, harta, atau kemampuan duniawi lainnya. Tetapi dari arah
kecenderungan jiwa: apakah ia mencintai kebaikan atau justru keburukan.
Menurut beliau, manusia yang bahagia
adalah mereka yang hatinya condong kepada kebaikan dan menjauhi dosa, sementara
manusia yang celaka adalah yang sebaliknya.
Teks Terjemahan
Ibnu Hazm berkata:
Orang yang berbahagia adalah orang
yang jiwanya terbiasa mencintai kebaikan dan amal ketaatan, serta menjauhi
keburukan dan kemaksiatan.
Sedangkan orang yang celaka adalah
yang jiwanya terbiasa mencintai keburukan dan maksiat, serta membenci kebaikan
dan ketaatan.
Tidak ada hal lain dalam perkara ini
selain ketetapan Allah dan penjagaan-Nya.
Orang yang mencari akhirat akan
beruntung di akhirat dan menyerupai para malaikat.
Orang yang mencari keburukan
menyerupai setan.
Orang yang mengejar kekuatan dan
dominasi menyerupai binatang buas.
Orang yang mengejar kenikmatan dunia
menyerupai hewan ternak.
Orang yang hanya mengejar harta untuk
dirinya sendiri tanpa menginfakkannya di jalan Allah lebih rendah dari hewan
mana pun, bahkan menyerupai air yang terperangkap di tempat sulit yang tidak
bisa dimanfaatkan oleh makhluk lain.
Orang yang berakal tidak akan
membanggakan sifat yang bahkan lebih unggul dimiliki oleh hewan atau benda
mati.
Sebaliknya, ia hanya akan bangga
dengan keutamaan yang Allah berikan kepadanya, yaitu akal dan kemampuan
membedakan kebenaran.
Karena dengan itulah manusia berbeda
dari hewan dan mendekati derajat malaikat.
Maka siapa yang bangga dengan
keberanian yang salah tempat, ketahuilah bahwa harimau, singa, dan serigala
lebih berani darinya.
Siapa yang bangga dengan kekuatan
tubuh, maka ketahuilah bahwa keledai, sapi, dan gajah lebih kuat darinya.
Siapa yang bangga dengan
kemampuannya membawa beban, maka keledai lebih kuat darinya.
Siapa yang bangga dengan kecepatan
lari, maka anjing dan kelinci lebih cepat darinya.
Siapa yang bangga dengan suaranya,
maka banyak burung memiliki suara lebih indah, bahkan suara alat musik lebih
merdu darinya.
Maka apa arti kebanggaan manusia
jika semua itu dimiliki lebih baik oleh hewan?
Kebahagiaan sejati hanyalah bagi
orang yang diberi akal, ilmu, dan amal saleh.
Karena tidak ada yang dapat
melampauinya dalam hal ini kecuali malaikat dan orang-orang pilihan.
Ukuran Kebahagiaan dalam Islam
Ibnu Hazm menegaskan bahwa
kebahagiaan manusia tidak terletak pada:
- Kekuatan fisik
- Kecepatan
- Suara
- Harta
- Dominasi
Tetapi pada:
- Akhlak yang baik
- Ketaatan kepada Allah
- Ilmu dan amal
- Pengendalian diri
Perbandingan Manusia, Hewan, dan Malaikat
Ibnu Hazm membuat perbandingan yang
sangat dalam:
1.
Orang beriman dan saleh
→ Menyerupai malaikat
2.
Orang jahat dan maksiat
→ Menyerupai setan
3.
Pengejar kekuasaan dan dominasi
→ Menyerupai binatang buas
4.
Pengejar kenikmatan dunia
→ Menyerupai hewan ternak
5.
Pengejar harta tanpa manfaat
→ Lebih rendah dari makhluk lain
Hakikat Kemuliaan Manusia
Kemuliaan manusia tidak terletak
pada tubuh, tetapi pada:
- Akal
- Tanggung jawab moral
- Kemampuan membedakan benar dan salah
- Amal untuk akhirat
Dengan itulah manusia menjadi
makhluk yang paling mulia di antara ciptaan dunia.
Mengapa Dunia Bukan Ukuran Kemuliaan?
Karena:
- Hewan bisa lebih kuat
- Hewan bisa lebih cepat
- Hewan bisa lebih berani
- Bahkan benda mati bisa memiliki “keunggulan” tertentu
Namun semua itu tidak memiliki nilai
moral.
Pelajaran Penting
1.
Kebahagiaan sejati adalah akhlak
Bukan kelebihan fisik atau duniawi.
2.
Manusia dinilai dari jiwanya
Bukan dari tubuhnya.
3.
Dunia bukan standar kemuliaan
Standar kemuliaan adalah iman dan
amal.
4.
Akal adalah pembeda utama manusia
Yang mengangkatnya di atas makhluk
lain.
Penutup
Nasihat Ibnu Hazm ini mengingatkan
bahwa manusia tidak seharusnya berbangga dengan hal-hal duniawi yang bahkan
dimiliki lebih baik oleh hewan. Kemuliaan sejati terletak pada akal, iman, dan
amal saleh yang mengantarkan seseorang kepada derajat malaikat.
Siapa yang memperbaiki jiwanya
dengan kebaikan, maka ia benar-benar mencapai kebahagiaan yang hakiki.
Sebaliknya, siapa yang mengikuti hawa nafsu, maka ia turun ke derajat yang
lebih rendah dari makhluk lain.
Wallahu
a‘lam.
Teks
Asli :
فالسعيد من
أنست نَفسه بالفضائل والطاعات ونفرت من الرذائل والمعاصي والشقي من أنست نَفسه
بالرذائل والمعاصي ونفرت من الْفَضَائِل والطاعات وَلَيْسَ هَا هُنَا إِلَّا صنع
الله تَعَالَى وَحفظه طَالب الْآخِرَة ليفوز فِي الْآخِرَة متشبه بِالْمَلَائِكَةِ
وطالب الشَّرّ متشبه بالشياطين وطالب الصَّوْت وَالْغَلَبَة متشبه بالسباع وطالب
اللَّذَّات متشبه بالبهائم وطالب المَال لعين المَال لَا لينفقه فِي الْوَاجِبَات
والنوافل المحمودة أسقط وأرذل من أَن يكون لَهُ فِي شَيْء من الْحَيَوَان شبه
وَلكنه يشبه الغدران الَّتِي فِي الكهوف فِي الْمَوَاضِع الوعرة لَا ينْتَفع بهَا
شَيْء من الْحَيَوَان فالعاقل لَا يغتبط بِصفة يفوقه فِيهَا سبع أَو بَهِيمَة أَو
جماد وَإِنَّمَا يغتبط بتقدمه فِي الْفَضِيلَة الَّتِي أبانه الله تَعَالَى بهَا
عَن السبَاع والبهائم والجمادات وَهِي التَّمْيِيز الَّذِي يُشَارك فِيهِ
الْمَلَائِكَة فَمن سر بشجاعته الَّتِي يَضَعهَا فِي غير موضعهَا لله عز وجل
فَليعلم أَن النمر أجرأ مِنْهُ وَأَن الْأسد وَالذِّئْب والفيل أَشْجَع مِنْهُ
وَمن سر بِقُوَّة جِسْمه فَليعلم أَن الْبَغْل والثور والفيل أقوى مِنْهُ جسما
وَمن سر بِحمْلِهِ الأثقال فَليعلم أَن الْحمار أحمل مِنْهُ وَمن سر بِسُرْعَة عدوه
فَليعلم أَن الْكَلْب والأرنب أسْرع عدوا مِنْهُ وَمن سر بِحسن صَوته فَليعلم أَن
كثيرا من الطير أحسن صَوتا مِنْهُ وَأَن أصوات المزامير ألذ وأطرب من صَوته فَأَي
فَخر وَأي سرُور فِي مَا تكون فِيهِ هَذِه الْبَهَائِم مُتَقَدّمَة عَلَيْهِ لَكِن
من قوي تَمْيِيزه واتسع علمه وَحسن عمله فليغتبط بذلك فَإِنَّهُ لَا يتقدمه فِي
هَذِه الْوُجُوه إِلَّا الْمَلَائِكَة وَخيَار النَّاس
Judul Kitab: Al-Akhlaq wa As-Siyar Fi Mudāwāt
an-Nufūs (Akhlak dan Perjalanan Hidup dalam Mengobati Jiwa)
Penulis: Ali bin
Ahmad bin Sa'id bin Hazm al-Andalusi al-Qurthubi az-Zhahiri (Abu Muhammad Ali
bin Ahmad bin Sa'id bin Hazm al-Andalusi al-Qurthubi az-Zhahiri, wafat tahun
456 H)
Baca juga:
Hikmah Celaan dan Pujian dalamIslam Menurut Ibnu Hazm: Antara Ujian, Pahala, dan Ketenangan Jiwa
Tujuan Hidup Menurut Ibnu Hazm: Menghilangkan Kegelisahandengan Amal untuk Allah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar