Akal dan Ketenangan Jiwa Menurut Ibnu Hazm: Menanggalkan Penilaian Manusia dan Mengutamakan Allah

Pendahuluan

Dalam pandangan ulama besar Andalusia, Ibnu Hazm, akal dan ketenangan jiwa tidak akan pernah tercapai selama manusia masih bergantung pada penilaian orang lain.

Menurut beliau, kebebasan sejati adalah ketika seseorang meninggalkan ketergantungan pada pujian dan celaan manusia, lalu hanya peduli pada penilaian Allah ‘Azza wa Jalla.

Inilah dasar dari akal yang benar dan ketenangan yang hakiki.

Teks Terjemahan

Ibnu Hazm berkata:

Akal dan ketenangan adalah meninggalkan perhatian terhadap ucapan manusia, dan hanya memperhatikan ucapan Sang Pencipta, Allah Yang Maha Mulia.

Bahkan ini adalah pintu utama akal dan seluruh ketenangan jiwa.

Barang siapa masih berharap selamat dari celaan dan hinaan manusia, maka ia sebenarnya belum sempurna akalnya.

Orang yang benar-benar memahami kebenaran akan melatih dirinya untuk tetap tenang menghadapi realitas, meskipun pada awalnya terasa menyakitkan.

Baginya, celaan manusia lebih menyenangkan daripada pujian mereka.

Karena jika pujian itu benar, maka ketika sampai kepadanya pujian tersebut, ia bisa jatuh pada rasa bangga (ujub) yang merusak amal kebaikannya.

Namun jika pujian itu palsu, lalu ia merasa senang dengannya, maka ia telah bergembira dengan kebohongan—dan ini adalah kekurangan yang besar.

Hakikat Akal dan Ketenangan Menurut Ibnu Hazm

Ibnu Hazm menegaskan bahwa akal bukan sekadar kecerdasan berpikir, tetapi kemampuan untuk:

  • Tidak bergantung pada manusia
  • Tidak terpengaruh pujian dan celaan
  • Fokus pada kebenaran Allah

Dengan demikian, ketenangan jiwa bukan datang dari dunia luar, tetapi dari kebebasan hati dari penilaian manusia.

Bahaya Bergantung pada Pujian Manusia

Menurut Ibnu Hazm, pujian manusia mengandung dua bahaya besar:

1. Jika pujian itu benar

Maka ia bisa menimbulkan ujub (bangga diri) yang merusak amal.

2. Jika pujian itu salah

Maka seseorang sedang bergembira dengan kebohongan, yang menunjukkan kelemahan akal.

Kedua kondisi ini sama-sama merugikan jiwa.

Mengapa Celaan Lebih Selamat daripada Pujian?

Menariknya, Ibnu Hazm menyebut bahwa celaan bisa lebih baik daripada pujian karena:

  • Jika benar, itu menjadi koreksi diri
  • Jika salah, itu tetap memberi kesempatan untuk bersabar dan mendapat pahala

Sementara pujian sering kali:

  • Menyesatkan hati
  • Menumbuhkan kesombongan
  • Menghilangkan keikhlasan

Ketenangan Hanya Datang dari Allah

Dalam pandangan ini, ketenangan sejati hanya bisa diperoleh ketika:

  • Fokus pada ridha Allah
  • Tidak bergantung pada penilaian manusia
  • Menjadikan kebenaran sebagai standar hidup

Inilah yang disebut Ibnu Hazm sebagai “pintu akal dan ketenangan”.

Pelajaran Penting

1. Akal sejati bukan hanya berpikir, tetapi juga bebas dari manusia

Orang berakal tidak mudah terpengaruh opini orang lain.

2. Pujian manusia tidak selalu baik

Bisa menjadi ujian yang merusak hati.

3. Celaan bisa menjadi rahmat

Jika digunakan untuk memperbaiki diri.

4. Ketenangan sejati berasal dari Allah

Bukan dari penilaian manusia.

Penutup

Nasihat Ibnu Hazm ini mengajarkan bahwa kebebasan sejati manusia adalah ketika ia tidak lagi terikat oleh pujian dan celaan manusia. Selama hati masih bergantung pada penilaian manusia, maka akal dan ketenangan belum sempurna.

Namun ketika seseorang hanya fokus kepada Allah dan kebenaran, maka ia akan mendapatkan ketenangan yang tidak bisa diganggu oleh dunia.

Wallahu a‘lam.

Teks Asli :

الْعقل والراحة وَهُوَ اطراح المبالاة بِكَلَام النَّاس وَاسْتِعْمَال المبالاة بِكَلَام الْخَالِق عز وجل بل هَذَا بَاب الْعقل والراحة كلهَا من قدر أَنه يسلم من طعن النَّاس وعيبهم فَهُوَ مَجْنُون من حقق النّظر وراض نَفسه على السّكُون إِلَى الْحَقَائِق وَإِن آلمتها فِي أول صدمة كَانَ اغتباطه بذم النَّاس إِيَّاه أَشد وَأكْثر من اغتباطه بمدحهم إِيَّاه لِأَن مدحهم إِيَّاه إِن كَانَ بِحَق وبلغه مدحهم لَهُ أسرى ذَلِك فِيهِ الْعجب فأفسد بذلك فضائله وَإِن كَانَ بباطل فَبَلغهُ فسره فقد صَار مَسْرُورا بِالْكَذِبِ وَهَذَا نقص شَدِيد

Judul Kitab: Al-Akhlaq wa As-Siyar Fi Mudāwāt an-Nufūs (Akhlak dan Perjalanan Hidup dalam Mengobati Jiwa)

Penulis: Ali bin Ahmad bin Sa'id bin Hazm al-Andalusi al-Qurthubi az-Zhahiri (Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa'id bin Hazm al-Andalusi al-Qurthubi az-Zhahiri, wafat tahun 456 H)

Baca juga:

Hikmah Celaan dan Pujian dalam Islam Menurut Ibnu Hazm:Antara Ujian, Pahala, dan Ketenangan Jiwa

Rahasia Menghilangkan KegelisahanMenurut Ibnu Hazm: Jalan Menuju Allah sebagai Satu-Satunya Solusi Hidup

Tujuan Hidup Menurut Ibnu Hazm: Menghilangkan Kegelisahandengan Amal untuk Allah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Maulid Simthudduror Makna Pesantren

Download Kitab PDF : Maulid Simthudduror Makna Pesantren | Google Drive Download Kitab PDF : Maulid Simthudduror Ma...