Pendahuluan
Di antara kisah penting dalam
sejarah bangsa Arab kuno adalah pembagian kekuasaan yang dilakukan oleh Saba
bin Yasyjub bin Ya'rub bin Qahtan kepada kedua putranya yang terkenal,
yaitu Himyar dan Kahlan. Riwayat ini menempati posisi penting
dalam tradisi sejarah Arab karena dari kedua tokoh inilah lahir berbagai
kabilah besar yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah Jazirah Arab.
Menurut riwayat para ahli nasab dan
sejarah Arab, Saba membagi urusan pemerintahan kepada kedua putranya dengan
sistem yang teratur. Himyar diberikan kekuasaan pusat kerajaan, sedangkan
Kahlan dipercaya mengelola daerah perbatasan, wilayah luar, serta pasukan
berkuda yang menjadi tulang punggung pertahanan negara.
Dari pembagian tersebut lahirlah
salah satu wasiat politik dan administrasi yang menarik untuk dipelajari, yaitu
wasiat Kahlan bin Saba kepada putranya, Zaid bin Kahlan.
Wasiat ini bukan sekadar nasihat
keluarga, melainkan gambaran tentang bagaimana pemerintahan Arab kuno mengelola
wilayah yang luas melalui sistem delegasi, loyalitas, dan kepemimpinan yang
terstruktur.
Pembagian Kekuasaan antara Himyar dan Kahlan
Setelah menerima amanah dari ayah
mereka, Himyar dan Kahlan menjalankan tugas masing-masing.
Dalam sistem tersebut:
- Himyar menjadi pusat kerajaan.
- Raja utama berasal dari keturunan Himyar.
- Kahlan bertanggung jawab menjaga daerah luar dan
perbatasan.
- Kahlan mengelola pasukan serta wilayah strategis.
- Pendapatan dari daerah-daerah luar dikirimkan kepada
pemerintahan pusat.
Model ini menciptakan keseimbangan
antara kekuasaan pusat dan pengelolaan daerah.
Himyar memegang legitimasi kerajaan,
sedangkan Kahlan menjadi kekuatan operasional yang menjaga stabilitas wilayah.
Strategi Ekspansi dan Pengamanan Wilayah
Ketika urusan kerajaan telah
berjalan stabil, Kahlan memutuskan untuk memperkuat pengaruh pemerintahannya di
berbagai daerah.
Ia mengajukan rencana kepada
saudaranya Himyar untuk mengirim pasukan dan administrator ke wilayah-wilayah
penting.
Himyar mendukung rencana tersebut
dengan menyediakan:
- Kuda perang.
- Unta.
- Persenjataan.
- Perbekalan.
- Dana kerajaan.
- Logistik perjalanan.
Dukungan penuh ini menunjukkan
pentingnya kerja sama antara pemerintah pusat dan penguasa daerah.
Pengiriman Jurhum ke Hijaz
Salah satu langkah besar Kahlan
adalah mengirim kelompok Jurhum menuju Hijaz.
Ia menunjuk seorang pemimpin bernama
Hayy bin Bay bin Jurhum sebagai gubernur wilayah tersebut.
Kepadanya diberikan:
- Pasukan.
- Kuda.
- Persenjataan.
- Perbekalan.
- Para penunjuk jalan.
Selain itu, Kahlan mengirim surat
resmi kepada penduduk Hijaz agar mereka menaati gubernur yang telah ditunjuk.
Isi surat tersebut menegaskan bahwa
Hayy bin Bay adalah wakil resmi kerajaan dan wajib dipatuhi.
Jika ada yang menolak, maka mereka
harus siap menghadapi kekuatan militer kerajaan.
Awal
Kekuasaan Jurhum di Makkah
Menurut riwayat ini, Hayy bin Bay
berhasil menguasai Hijaz dan mengalahkan kaum Amaliqah yang sebelumnya
mendominasi wilayah tersebut.
Ia kemudian menetapkan kekuasaannya
di kawasan Makkah dan sekitarnya.
Bahkan disebutkan bahwa surat
pengangkatannya pernah ditulis pada salah satu gunung di Makkah sebagai tanda
legitimasi pemerintahan.
Riwayat seperti ini menunjukkan
bagaimana bangsa Arab kuno berusaha mendokumentasikan kekuasaan mereka melalui
prasasti dan tulisan yang ditinggalkan di berbagai tempat.
Penaklukan dan Administrasi Najd
Setelah urusan Hijaz selesai, Kahlan
mengalihkan perhatian kepada wilayah Najd.
Untuk daerah ini ia menunjuk:
Al-Humaim bin Ashim bin Jalhamah
Al-Jadisi
sebagai gubernur resmi.
Sama seperti sebelumnya, ia dibekali
pasukan, kuda, logistik, dan surat resmi kepada penduduk Najd.
Dalam surat tersebut disebutkan
bahwa:
- Al-Humaim adalah wakil kerajaan.
- Penduduk wajib menaati perintahnya.
- Pajak dan upeti harus diserahkan kepadanya.
- Penolakan terhadap kekuasaan kerajaan akan berakibat
tindakan militer.
Al-Humaim kemudian berhasil memasuki
Najd dan menegakkan kekuasaan pemerintahan Kahlan di sana.
Ia mengumpulkan pendapatan wilayah
dan mengirimkannya kembali kepada pusat pemerintahan.
Pengiriman Tsamud ke Wilayah Lembah
Kahlan juga mengangkat seorang tokoh
bernama:
Amr bin Jahdar
yang disebut sebagai leluhur kaum
Tsamud.
Sebagian riwayat bahkan
menghubungkannya dengan garis keturunan Nabi Shalih AS.
Amr bin Jahdar ditugaskan memimpin
wilayah lembah yang berada di antara Hijaz dan Syam.
Wilayah ini memiliki posisi
strategis karena menjadi jalur perdagangan dan perlintasan berbagai kabilah.
Dalam surat pengangkatannya, Kahlan
menegaskan tiga prinsip utama:
1.
Ketaatan kepada Pemerintah
Penduduk wajib menaati gubernur yang
telah ditunjuk.
2.
Kesetiaan kepada Kerajaan
Loyalitas kepada Kahlan dan Himyar
menjadi syarat stabilitas wilayah.
3.
Pembayaran Upeti
Pendapatan daerah harus disalurkan
kepada pemerintahan pusat sesuai ketentuan.
Melalui kebijakan ini, Kahlan
menunjukkan pemahaman yang kuat tentang pentingnya administrasi dan pengawasan
wilayah.
Sistem Pemerintahan Arab Kuno
Dari kisah ini dapat dipahami bahwa
bangsa Arab Selatan telah mengenal beberapa prinsip pemerintahan yang maju,
antara lain:
Desentralisasi
Kekuasaan
Wilayah-wilayah jauh dikelola oleh
gubernur yang memiliki otoritas tertentu.
Loyalitas
kepada Pemerintah Pusat
Meski memiliki kebebasan mengelola
daerah, para gubernur tetap berada di bawah otoritas kerajaan.
Administrasi
Tertulis
Pengangkatan pejabat dilakukan
melalui surat resmi.
Pengelolaan
Pajak
Pendapatan wilayah dicatat dan
disalurkan kepada pusat kerajaan.
Penguatan
Perbatasan
Daerah strategis dijaga oleh pasukan
yang ditempatkan secara permanen.
Semua ini menunjukkan bahwa
pemerintahan Arab kuno jauh lebih terorganisasi daripada yang sering
dibayangkan banyak orang.
Wasiat Terakhir Kahlan kepada Putranya
Setelah menyelesaikan berbagai
urusan pemerintahan, Kahlan mulai merasakan usia tuanya.
Pada saat itu saudaranya, Himyar,
telah wafat dan kerajaan pusat diwariskan kepada putranya, Al-Humaisa' bin
Himyar.
Kahlan kemudian memanggil putranya, Zaid
bin Kahlan, dan menyampaikan sebuah wasiat yang penuh hikmah.
Ia berkata bahwa kematian adalah
kenyataan yang pasti.
Hari ini seseorang menyaksikan
kepergian saudaranya, dan esok orang lain akan menyaksikan kepergiannya
sendiri.
Melalui syairnya, Kahlan
mengingatkan bahwa kekuasaan hanyalah amanah yang akan berpindah dari satu
generasi kepada generasi berikutnya.
Pentingnya Loyalitas kepada Pemimpin
Salah satu pesan terpenting dalam wasiat
tersebut adalah:
"Wahai Zaid, janganlah engkau
menentang Al-Humaisa'."
Nasihat ini menunjukkan pentingnya
menjaga persatuan politik.
Kahlan memahami bahwa konflik
internal merupakan ancaman terbesar bagi stabilitas kerajaan.
Karena itu ia memerintahkan putranya
untuk:
- Tetap setia kepada penguasa pusat.
- Menjaga hubungan baik dengan keluarga kerajaan.
- Menghindari perebutan kekuasaan.
- Mengutamakan persatuan bangsa.
Amanah Mengelola Wilayah
Kahlan juga menjelaskan bahwa
wilayah Hijaz dan Najd telah menjadi tanggung jawab Zaid.
Pendapatan dari wilayah-wilayah
tersebut akan mengalir kepadanya.
Demikian pula upeti dari wilayah
Tsamud yang dikirim melalui Amr bin Jahdar.
Dengan kata lain, Zaid menerima
amanah besar untuk mengelola daerah-daerah yang telah dibangun ayahnya.
Namun amanah tersebut harus
dijalankan dalam kerangka loyalitas kepada kerajaan pusat.
Pelajaran Kepemimpinan dari Wasiat Kahlan
Ada banyak hikmah yang dapat dipetik
dari wasiat ini.
1.
Kekuasaan Memerlukan Pembagian Tugas
Negara yang besar tidak dapat
dikelola oleh satu orang saja.
2.
Loyalitas Menjaga Stabilitas
Persatuan lebih penting daripada
ambisi pribadi.
3.
Administrasi yang Baik Menjamin Keberhasilan
Pengelolaan wilayah membutuhkan
sistem yang jelas.
4.
Pemimpin Harus Menyiapkan Generasi Penerus
Kahlan tidak hanya membangun
wilayah, tetapi juga mempersiapkan putranya untuk melanjutkan amanah.
5.
Kematian Mengingatkan Pentingnya Warisan Kebaikan
Setiap pemimpin akan pergi, tetapi
kebijakan dan pengaruhnya dapat bertahan lama.
Zaid bin Kahlan Menjalankan Wasiat Ayahnya
Riwayat menyebutkan bahwa Zaid bin
Kahlan memegang teguh pesan ayahnya.
Ia tetap loyal kepada Al-Humaisa'
bin Himyar dan melanjutkan tugas yang sebelumnya dijalankan Kahlan.
Para gubernur di wilayah perbatasan
juga memperbarui sumpah kesetiaan mereka kepadanya.
Mereka terus mengirimkan upeti dan
menjalankan sistem pemerintahan yang telah dibangun sebelumnya.
Hal ini menunjukkan keberhasilan
Kahlan dalam menanamkan nilai-nilai kepemimpinan dan tanggung jawab kepada
generasi penerusnya.
Penutup
Wasiat Kahlan bin Saba merupakan
salah satu gambaran menarik tentang kepemimpinan dan tata kelola pemerintahan
dalam tradisi Arab kuno. Melalui kisah ini, kita melihat bagaimana sebuah
kerajaan besar dibangun melalui pembagian tugas yang jelas, loyalitas kepada
pemimpin, administrasi yang teratur, dan persiapan generasi penerus yang
matang.
Lebih dari sekadar catatan sejarah,
wasiat ini mengajarkan bahwa keberhasilan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan
oleh kekuatan militer atau luas wilayahnya, tetapi juga oleh kemampuan para
pemimpinnya dalam menjaga persatuan, menegakkan amanah, dan membangun sistem
yang dapat bertahan melampaui zamannya.
Referensi:
وصية كهلان بن سبأ
وحدّثني علي بن محمد، عن جده الدعبل بن علي، أن حمير
وكهلان لما قسم بينهما أبوهما سبأ بن يشجب بن يعرب بن قحطان ملكه، فجعل سياسة
الملك لحمير، وجعل أعنة الخيل وملك الأطراف والثغور لكهلان - وقد تقدم شرح خبرهما
في أول كتابنا هذا - قال علي بن محمد: قال الدعبل بن علي: فيقال: إن حمير وكهلان
لم يزالا على ذلك، وكذلك أولادهما وأولاد أولادهما، لحمير على كهلان الطاعة،
ولكهلان على حمير المال والنجدة، والملوك الراتبة في دار المملكة من حمير، والملوك
في الأطراف والثغور من كهلان. ويقال: إن كهلان لما تقلد الأطراف وثغورها وأعمالها
واستقام أمره وأمر أخيه حمير على ذلك قال لأخيه حمير: إني قد عزمت على أن أبعث
العساكر إلى الأطراف والثغور، فأمر بالمصالح لذلك. قال: فأمر حمير بالمال والخيل
والإبل والطعام والروايا وتقدم إلى أهل المملكة أن يمتثلوا ما يومئ إليهم به
كهلان. قال: فجرّد كهلان إلى أرض الحجاز جرهمًا ومن لف لفها، وولى عليهم رجلًا
منهم يقال له هيّ بن بي بن جرهم بن سعد بن جرهم، وأمرهم أن يسمعوا له ويطيعوا
أمره، وقسم عليهم الخيل والعدد والسلاح والزاد والروايا وأعطاهم الأدلاء. وكتب
لهيّ بن بي بن جرهم إلى ساكن الحجاز من العمالقة بالسمع والطاعة له ودفع الإتاوة
إليه.
وكان كتابه الذي كتب لهي بن بي بن جرهم:
ألائكُ من كهلانَ عن أمرِ حميرٍ ... لعامِلِهِ هيِّ بن
بيِّ بنِ جُرهُمِ
إلى مَن بأعراضِ الحجازِ محلُّهُ ... من الناسِ
طُرًَّا من فصيح وأعجمِ
على أنَّ هيَّأ ليسَ يُعصى وإنَّهُ ... لديهم لذُو
أمنٍ أثيرٍ مقدمِ
وإلاَّ فلا يلحونَ إلا نفوسَهُمْ ... إذا ما مُنُوا بالقسطلانِ
العرمرمِ
قال علي بن محمد: قال الدعبل بن علي: فيقال: إن هي بن
بي بن جرهم خرج إلى الحجاز فيمن معه من قومه وتباعهم، فأقام بها واليًا عليها،
وغلب العمالقة عليها، وكتب كتاب ولايته على جبل من جبال مكة، وهي هذه الأبيات:
ألائك من كهلان عن أمر حمير ... لعامله هيِّ بن بيِّ
بن جرهم
ويقال: إن كهلان لما فرغ من تجهيز هي بن بي بن جرهم
وتجريده للحجاز، جرد إلى أرض نجد رجلًا يقال له: الهميم بن عاصم بن جلهمة الجديسي
في جديس ومن لحقها من التباع، وولاه عليهم، وأمره لهم بالسمع والطاعة، وكتب إلى
سكان نجد كتابًا، وهو: باسمك اللهم:
من ابن سَبَا كهلانَ عنْ أمرِ حِميرٍ ... إلى أهل نجدٍ
للهميم بن عاصمِ
على أنه من ليسَ يُعصى وأنَّه ... يُطاع ويُعطى الخرجَ
خرجَ السَّوائمِ
وإلا فلا يلحون إلا نُفُوسَهُم ... إذا ما مُنُوا
بالخَيل تحتَ الضَّراغمِ
قال: فتجهز الهميم واليًا على أهل نجد، وسار إليهم في
جديس وتباعهم بالخيل والعدة من الروايا والأزواد وسارت الأدلاء بين يديه حتى توسط
بلاد نجد وملكها، وأخذ الإتاوة من أهلها وأنفذها إلى كهلان.
ثم إن كهلان دعا عمرو بن جحدر جد ثمود، ويقال: إنه جد
صالح النبي ﷺ، فجرده إلى الوادي، وهو فيما بين الشام والحجاز، وعقد له الولاية على
ساكن الوادي، وأمر قومه ثمودًا له بالطاعة والسمع والمسير بين يديه، وكتب له
كتابًا إلى ساكن الوادي، وكان شاكته قوم يقال لهم زهرة بن عملاق.
وكان كتابه الذي كتبه لعمرو بن جحدر:
من ابن سَبَا كهلانَ عن أمرِ حِميرٍ ... إلى ساكِنِ
الوادي لعمرو بنِ جحدرِ
على طاعةٍ مِنهُم لعمرو بن جحدرٍ ... وللقيلِ كهلانٍ
وللمَلكِ حميرِ
ودفعِ الإتاواتِ الَّتي يُسألُونَهَا ... إلى عامِلي
مِنْ كُلِّ بدوٍ ومُحضِرِ
وإلاّ فلا يلحونَ إلا نُفُوسهُم ... إذا زارهُمْ
بالبيضِ والسُّمرِ عسكري
قال: فتجهز عمرو بن جحدر واليًا على ساكن الوادي، وسار
إليهم في قومه وعشيرته ثمود بالخيل والإبل والعدة، ومضى قاصدًا حتى أتى الوادي،
فخرج سكان الوادي منه إلا من سمع له وأطاع منهم.
ويقال: إن كهلان لما فرغ من تجهيز عمرو بن جحدر إلى
الوادي الذي ذكر الله عز وجل في محكم كتابه: «وثمود الذين جابوا الصخر بالواد»
أقبل على ابنه زيد بن كهلان، وقد مات أخوه حمير، وولي الملك من بعده ابنه الهميسع
بن حمير فقال: بني، العم قد ولى، والأب على الأثر. ثم أنشأ يقول:
يا زَيدُ إنَّ أباكَ أصبحَ نَسرُهُ ... لا يستطيعُ إلى
النُهُوضِ سبيلا
اليومَ عَمُّكَ خفَّ عنَّا آفِلا ... وغدًا ستشهَدُ من
أبيكَ أُفُولا
يا زيدُ لا تعصِ الهميسعَ وانتظِر ... ما عُونَهُ لكَ
بُكرةً وأَصِيلا
يا زيدُ إنَّ لكَ الحجازَ ونجدَهَا ... وإليكَ أصبحَ
خَرجُهَا محمُولا
وإليكَ يرفعُ عن ثمُود وغَيرِها ... عمروُ بنُ جحدرَ
خرجَهَا المسؤولا
وإليكَ عُدَّتْ بالهميمِ رواحلٌ ... بالخَرجِ تُعِلنُ
بالمسِيْرِ ذميلا
كُنْ للهَميسعِ طائِعًا كيما يَكُنْ ... لكُمُ
الهَمَيسعُ ناصِرًا وكفِيلا
قال علي بن محمد: قال الدعبل بن علي: فيقال: إن زيد بن
كهلان حفظ وصية أبيه، وثبت عليها، وعمل بها، وتقلد للهميسع ما كان يتقلده كهلان
لأخيه حمير.
ويقال: إن زيد بن كهلان أرسل إلى عمَّال أبيه في
الأطراف والثغور بتجديد العهد منه لهم، فسمعوا وأطاعوا ودفعوا إليه الإتاوة التي
كانوا يدفعونها إلى أبيه.
Sumber :
ـ[وصايا الملوك وأبناء الملوك من ولد قحطان بن هود]ـ
المؤلف: دعبل بن علي الخزاعي الشاعر المشهور (المتوفى:
٢٤٦هـ)
رواية: علي محمد بن دعبل الخزاعي
Baca juga:
Wasiat Dzu Ashbah:Rahasia Kepemimpinan, Kedermawanan, dan Kemuliaan Bangsa Himyar
Kisah Saif bin Dzi Yazan dan Abdul Muthalib: Nubuat Tentang Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ
Wasiat Zaid binKahlan kepada Malik: Nasihat Kepemimpinan dan Amanah Kekuasaan dalam SejarahArab Kuno

Tidak ada komentar:
Posting Komentar