Kisah Saif bin Dzi Yazan dan Abdul Muthalib: Nubuat Tentang Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ

Kisah pertemuan Abdul Muthalib dan Saif bin Dzi Yazan yang menubuatkan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ dan masa depan dakwah Islam

Pendahuluan

Di antara kisah paling menarik dalam literatur sejarah Arab kuno adalah pertemuan antara Saif bin Dzi Yazan, raja Himyar yang terkenal, dengan Abdul Muthalib bin Hasyim, kakek Nabi Muhammad . Pertemuan ini terjadi setelah Saif bin Dzi Yazan berhasil membebaskan Yaman dari kekuasaan Habasyah (Abyssinia), sebuah kemenangan yang membuat namanya harum di seluruh Jazirah Arab.

Menurut riwayat yang dinukil dari para ahli sejarah Arab, delegasi Quraisy datang ke Yaman untuk memberikan ucapan selamat kepada sang raja. Namun di balik kunjungan diplomatik tersebut, tersimpan sebuah rahasia besar yang berkaitan dengan kemunculan nabi terakhir, Muhammad .

Kisah ini bukan sekadar pertemuan antara seorang raja dan seorang pemuka Quraisy, melainkan juga sebuah kabar gembira yang menghubungkan sejarah bangsa Arab dengan datangnya risalah Islam.

Siapakah Saif bin Dzi Yazan?

Saif bin Dzi Yazan merupakan salah satu tokoh paling terkenal dalam sejarah Yaman kuno. Ia dikenal sebagai pemimpin yang berhasil mengakhiri dominasi Habasyah di Yaman dengan bantuan Persia.

Namanya menjadi simbol kebangkitan bangsa Himyar dan kemerdekaan negeri Yaman. Karena jasanya tersebut, para pemimpin Arab dari berbagai wilayah datang untuk memberikan penghormatan dan ucapan selamat.

Di mata bangsa Arab saat itu, Saif bin Dzi Yazan bukan sekadar raja biasa. Ia dianggap sebagai simbol kehormatan, keberanian, dan kejayaan Arab Selatan.

Delegasi Quraisy ke Istana Yaman

Setelah kemenangan Saif bin Dzi Yazan, para tokoh Quraisy mengirimkan delegasi kehormatan yang dipimpin oleh Abdul Muthalib bin Hasyim.

Dalam rombongan tersebut hadir pula beberapa tokoh terkemuka Quraisy, di antaranya:

  • Umayyah bin Abdu Syams.
  • Khuwailid bin Asad.
  • Beberapa pemuka Quraisy lainnya.

Mereka datang sebagai utusan resmi untuk menyampaikan ucapan selamat atas kemenangan besar yang diraih Saif bin Dzi Yazan.

Pidato Abdul Muthalib yang Memukau

Ketika mendapat izin berbicara di hadapan raja, Abdul Muthalib menyampaikan pidato yang menunjukkan kefasihan dan kebijaksanaannya.

Ia memuji kedudukan Saif bin Dzi Yazan sebagai pemimpin besar bangsa Arab dan menggambarkannya sebagai:

  • Pemimpin yang menjadi tempat berlindung masyarakat.
  • Tiang penyangga kemuliaan Arab.
  • Pewaris kemuliaan leluhur yang agung.
  • Raja yang membawa manfaat bagi negerinya.

Abdul Muthalib juga menjelaskan bahwa kedatangan mereka bukan karena musibah atau kepentingan tertentu, melainkan semata-mata untuk memberikan ucapan selamat atas kemenangan yang membanggakan seluruh bangsa Arab.

Pidato tersebut membuat Saif bin Dzi Yazan sangat terkesan.

Sambutan Hangat Sang Raja

Setelah mendengar pidato Abdul Muthalib, Saif bin Dzi Yazan menanyakan identitasnya.

Ketika mengetahui bahwa tamunya adalah Abdul Muthalib bin Hasyim, ia menunjukkan penghormatan yang luar biasa.

Raja mempersilakan mereka tinggal sebagai tamu kerajaan dan menyediakan segala kebutuhan mereka.

Rombongan Quraisy kemudian tinggal di istana selama satu bulan penuh dengan pelayanan yang istimewa.

Namun ternyata, ada alasan khusus mengapa Saif bin Dzi Yazan belum mengizinkan mereka pulang.

Rahasia Besar yang Hanya Disampaikan kepada Abdul Muthalib

Setelah sebulan berlalu, Saif bin Dzi Yazan memanggil Abdul Muthalib secara pribadi.

Ia mengosongkan majelis dari orang lain dan berkata bahwa dirinya akan menyampaikan sebuah rahasia besar yang tidak akan diberitahukan kepada siapa pun selain Abdul Muthalib.

Menurutnya, rahasia tersebut berasal dari kitab-kitab kuno dan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun di kalangan raja-raja Himyar.

Kabar itu berkaitan dengan:

  • Masa depan bangsa Arab.
  • Kemuliaan keluarga Abdul Muthalib.
  • Munculnya seorang nabi agung di akhir zaman.

Kabar tentang Lahirnya Seorang Nabi di Tihamah

Saif bin Dzi Yazan kemudian berkata:

"Di Tihamah akan lahir seorang anak yang memiliki tanda-tanda khusus. Baginya kepemimpinan dan bagi keluargamu kemuliaan hingga hari kiamat."

Mendengar hal itu, Abdul Muthalib sangat terkejut dan meminta penjelasan lebih lanjut.

Sang raja kemudian mengungkapkan ciri-ciri anak tersebut.

Ciri-Ciri Nabi Muhammad Menurut Saif bin Dzi Yazan

Menurut penjelasan Saif bin Dzi Yazan, anak yang dimaksud memiliki tanda-tanda berikut:

1. Bernama Muhammad

Ia menyebut secara jelas bahwa nama anak tersebut adalah Muhammad.

2. Memiliki Tanda di Antara Kedua Bahunya

Anak itu memiliki tanda khusus atau cap kenabian di antara kedua bahunya.

3. Ayah dan Ibunya Wafat Saat Ia Masih Kecil

Saif menjelaskan bahwa ayah dan ibunya akan meninggal dunia sehingga anak tersebut diasuh oleh kakek dan pamannya.

4. Menjadi Nabi yang Diutus Allah

Ia akan diutus secara terang-terangan oleh Allah untuk membimbing manusia.

5. Menghancurkan Penyembahan Berhala

Misinya adalah mengajak manusia menyembah Allah Yang Maha Esa dan menghancurkan kemusyrikan.

6. Menegakkan Keadilan

Perkataannya benar, hukumnya adil, dan seluruh ajarannya membawa kebaikan.

Abdul Muthalib Mengakui Ciri-Ciri Itu

Setelah mendengar penjelasan tersebut, Abdul Muthalib segera menyadari bahwa semua ciri itu sesuai dengan cucunya yang baru lahir.

Ia berkata bahwa putranya Abdullah telah menikah dengan Aminah binti Wahb dan melahirkan seorang anak bernama Muhammad.

Ayah anak itu telah meninggal sebelum kelahirannya, sedangkan ibunya juga telah wafat.

Anak tersebut kini berada dalam pengasuhan Abdul Muthalib dan pamannya.

Selain itu, tanda yang disebutkan oleh Saif bin Dzi Yazan juga terdapat pada dirinya.

Mendengar jawaban itu, sang raja semakin yakin bahwa Muhammad adalah nabi yang telah disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu.

Peringatan tentang Orang Yahudi

Saif bin Dzi Yazan kemudian memberikan nasihat penting kepada Abdul Muthalib.

Ia memperingatkan agar menjaga Muhammad dengan baik dan berhati-hati terhadap pihak-pihak yang mungkin memusuhinya.

Menurutnya, kitab-kitab kuno menunjukkan bahwa akan ada orang-orang yang menentang kenabian Muhammad .

Meski demikian, ia juga menegaskan bahwa Allah akan menjaga nabi tersebut dan tidak akan membiarkan musuh-musuhnya menghancurkan misinya.

Mengapa Yatsrib Disebut Secara Khusus?

Salah satu bagian menarik dari kisah ini adalah penyebutan kota Yatsrib, yang kelak dikenal sebagai Madinah.

Saif bin Dzi Yazan berkata bahwa menurut pengetahuan yang dimilikinya:

  • Yatsrib akan menjadi pusat kekuatan Nabi Muhammad .
  • Penduduknya akan menjadi para penolong beliau.
  • Di kota itu agama Islam akan berkembang.
  • Di sana pula kelak makam Nabi Muhammad berada.

Pernyataan ini dianggap sebagai salah satu nubuat yang kemudian terbukti dalam perjalanan sejarah Islam.

Hadiah Besar untuk Delegasi Quraisy

Setelah pertemuan tersebut, Saif bin Dzi Yazan memberikan hadiah yang sangat besar kepada para anggota delegasi.

Setiap orang memperoleh:

  • Seratus ekor unta.
  • Sepuluh budak laki-laki.
  • Sepuluh budak perempuan.
  • Emas dan perak dalam jumlah besar.
  • Minyak wangi dan berbagai hadiah lainnya.

Khusus untuk Abdul Muthalib, sang raja memberikan hadiah sepuluh kali lebih banyak daripada yang diterima anggota delegasi lainnya.

Hal ini menunjukkan penghormatan khusus yang diberikan kepada kakek Nabi Muhammad .

Wafatnya Saif bin Dzi Yazan

Saif bin Dzi Yazan meminta agar Abdul Muthalib kembali setelah satu tahun untuk menyampaikan perkembangan tentang Muhammad.

Namun takdir berkata lain.

Sebelum genap setahun, Saif bin Dzi Yazan wafat sehingga tidak sempat menyaksikan secara langsung kemunculan Rasulullah .

Meski demikian, nama Saif bin Dzi Yazan tetap dikenang dalam berbagai riwayat sebagai salah satu tokoh yang disebut mengetahui kabar tentang datangnya Nabi Muhammad sebelum masa kenabian beliau.

Sikap Bijak Abdul Muthalib

Menariknya, setelah menerima hadiah yang sangat besar, Abdul Muthalib tidak merasa bangga karena kekayaan tersebut.

Ia justru berkata kepada masyarakat:

"Janganlah kalian iri kepadaku karena banyaknya pemberian raja, sebab semua itu akan habis. Tetapi irilah kepada kemuliaan yang akan tetap tinggal dan diwariskan sesudahku."

Ucapan ini menunjukkan bahwa Abdul Muthalib memahami bahwa kehormatan sejati bukan berasal dari harta benda, melainkan dari hubungan dengan risalah besar yang akan dibawa oleh cucunya.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Kisah Saif bin Dzi Yazan dan Abdul Muthalib mengandung banyak hikmah penting:

1. Kekuasaan dan ilmu tidak selalu bertentangan

Seorang pemimpin yang bijak tetap mencari kebenaran dan menghormati wahyu.

2. Kemuliaan sejati bukanlah harta

Harta akan habis, tetapi amal dan nama baik akan tetap dikenang.

3. Nabi Muhammad telah disebut dalam berbagai tradisi kuno

Banyak riwayat Arab klasik mengisyaratkan adanya penantian terhadap nabi akhir zaman.

4. Allah menyiapkan segala sesuatu sebelum datangnya risalah

Perjalanan hidup Nabi Muhammad telah dipersiapkan jauh sebelum beliau menerima wahyu.

5. Madinah memiliki kedudukan istimewa

Sejak sebelum hijrah, kota Yatsrib telah disebut sebagai pusat dakwah dan kemenangan Islam.

Penutup

Kisah pertemuan Abdul Muthalib dengan Saif bin Dzi Yazan merupakan salah satu riwayat menarik dalam sejarah Arab sebelum Islam. Riwayat ini menggambarkan bagaimana sebagian tokoh besar pada masa itu meyakini akan datangnya seorang nabi yang membawa perubahan besar bagi dunia.

Bagi umat Islam, kisah ini menunjukkan bahwa kemunculan Nabi Muhammad bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan bagian dari rangkaian panjang sejarah yang telah dipersiapkan Allah sejak lama. Dari Yaman hingga Makkah, dari para raja hingga para pemuka Quraisy, berbagai isyarat tentang hadirnya Rasulullah terus muncul hingga akhirnya beliau diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Referensi:

وحدّثني علي بن محمد، عن جده الدعبل بن علي، أن سيف بن ذي يزن بن أسلم بن زيد بن الغوث الأصغر بن سعد بن عوف بن عدي بن مالك بن زيد بن شدد بن زرعه وهو حمير الأصغر بن كعب بن سهل بن عمرو بن قيس بن معاوية بن جشم بن عبد شمس لما وفد إليه عبد المطلب بن هاشم بن عبد مناف وأمية بن عبد شمس القرشي وخويلد بن أسد بن عبد العزى في النفر الذين وفدوا بهم من قريش، فاستأذن عبد المطلب له ولمن معه بالوصول إلى سيف بن ذي يزن واسمه النعمان بن معد يكرب بن أسلم بن زيد بن الغوث الأصغر. قال: فأذن لهم بالدخول، فدخلوا عليه، فاستأذن عبد المطلب بن هاشم في الكلام، فقال له وزير سيف بن ذي يزن: إن كنت ممن يتكلم بين أيدي الملوك فقد أذنَّا لك. قال: فقام عبد المطلب بين يديه وحوله الملوك وأبناء الملوك، وعن يمينه وشماله الأقاول وأبناء الأقاول وسيفه مجرد بين يديه، وهو مضمخ بالعنبر، ووبيص المسك في مفرقه. فقال له عبد المطلب: إن الله قد أحلك أيها الملك محلًا رفيعًا صعبًا منيعًا شامخًا باذخًا، وأنبتك منبتًا طابت أرومته وعزت جرثومته وثبت أصله وبسق فرعه في أكرم معدن وأطيب موطن، فأنت - أبيت اللعن - رأس العرب الذي تنقاد، وعمودها الذي عليه العماد، ومعقلها الذي تلجأ إليه العباد، وربيعها الذي تخضب منه البلاد، سلفك خير سلف، وأنت من بعدهم خير خلف، فلن يخمل ذكر من أنت سلفه ولن يهلك من أنت خلفه. أيها الملك نحن أهل حرم الله وسكنة بيته، أشخصنا إليك الذي أبهجنا من كشفك الكرب الذي فدحنا، فنحن وفد التهنئة لا وفد المرزئة.

قال: فلما سمع سيف بن ذي يزن هذا الكلام من عبد المطلب بن هاشم أقبل عليه بوجهه، فقال له: أيهم أنت أيها المتكلم؟ قال: أنا عبد المطلب بن هاشم بن عبد مناف. قال: فقال سيف بن ذي يزن: ابن أختنا؟ قال: نعم. قال: فقال سيف بن ذي يزن: ادن إلي يا عبد المطلب بن هاشم. ثم أقبل عليهم جميعًا فقال لهم: مرحبًا وأهلًا، وناقة ورحلًا، ومستناخًا سهلًا، وملكًا رِبحلًا يعطي عطاء جزلًا. قد سمع الملك مقالتكم، وعرف قرابتكم وقبل وسيلتكم، فأنتم أهل الليل والنهار، ولكم الكرامة ما أقمتم، والحباء إذا ظعنتم. ثم انهضوا إلى دار الضيافة والوفود. قال: فأقاموا شهرًا لا يصلون إليه، ولا يؤذن لهم بالانصراف. قال: وأجريت عليهم الأنزال. فلما كان بعد فراغ ذلك الشهر انتبه لهم سيف بن ذي يزن انتباهة، فأرسل على عبد المطلب بن هاشم فأدناه وأخلى مجلسه. ثم قال له: يا عبد المطلب، إني مفضٍ إليك من سر علمي أثرًا لو يكون غيرك لم أبُح له به، ولكني وجدتك معدنه، فأطلعتك عليه، فليكن ذلك عندك مطويًا حتى يأذن الله فيه، فإنه بالغ فيه أمره، فإني وجدت في الكتاب المكتوب والعلم المخزون الذي اخترناه لأنفسنا واحتجبناه دون غيرنا خبرًا جسيمًا وخطرًا عظيمًا، فيه شرف الحياة وفضل الممات، للناس عامة، ولرهطك كافة، ولك خاصة. فقال عبد المطلب: أيها الملك مثلك سر وبر، فما هو فداك أهل الوبر والمدر، زمرًا بعد زمر؟ قال: فقال سيف بن ذي يزن: إذًا ولد بتهامة غلام به علامة، له الإمامة، ولكم به الزعامة إلى يوم القيامة. قال: فقال عبد المطلب بن هاشم: أبيت اللعن لقد أبت بخبر ما آب به وفد قوم، ولولا هابة الملك وإعظامه وجلالته لسألته من إشارة إياي ما أزداد به شرفًا، فإن رأى الملك أن يخبرني بإفصاح فقد وضح لي بعض الإيضاح. قال: فقال سيف بن ذي يزن: هذا حينه الذي يولد فيه، أو قد ولد، اسمه محمد، بين كتفيه شامة، يموت أبوه وأمه، ويكلفه جده وعمه، قد ولدناه مرارًا، والله باعثه جهارًا، وجاعل له منا أنصارًا، تعز لهم أنصاره، وتذل بهم أعداؤه، ويضرب بهم الناس عن عرض، وتستفتح بهم كرائم الأرض، يعبد الرحمن، ويزجر الشيطان، ويكسر الأوثان، ويخمد النيران، قوله فصل، وحكمه عدل، يأمر بالمعروف ويفعله، وينهي عن المنكر ويبطله. قال: فخرَّ عبد المطلب ساجدًا. فقال: له سيف بن ذي يزن: ارفع رأسك، فقد ثلج صدرك وعلا كعبك، فهل أحسست من أمره شيئًا؟ قال: نعم أيها الملك، كان لي ولد، وكنت به معجبًا جذلًا، وعليه رفيقًا، فزوجته كريمة من كرائم قومي، يقال لها آمنة بنت وهب بن عبد مناف بن زهرة، فجاءت بغلام سميته محمدًا، مات أبوه وأمه، وكفلته أنا وعمه، بين كتفيه شامة، وفيه كلُّ ما ذكرت من العلامة. قال: فقال سيف بن ذي يزن: والبيت ذي الحجب، والعلامات على النقب، إنك يا عبد المطلب لجده غير الكذب، وإن الذي قلت لك ما قلت فاحتفظ بابنك، واحذر عليه اليهود، فإنهم له عدو، ولن يجعل الله لهم عليه سبيلًا. واطوا ما ذكرت لك دون هؤلاء الرهط الذين معك، فإني لست آمن أن تدخلهم النفاسة من أن تكون لك الرئاسة، فيبغون لك الغوائل، وينصبون لك الحبائل، وهو فاعلون ذلك وأبناؤهم، ولولا أن الموت مجتاحي قبل مبعثه لسرت بخيلي ورجلي حتى أُصَّير يثرب دار مملكتي، فإني أجد في الكتاب الناطق والعلم السابق أن مدينة يثرب استحكام أمره فيها، وأهل نصره وموضع قبره. ولولا أني أقيه الآفات وأبقي عليه العاهات لأوطأت أسنان العرب كعبه ولأعلنت على حداثة سنه ذكره، ولكني صارف ذلك إليك بغير تقصير بمن معك.

ثم أمر لكل رجل منهم بمائة من الإبل وعشرة أعبد وعشر جوار وعشرة أرطال تبر وعشرة أرطال فضة وكرش مملوء عنبرًا، وأمر لعبد المطلب بن هاشم بعشرة أضعاف ذلك. ثم قال له: ائتني بخبره وما يكون من أمره بعد رأس الحول.

قال: فمات سيف بن ذي يزن قبل أن يحول الحول. فكان عبد المطلب يقول: يا أيها الناس، لا يغبطني رجل منكم بجزيل عطاء الملك، فإنه إلى نفاد ولكن يغبطني بما يبقى لي ويعقبني من بعدي من شرفه وذكره وفخره. قال: فإذا قيل له ما ذلك؟ قال: ستبلغن ولو بعد حين.

وفي ذلك يقول أمية بن عبد شمس القرشي: «من الوافر»

جَلَبْنَا المدحَ تحقبه المطايا ... إلى أكوارِ أجمالٍ ونوقِ

مُغلغلةً مَرَابعُها ثِقالًا ... إلى صنعاءَ من فجٍّ عميقِ

تؤمُّ بنا ابن ذي يزنٍ وتفري ... ذوات بُطُونِها أُمَّ الطَّريقِ

وترعى في مخايلِه بُرُوقًا ... مُوافقةَ الوميضِ إلى بُروقِ

فلمّا وافقتْ صنعاءَ صارتْ ... بِدان المُلكِ والحسبِ العريقِ

Sumber :

ـ[وصايا الملوك وأبناء الملوك من ولد قحطان بن هود]ـ

المؤلف: دعبل بن علي الخزاعي الشاعر المشهور (المتوفى: ٢٤٦هـ)

رواية: علي محمد بن دعبل الخزاعي

Baca juga:

Wasiat Yazid bin Hasyim Dzul Kala': Pelajaran Kepemimpinan dan Kemuliaan dari Para Raja Terdahulu

 Wasiat Dzu Manakh: Rahasia Kemuliaan, Kedermawanan, dan Kepemimpinan yang Langgeng

Wasiat Dzu Ashbah: Rahasia Kepemimpinan, Kedermawanan, dan Kemuliaan Bangsa Himyar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apakah Isim Tidak Sama dan Tidak Berbeda dengan Musamma? Jawaban Tegas Imam Al-Ghazali tentang Nama, Sifat, dan Zat

Pendahuluan Dalam pembahasan mengenai hubungan antara isim (nama) dan musamma (yang dinamai) , Imam Al-Ghazali tidak hanya menguraikan ...