Pendahuluan
Dalam penjelasan mendalamnya, ulama
besar Andalusia, Ibnu Hazm, mengaitkan antara ayat Al-Qur’an, hadits Nabi ﷺ, dan realitas kehidupan manusia. Beliau
menjelaskan bahwa inti seluruh akhlak adalah mengendalikan hawa nafsu dan
menegakkan keadilan dalam diri.
Menurut beliau, siapa yang mampu
menahan hawa nafsunya, maka ia telah menguasai seluruh kebaikan akhlak.
Teks Terjemahan
Ibnu Hazm berkata:
Firman Allah Ta‘ala:
“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari
hawa nafsu, maka sesungguhnya surga adalah tempat tinggalnya.”
Ayat ini mencakup seluruh keutamaan
akhlak, karena menahan diri dari hawa nafsu berarti mengekang sifat marah dan
syahwat, karena keduanya berada di bawah kendali hawa nafsu.
Maka yang tersisa bagi manusia
hanyalah menggunakan akal yang Allah tempatkan dalam dirinya, yang dengan itu
ia berbeda dari binatang, serangga, dan hewan buas.
Rasulullah ﷺ
bersabda kepada seseorang yang beliau nasihati: “Janganlah engkau marah.”
Dan beliau juga memerintahkan: “Cintailah
untuk saudaramu apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri.”
Kedua hadits ini mencakup seluruh
keutamaan akhlak, karena larangan marah adalah pengekangan terhadap sifat
amarah, sedangkan mencintai untuk orang lain apa yang dicintai untuk diri
sendiri adalah pengekangan terhadap sifat syahwat.
Dengan demikian, terkumpullah makna
keadilan yang merupakan tujuan dari akal manusia.
Aku melihat bahwa kebanyakan
manusia—kecuali yang dirahmati Allah—justru mempercepat kesengsaraan bagi
dirinya sendiri di dunia dan menanggung dosa besar di akhirat, tanpa
mendapatkan manfaat sedikit pun, akibat niat-niat buruk.
Mereka bahkan berharap keburukan
bagi orang lain, menginginkan kenaikan harga yang merugikan manusia, serta
berharap musibah menimpa orang yang mereka benci.
Padahal mereka tahu bahwa niat buruk
itu tidak akan mendatangkan apa pun yang mereka inginkan di dunia, dan justru
menambah dosa mereka di akhirat.
Seandainya mereka membersihkan
niatnya, maka mereka akan mendapatkan ketenangan di dunia, kelapangan urusan,
dan pahala besar di akhirat tanpa kehilangan apa pun dari dunia mereka.
Maka sungguh besar kerugian orang
yang memilih jalan ini, dan sungguh besar kebahagiaan orang yang mengikuti
jalan kebaikan ini.
Jika engkau merenungi kehidupan
dunia, engkau akan mendapati bahwa ia hanyalah sesaat di antara dua ketiadaan:
masa lalu yang telah hilang dan masa depan yang belum datang.
Maka sungguh celaka orang yang
menukar kehidupan abadi dengan sesuatu yang hanya sekejap mata.
Orang yang berbuat buruk kepada
keluarga dan tetangganya telah menjatuhkan dirinya sendiri.
Barang siapa membalas keburukan
dengan keburukan, maka ia setara dengan mereka.
Dan barang siapa tidak membalas
keburukan, maka ia adalah pemimpin mereka, orang yang paling mulia di antara
mereka.
Inti Akhlak dalam Al-Qur’an dan Hadits
Ibnu Hazm menegaskan bahwa seluruh
ajaran akhlak dapat diringkas dalam dua prinsip besar:
1.
Menahan Hawa Nafsu
- Menahan amarah
- Mengendalikan syahwat
- Menghindari keburukan niat
2.
Menegakkan Keadilan
- Mencintai kebaikan untuk orang lain
- Tidak berbuat zalim
- Bersikap seimbang dalam semua hal
Bahaya Niat Buruk dalam Kehidupan
Ibnu Hazm menyoroti bahwa banyak
manusia merusak hidup mereka sendiri karena:
- Hasad (iri dengki)
- Doa buruk kepada orang lain
- Keinginan buruk terhadap sesama
- Niat yang kotor
Padahal semua itu:
- Tidak memberi manfaat dunia
- Menambah dosa akhirat
- Menghilangkan ketenangan hati
Dunia Hanya Sesaat
Salah satu peringatan penting dalam
teks ini adalah:
Dunia hanyalah “saat ini” di antara
dua ketiadaan.
- Masa lalu sudah hilang
- Masa depan belum tentu datang
- Yang nyata hanya detik ini
Karena itu, tidak masuk akal jika
seseorang menjual akhirat yang kekal demi dunia yang sementara.
Akhlak Mulia dalam Interaksi Sosial
Ibnu Hazm juga menegaskan tiga
tingkatan manusia:
- Yang membalas keburukan → setara dengan pelaku
keburukan
- Yang tidak membalas → menjadi orang mulia
- Yang memperbaiki → menjadi pemimpin moral
Inilah standar kemuliaan dalam
Islam.
Pelajaran Penting
1.
Akhlak inti adalah pengendalian diri
Bukan sekadar perilaku luar.
2.
Hati yang bersih membawa kebahagiaan dunia dan akhirat
Niat buruk hanya membawa
kesengsaraan.
3.
Waktu dunia sangat singkat
Tidak layak ditukar dengan dosa.
4.
Kemuliaan manusia diukur dari kesabaran
Bukan dari kekuatan membalas.
Penutup
Nasihat Ibnu Hazm ini menegaskan
bahwa seluruh ajaran Islam tentang akhlak berpusat pada satu hal: mengendalikan
hawa nafsu dan menegakkan keadilan dalam diri.
Barang siapa berhasil menaklukkan
dirinya, maka ia telah mencapai puncak kemuliaan manusia. Sebaliknya, barang
siapa mengikuti hawa nafsu, maka ia telah menurunkan dirinya ke derajat yang
rendah.
Ketenangan sejati hanya dimiliki
oleh orang yang membersihkan hatinya karena Allah.
Wallahu
a‘lam.
Teks
Asli :
قَول الله
تَعَالَى ﴿وَأما من خَافَ مقَام ربه وَنهى النَّفس عَن الْهوى فَإِن الْجنَّة هِيَ
المأوى﴾ جَامع لكل فَضِيلَة لِأَن نهي النَّفس عَن الْهوى هُوَ ردعها عَن الطَّبْع
الغضبي وَعَن الطَّبْع الشهواني لِأَن كليهمَا وَاقع تَحت مُوجب الْهوى فَلم يبْق
إِلَّا اسْتِعْمَال النَّفس للنطق الْمَوْضُوع فِيهَا الَّذِي بِهِ بَانَتْ عَن
الْبَهَائِم والحشرات وَالسِّبَاع قَول رَسُول الله ﷺ للَّذي استوصاه (لَا تغْضب)
وَأمره عليه السلام أَن يحب الْمَرْء لغيره مَا يحب لنَفسِهِ جامعان لكل فَضِيلَة
لِأَن فِي نَهْيه عَن الْغَضَب ردع النَّفس ذَات الْقُوَّة الغضبية عَن هَواهَا
وَفِي أمره عليه السلام أَن يحب الْمَرْء لغيره مَا يحب لنَفسِهِ ردع النَّفس عَن
الْقُوَّة الشهوانية وَجمع لأزمة الْعدْل الَّذِي هُوَ فَائِدَة النُّطْق
الْمَوْضُوع فِي النَّفس الناطقة رَأَيْت أَكثر النَّاس إِلَّا من عصم الله
تَعَالَى وَقَلِيل مَا هم يتعجلون الشَّقَاء والهم والتعب لأَنْفُسِهِمْ فِي
الدُّنْيَا ويحتقبون عَظِيم الْإِثْم الْمُوجب للنار فِي الْآخِرَة بِمَا لَا
يحظون مَعَه بنفع أصلا من نيات خبيثة يضبون عَلَيْهَا من تمني الغلاء المهلك
للنَّاس وللصغار وَمن لَا ذَنْب لَهُ وتمني أَشد الْبلَاء لمن يكرهونه وَقد علمُوا
يَقِينا أَن تِلْكَ النيات الْفَاسِدَة لَا تعجل لَهُم شَيْئا مِمَّا يتمنونه أَو
يُوجب كَونه وَأَنَّهُمْ لَو صفوا نياتهم وحسنوها لتعجلوا الرَّاحَة لأَنْفُسِهِمْ
وتفرغوا بذلك لمصَالح أُمُورهم ولاقتنوا بذلك عَظِيم الْأجر فِي الْمعَاد من غير
أَن يُؤَخر ذَلِك شَيْئا مِمَّا يريدونه أَو يمْنَع كَونه فَأَي غبن أعظم من هَذِه
الْحَال الَّتِي نبهنا عَلَيْهَا وَأي سعد أعظم من الَّتِي دَعونَا إِلَيْهَا إِذا
حققت مُدَّة الدُّنْيَا لم تجدها إِلَّا الْآن الَّذِي هُوَ فصل الزمانين فَقَط
وَأما مَا مضى وَمَا لم يَأْتِ فمعدومان كَمَا لم يكن فَمن أضلّ مِمَّن يَبِيع
بَاقِيا خَالِدا بِمدَّة هِيَ أقل من كرّ الطّرف إِذا نَام الْمَرْء خرج عَن
الدُّنْيَا وَنسي كل سرُور وكل حزن فَلَو رتب نَفسه فِي يقظته على ذَلِك أَيْضا لسعد
السَّعَادَة التَّامَّة من أَسَاءَ إِلَى أَهله وجيرانه فَهُوَ أسقطهم وَمن كافأ
من أَسَاءَ إِلَيْهِ مِنْهُم فَهُوَ مثلهم وَمن لم يكافئهم بإساءتهم فَهُوَ سيدهم
وَخَيرهمْ وأفضلهم
Judul Kitab: Al-Akhlaq wa As-Siyar Fi Mudāwāt
an-Nufūs (Akhlak dan Perjalanan Hidup dalam Mengobati Jiwa)
Penulis: Ali bin
Ahmad bin Sa'id bin Hazm al-Andalusi al-Qurthubi az-Zhahiri (Abu Muhammad Ali
bin Ahmad bin Sa'id bin Hazm al-Andalusi al-Qurthubi az-Zhahiri, wafat tahun
456 H)
Baca juga:
Tujuan Hidup Menurut Ibnu Hazm: Menghilangkan Kegelisahandengan Amal untuk Allah
Keutamaan Ilmu Menurut Ulama: Mengapa Menuntut IlmuMenjadi Kewajiban bagi Setiap Muslim?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar