Pendahuluan
Dalam sejarah Kerajaan Himyar di
Yaman kuno, nama Yusuf Dzu Nuwas dikenal sebagai salah satu raja yang
paling terkenal. Sosoknya sering disebut dalam berbagai kitab sejarah Arab
karena kepemimpinannya, kekuatan politiknya, dan berbagai peristiwa besar yang
terjadi pada masa pemerintahannya.
Salah satu riwayat menarik
menceritakan bagaimana Yusuf Dzu Nuwas menghadapi fitnah, hasad, dan
penentangan dari sebagian kaumnya ketika kekuasaan berada di tangannya. Namun
alih-alih membalas dengan kemarahan, ia memberikan pidato yang sarat hikmah
tentang hakikat kekuasaan, pentingnya manusia sebagai fondasi kerajaan, dan
perlunya persatuan di bawah kepemimpinan yang sah.
Nasihat ini tidak hanya relevan pada
masa kerajaan kuno, tetapi juga mengandung pelajaran berharga bagi pemimpin,
organisasi, dan masyarakat pada zaman modern.
Siapakah Yusuf Dzu Nuwas?
Yusuf Dhu Nuwas adalah salah satu raja terakhir dari Kerajaan Himyar yang
memerintah di wilayah Yaman sebelum datangnya era Islam.
Ketika kekuasaan berpindah
kepadanya, sebagian orang dari kaumnya merasa iri dan dengki. Mereka
mempertanyakan haknya atas kerajaan dan menyebarkan berbagai komentar yang
merendahkan kedudukannya.
Berita mengenai ucapan-ucapan
tersebut sampai kepada Yusuf Dzu Nuwas. Namun ia memilih menjawabnya dengan
kebijaksanaan dan argumentasi yang kuat.
Bahaya Hasad dalam Kepemimpinan
Yusuf Dzu Nuwas memulai pidatonya
dengan sebuah peringatan penting:
"Tidak ada pemimpin yang
dikuasai dendam lalu berhasil, dan tidak ada orang yang tergesa-gesa dalam
urusannya lalu memperoleh keberuntungan."
Kalimat ini menunjukkan bahwa hasad,
kebencian, dan ketergesa-gesaan merupakan musuh utama keberhasilan.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak
konflik muncul bukan karena kurangnya kemampuan, melainkan karena iri hati
terhadap keberhasilan orang lain.
Seorang pemimpin yang sibuk
memelihara kebencian akan kehilangan fokus terhadap tugas utamanya, yaitu
membangun dan melayani masyarakat.
Apakah Kekuasaan Hanya Berdasarkan Keturunan?
Yusuf Dzu Nuwas memahami bahwa
sebagian orang meragukan haknya atas takhta.
Karena itu ia berkata:
"Akan ada yang mengatakan bahwa
Yusuf Dzu Nuwas memperoleh kerajaan ini padahal ia bukan pewaris langsung dari
orang-orang yang memilikinya sebelumnya."
Namun ia segera menjawab tuduhan
tersebut:
"Kerajaan memiliki fondasi.
Siapa yang menguasai fondasi itu, maka dialah yang berhak atas kerajaan."
Pernyataan ini mengandung pandangan
yang menarik tentang kepemimpinan.
Menurut Yusuf, kekuasaan tidak hanya
ditentukan oleh garis keturunan, tetapi juga oleh kemampuan menjaga unsur-unsur
yang menjadi penopang kerajaan.
Fondasi Kerajaan Adalah Manusia
Dalam syairnya, Yusuf Dzu Nuwas
menjelaskan:
"Dasar kerajaan adalah para
lelaki."
Yang dimaksud bukan sekadar
laki-laki secara biologis, tetapi orang-orang yang menjadi pendukung utama
negara:
- Panglima perang
- Pemimpin masyarakat
- Pejabat pemerintahan
- Ulama dan cendekiawan
- Rakyat yang loyal
Menurutnya, ketika fondasi ini
runtuh, kerajaan juga akan runtuh.
Sebaliknya, selama manusia yang
menopang negara tetap kuat dan bersatu, kekuasaan akan tetap bertahan.
Mengapa Dukungan Rakyat Sangat Penting?
Yusuf Dzu Nuwas menegaskan bahwa
seorang pemimpin harus memperhatikan para pendukungnya.
Ia menggambarkan bahwa orang yang
memberikan hak kepada para pengikutnya dan melindungi mereka dalam masa sulit
akan memperoleh keberhasilan sebagaimana yang ia raih.
Pesan ini menunjukkan bahwa kekuatan
seorang pemimpin tidak lahir dari dirinya sendiri, melainkan dari kepercayaan
yang diberikan oleh orang-orang di sekelilingnya.
Dalam konteks modern, perusahaan
besar, organisasi kuat, dan pemerintahan yang stabil selalu ditopang oleh tim
yang solid dan loyal.
Kekuasaan Selalu Berpindah Tangan
Salah satu bagian paling menarik
dari syair Yusuf adalah pengakuannya bahwa kekuasaan tidak pernah abadi.
Ia berkata:
"Betapa banyak mahkota kerajaan
yang kalian lihat berpindah dari satu kaum kepada kaum yang lain."
Ini merupakan pelajaran penting bagi
siapa pun yang memegang jabatan atau kekuasaan.
Sejarah dunia dipenuhi oleh kerajaan
besar yang pernah berjaya namun akhirnya runtuh.
Begitu pula dengan kekayaan,
kedudukan, dan pengaruh manusia.
Karena itu seorang pemimpin
hendaknya tidak sombong ketika berkuasa dan tidak putus asa ketika kehilangan
kekuasaan.
Pentingnya Mendengarkan Pemimpin yang Sah
Yusuf kemudian menyeru berbagai
kabilah:
"Wahai kabilah-kabilah,
dengarkanlah aku."
Ia mengingatkan bahwa persatuan
hanya dapat terwujud apabila masyarakat memiliki pemimpin yang ditaati.
Dalam syairnya ia berkata:
"Taatilah pemimpin kalian agar
kalian menjadi mulia."
Menurutnya, tidak mungkin sebuah
kelompok mencapai kejayaan tanpa kepemimpinan yang jelas.
Sebagaimana tubuh membutuhkan kepala
untuk mengatur seluruh anggota badan, masyarakat juga membutuhkan pemimpin
untuk menjaga keteraturan dan persatuan.
Perumpamaan Pemimpin seperti Gunung Penyangga Bumi
Yusuf Dzu Nuwas menggunakan
perumpamaan yang indah untuk menggambarkan peran pemimpin.
Ia berkata:
"Manusia seperti bumi,
sedangkan para pemimpin mereka seperti gunung-gunung yang kokoh."
Dalam pandangan masyarakat kuno,
gunung dianggap sebagai penyangga bumi yang menjaga kestabilannya.
Karena itu pemimpin yang baik
diibaratkan seperti gunung yang kokoh:
- Menjadi tempat berlindung.
- Menjaga kestabilan masyarakat.
- Menghadapi badai dan ancaman.
- Memberikan rasa aman kepada rakyat.
Tanpa kepemimpinan yang kuat,
masyarakat akan mudah terpecah dan kehilangan arah.
Enam Sumber Kekuatan Sebuah Negeri
Pada akhir syairnya, Yusuf Dzu Nuwas
menyebut beberapa unsur yang menjadi kekuatan suatu wilayah.
Di antaranya:
1.
Kekayaan Alam
Daerah yang memiliki emas dan sumber
daya berharga akan memiliki potensi kemakmuran yang besar.
2.
Logam dan Industri
Sumber daya mineral menjadi salah
satu penopang pembangunan dan pertahanan negara.
3.
Sumber Air
Air merupakan fondasi kehidupan dan
kemajuan peradaban.
4.
Pertanian
Wilayah yang subur akan mampu
memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya.
5.
Peternakan
Ternak menjadi sumber ekonomi yang
sangat penting pada masa itu.
6.
Perdagangan dan Muatan Ekonomi
Aktivitas perdagangan memungkinkan
sebuah kerajaan berkembang dan memperluas pengaruhnya.
Pesan ini menunjukkan bahwa kekuatan
negara tidak hanya bergantung pada militer, tetapi juga pada ekonomi dan sumber
daya yang dimiliki.
Pelajaran Kepemimpinan dari Yusuf Dzu Nuwas
Dari pidato dan syair Yusuf Dzu
Nuwas, terdapat sejumlah pelajaran penting:
1.
Hasad dan dendam menghalangi keberhasilan.
2.
Ketergesa-gesaan sering menjadi penyebab kegagalan.
3.
Kekuasaan harus dibangun di atas fondasi yang kuat.
4.
Manusia adalah aset terbesar sebuah negara.
5.
Dukungan rakyat lebih berharga daripada simbol kekuasaan.
6.
Kekuasaan bersifat sementara dan dapat berpindah tangan.
7.
Persatuan membutuhkan pemimpin yang ditaati.
8.
Kesejahteraan negara bergantung pada sumber daya dan pengelolaan yang baik.
Penutup
Kisah Yusuf Dzu Nuwas memberikan
gambaran tentang bagaimana seorang pemimpin menghadapi kritik, kecemburuan, dan
penentangan dengan kebijaksanaan. Alih-alih membalas fitnah dengan amarah, ia
menjelaskan bahwa dasar kekuasaan bukanlah kebanggaan keturunan semata,
melainkan kemampuan menjaga fondasi kerajaan, yaitu manusia yang mendukungnya.
Melalui syair dan nasihatnya, Yusuf
Dzu Nuwas mengajarkan bahwa keberhasilan sebuah pemerintahan lahir dari
persatuan, keadilan, loyalitas, dan kepemimpinan yang kokoh. Nilai-nilai
tersebut tetap relevan hingga saat ini dan menjadi pelajaran penting bagi siapa
saja yang memegang amanah kepemimpinan.
Referensi:
وحدّثني علي بن محمد، عن جده الدعبل بن علي، أن يوسف
ذا نواس لما انتقل الملك إليه ظهر له الحسد من بعض قومه وبلغه عنهم قوارص مما
يلفظون به ويخوضون فيه من أمره، قال فأقبل عليهم وقال: يا أيها الناس، ما من رئيس
حقد فأفلح، ولا من رائم أمر يستعجل فيه فأنجح، ألا وكأني بمن يقول: إن يوسف ذا
نواس ملك هذا الأمر وليس من ورثته ولا من أبناء من حازه من قبله. وكلا، ليس الأمر
كما زعم الزاعم، ولكن للملك أساس، من حازه حاز الملك.
ثم أنشأ يقول: «من الوافر»
أساسُ المُلكِ ويحكُمُ رِجَالٌ ... إذا ما المُلكُ
زالَ عنِ الأساسِ
بلِ المُلكُ الأثيلُ لهُم مُثنَّى ... وفيهم كل ذي
عزٍّ وباسِ
ومنْ يُعطِ الرِّجالَ ... ويُطعنَ دونهُ يومَ الحماسِ
ينالُ بها من الدُّنيا الذِي قد ... حواهُ المرءُ
يوسفُ ذُو نُواسِ
فَكَمْ من تاجِ مُلكٍ قد رأيتُمْ ... تحوَّلَ من
أُناسٍ في أناسِ
ألا يا للقبائِلِ أنصِتُوا ليْ ... لأُخبركُم فإنَّ
الطَّبَّ آسِ
وإنَّ وصيتيْ ما زِلتُ قِدمًا ... لها يا للقبائلِ
غيرَ ناسِ
أطيعُوا الرَّأسَ مِنكُمْ كي تسُودُوا ... وهل ذنبٌ
يَسُودُ بغيرِ راسِ
فإنَّ النَّاس مِثلُ الأرضِ أرضٌ ... وإنَّ مُلُوكهمْ
مثلُ الرَّواسيْ
ولولا الرَّاسياتُ إذًا لمادتْ ... روابيْ الأرضِ
حقًَّا
وأجناسُ الرَّواسي الشُّمِ ستٌّ ... فذو تبرٍ يصانُ
وذو نُحاسِ
وذو ماءٍ وذُو زرعٍ وضرعٍ ... وذو ثقلٍ كأمثالِ
Sumber :
ـ[وصايا الملوك وأبناء الملوك من ولد قحطان بن هود]ـ
المؤلف: دعبل بن علي الخزاعي الشاعر المشهور (المتوفى:
٢٤٦هـ)
رواية: علي محمد بن دعبل الخزاعي
Baca juga:
Raja Tubba' dan
Ramalan Kedatangan Nabi Muhammad ﷺ: Wasiat yang
Dijaga Berabad-Abad

Tidak ada komentar:
Posting Komentar