Pendahuluan
Dalam sejarah bangsa Himyar dan
kerajaan-kerajaan Arab Selatan, terdapat banyak tokoh yang meninggalkan nasihat
berharga bagi anak cucu mereka. Salah satu di antaranya adalah Yazid bin
Hasyim, yang dikenal dengan gelar Dzul Kala'. Menjelang akhir
kehidupannya, ia mengumpulkan anak-anak, saudara-saudara, dan kerabat dekatnya
untuk menyampaikan wasiat yang sarat hikmah tentang kekuasaan, kemuliaan, dan
tanggung jawab seorang pemimpin.
Wasiat ini tidak hanya berisi pesan
untuk menjaga warisan leluhur, tetapi juga mengingatkan bahwa kekuasaan adalah
amanah yang tidak akan kekal. Yang abadi bukanlah kerajaan atau kekayaan, melainkan
amal baik, keadilan, dan kemuliaan akhlak yang ditinggalkan seseorang.
Kekuasaan Tidak Pernah Kekal
Dzul Kala' membuka nasihatnya dengan
sebuah kenyataan yang sering dilupakan manusia:
"Seandainya kerajaan dapat
kekal untuk seseorang, niscaya kerajaan itu akan tetap berada di tangan para
leluhur kalian yang dahulu menguasai negeri-negeri."
Kalimat ini mengandung pelajaran
mendalam tentang fana-nya dunia. Sebesar apa pun kekuasaan yang dimiliki
seseorang, suatu saat ia akan berpindah kepada generasi berikutnya atau bahkan
hilang sama sekali.
Sejarah dipenuhi dengan kisah
kerajaan besar yang pernah berjaya, tetapi akhirnya lenyap dan hanya menyisakan
nama dalam lembaran sejarah.
Karena itu, manusia tidak boleh
tertipu oleh kedudukan atau kekuasaan yang dimilikinya saat ini.
Rahasia Kejayaan Para Leluhur
Meskipun kekuasaan para leluhur
tidak kekal, Dzul Kala' menjelaskan bahwa mereka berhasil mencapai kejayaan
karena memiliki sifat-sifat mulia.
Menurutnya, para pendahulu mereka:
- Memimpin rakyat dengan baik.
- Menegakkan keadilan.
- Membela kaum lemah.
- Menahan kezaliman orang kuat.
- Menjaga keamanan jalan-jalan.
- Menundukkan para tiran.
- Membasmi para perusak.
- Mengajak kepada kebaikan.
- Mencegah kemungkaran.
- Membangun dan memakmurkan negeri.
Inilah fondasi yang membuat mereka
dihormati oleh rakyat dan dikenang oleh sejarah.
Pemimpin yang Membela Kaum Lemah
Salah satu sifat yang paling
ditekankan oleh Dzul Kala' adalah keberpihakan kepada kaum lemah.
Ia mengingatkan bahwa para leluhur
mereka mengambil hak orang lemah dari tangan orang yang kuat.
Prinsip ini merupakan inti dari
keadilan.
Pemimpin yang baik bukanlah yang
melindungi golongan kuat demi kepentingan pribadi, tetapi yang memastikan
setiap orang mendapatkan haknya tanpa memandang kedudukan atau kekayaannya.
Dalam masyarakat yang adil, hukum
berlaku untuk semua orang secara setara.
Menjaga Keamanan dan Ketertiban
Dzul Kala' juga memuji para leluhur
yang berhasil mengamankan jalan-jalan dan menjaga ketertiban masyarakat.
Keamanan merupakan salah satu syarat
utama kemajuan sebuah negeri.
Ketika masyarakat merasa aman:
- Perdagangan berkembang.
- Ilmu pengetahuan tumbuh.
- Pertanian maju.
- Hubungan sosial menjadi harmonis.
Sebaliknya, ketidakamanan akan
menghambat pembangunan dan merusak kehidupan masyarakat.
Pentingnya Amar Ma'ruf dan Nahi Mungkar
Dalam wasiatnya, Dzul Kala' menyebut
bahwa para leluhur mereka selalu:
"Memerintahkan yang baik dan
melarang yang mungkar."
Ini menunjukkan bahwa kekuasaan
bukan hanya bertujuan mengatur urusan dunia, tetapi juga menjaga nilai-nilai
moral dalam masyarakat.
Pemimpin yang baik harus menjadi
teladan dalam:
- Kejujuran.
- Keadilan.
- Amanah.
- Kepedulian sosial.
- Penghormatan terhadap nilai-nilai kebaikan.
Ketika nilai moral dijaga,
masyarakat akan menjadi lebih kuat dan harmonis.
Pengalaman Dzul Kala' Bersama Para Raja
Dalam syairnya, Dzul Kala' berkata:
"Aku telah menyaksikan para
raja dan hidup bersama mereka. Aku menjadi menteri dan kerabat mereka."
Pengalaman panjang tersebut
membuatnya memahami rahasia keberhasilan dan kegagalan para penguasa.
Ia melihat bagaimana para raja
menguasai berbagai negeri, memimpin berbagai bangsa, dan memperoleh
penghormatan dari masyarakat Arab maupun non-Arab.
Namun ia juga menyadari bahwa semua
kejayaan itu pada akhirnya akan berlalu.
Karena itulah ia berusaha mewariskan
hikmah kepada generasi setelahnya.
Kedermawanan Adalah Jalan Menuju Kemuliaan
Bagian terpenting dari syair Dzul
Kala' adalah pesannya mengenai kedermawanan.
Ia berwasiat:
"Berpeganglah pada kemuliaan
dan kedermawanan semampu kalian."
Menurutnya, sifat dermawan merupakan
salah satu sebab utama seseorang memperoleh kehormatan di tengah masyarakat.
Kedermawanan tidak hanya berarti
memberi harta, tetapi juga:
- Membantu orang yang membutuhkan.
- Menolong kerabat.
- Memberikan manfaat kepada masyarakat.
- Menebarkan kebaikan dan kasih sayang.
Orang yang murah hati biasanya lebih
mudah dicintai dan dihormati oleh banyak orang.
Mengapa Kedermawanan Meninggikan Derajat?
Dalam syairnya, Dzul Kala' berkata:
"Kedermawanan akan memuliakan manusia
dan menempatkan mereka di puncak-puncak kemuliaan."
Sejak dahulu, orang-orang yang
paling dikenang dalam sejarah adalah mereka yang banyak memberi manfaat kepada
sesama.
Kedermawanan menciptakan:
- Persaudaraan.
- Loyalitas.
- Kepercayaan.
- Pengaruh positif.
Karena itu para pemimpin besar
selalu dikenal karena kemurahan hati mereka, bukan hanya karena kekayaan yang
mereka miliki.
Jalan Para Raja Qahtan
Dzul Kala' juga menjelaskan bahwa
para raja besar dari keturunan Qahtan mencapai kesempurnaan kepemimpinan
melalui sifat dermawan dan kemuliaan akhlak.
Mereka tidak hanya mengandalkan
kekuatan militer atau kekayaan, tetapi juga membangun hubungan yang baik dengan
rakyatnya.
Inilah yang membuat mereka dikenang
sebagai pemimpin yang agung.
Menjaga Kerajaan Setelah Datangnya Nikmat
Menjelang akhir syairnya, Dzul Kala'
berpesan:
"Peganglah wasiatku ini dan
jagalah kerajaan setelah datangnya berbagai nikmat."
Pesan ini mengandung makna bahwa
mempertahankan keberhasilan sering kali lebih sulit daripada meraihnya.
Banyak orang mampu mencapai puncak
kejayaan, tetapi gagal mempertahankannya karena:
- Lupa bersyukur.
- Lalai terhadap keadilan.
- Terlena oleh kemewahan.
- Mengabaikan rakyat.
Karena itu, keberhasilan harus
dijaga dengan akhlak yang baik dan kebijaksanaan yang berkelanjutan.
Takdir Allah Pasti Terjadi
Pada bagian akhir syairnya, Dzul
Kala' mengingatkan:
"Apa pun yang telah ditetapkan
Tuhan kalian pasti akan terjadi."
Ini merupakan pengakuan bahwa di
balik segala usaha manusia, terdapat kehendak Allah yang menentukan segala
sesuatu.
Manusia diperintahkan untuk berusaha
sebaik mungkin, tetapi tetap menyadari bahwa hasil akhirnya berada dalam
kekuasaan Allah.
Kesadaran ini akan melahirkan sikap
tawakal dan kerendahan hati.
Pelajaran Berharga dari Wasiat Dzul Kala'
Dari nasihat Yazid bin Hasyim Dzul
Kala', terdapat banyak pelajaran yang dapat dipetik:
1.
Kekuasaan dunia tidak kekal
Tidak ada kerajaan yang bertahan
selamanya.
2.
Keadilan adalah fondasi kejayaan
Para pemimpin besar dikenang karena
keadilan mereka.
3.
Lindungi kaum lemah
Kekuatan harus digunakan untuk
menegakkan hak, bukan untuk menindas.
4.
Jaga keamanan masyarakat
Keamanan merupakan syarat kemajuan
dan kemakmuran.
5.
Tegakkan nilai-nilai kebaikan
Amar ma'ruf dan nahi mungkar menjaga
kesehatan moral masyarakat.
6.
Kedermawanan meninggikan derajat
Orang yang suka memberi akan
memperoleh kehormatan dan cinta masyarakat.
7.
Syukuri nikmat dan jaga amanah
Keberhasilan harus dipelihara dengan
kebijaksanaan dan akhlak mulia.
8.
Semua berada dalam ketentuan Allah
Usaha manusia penting, tetapi takdir
Allah tetap menjadi penentu akhir.
Penutup
Wasiat Yazid bin Hasyim Dzul Kala'
merupakan salah satu warisan kebijaksanaan yang menggambarkan pandangan para
pemimpin Arab kuno tentang kekuasaan dan kehidupan. Ia mengingatkan bahwa
kerajaan, harta, dan kedudukan tidak akan bertahan selamanya. Yang akan tetap
dikenang adalah keadilan, kedermawanan, keberanian membela kebenaran, dan
manfaat yang diberikan kepada masyarakat.
Pesan-pesan tersebut tetap relevan
hingga hari ini. Dalam keluarga, organisasi, maupun pemerintahan, keberhasilan
yang sejati tidak hanya diukur dari pencapaian materi, tetapi juga dari
kemampuan menjaga amanah, menebarkan kebaikan, dan meninggalkan warisan yang
bermanfaat bagi generasi berikutnya.
Referensi:
وصية يزيد بن هاشم
وحدّثني علي بن محمد، عن جده الدعبل بن علي، أن ذا
الكلاع واسمه يزيد بن هاشم أقبل على بني عمه وإخوته وولده فقال لهم: معشر الجماعة
من ولدي وإخوتي وبني عمي، لو كان الملك يدوم لأحد لدام لأسلافكم الذين ملكوا
البلاد، فأحسنوا السيرة في أهلها وأخذوا للضعيف من القوي وأمنوا السبل وأذلوا
الجبابرة، وأبادوا المفسدين، وأمروا بالمعروف ونهوا عن المنكر، وعمروا الأرض شرقها
وغربها، وعندكم مما أنا باثٌّ لكم شارح عليكم من أخبارهم ومآثرهم ومفاخرهم مما
تجتزئون به عما بعده. ثم أنشأ يقول: «من المتقارب»
شهدتُ الملوكَ وعاشرتهمْ ... وكنتُ وزيرًا لَهُم وابن
عمْ
فحازُوا البلادَ ومن حلَّها ... منَ النَّاسِ من عربٍ
أو عجمْ
وقد أخذُوا الخَرجَ في شرقها ... وفي غربها من جميعِ
الأممْ
ودانتْ لهُم سُوقةُ العالمِين ... وأهلُ العُلا
والملوكُ القِدمْ
بنيَّ وإخوتي الأقربين ... ومن بينكُمْ لِيَ من ذي
رحمْ
عليكم...... من المجدِ ما اسطعتُمُ والكرمْ
فإنَّ النَّوالَ يُعزُّ الرِّجالَ ... وينزِلُهُم في
الذُّرى والقِمَمْ
بهِ فُضِّلَ الأجودونَ الكرامْ ... على كلِّ من حملتهُ
القدمْ
بهِ كملَ المالكُ المالكينَ ... من أبناءِ قحطانَ
قدمًا وتمْ
وصاتي ها، فبها فاعملُوا ... وصونُوا بها المُلُكَ
بعدَ النعمْ
وإنَّ يزيدًا لكمْ ذا الكلاعِ ... لفي النُّصحِ
والوُّدِ لا يُتَّهمْ
ومهما قضى ربُّكُم كائنٌ ... من الأمرِ فيهِ وجفَّ
القَلمْ
Sumber :
ـ[وصايا الملوك وأبناء الملوك من ولد قحطان بن هود]ـ
المؤلف: دعبل بن علي الخزاعي الشاعر المشهور (المتوفى:
٢٤٦هـ)
رواية: علي محمد بن دعبل الخزاعي
Baca juga:
Wasiat Dzu Manakh:
Rahasia Kemuliaan, Kedermawanan, dan Kepemimpinan yang Langgeng
Wasiat Dzu Jawal:Rahasia Persatuan, Kepemimpinan, dan Kemuliaan Sebuah Kaum
Kisah Saif bin Dzi
Yazan dan Abdul Muthalib: Nubuat Tentang Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar