Wasiat Dzu Ashbah: Rahasia Kepemimpinan, Kedermawanan, dan Kemuliaan Bangsa Himyar

Wasiat Dzu Ashbah tentang kepemimpinan, kedermawanan, persatuan, dan rahasia meraih kemuliaan melalui akhlak serta kebajikan

Pendahuluan

Dalam sejarah kerajaan Himyar, terdapat banyak tokoh yang dikenang bukan hanya karena kekuasaan mereka, tetapi juga karena kebijaksanaan dan nasihat yang mereka tinggalkan. Salah satunya adalah Dzu Ashbah, yang bernama lengkap Al-Harits bin Zaid bin Sa'ad bin 'Adi bin Malik bin Musaddad bin Asad bin Hanzhalah bin Zur'ah, dari keturunan Himyar.

Ketika suku-suku besar Arab Selatan, yaitu Himyar dan Kahlan, sepakat mengangkatnya sebagai pemimpin dan raja, Dzu Ashbah tidak memandang kedudukan tersebut sebagai hak istimewa yang diwariskan secara turun-temurun. Sebaliknya, ia melihatnya sebagai amanah yang diberikan karena kualitas pribadi dan kemampuannya dalam memimpin.

Menjelang akhir hayatnya, ia mengumpulkan anak-anaknya dan menyampaikan sebuah wasiat yang berisi pelajaran berharga tentang kepemimpinan, keutamaan berbuat baik, dan cara mempertahankan kemuliaan suatu bangsa.

Kepemimpinan Bukan Karena Nasab Semata

Dzu Ashbah membuka nasihatnya dengan sebuah pengakuan yang penuh kerendahan hati.

Ia berkata bahwa Himyar dan Kahlan tidak memilihnya sebagai pemimpin karena dirinya memiliki kedudukan keluarga yang paling tinggi atau karena ia paling berhak atas kerajaan dibandingkan yang lain.

Menurutnya, mereka memilihnya setelah menimbang kemampuan dan kualitas para tokoh yang ada.

Ia berkata bahwa masyarakat melihat dirinya sebagai orang yang paling layak dalam mengambil keputusan, memberi perintah, dan mengatur urusan bersama.

Pesan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang kuat seharusnya dibangun di atas:

  • Kapasitas dan kemampuan.
  • Kebijaksanaan.
  • Integritas.
  • Kepercayaan masyarakat.

Bukan semata-mata karena keturunan, kekayaan, atau kekuatan.

Pemimpin Dipilih Karena Kepercayaan

Dalam wasiatnya, Dzu Ashbah menegaskan bahwa rakyat memberikan kekuasaan kepadanya karena mereka percaya pada kemampuannya.

Kepercayaan merupakan modal terbesar seorang pemimpin.

Ketika kepercayaan hilang, jabatan yang tinggi sekalipun tidak akan mampu mempertahankan kewibawaan seseorang.

Sebaliknya, ketika kepercayaan terjaga, seorang pemimpin akan mendapatkan dukungan yang kuat dari masyarakatnya.

Karena itu, setiap pemimpin harus menjaga amanah dan tidak menyalahgunakan kekuasaan yang diberikan kepadanya.

Pengalaman Adalah Guru Terbaik

Dalam syairnya, Dzu Ashbah menggambarkan dirinya sebagai seorang tua yang telah melewati berbagai fase kehidupan.

Ia berkata bahwa rambutnya telah memutih dan tubuhnya mulai melemah.

Namun di balik usia yang senja itu tersimpan pengalaman panjang yang sangat berharga.

Ia menyatakan:

"Aku telah memerah kehidupan dari berbagai sisinya dan tidak pernah memalingkan pandangan dari berbagai pengalaman."

Ungkapan ini menunjukkan bahwa pengalaman hidup adalah sumber kebijaksanaan yang tidak ternilai.

Seseorang yang belajar dari pengalaman akan lebih siap menghadapi tantangan dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan teori.

Ikutilah Jalan Orang-Orang yang Berhasil

Salah satu pesan terpenting dalam wasiat Dzu Ashbah adalah:

"Wahai anak-anakku, berjalanlah mengikuti jalanku, karena itulah jalan orang-orang yang berhasil."

Nasihat ini bukan ajakan untuk meniru secara membuta, melainkan ajakan untuk mengambil pelajaran dari pengalaman generasi sebelumnya.

Kesuksesan sering kali meninggalkan pola yang dapat dipelajari.

Demikian pula kegagalan.

Orang yang bijak tidak hanya belajar dari kesalahannya sendiri, tetapi juga dari pengalaman orang-orang yang datang sebelum dirinya.

Kebaikan Adalah Investasi yang Menguntungkan

Dalam syairnya, Dzu Ashbah memberikan sebuah perumpamaan yang sangat menarik.

Ia berkata:

"Jadikanlah kebaikan di antara kalian sebagai perdagangan yang menguntungkan."

Perumpamaan ini mengajarkan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan tidak akan sia-sia.

Sebagaimana seorang pedagang mengharapkan keuntungan dari modal yang ia keluarkan, demikian pula seseorang akan memperoleh manfaat dari kebaikan yang ia tebarkan.

Manfaat tersebut dapat berupa:

  • Cinta dan penghormatan masyarakat.
  • Hubungan yang harmonis.
  • Nama baik yang abadi.
  • Pertolongan ketika menghadapi kesulitan.
  • Pahala di sisi Allah.

Karena itu, kebaikan bukanlah kerugian, melainkan investasi yang paling menguntungkan.

Pentingnya Kedermawanan

Dzu Ashbah juga berpesan agar anak-anaknya menjadi orang yang dermawan.

Ia berkata:

"Sebarkanlah pemberian kalian dan bermurah hatilah kepada siapa saja."

Menariknya, ia tidak membatasi kedermawanan hanya kepada kelompok atau suku tertentu.

Ia menganjurkan agar bantuan diberikan kepada:

  • Orang Arab maupun non-Arab.
  • Orang yang fasih maupun yang asing.
  • Kerabat maupun orang lain.

Ini menunjukkan pandangan yang luas tentang kemanusiaan dan pentingnya berbagi kepada siapa pun yang membutuhkan.

Kedermawanan Membuka Pintu Kemuliaan

Dalam bagian lain syairnya, Dzu Ashbah menyatakan:

"Dengan kedermawanan, pintu kemuliaan akan terbuka bagi kalian."

Menurutnya, keberanian dan kekuatan memang dapat membawa seseorang kepada kemenangan.

Namun tidak semua kemuliaan dapat diraih dengan kekuatan.

Ada kemuliaan yang hanya dapat dicapai melalui:

  • Kebaikan hati.
  • Kedermawanan.
  • Kepedulian terhadap sesama.
  • Kemampuan memberi manfaat kepada masyarakat.

Inilah sebabnya banyak tokoh besar dikenang bukan karena kekayaan yang mereka miliki, tetapi karena kemurahan hati mereka.

Rahasia Kejayaan Bangsa Himyar

Wasiat Dzu Ashbah juga memberikan gambaran mengenai nilai-nilai yang membuat bangsa Himyar mampu bertahan dan berjaya.

Beberapa nilai tersebut antara lain:

1. Persatuan

Keberhasilan suatu bangsa dimulai dari kesatuan visi dan tujuan.

2. Kepemimpinan yang Amanah

Pemimpin harus dipilih berdasarkan kemampuan dan integritas.

3. Pengalaman dan Kebijaksanaan

Keputusan terbaik lahir dari pengalaman yang panjang.

4. Kedermawanan

Memberi manfaat kepada orang lain akan memperkuat hubungan sosial.

5. Akhlak yang Baik

Kemuliaan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan, tetapi juga oleh karakter.

Manfaat Mendengarkan Nasihat Orang Tua

Pada akhir wasiatnya, Dzu Ashbah berkata:

"Manfaatkanlah nasihat orang yang mungkin hari ini masih hidup, tetapi esok belum tentu ada."

Kalimat ini mengandung pesan yang sangat menyentuh.

Orang tua yang telah melalui berbagai pengalaman hidup sering kali memiliki pandangan yang lebih matang dibandingkan generasi muda.

Karena itu, mendengarkan nasihat mereka merupakan salah satu cara terbaik untuk menghindari kesalahan yang tidak perlu.

Pelajaran Berharga dari Wasiat Dzu Ashbah

Dari nasihat Dzu Ashbah, terdapat sejumlah pelajaran penting:

1. Kepemimpinan harus didasarkan pada kemampuan

Jabatan adalah amanah, bukan sekadar hak keturunan.

2. Kepercayaan adalah modal utama pemimpin

Tanpa kepercayaan, kekuasaan akan kehilangan maknanya.

3. Pengalaman adalah sumber kebijaksanaan

Belajarlah dari perjalanan hidup generasi terdahulu.

4. Kebaikan adalah investasi terbaik

Setiap kebaikan akan menghasilkan manfaat yang berlipat.

5. Jadilah pribadi yang dermawan

Kedermawanan membuka jalan menuju kemuliaan.

6. Berbuat baik kepada semua orang

Kebaikan tidak mengenal batas suku, bangsa, maupun status sosial.

7. Dengarkan nasihat orang yang berpengalaman

Petuah mereka sering kali menjadi bekal berharga untuk masa depan.

Penutup

Wasiat Dzu Ashbah merupakan salah satu warisan kebijaksanaan yang menggambarkan bagaimana para pemimpin Arab kuno memandang kekuasaan dan kehidupan. Ia mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kemampuan dan kepercayaan, bukan dari kebanggaan terhadap keturunan semata.

Lebih dari itu, ia menegaskan bahwa kebaikan, kedermawanan, dan kepedulian terhadap sesama adalah jalan menuju kemuliaan yang hakiki. Pesan-pesan tersebut tetap relevan hingga hari ini, baik dalam kehidupan keluarga, organisasi, maupun masyarakat luas.

Sebagaimana yang diwariskan Dzu Ashbah kepada anak-anaknya, keberhasilan bukan hanya tentang meraih kedudukan, tetapi tentang meninggalkan jejak kebaikan yang terus dikenang oleh generasi setelah kita.

Referensi:

وحدّثني علي بن محمد، عن جده الدعبل بن علي، أن ذا أصبح، واسمه الحارث بن زيد بن سعد بن عدي بن ملك بن مسدد بن أسد بن حنظلة بن زرعة، وهو حمير الأصغر بن كعب بن زيد بن سهل بن عمرو بن قيس بن معاوية بن جشم بن عبد شمس لما اجتمعت حمير وكهلان أمرها على طاعتها له واتباعها إياه وقبولها منه عند الأمر والنهي والسلم والحرب أقبل على بنيه، فقال لهم: يا بني، إن حمير وكهلان لم تجمع أمرها على طاعتها لي واتباعها إياي وقبولها مني على أني أشرفها منصبًا، ولا أني أحق بالملك فيها دون غيري منها، ولكنها وزنت رجالها المعدودة، فألفتني أرجحها عند الأمر والنهي، فقلدتني أمرها، وآثرتني بالملك على غيري منها. ثم أنشأ يقول: «من الرجز»

بنيَّ ما إن جهلتْ حميرٌ ... والحيُّ من كهلانَ ذا أصبحِ

إذ قلَّدوني أمرهُمْ واهتدوا ... في طاعتي بالطائرِ الأفلحِ

حتى اصطبحنا بالخُيُولِ العِدا ... في كُلِّ ما هصت وما أفتح

إنَّا لنا مُلكُ بني يعربٍ ... وزانهُ الإصلاحُ للمُصلِح

أما تروني فانيًا شاحبًا ... أسمطَ مثلَ الوقع في صردحِ

فقد حلبتُ الدَّهرَ أشطارهُ ... ولم أردُّ الطرفَ عن مطمحِ

بنيَّ سيرُوا سيرتي إنّهَا ... كما علمتُمْ سيرةُ المُفلحِ

واتخذُوا الإحسانَ ما بينكُم ... تجارةَ الرَّابحِ والمربحِ

بُثُّوا عطاياكُمْ وجُودُوا بها ... للأعجمِ الضَّاوي وللمُفصِحِ

بها لكُمْ يُفتحُ بابُ العلا ... إذا العلا بالبأسِ لم يُفتحِ

وصَّيتكُمُ فاغتنِمُوا نُصحَ من ... عساهُ إن أَمسَى فلمْ يُصبِحِ

Sumber :

ـ[وصايا الملوك وأبناء الملوك من ولد قحطان بن هود]ـ

المؤلف: دعبل بن علي الخزاعي الشاعر المشهور (المتوفى: ٢٤٦هـ)

رواية: علي محمد بن دعبل الخزاعي

Baca juga:

Kisah Saif bin Dzi Yazan dan Abdul Muthalib: Nubuat Tentang Kelahiran Nabi Muhammad

 Wasiat Yazid bin Hasyim Dzul Kala': Pelajaran Kepemimpinan dan Kemuliaan dari Para Raja Terdahulu

Wasiat Kahlan bin Saba: Strategi Kepemimpinan, Pembagian Kekuasaan, dan Awal Penyebaran Bangsa Arab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perbedaan Nasihat dan Namimah: Sekilas Mirip, Tetapi Sangat Berbeda

Pendahuluan Salah satu persoalan yang sering membingungkan banyak orang adalah membedakan antara nasihat dan namimah (adu domba). Keduan...