Wasiat Yasar Yan'um kepada Syammar Dzul Janah: Rahasia Kepemimpinan Raja Tubba' Terbesar

pendahuluan

Di antara warisan berharga para raja Himyar dan Dinasti Tubba' terdapat rangkaian wasiat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Wasiat-wasiat ini bukan sekadar nasihat keluarga kerajaan, melainkan pedoman kepemimpinan yang membentuk salah satu peradaban terbesar di Jazirah Arab sebelum Islam.

Salah satu wasiat yang paling menarik adalah nasihat Yasar Yan'um bin Tubba' bin Zaid bin Rufaidah bin Amr kepada putranya, Syammar Dzul Janah, seorang raja yang kemudian dikenal sebagai penguasa terbesar dari kalangan Tubba'. Dalam wasiat tersebut dijelaskan fondasi kekuasaan, pentingnya keadilan, peran manusia dalam pemerintahan, hingga hubungan antara kekayaan dan stabilitas kerajaan.

Menariknya lagi, berbagai riwayat menyebut bahwa Syammar Dzul Janah adalah raja yang membangun Samarkand, menjelajahi wilayah-wilayah terpencil dunia, bahkan termasuk raja yang beriman kepada Nabi Muhammad sebelum beliau diutus.

Yasar Yan'um dan Warisan Kepemimpinan Tubba'

Yasar Yan'um merupakan salah satu raja besar Himyar yang dikenal karena memegang teguh wasiat para leluhurnya. Ia menjalankan pemerintahan berdasarkan prinsip-prinsip yang diwariskan oleh ayah dan kakeknya sehingga berhasil menjaga stabilitas kerajaan.

Menjelang akhir masa pemerintahannya, ia memberikan nasihat kepada putranya Syammar Dzul Janah agar mampu mempertahankan kejayaan yang telah dibangun oleh para leluhur mereka.

Tujuh Pilar Kerajaan Menurut Yasar Yan'um

Dalam wasiatnya, Yasar Yan'um berkata:

"Wahai anakku, aturlah kerajaan dengan baik, karena pengaturan adalah penopang kekuasaan."

Dari kalimat-kalimat berikutnya, dapat disimpulkan bahwa beliau menjelaskan tujuh pilar utama kerajaan yang kokoh.

1. Perencanaan dan Manajemen (Tadbir)

Yasar menempatkan tadbir atau perencanaan sebagai pondasi pertama kekuasaan.

Menurutnya:

"Tidak ada kerajaan bagi orang yang tidak memiliki perencanaan."

Sebuah negara, organisasi, atau perusahaan tidak akan bertahan lama tanpa strategi yang jelas.

Banyak pemimpin memiliki kekuasaan besar, tetapi kehilangan semuanya karena gagal mengelola dan merencanakan masa depan.

2. Ihsan sebagai Dasar Kestabilan

Beliau melanjutkan:

"Kestabilan kerajaan berdiri di atas ihsan."

Ihsan berarti berbuat baik, memberikan manfaat, dan memperhatikan kebutuhan rakyat.

Ketika rakyat merasakan manfaat dari kepemimpinan seseorang, mereka akan memberikan dukungan yang tulus.

3. Keadilan sebagai Penegak Negara

Yasar menegaskan:

"Tidak ada ihsan tanpa keadilan."

Keadilan adalah jantung pemerintahan.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak kerajaan yang kuat secara militer justru runtuh akibat kezaliman para penguasanya.

Sebaliknya, kerajaan yang menegakkan keadilan mampu bertahan meskipun menghadapi berbagai tantangan.

4. Sistem yang Kokoh

Menurut Yasar:

"Tidak ada keadilan tanpa penegak yang kuat."

Keadilan tidak cukup hanya menjadi slogan.

Ia membutuhkan sistem pemerintahan, hukum, dan lembaga yang mampu menjalankannya secara konsisten.

5. Peran Penting Para Pendukung

Beliau berkata:

"Tidak ada kekuatan tanpa para lelaki (pendukung)."

Yang dimaksud adalah para pejabat, panglima, penasihat, ulama, dan rakyat yang menjadi tulang punggung kerajaan.

Tidak ada pemimpin yang dapat memerintah seorang diri.

6. Pentingnya Kedermawanan

Yasar juga mengingatkan:

"Tidak ada pendukung tanpa pemberian."

Manusia cenderung setia kepada pemimpin yang menghargai jasa mereka.

Karena itu seorang pemimpin harus memberikan hak-hak rakyat dan para pembantunya secara adil.

7. Keluarga dan Kabilah sebagai Kekuatan

Dalam tradisi Arab kuno, keluarga besar dan kabilah merupakan benteng utama yang menjaga stabilitas sosial.

Karena itu Yasar menganggap hubungan yang baik dengan keluarga dan masyarakat sebagai bagian penting dari kekuasaan.

Syair Wasiat untuk Syammar Dzul Janah

Untuk memperkuat pesannya, Yasar menggubah syair yang sarat makna.

Beliau berkata:

Aku mewasiatkan kepadamu wahai Syammar Dzul Janah sebuah nasihat yang selalu kujaga dari leluhurmu Tubba'.

Syair ini menunjukkan bahwa nasihat tersebut bukan hasil pemikiran sesaat, tetapi warisan kebijaksanaan yang telah teruji oleh waktu.

Jalan Menuju Kemuliaan

Yasar mengakui bahwa seluruh keberhasilan yang diraihnya bersumber dari prinsip-prinsip tersebut.

Ia berkata:

Tidaklah aku mencapai kemuliaan kecuali dengan nasihat itu, dan dengannya aku menemukan jalan yang lurus.

Kalimat ini menunjukkan bahwa keberhasilan politik dan pemerintahan tidak lahir secara kebetulan.

Membangun Kekuatan Manusia

Salah satu bagian terpenting dari syair tersebut adalah:

Kumpulkanlah orang-orang yang baik, karena mereka adalah perlengkapan dan kekuatanmu.

Dalam sejarah, para pemimpin besar selalu dikelilingi oleh orang-orang hebat.

Sebaliknya, pemimpin yang memilih orang-orang lemah dan tidak kompeten biasanya akan membawa kehancuran bagi dirinya sendiri.

Keadilan Membawa Kebaikan

Yasar juga menasihati:

Tegakkanlah keadilan, karena akibat akhirnya akan selalu terpuji.

Keadilan mungkin terasa berat pada awalnya, tetapi hasil akhirnya selalu membawa keberkahan dan kestabilan.

Hukum Sebab dan Akibat

Beliau menutup syairnya dengan kalimat yang sangat terkenal:

Jika engkau ingin memanen hasil tanamanmu, maka menanamlah terlebih dahulu.

Ini adalah pelajaran tentang hukum sebab-akibat.

Kejayaan tidak datang tanpa usaha, sebagaimana panen tidak mungkin diperoleh tanpa menanam.

Syammar Dzul Janah: Raja Tubba' Terbesar

Menurut riwayat yang disebutkan oleh Ad-Di'bal bin Ali, Syammar Dzul Janah menjadi raja setelah ayahnya dan dikenal sebagai:

  • Raja terakhir dari para Tubba' besar.
  • Penguasa paling kuat dalam sejarah mereka.
  • Raja yang disebut At-Tubba' Al-Akbar (Tubba' Agung).
  • Pemilik wilayah kekuasaan yang sangat luas.

Namanya menjadi simbol kejayaan Dinasti Himyar dalam banyak karya sejarah Arab klasik.

Kisah Pembangunan Kota Samarkand

Salah satu riwayat terkenal menyebut bahwa Syammar Dzul Janah adalah pendiri kota Samarkand.

Bahkan disebutkan bahwa nama Samarkand berasal dari nama Syammar.

Meskipun para sejarawan modern memiliki pandangan yang beragam mengenai asal-usul kota tersebut, riwayat ini sangat populer dalam literatur Arab klasik.

Ad-Di'bal Al-Khuza'i mengabadikan kisah itu dalam syairnya:

Mereka menamai Samarkand dengan nama Syammar.

Riwayat ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh tokoh tersebut dalam imajinasi sejarah Arab kuno.

Jejak Syammar di Timur dan Barat

Dikisahkan bahwa Syammar melakukan perjalanan ke wilayah-wilayah yang sangat jauh hingga ke batas-batas dunia yang dikenal pada masanya.

Ia disebut menuliskan prasasti di berbagai tempat, termasuk:

  • Gerbang kota Marwa (Merv).
  • Perbatasan Cina.
  • Wilayah barat yang berbatasan dengan lautan pasir.

Riwayat-riwayat ini menggambarkan luasnya wilayah yang dikaitkan dengan kekuasaan dan ekspedisinya.

Raja yang Beriman kepada Nabi Muhammad Sebelum Kenabian

Salah satu bagian paling menarik dari kisah Syammar Dzul Janah adalah riwayat yang menyebut bahwa ia termasuk raja yang beriman kepada Nabi Muhammad sebelum masa kenabian beliau.

Dalam beberapa tradisi sejarah Islam, para raja Tubba' disebut telah menerima kabar tentang akan datangnya nabi terakhir dan sebagian dari mereka membenarkan berita tersebut.

Karena itu Syammar sering disebut sebagai salah satu penguasa yang memiliki keyakinan terhadap kemunculan Rasulullah jauh sebelum beliau lahir.

Syammar dan Ka'bah

Riwayat juga menyebut bahwa Syammar Dzul Janah pernah berhaji dan berumrah ke Makkah.

Ia melakukan berbagai bentuk penghormatan kepada Ka'bah, di antaranya:

  • Melaksanakan thawaf tujuh putaran.
  • Menyembelih hewan kurban dalam jumlah besar.
  • Memberikan kiswah untuk Ka'bah.
  • Membuat pintu dan perlengkapan Ka'bah.

Dalam syairnya ia berkata:

Kami pakaikan rumah suci yang dimuliakan Allah dengan kain dan selimut.

Kemudian ia melanjutkan:

Kami thawaf mengelilinginya tujuh kali dan membuatkan kunci untuk pintunya.

Riwayat ini menjadikan Syammar sebagai salah satu raja Arab kuno yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap Baitullah.

Pujian Para Penyair

Penyair Arab klasik juga memuji Syammar dan para raja Tubba'.

Di antara syair yang terkenal adalah ungkapan:

Tubba' kami adalah orang yang thawaf tujuh kali mengelilingi Ka'bah sebelum para peziarah lainnya.

Dan:

Ia beriman kepada Nabi meskipun belum pernah melihatnya.

Syair-syair tersebut menunjukkan kedudukan istimewa Syammar dalam tradisi sejarah dan sastra Arab.

Hikmah dari Wasiat Yasar Yan'um

Dari wasiat ini kita dapat mengambil banyak pelajaran penting:

1. Perencanaan adalah fondasi keberhasilan.

2. Keadilan merupakan penopang kekuasaan.

3. Ihsan dan kepedulian memperkuat loyalitas rakyat.

4. Pemimpin membutuhkan orang-orang terbaik di sekelilingnya.

5. Kedermawanan membantu menjaga stabilitas pemerintahan.

6. Keberhasilan selalu mengikuti usaha yang sungguh-sungguh.

7. Warisan nilai lebih berharga daripada warisan kekuasaan.

8. Pemimpin besar adalah mereka yang menggabungkan kekuatan, kebijaksanaan, dan keadilan.

Penutup

Wasiat Yasar Yan'um kepada Syammar Dzul Janah merupakan salah satu mutiara kepemimpinan yang paling berharga dalam sejarah para raja Tubba'. Melalui nasihat yang ringkas namun mendalam, beliau menjelaskan bahwa kekuasaan tidak dibangun hanya dengan harta dan pasukan, melainkan dengan perencanaan yang matang, keadilan yang tegak, ihsan kepada rakyat, serta dukungan manusia-manusia terbaik.

Prinsip-prinsip tersebut menjadi rahasia kejayaan para raja Himyar selama berabad-abad dan tetap relevan hingga hari ini. Sebab pada akhirnya, sebagaimana pesan Yasar Yan'um, siapa yang ingin memanen hasil yang baik harus terlebih dahulu menanam benih kebaikan dan keadilan dalam setiap aspek kepemimpinannya.

Referensi:

وحدّثني علي بن محمد، عن جده الدعبل بن علي، أن ياسر ينعم بن تبع بن زيد بن رفيدة بن عمرو وصى ابنه شمر ذا الجناح، فقال له: يا بني، دبر الملك، فإن التدبير ثباته، والإحسان أساسه، والعدل قوامه والرجال عزه، والمال نجدته، والعشيرة عدته. ولا ملك لمن لا تدبير له، ولا ثبات لمن لا إحسان له، ولا إحسان لمن لا عدل له، ولا عدل لمن لا قوام له، ولا قوام لمن لا رجال له، ولا رجال لمن لا بذل له.

ثم أنشأ يقول:

أُوصِيكَ شَمَّرُ ذا الجناحِ وصيَّةً ... ما زِلتُ أحفظُها لِجَدِّك تُبَّعِ

ما لاحَ لي دَرْكُ العُلا إلا بِهَا ... وبها اهتديتَ إلى السبيل المهيعِ

ولقد ملكتُ بها البلادَ وحُزتُها ... ما بينَ مغربِ شمسِها والمَطلعِ

فاحفظْ لِملكِكَ ذا الجناحِ وصيَّتي ... وعليكَ شَمَّرُ بالخِصالِ الأرفعِ

حشد الرِّجال وإنهُم لكَ عُدَّةٌ ... وبِهِم تُدافِعُ كلَّ أمرٍ مُفظِع

وعليهمُ وبهِمْ تدورُ رحى العُلا ... والمكرُمَاتُ وَكُلُّ أمرٍ ميفعِ

واعدِلْ فإنَّ العدلَ يُحمدُ غِبُّهُ ... والخيرُ مهما اسطَعتَ مِنهُ فاصنعِ

كُلُّ امرئٍ يُجزَى بما سَبَقتْ لهُ ... فإذا أردتَ حصادَ زَرعِكَ فازرعِ

قال علي بن محمد: قال الدعبل بن علي: فيقال: إن شمر ذا الجناح ولي الملك بعد أبيه، وهو آخر التبابع وأعظمهم ملكًا وسلطانًا، وهو الذي يقال له الُتَّبع الأكبر، وهو الذي سار في الظلمات بعد أسعد الكامل في منقطع الأرض، يطلب فيها ما طلب ذو القرنين وأسعد الكامل، وهو الذي بنى مدينة سمرقند وإليه نسبت. وكتب على باب مدينة مرو كتابه الذي يعرف به وله إلى اليوم، وكذلك كتب على صنم المغرب الذي ليس وراءه إلا الرمل الذي تتغطمط أمواجه كما تتغطمط أمواج البحر، ويجري كما تجري السيول الطامة في أوديتها. وقد ذكر ذلك الدعبل بن علي الخزاعي في شعره الذي يقول فيه: «من الوافر»

وهُمْ سمَّوا سمرقندًا بِشِمرٍ ... وهُم غَرَسُوا هُناك التُّبتينا

وَهُم كتبُوا الكتابَ ببابِ مروٍ ... وباب الصِّين كانُوا كاتِبينا

وفي صنمِ المغاربِ فوقَ رملٍ ... مسيلُ تُلُولهِ تحكي السَّفِينا

وهذا الُتَّبع المذكور هو أول ملك بشَّر بمحمد النبي ﷺ بعد أسعد الكامل وآمن به، وحج واعتمر وطاف بالبيت سبوعًا، ونحر البدن، وكسا الكعبة، وجعل لها بابًا وحلقًا. وقد ذكر ذلك في شعر له حيث يقول: «من الخفيف»

وكسونا البيتَ الَّذي حَرَّمَ الل ... هُ ملاءً مُعضَّدًا وبُرُودا

ثُمَّ طُفنا بهِ من السَّيرِ سبعًا ... وجعلنا لبابهِ إقليدا

ونحرنَا بالشِّعب تسعينَ ألفًا ... فترى النَّاسَ حولهُنَّ وُرُودا

وقد ذكر ذلك حكم بن عباس الكلبي في شعره الذي يقول فيه: «من الوافر»

وتُبَّعُنا الَّذي قد طافَ سبعًا ... وزارَ البيتَ قبلَ الزَّائرينا

وآمنَ بالنَّبيِّ وما رآهُ ... فكانَ من الهُداةِ الفائزينا

Sumber :

ـ[وصايا الملوك وأبناء الملوك من ولد قحطان بن هود]ـ

المؤلف: دعبل بن علي الخزاعي الشاعر المشهور (المتوفى: ٢٤٦هـ)

رواية: علي محمد بن دعبل الخزاعي

Baca juga:

Wasiat As'ad Al-Kamil: Rahasia Kerajaan yang Kokoh Menurut Raja-Raja Tubba'

Pengadu Domba: Racun yang Merusak Cinta dan Meretakkan Hubungan

Raja Tubba' dan Ramalan Kedatangan Nabi Muhammad : Wasiat yang Dijaga Berabad-Abad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Maulid Simthudduror Makna Pesantren

Download Kitab PDF : Maulid Simthudduror Makna Pesantren | Google Drive Download Kitab PDF : Maulid Simthudduror Ma...