Pendahuluan
Salah satu persoalan yang sering
membingungkan banyak orang adalah membedakan antara nasihat dan namimah (adu
domba). Keduanya sama-sama melibatkan penyampaian informasi tentang orang lain.
Sekilas tampak serupa, tetapi hakikat dan tujuannya sangat berbeda.
Tidak sedikit orang yang menuduh
seorang penasihat sebagai pengadu domba, sementara di sisi lain ada pula
pengadu domba yang menyamarkan perbuatannya dengan kedok nasihat. Karena itu,
memahami perbedaan keduanya merupakan perkara penting agar seseorang tidak
terjatuh ke dalam kesalahan dalam bergaul dan bermuamalah.
Tidak Semua Penyampai Berita Disebut Pengadu Domba
Ibnu Hazm menjelaskan bahwa
seseorang tidak dapat disebut sebagai pengadu domba hanya karena menyampaikan
suatu informasi kepada orang lain.
Orang yang mengingatkan seseorang
dari kelalaian, menasihati sahabatnya, menjaga keselamatan seorang Muslim, atau
memperingatkan dari bahaya yang nyata tidak termasuk pelaku namimah.
Demikian pula ketika seseorang
menjelaskan keburukan seorang fasik yang terang-terangan melakukan kerusakan,
atau menyampaikan informasi tentang musuh yang dapat membahayakan kaum
Muslimin, maka hal itu tidak termasuk adu domba selama dilakukan dengan jujur
dan bertujuan untuk kemaslahatan.
Yang menjadi ukuran bukan sekadar
penyampaian berita, melainkan niat, tujuan, dan cara penyampaiannya.
Nasihat dan Namimah: Mirip dalam Bentuk, Berbeda dalam
Hakikat
Ibnu Hazm memberikan perumpamaan
yang sangat indah. Menurut beliau, nasihat dan namimah tampak mirip pada
lahirnya, tetapi berbeda jauh dalam hakikatnya.
Keduanya sama-sama berupa
penyampaian informasi.
Namun yang satu adalah penyakit,
sedangkan yang lain adalah obat.
Nasihat bertujuan memperbaiki
keadaan, melindungi seseorang dari bahaya, menjaga persaudaraan, dan mencegah
kerusakan yang lebih besar.
Sebaliknya, namimah bertujuan
menimbulkan kebencian, memperbesar masalah, merusak hubungan, dan menyalakan
api permusuhan.
Karena itu, meskipun bentuk luarnya
hampir sama, hasil yang ditimbulkannya sangat berbeda.
Mengapa Banyak Orang Tertipu?
Banyak orang yang lemah pemahaman
terjatuh ke dalam kesalahan karena tidak mampu membedakan antara penasihat dan
pengadu domba.
Mereka menganggap setiap orang yang
menyampaikan informasi sebagai pelaku namimah. Akibatnya, nasihat yang tulus
ditolak dan peringatan yang bermanfaat diabaikan.
Sebaliknya, ada pula yang tertipu oleh
pengadu domba yang pandai berbicara. Ia membungkus fitnah dengan kata-kata yang
tampak bijaksana sehingga orang mengira dirinya sedang memberi nasihat.
Padahal tujuan sebenarnya adalah
merusak hubungan dan menimbulkan perselisihan.
Karena itu, seseorang tidak boleh
hanya melihat bentuk perkataan, tetapi juga harus memperhatikan niat dan
dampaknya.
Ciri-Ciri Pengadu Domba yang Sebenarnya
Menurut Ibnu Hazm, pengadu domba
adalah orang yang menyampaikan berita dengan tujuan yang tidak diridhai agama.
Tujuannya bukan untuk memperbaiki,
melainkan untuk:
- Memecah belah orang-orang yang saling mencintai.
- Merusak persahabatan dan persaudaraan.
- Menimbulkan pertengkaran dan permusuhan.
- Mengobarkan kebencian di antara manusia.
- Menyebarkan fitnah dan prasangka buruk.
Orang seperti ini sering terlihat
seolah-olah peduli, padahal hakikatnya ia sedang menanam benih kerusakan.
Semakin besar keretakan yang
berhasil diciptakannya, semakin puas dirinya.
Tanda Nasihat yang Tulus
Sebaliknya, nasihat yang benar
memiliki ciri-ciri yang jelas.
Nasihat dilakukan karena
menginginkan kebaikan bagi orang yang dinasihati.
Tujuannya adalah menjaga kehormatan,
melindungi dari bahaya, memperbaiki kesalahan, dan membantu seseorang agar
tidak terjerumus ke dalam keburukan.
Penasihat yang tulus biasanya merasa
senang jika masalah terselesaikan dan hubungan tetap baik.
Sedangkan pengadu domba justru
merasa senang ketika konflik semakin besar.
Perbedaan inilah yang menjadi ukuran
paling penting.
Ketika Ragu antara Nasihat dan Namimah
Ibnu Hazm memberikan petunjuk yang
sangat berharga bagi orang yang khawatir salah langkah.
Jika seseorang takut bahwa apa yang
akan disampaikannya mungkin termasuk nasihat atau justru berubah menjadi
namimah, maka hendaknya ia menjadikan agama sebagai pedoman utama.
Ia harus bertanya kepada dirinya
sendiri:
- Apakah informasi ini benar?
- Apakah penyampaiannya diperlukan?
- Apakah tujuannya untuk memperbaiki atau merusak?
- Apakah Allah meridhai perkataan ini?
- Apakah manfaatnya lebih besar daripada mudaratnya?
Jika jawabannya mengarah kepada
kemaslahatan dan kebaikan, maka itu lebih dekat kepada nasihat.
Namun jika didorong oleh kemarahan,
iri hati, dendam, atau keinginan mempermalukan orang lain, maka itu lebih dekat
kepada namimah.
Syariat sebagai Kompas Kehidupan
Ibnu Hazm menegaskan bahwa syariat
adalah cahaya yang menerangi jalan manusia. Ketika seseorang menghadapi
persoalan yang membingungkan, ia hendaknya menjadikan agama sebagai penuntun.
Allah yang mensyariatkan hukum dan
mengutus Rasul-Nya tentu lebih mengetahui jalan keselamatan daripada manusia
yang hanya mengandalkan dugaan dan penilaian pribadinya.
Karena itu, setiap keputusan
hendaknya ditimbang dengan nilai-nilai agama, bukan sekadar mengikuti perasaan
atau kepentingan sesaat.
Dengan menjadikan syariat sebagai kompas
kehidupan, seseorang akan lebih mudah membedakan antara kebenaran dan
kebatilan, antara nasihat dan fitnah, serta antara keikhlasan dan
kepura-puraan.
Pelajaran yang Dapat Diambil
Dari pembahasan ini terdapat
beberapa pelajaran penting:
- Tidak semua penyampai berita adalah pengadu domba.
- Nasihat dan namimah tampak mirip, tetapi berbeda tujuan
dan akibatnya.
- Ukuran utama adalah niat dan manfaat yang dihasilkan.
- Pengadu domba bertujuan memecah belah, sedangkan
penasihat bertujuan memperbaiki.
- Syariat harus menjadi pedoman dalam menilai suatu
perkataan dan tindakan.
- Seorang Muslim wajib berhati-hati sebelum menyampaikan
informasi tentang orang lain.
Penutup
Nasihat dan namimah sering kali
terlihat sama di permukaan, tetapi sesungguhnya keduanya berada di dua jalan
yang berbeda. Nasihat adalah obat yang menyembuhkan, sedangkan namimah adalah
penyakit yang merusak.
Karena itu, seorang Muslim hendaknya
selalu memeriksa niatnya sebelum berbicara. Apakah ia ingin memperbaiki atau
justru memperkeruh keadaan? Apakah ia ingin menjaga persaudaraan atau
menimbulkan permusuhan?
Ketika agama dijadikan pedoman dan
keikhlasan menjadi landasan, maka lisan akan menjadi sarana kebaikan. Namun
ketika hawa nafsu mengambil alih, lisan yang sama dapat berubah menjadi alat
penghancur hubungan dan penyebar fitnah di tengah masyarakat.
Referensin:
وليس من نبه غافلًا، أو نصح
صديقًا، أو حفظ مسلمًا، أو حكى عن فاسق أو حدث عن عدو - ما لم يكن يكذب ولا يكذب،
ولا تعمد الضغائن - منقلًا.
وهل هلك الضعفاء وسقط من لا
عقل له إلا في قلة المعرفة بالناصح من النمام، وهما صفتان متقاربتان في الظاهر
متفاوتتان في الباطن، إحداهما داء والأخرى دواء.
والثاقب القريحة لا يخفى عليه
أمرهما، لكن الناقل من كان تنقيله غير مرضي في الديانة، ونوى به التشتيت بين
الأولياء، والتضريب بين الإخوان، والتحريش والتوبيش والرقيش.
فمن خاف إن سلك طريق النصيحة
ان يقع في طريق النميمة، ولم يثق لنفاذ تمييزه ومضاء تقديره فيما يرده من أمور
دنياه ومعاملة أهل زمانه، فليجعل دينه دليلًا وسراجًا يستضيء به، فحيثما سلك به
سلك وحيثما أوقفه وقف، وكفيلًا له بالنظر وزعيمًا بالإصابة وضمانًا للفلج والخلاص.
فشارع الشريعة وباعث الرسول
عليه السلام ومرتب الأوامر والنواهي أعلم بطريق الحق وأدرى بعواقب السلامة ومغبات
النجاة من كل ناظر لنفسه بزعمه، وباحث بقياسه في ظنه.
Sumber;
الكتاب: طوق الحمامة في
الألفة والألاف
المؤلف: أبو محمد علي بن أحمد
بن سعيد بن حزم الأندلسي القرطبي الظاهري (ت ٤٥٦هـ)
Baca juga:
Ketika Persahabatan Hancurkarena Fitnah dan Dusta: Pengalaman Berharga Ibnu Hazm
Keindahan Pertemuan Setelah Kerinduan: Makna Wushul dalam Cinta dan
Kebahagiaan Hati

Tidak ada komentar:
Posting Komentar