Pendahuluan
Sejarah para raja Himyar dan Dinasti
Tubba' menyimpan banyak pelajaran berharga tentang kepemimpinan, politik, dan
tata kelola negara. Di antara nasihat yang diwariskan dari generasi ke generasi
adalah wasiat Raja Ifriqis kepada saudaranya, As'ad Abu Karib,
yang kemudian menjadi salah satu penguasa terbesar dalam sejarah Tubba'.
Wasiat ini tidak hanya berbicara
tentang cara mempertahankan kekuasaan, tetapi juga mengajarkan pentingnya
keadilan, memilih orang-orang terbaik sebagai pembantu pemerintahan, menghadapi
musuh dengan keberanian, serta menjaga keamanan negara dari berbagai ancaman.
Menariknya, nasihat tersebut
diwariskan secara turun-temurun dari ayah kepada anak dan dari raja kepada
penerusnya, menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah kerajaan tidak lahir secara
kebetulan, melainkan melalui prinsip-prinsip yang dijaga sepanjang masa.
Pesan Ifriqis kepada As'ad Abu Karib
Menurut riwayat yang dinukil oleh
Ali bin Muhammad dari kakeknya, Ad-Di'bal bin Ali, Raja Ifriqis berpesan kepada
saudaranya As'ad Abu Karib:
"Engkau telah mengetahui apa
yang diwasiatkan ayah kita kepadaku, sebagaimana ia menerima wasiat itu dari
ayahnya, berupa nasihat para ayah dan leluhur tentang cara mengelola kerajaan
yang telah diberikan kepada kita."
Kalimat ini menunjukkan bahwa
kepemimpinan dalam tradisi para raja Tubba' bukan hanya warisan kekuasaan,
tetapi juga warisan nilai, pengalaman, dan kebijaksanaan.
Ifriqis menegaskan bahwa kerajaan
yang mereka miliki harus dipelihara berdasarkan prinsip-prinsip yang telah
terbukti berhasil sejak zaman nenek moyang mereka.
Lima Pilar Kepemimpinan Menurut Ifriqis
Dalam wasiatnya, Ifriqis menyebutkan
beberapa prinsip utama yang harus dipegang oleh seorang penguasa.
1.
Menegakkan Keadilan
Pesan pertama adalah:
"Berpeganglah pada apa yang
engkau lihat dariku dalam menebarkan keadilan."
Keadilan merupakan fondasi utama
sebuah pemerintahan. Ketika hukum ditegakkan secara adil, rakyat akan merasa
aman dan percaya kepada pemimpinnya.
Sebaliknya, ketidakadilan akan
melahirkan kebencian, pemberontakan, dan keruntuhan negara.
2.
Memilih Orang-Orang Terbaik
Ifriqis juga menasihati agar As'ad
melakukan:
"Istishna' ar-rijal"
(membina dan memilih orang-orang yang berkualitas).
Seorang pemimpin tidak dapat
menjalankan pemerintahan sendirian. Ia membutuhkan para pembantu, penasihat,
panglima, dan pejabat yang amanah serta kompeten.
Kualitas sebuah pemerintahan sering
kali ditentukan oleh kualitas orang-orang yang berada di sekeliling
pemimpinnya.
3.
Berani Menghadapi Musuh
Ifriqis mengingatkan saudaranya
untuk bersungguh-sungguh dalam menghadapi musuh.
Kerajaan yang kuat bukanlah kerajaan
yang menghindari tantangan, tetapi kerajaan yang siap menghadapi ancaman dengan
strategi, keberanian, dan keteguhan hati.
4.
Memaafkan Saat Berkuasa
Salah satu nasihat paling indah
dalam wasiat ini adalah:
"Memaafkan ketika memiliki
kekuasaan."
Banyak orang mampu memaafkan karena
tidak memiliki kekuatan untuk membalas. Namun, kemuliaan sejati muncul ketika
seseorang mampu membalas tetapi memilih memberi maaf.
Inilah sifat para pemimpin besar
yang memahami bahwa kekuasaan bukan alat untuk melampiaskan dendam.
5.
Menjaga Perbatasan dan Menutup Celah
Ifriqis juga memerintahkan:
"Menjaga benteng-benteng
perbatasan dan menghindari segala celah kelemahan."
Dalam konteks kerajaan kuno,
perbatasan adalah garis pertahanan negara. Kelalaian sedikit saja dapat membuka
jalan bagi musuh untuk menyerang.
Dalam kehidupan modern, pesan ini
dapat dipahami sebagai kewajiban menjaga keamanan, stabilitas, dan
mengantisipasi berbagai ancaman sebelum menjadi masalah besar.
Syair Wasiat Ifriqis
Setelah menyampaikan nasihatnya,
Ifriqis menggubah syair yang memperkuat pesannya.
Jangan
Abaikan Wasiat Leluhur
Beliau berkata:
Janganlah engkau menyimpang dari
wasiat yang telah diberikan kepadamu, karena wasiat itu adalah tujuan yang
telah teruji.
Syair ini menegaskan bahwa
pengalaman para pendahulu merupakan harta yang sangat berharga. Orang yang
bijaksana tidak mengabaikan pelajaran sejarah.
Setiap
Orang Memiliki Kedudukannya
Ifriqis juga mengatakan:
Setiap orang memiliki kedudukan di
tengah kaumnya; pemimpin tetaplah pemimpin.
Pesan ini mengajarkan pentingnya
memahami tanggung jawab masing-masing. Pemimpin memiliki amanah yang lebih
besar dibandingkan orang lain sehingga dituntut untuk menjadi teladan.
Manusia
Seperti Ranting Pohon
Dalam syairnya, manusia diibaratkan
seperti ranting-ranting pohon.
Ada ranting yang hijau, subur, dan
bermanfaat. Ada pula ranting yang kering dan layu.
Perumpamaan ini mengajarkan bahwa
manusia memiliki kualitas yang berbeda-beda. Karena itu seorang pemimpin harus
mampu mengenali karakter dan kemampuan setiap orang.
Berbuat
Baik kepada Rakyat
Nasihat penutup Ifriqis berbunyi:
Aku berwasiat kepadamu agar berbuat
baik kepada manusia, karena kerajaan mereka berada di tanganmu dan kedudukan
agung itu telah diberikan kepadamu.
Pesan ini menunjukkan bahwa hakikat
kekuasaan adalah pelayanan kepada rakyat, bukan sekadar menikmati kemuliaan dan
fasilitas.
As'ad Abu Karib Menjadi Raja
Menurut riwayat sejarah, setelah
wafatnya Ifriqis, kerajaan diwariskan kepada saudaranya, As'ad Abu Karib,
yang merupakan raja keempat dari kalangan Tubba'.
As'ad dikenal sebagai penguasa yang
mengikuti jejak para leluhurnya. Ia menerapkan prinsip-prinsip yang diwariskan
oleh ayah dan saudaranya dalam menjalankan pemerintahan.
Para sejarawan menyebut bahwa ia
berhasil memperluas wilayah kekuasaan hingga mencapai tingkat yang belum pernah
dicapai oleh raja-raja sebelumnya.
Kejayaan Kerajaan As'ad Abu Karib
Dalam sebuah syair terkenal, As'ad
menggambarkan besarnya kekuatan militernya.
Ia menyebut bahwa pasukan berkudanya
mencapai puluhan ribu ekor dan memiliki kekuasaan yang sangat luas.
Menurut syair tersebut, berbagai
wilayah membayar upeti kepada kerajaannya, termasuk:
- Sind
- India
- Kabul
- Cina
- Kirman
- Persia
- Khurasan
- Babilonia
Walaupun sebagian rincian ini
dipandang sebagai bentuk kebanggaan sastra dan simbol kejayaan kerajaan, syair
tersebut menunjukkan betapa besar pengaruh As'ad dalam tradisi sejarah Arab
kuno.
Gambaran
Kekuatan Militer
As'ad berkata:
Sembilan puluh ribu jumlah kuda
kami.
Ia juga menggambarkan pasukannya
seperti awan hujan yang bergerak memenuhi cakrawala.
Dalam sastra Arab klasik, gambaran
semacam ini merupakan simbol kekuatan, kemakmuran, dan stabilitas kerajaan.
Ekspansi dan Penaklukan
As'ad mengklaim bahwa banyak negeri
ditaklukkan melalui kekuatan militernya.
Syair tersebut menggambarkan
bagaimana pasukannya bergerak ke berbagai wilayah Timur dan Barat, membuka
jalur perdagangan, mengumpulkan pajak, dan menegakkan kekuasaan kerajaan.
Bagi masyarakat Arab kuno,
keberhasilan memperluas wilayah merupakan salah satu ukuran kebesaran seorang
raja.
Sakitnya As'ad dan Wasiat untuk Hasan
Pada masa akhir kehidupannya, As'ad
mengalami sakit keras setelah kembali dari perjalanan panjang yang terkenal
dalam riwayat kuno sebagai perjalanan memasuki "wilayah kegelapan"
(azh-zhulumat).
Ketika penyakitnya semakin parah dan
ia merasa ajal semakin dekat, pikirannya tertuju kepada putranya yang bernama Hasan
kecil (Hasan al-Ashghar).
Hasan ini dinamai sesuai nama
kakeknya.
Dalam kondisi sakit tersebut, As'ad
menggubah syair yang berisi nasihat kepada putranya.
Syair itu dibuka dengan kalimat yang
sangat menyentuh:
"Wahai Hasan, saat wafat ayahmu
telah dekat. Maka perhatikanlah dirimu, karena zaman terus berjalan."
Kalimat ini menjadi pengingat bahwa
tidak ada kekuasaan yang abadi. Raja yang menguasai negeri-negeri luas
sekalipun pada akhirnya akan menghadapi kematian dan meninggalkan seluruh
kejayaannya.
Hikmah dari Wasiat Ifriqis dan As'ad
Dari kisah ini terdapat banyak
pelajaran yang dapat diambil:
1.
Kepemimpinan harus diwarisi bersama nilai dan prinsip.
2.
Keadilan adalah fondasi kekuasaan yang kokoh.
3.
Pemimpin membutuhkan orang-orang berkualitas di sekelilingnya.
4.
Keberanian dan kesiapsiagaan menjaga keamanan negara sangat penting.
5.
Memaafkan saat berkuasa merupakan tanda kemuliaan jiwa.
6.
Pemimpin harus melayani rakyat, bukan memanfaatkan mereka.
7.
Sebesar apa pun kekuasaan seseorang, pada akhirnya ia akan meninggalkan dunia.
Penutup
Wasiat Raja Ifriqis kepada As'ad Abu
Karib merupakan salah satu mutiara kebijaksanaan dalam sejarah kerajaan Tubba'.
Nasihat tersebut menekankan pentingnya keadilan, pemilihan orang-orang terbaik,
keberanian menghadapi musuh, sikap pemaaf, dan kepedulian terhadap rakyat.
As'ad Abu Karib kemudian membuktikan
keberhasilan prinsip-prinsip tersebut dengan membawa kerajaannya mencapai
puncak kejayaan. Namun kisah hidupnya juga mengingatkan bahwa kekuasaan,
kemegahan, dan kemenangan hanyalah titipan yang suatu saat akan berakhir.
Yang tetap abadi bukanlah kerajaan,
melainkan kebijaksanaan, keadilan, dan warisan nilai yang ditinggalkan seorang
pemimpin kepada generasi setelahnya.
Referensi:
وحدّثني علي بن محمد، عن جده الدعبل بن علي، أن
إفريقيس وصى أخاه أسعد أبا كرب، فقال له: قد علمت ما عهد إلي أبونا مما عهد إليه
أبوه من وصايا الآباء والأجداد في سياسة هذا الملك الذي أوتينا من دون غيرنا،
فعليك بالتمسك بما وجدتني عليه من بث العدل واصطناع الرجال ومكابدة العدو والصفح
عند الاقتدار وسد الثغور وإتقاء الخلل.
وأنشأ يقول:
لمْ يروِ عنكَ ذخيرةً ممَّا بها ... مَلِكُ البلادِ
أَخوكَ إفريقيسُ
لا تعدِلَنَّ وَصِيَّةً وَصَّاكَهَا ... إن الوصيَّةَ
مَقصَدُ مأنوسُ
كُلَّ امرئٍ وبُلُوغُهُ في قومِهِ ... الكُلُّ كُلٌّ
والرَّئِيسُ رئيسُ
والنَّاسُ كالأغصانِ غُصنٌ ناضِرٌ ... مِنها وذاوٍ قد
علاهُ البُوْسُ
أَوصِيكَ خيرًا بالأنامِ فإنَّما ... لَكَ مُلكُهُمْ
والمنصِبُ القُدمُوسُ
قال علي بن محمد: قال الدعبل بن علي: فيقال: إن أسعد
وهو الرابع من التبابعة ولي الملك بعد أخيه إقريقيس بن حسان بن تبع بن عمرو ذي
الأذعار، فسار في الناس سيرة الأوائل من آبائه وأجداده، وملك من البلاد ما لم يملك
أحد قبله، وأعطي من العدد والعدد ما لم يعط ملك، وهو الذي يقول: «من السريع»
يا أَيُّها السَّائِلُ عن خَيلِنَا ... ما العَالِمُ
المُخبِرُ كالجاهلِ
تسعُونَ ألفًا عَددًا بُلقُها ... وَدُهمُها كالعارضِ
الوابلِ
عن مُلكِنَا النَّاس لم تَعصِنَا ... في الأرضِ من
حافٍ ومن ناعلِ
أَدَّتْ لنا الخَرجَ أحابيشُها ... والسِّندُ والهِندُ
مع كابُلِ
والصِّينُ قد أدَّتْ لنا خرجَهَا ... في عاجِلٍ
مِنْهَا وفي آجلِ
وكَمْ لنا في الشَّرقِ والغَربِ مِنْ ... مُستخرِجٍ
جابٍ وَمِنْ عَامِلِ
في أرضِ كرمانَ وفي فارسٍ ... وفي خُراسانَ وفي بابلِ
كُلًا فتحناها لَنَا عُنوةً ... تحفِلُ مِثلَ الدَّبَى
السَّائلِ
ويقال: إن أسعد الكامل مرض مرضة أشرف منها على التلف،
وذلك عند انصرافه من سفره الذي سافر فيه حين دخل الظلمات، وكان له ولد يقال له
حسان الأصغر، سماه باسم أبيه، ويقال: إنه لم يملك شيئًا، وهو الذي ذكره أبوه أسعد
الكامل في شعره، يوصيه فيه عند مرضته تلك، حيث يقول:
حَضَرتْ وفاةُ أَبِيكَ يا حَسَّانُ ... فانظُر
لِنَفسِك والزَّمانُ زمانُ
Sumber :
ـ[وصايا الملوك وأبناء الملوك من ولد قحطان بن هود]ـ
المؤلف: دعبل بن علي الخزاعي الشاعر المشهور (المتوفى:
٢٤٦هـ)
رواية: علي محمد بن دعبل الخزاعي
Baca juga:
Wasiat As'ad
Al-Kamil: Rahasia Kerajaan yang Kokoh Menurut Raja-Raja Tubba'
Wasiat Raja Tubba'
bin Amr kepada Putranya Hasan: Rahasia Kepemimpinan dan Menjaga Kekuasaan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar