Pendahuluan
Keimanan kepada hari akhir merupakan
salah satu rukun iman yang menjadi landasan kehidupan seorang muslim. Keyakinan
bahwa setiap amal akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah mendorong manusia
untuk hidup penuh kejujuran, ketakwaan, dan tanggung jawab. Dalam kitab At-Tabr
al-Masbūk fī Naṣīḥat al-Mulūk, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali
al-Tusi menjelaskan secara ringkas namun padat tentang perjalanan manusia
setelah kematian, mulai dari alam kubur hingga memasuki surga atau neraka.
Nasihat ini mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara
menuju kehidupan yang kekal.
Sumber Nasihat :
Kitab: At-Tabr al-Masbūk fī Naṣīḥat al-Mulūk
Bab: الأصل التاسع في ذكر الآخرة (Pokok Kesembilan: Tentang Kehidupan
Akhirat)
Penulis :
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
Al-Ghazali Ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M) merupakan
ulama besar yang dijuluki Hujjatul Islam. Beliau dikenal mampu memadukan
pembahasan akidah, fikih, tasawuf, dan akhlak sehingga nasihat-nasihatnya tetap
relevan sepanjang zaman.
Tema :
Perjalanan Manusia Menuju Akhirat
dan Pertanggungjawaban Amal di Hadapan Allah
Terjemahan Lengkap
Pokok
Kesembilan: Tentang Kehidupan Akhirat
Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala
menciptakan alam ini dengan dua unsur, yaitu jasad dan ruh.
Allah menjadikan jasad sebagai
tempat tinggal ruh agar ruh dapat mengambil bekal bagi kehidupan akhirat selama
berada di dunia.
Setiap ruh telah ditentukan masa
tinggalnya di dalam jasad. Masa itulah ajalnya yang telah ditetapkan, tanpa
dapat dipercepat ataupun diperlambat.
Apabila ajal telah tiba, Allah
memisahkan ruh dari jasad.
Ketika seseorang telah dikuburkan,
ruhnya dikembalikan kepada jasadnya untuk menjawab pertanyaan dua malaikat,
yaitu Munkar dan Nakir. Keduanya adalah malaikat yang sangat besar dan
menggetarkan. Mereka bertanya, "Siapakah Tuhanmu?" dan "Siapakah
Nabimu?"
Apabila seseorang tidak mampu
menjawab, ia akan mendapatkan azab, dan kuburnya dipenuhi berbagai bentuk
siksaan.
Pada Hari Kiamat, yaitu hari
perhitungan, pembalasan, pemeriksaan, dan pemberian balasan, ruh dikembalikan
lagi kepada jasad.
Catatan amal dibuka dan seluruh
perbuatan diperlihatkan kepada manusia.
Setiap orang akan membaca kitab
amalnya sendiri, melihat seluruh perbuatannya, mengetahui ketaatan dan
kemaksiatannya.
Seluruh amal kemudian ditimbang
dengan timbangan amal (mizan).
Setelah itu manusia diperintahkan
melewati shirath.
Shirath lebih halus daripada sehelai
rambut dan lebih tajam daripada mata pedang.
Orang yang selama hidup di dunia
menempuh jalan yang lurus, beramal saleh, dan mengikuti petunjuk Allah akan
melewati shirath dengan mudah, aman, dan penuh ketenangan.
Adapun orang yang membangkang kepada
Tuhannya, mengikuti hawa nafsunya, dan meninggalkan amal saleh, tidak akan
mampu melewati shirath sehingga terjatuh ke dalam neraka.
Seluruh manusia akan dihentikan di
atas shirath dan dimintai pertanggungjawaban atas amal-amalnya.
Orang-orang yang jujur akan ditanya
mengenai kejujurannya, sedangkan orang-orang yang riya dan munafik akan diuji
dan dipermalukan.
Sebagian manusia masuk surga tanpa
hisab.
Sebagian lainnya dihisab dengan
penuh kelembutan dan ampunan.
Sebagian lagi dihisab dengan
pemeriksaan yang berat dan teliti.
Orang-orang kafir kemudian digiring
menuju neraka Jahanam tanpa jalan untuk keluar darinya.
Penduduk surga dipersilakan memasuki
surga.
Adapun sebagian orang yang berdosa
diperintahkan menuju neraka.
Barang siapa memperoleh syafaat para
nabi, ulama, dan orang-orang saleh dengan izin Allah, maka ia memperoleh
ampunan.
Sedangkan orang yang tidak
memperoleh syafaat akan menerima hukuman sesuai kadar dosa yang dilakukannya.
Setelah itu, apabila ia meninggal
dalam keadaan tetap membawa iman, akhirnya ia akan dimasukkan ke dalam surga.
Artikel Pengembangan
Imam Al-Ghazali menggambarkan
kehidupan dunia sebagai tempat persinggahan sementara bagi ruh. Jasad hanyalah
wadah yang digunakan manusia untuk mengumpulkan bekal berupa iman, amal saleh,
dan akhlak mulia sebelum kembali kepada Allah.
Beliau mengingatkan bahwa kematian
bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal kehidupan baru di alam barzakh. Di
sana manusia akan menghadapi pertanyaan tentang keimanan kepada Allah dan
kerasulan Nabi. Oleh karena itu, akidah yang benar bukan sekadar pengetahuan,
tetapi harus menjadi keyakinan yang hidup dalam hati dan tercermin dalam amal.
Selanjutnya, Imam Al-Ghazali
menjelaskan berbagai peristiwa besar pada Hari Kiamat, yaitu dibangkitkannya
manusia, dibukanya catatan amal, pelaksanaan hisab, penimbangan amal dengan mizan,
dan perjalanan melewati shirath. Semua tahapan ini menunjukkan bahwa
tidak ada satu pun amal yang sia-sia. Kebaikan sekecil apa pun akan
diperhitungkan, demikian pula setiap keburukan yang dilakukan manusia.
Penjelasan mengenai shirath
mengandung pesan moral yang sangat dalam. Jalan lurus yang ditempuh seseorang
di dunia akan menjadi sebab kemudahan ketika melewati shirath di akhirat.
Sebaliknya, kehidupan yang dipenuhi kemaksiatan, kezaliman, dan mengikuti hawa
nafsu akan menyulitkan perjalanan menuju keselamatan.
Imam Al-Ghazali juga menyebut adanya
syafaat yang diberikan kepada sebagian hamba dengan izin Allah. Syafaat bukan
alasan untuk meremehkan dosa, tetapi menjadi bukti keluasan rahmat Allah bagi
orang-orang yang tetap membawa iman hingga akhir hayat. Adapun orang yang
meninggal tanpa iman tidak memperoleh keselamatan dari azab yang kekal.
Keseluruhan pembahasan ini bertujuan
membangkitkan kesadaran bahwa kehidupan dunia sangat singkat dibandingkan
kehidupan akhirat. Seorang muslim hendaknya memanfaatkan setiap kesempatan
untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki akhlak, menjaga keikhlasan, serta
bertaubat dari dosa sebelum datang ajal yang tidak dapat ditunda.
Hikmah
- Dunia adalah tempat menyiapkan bekal menuju kehidupan
akhirat.
- Setiap manusia memiliki ajal yang telah ditetapkan
Allah dan tidak dapat diubah.
- Setelah kematian, manusia akan memasuki alam kubur dan
menghadapi pertanyaan tentang keimanan.
- Seluruh amal akan dicatat, diperlihatkan, dan dipertanggungjawabkan
pada Hari Kiamat.
- Hisab, mizan, dan shirath merupakan
bagian dari keyakinan terhadap hari akhir.
- Amal saleh menjadi sebab kemudahan melewati shirath
menuju surga.
- Syafaat hanya terjadi dengan izin Allah dan tidak
menggugurkan kewajiban untuk beramal saleh.
- Orang yang meninggal dengan membawa iman memiliki
harapan memperoleh rahmat Allah, meskipun mungkin terlebih dahulu
mendapatkan hukuman sesuai dengan dosanya.
Penutup
Pokok kesembilan dalam nasihat Imam
Al-Ghazali mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah awal dari perjalanan
panjang menuju akhirat. Kematian, alam kubur, kebangkitan, hisab, penimbangan
amal, perjalanan melewati shirath, serta balasan berupa surga atau
neraka merupakan tahapan yang akan dihadapi setiap manusia. Kesadaran akan
adanya hari pembalasan mendorong seorang muslim untuk memperkuat iman,
memperbanyak amal saleh, menjauhi kemaksiatan, dan senantiasa bertaubat kepada
Allah. Dengan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, kehidupan di dunia akan
dipenuhi makna, tanggung jawab, dan harapan akan rahmat Allah yang Maha Luas.
Teks Arab :
الأصل التاسع في ذكر الآخرة
وأنه تعالى خلق العالم من نوعين
جسد وروح، وجعل الجسد منزلًا للروح لتأخذ زادًا لآخرتها من هذا العالم، وجعل لكل
روح مدة مقدّرة تكون في الجسد، فآخر تلك المدة هو أجل تلك الروح من غير زيادة ولا
نقصان، فإذا جاء الأجل فرّق بين الروح والجسد، وإذا وضع الميت في قبره أعيدت روحه
إلى جسده ليجيب سؤال منكر ونكير، وهما شخصان هائلان عظيمان فيسألانه من ربك ومن
نبيك فإن استعجم ولم يجب عذّباه وملآ قبره حيات وعقارب. ويوم القيامة، يوم الحساب
والمكافأة والمناقشة والمجازاة، تردّ الروح إلى الجسد وتنشر الصحف وتعرض الأعمال
على الخلائق، فينظر كل إنسان في كتابه فيرى أعماله، ويشاهد أفعاله، ويعلم مقدار
طاعته ومعصيته، وتوزن أعماله في ميزان الأعمال ثم يؤمر بالجواز على الصراط.
والصراط أدق من الشعرة وأحدّ من الشفرة فكل من كان في هذا العالم على الطريقة
المستقيمة الصالحة، وسلوك المحجة الواضحة، عبر على الصراط وجازه في راحة واستراحة،
وإن لم يكن على السيرة المحمودة، والأعمال الصالحة
الرشيدة وعصي مولاه، واتَبع هواه،
فأنه لا يجد الطريق على الصراط ولا يهتدي إلى الجواز ويقع في جهنم. والكل يوقفون
على الصراط ويُسألون عن أفعالهم؛ فيُسأل الصادقون عن صدقهم ويمتحن المراؤون
والمنافقون ويفضحون، فمن الناس قوم يدخلون الجنة بغير حساب وجماعة يحاسبون بالرفق
والمسامحة، وجماعة يحاسبون بالصعوبة والمناقشة والمحاققة، ثم يسحب الكفار إلى نار
جهنم بحيث لا يجدون خلاصًا، ويدخل أهل الجنة ويؤمر بالعصاة إلى النار، وكل من
نالته شفاعة الأنبياء والعلماء والأكابر عُفي عنه، وكل من ليس له شفيع عوقب بمقدار
إثمه وعُذب بقدر جرمه، ثم يدخل الجنة إن كان قد سلم معه أيمانه.
Baca juga:
Perbuatan Allah Menurut ImamAl-Ghazali: Memahami Keadilan dan Kekuasaan Allah atas Seluruh Makhluk
Sifat Qudrah Allah Menurut ImamAl-Ghazali: Allah Mahakuasa atas Segala Sesuatu
Iman kepada Rasulullah ﷺ
Menurut Imam Al-Ghazali: Kedudukan Nabi Muhammad sebagai Penutup Para Nabi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar