Wasiat As'ad Al-Kamil: Rahasia Kerajaan yang Kokoh Menurut Raja-Raja Tubba'

Pendahuluan

Dalam sejarah kerajaan Himyar dan para raja Tubba' di Yaman kuno, terdapat banyak nasihat berharga yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu yang paling menarik adalah wasiat As'ad Al-Kamil, seorang raja besar yang dikenal sebagai salah satu penguasa paling lama hidup di antara para Tubba'.

Wasiat ini membahas fondasi kekuasaan, hubungan antara pemimpin dan rakyat, pentingnya keadilan, serta cara menjaga kerajaan agar tetap kuat dan bertahan lama. Nasihat tersebut tidak hanya relevan bagi para raja pada masa lalu, tetapi juga bagi para pemimpin, pengusaha, ulama, dan siapa saja yang memegang amanah kepemimpinan pada zaman sekarang.

Siapakah As'ad Al-Kamil?

Menurut riwayat yang dinukil oleh Ali bin Muhammad dari kakeknya Ad-Di'bal bin Ali, As'ad Al-Kamil merupakan salah satu raja besar dari kalangan Tubba'. Ia dikenal sebagai sosok yang panjang umur dan memiliki pengaruh besar dalam sejarah kerajaan Himyar.

Setelah memimpin kerajaan dengan sukses, ia mewariskan berbagai petuah kepada generasi penerusnya agar mampu menjaga kejayaan yang telah dibangun oleh para leluhur mereka.

Fondasi Kerajaan adalah Manusia

As'ad Al-Kamil memulai wasiatnya dengan sebuah prinsip yang sangat mendalam:

"Tidak ada sesuatu pun kecuali memiliki asal dan fondasi. Fondasi kerajaan dan dasarnya adalah manusia."

Pernyataan ini menunjukkan bahwa kekuatan sebuah negara, kerajaan, atau organisasi tidak bergantung semata-mata pada kekayaan, benteng, atau luas wilayahnya.

Kekuatan sejati terletak pada manusia yang berada di dalamnya.

Banyak kerajaan besar runtuh bukan karena kekurangan harta atau pasukan, melainkan karena kehilangan dukungan dari orang-orang yang menjadi penopangnya.

Kunci Menguasai Hati Manusia

Setelah menjelaskan bahwa manusia adalah fondasi kerajaan, As'ad mengungkapkan rahasia bagaimana mendapatkan loyalitas mereka:

"Fondasi manusia adalah berbuat baik kepada mereka."

Menurutnya, seorang pemimpin yang memperlakukan rakyat dan bawahannya dengan baik akan mendapatkan ketaatan dan dukungan.

Sebaliknya, pemimpin yang zalim atau mengabaikan kepentingan rakyatnya lambat laun akan kehilangan kepercayaan mereka.

Prinsip ini berlaku hingga hari ini.

Seorang pemimpin perusahaan yang menghargai karyawannya akan memperoleh loyalitas yang tinggi. Demikian pula seorang kepala keluarga yang memperlakukan anggota keluarganya dengan kasih sayang akan mendapatkan penghormatan dari mereka.

Dari Ketaatan Menuju Kekuasaan

As'ad melanjutkan:

"Barang siapa berbuat baik kepada manusia, mereka akan mentaatinya. Barang siapa ditaati manusia, maka negeri-negeri akan tunduk kepadanya."

Dalam pandangan beliau, kekuasaan yang sesungguhnya tidak lahir dari paksaan, tetapi dari kepercayaan.

Pasukan yang setia, pejabat yang jujur, dan rakyat yang mendukung akan menjadi sumber kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan ancaman atau ketakutan.

Karena itu, para pemimpin besar selalu berusaha membangun hubungan yang baik dengan orang-orang di sekitarnya.

Keadilan dan Ihsan: Dua Pilar Kekuasaan

As'ad Al-Kamil kemudian menegaskan sebuah kaidah penting:

"Tidak ada ketaatan bagi orang yang tidak memiliki keadilan, dan tidak ada kerajaan bagi orang yang tidak memiliki ihsan."

Keadilan dan ihsan menjadi dua pilar utama dalam mempertahankan kekuasaan.

Keadilan

Keadilan menciptakan rasa aman. Ketika rakyat merasa diperlakukan secara adil, mereka akan menghormati pemimpinnya.

Ihsan

Ihsan berarti berbuat baik melebihi sekadar memenuhi kewajiban.

Seorang pemimpin yang memiliki ihsan tidak hanya menjalankan tugasnya secara formal, tetapi juga menunjukkan kepedulian, kemurahan hati, dan perhatian terhadap kesejahteraan rakyatnya.

Syair As'ad tentang Pentingnya Manusia dalam Kerajaan

Untuk memperkuat pesannya, As'ad menggubah syair yang menegaskan bahwa manusia adalah sumber kekuatan kerajaan.

Beliau berkata:

Tidak ada kerajaan tanpa para lelaki yang menegakkannya dengan pedang dan keberanian.

Dalam syair tersebut, para pendukung kerajaan digambarkan sebagai pasukan pemberani yang menjaga negeri dan mempertahankan kemuliaan rajanya.

Manusia adalah Tiang Kemuliaan

As'ad menegaskan:

Mereka adalah fondasi kemuliaan dan kehormatan.

Pesan ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak akan mencapai keberhasilan sendirian.

Kesuksesan selalu lahir dari kerja sama, loyalitas, dan dukungan banyak pihak.

Ketaatan Membawa Kejayaan

Beliau juga menjelaskan bahwa ketika rakyat dan pasukan taat kepada pemimpinnya, maka kejayaan akan diraih dan kerajaan akan menjadi kuat.

Sebaliknya, jika mereka membangkang, maka kehancuran akan mendekat.

Ini adalah hukum sosial yang berlaku dalam setiap zaman.

Pentingnya Keluarga dan Pendukung

Dalam akhir syairnya, As'ad berkata:

"Bekal seseorang di tengah manusia adalah keluarganya. Bukankah kemuliaan dibangun di atas fondasi yang kuat?"

Ungkapan ini menunjukkan bahwa dukungan keluarga dan lingkungan yang baik merupakan modal penting bagi keberhasilan seseorang.

Wasiat kepada Yasar Yan'um

Selain mewariskan prinsip-prinsip kepemimpinan, As'ad juga memberikan nasihat kepada putranya, Yasar Yan'um, yang kelak menjadi raja keenam dari kalangan Tubba'.

Dalam wasiat ini, beliau menggunakan perumpamaan yang sangat indah.

Kerajaan Ibarat Sebuah Lampu

As'ad berkata:

"Wahai anakku, sesungguhnya kerajaan itu seperti sebuah lampu, dan raja adalah orang yang menyalakannya."

Perumpamaan ini termasuk salah satu analogi kepemimpinan terbaik dalam literatur Arab klasik.

Lampu hanya akan terus menyala apabila dijaga dengan baik.

Demikian pula kerajaan hanya akan bertahan apabila pemimpinnya menjaga seluruh faktor yang menopangnya.

Empat Ancaman bagi Kerajaan

Menurut As'ad, ada beberapa hal yang dapat memadamkan lampu kerajaan.

1. Angin yang Memadamkan Cahaya

Angin melambangkan ancaman dari luar, seperti musuh, konflik, atau krisis yang datang secara tiba-tiba.

Pemimpin harus selalu waspada terhadap berbagai tantangan yang dapat mengguncang stabilitas pemerintahannya.

2. Kehabisan Bahan Bakar

Lampu tidak akan menyala tanpa bahan bakar.

Dalam konteks kerajaan, bahan bakar dapat dimaknai sebagai sumber daya, ekonomi, dukungan rakyat, dan kekuatan militer.

Jika semua itu habis, maka kerajaan akan kehilangan kekuatannya.

3. Sumbu yang Terbakar Habis

Sumbu merupakan alat yang menghubungkan bahan bakar dengan cahaya.

Ini dapat diibaratkan sebagai para pejabat, penasihat, dan orang-orang yang menjalankan roda pemerintahan.

Jika mereka rusak, maka pemerintahan juga akan terganggu.

4. Penjaga Lampu yang Lalai

As'ad menjelaskan bahwa lampu juga dapat padam karena kelalaian orang yang menjaganya.

Inilah peringatan bahwa kegagalan terbesar dalam kepemimpinan sering kali bukan berasal dari musuh, melainkan dari kelalaian pemimpin itu sendiri.

Syair Nasihat untuk Yasar Yan'um

Dalam syairnya, As'ad berkata:

Aku telah membuat berbagai perumpamaan untukmu wahai Yasar Yan'um, dan engkau memahami apa yang kusampaikan.

Beliau kemudian mengingatkan bahwa putranya kelak akan menjadi pewaris kerajaan dan memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga warisan leluhur.

Kerajaan Harus Dijaga dengan Kerja Sama

As'ad menasihatinya:

Tolonglah orang lain dan mintalah pertolongan selama engkau masih menaiki kendaraan kemuliaan.

Kalimat ini menunjukkan pentingnya kerja sama dalam kepemimpinan.

Tidak ada pemimpin yang mampu berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain.

Cahaya Kerajaan Harus Terus Menyala

Beliau menutup syairnya dengan menjelaskan bahwa selama lampu kerajaan terlindung dari berbagai ancaman, maka ia akan terus menerangi kegelapan dan menunjukkan jalan yang benar.

Namun jika pemimpin lalai, maka cahaya itu akan padam dan kerajaan akan kehilangan arah.

Yasar Yan'um Menjaga Warisan Leluhur

Riwayat menyebutkan bahwa Yasar Yan'um berhasil menjalankan wasiat ayahnya dengan baik.

Ia berpegang teguh pada nasihat para leluhur, menjaga tradisi pemerintahan yang telah diwariskan turun-temurun, dan tidak menyimpang dari jalan yang ditempuh oleh para pendahulunya.

Karena itulah pemerintahannya tetap stabil dan dihormati oleh rakyatnya.

Pelajaran Kepemimpinan dari Wasiat As'ad Al-Kamil

Dari wasiat berharga ini, terdapat sejumlah hikmah yang dapat diambil:

1. Manusia adalah aset terbesar sebuah negara dan organisasi.

2. Kebaikan kepada manusia melahirkan loyalitas dan dukungan.

3. Keadilan adalah syarat utama ketaatan rakyat.

4. Ihsan dan kepedulian menjaga kekuasaan tetap kokoh.

5. Pemimpin tidak akan berhasil tanpa orang-orang yang mendukungnya.

6. Kerajaan yang kuat harus menjaga sumber daya dan sistem pendukungnya.

7. Kelalaian pemimpin dapat menghancurkan kekuasaan yang telah dibangun bertahun-tahun.

8. Warisan nilai dan kebijaksanaan lebih penting daripada sekadar mewariskan kekuasaan.

Penutup

Wasiat As'ad Al-Kamil merupakan salah satu mutiara kebijaksanaan dalam sejarah para raja Tubba'. Melalui perumpamaan tentang manusia sebagai fondasi kerajaan dan kerajaan sebagai lampu yang harus dijaga, beliau menjelaskan hakikat kepemimpinan yang sesungguhnya.

Kekuasaan tidak dibangun oleh harta semata, tetapi oleh manusia yang loyal. Loyalitas lahir dari keadilan dan kebaikan. Ketika seorang pemimpin mampu menegakkan keduanya, maka kerajaannya akan tetap bercahaya sebagaimana lampu yang terus menyala di tengah kegelapan zaman.

Referensi:

وحدّثني علي بن محمد، عن جده الدعبل بن علي، أن أسعد الكامل وصى، وهو عم أبيه، وهو المعمر من التبابعة، وهو تبع بن زيد بن رفيدة بن عمرو ذي الأذعار، وهو الخامس من التبابعة، فقال له: ما من شيء إلا وله أصل وأساس، وأصل الملك وأساسه الرجال، وأساسها الاحسان إليها، ومن أحسن إلى الرجال أطاعته وسمعت له، ومن سمعت له الرجال دانت له البلاد ومن فيها، وما دانت البلاد ومن فيها إلا لمالكها بعد الله عز وجل، وحكم لمالكها أن يستديم له الملك فيها بالعدل والإحسان، فإنه لا طاعة لمن لا عدل له، ولا ملك لمن لا إحسان له. ثم أنشأ يقول: «من البسيط»

لا مُلكَ إلا الرِّجالُ المُحضِرُونَ لَهُ ... بالمَشرَفيَّةِ والصُّمِّ المَدَاعِيسِ

في الخافقينِ لهُمْ ضربٌ تَطِيُر لَهُ ... أيديْ الحُماةِ وهَامَاتُ القناعيسِ

فَهُمْ أساسُ العُلا والمكرُمَاتِ ... وهُمْ لرائِم المُلكِ عِزٌّ غيرُ مَنْكوسِ

متى أَطاعوهُ وانهَلَّتْ تبابِعَةٌ ... في الرَّحلِ منها وفي الخيلِ الكراديسِ

نالَ العُلا وحوى المُلكَ العظيمَ بهِمْ ... والحظُّ في المُلكَ جاءَ غيرَ منحُوسِ

وَمَنْ عَصَوهُ فمدحُورٌ وَمُنَكشفُ ... ومَنْ أطاعُوهُ عالٍ غيرَ مَنخُوسِ

وعدة المَرءِ دُونَ النَّاس أُسرتُهُ ... وهَلْ تُشادُ العُلا إلا بتأسيسِ

قال علي بن محمد: قال الدعبل بن علي: فيقال: ابن التبع بن زيد بن رفيدة بن عمرو بن أبرهة بن الرائش، ولي الملك بعد أسعد بن حسان المعروف بملكيكرب الأقرن، فأحسن سيرته في الناس، وملك ما ملك الأوائل من آبائه وأجداده، ويقال إنه وصى ابنه ياسر ينعم بن تبع بن زيد بن رفيدة بن ذي الأذعار، وهو السادس من التبابعة، فقال له: يا بني إن الملك مصباح، والملك واقد ذلك المصباح، فإن حفظه من ريح يطفئه أو من ذبالة لا تساعفه أو من وقود يقطع به منه أو من مستوقد لا يخونه دام له ذلك المصباح وسلم ضياؤه ونوره ما شاء أن يضيء له، وإن هو غفل عنه بعد أن أوقده، ولم يقم حق قيامه عليه أطفأته الريح، فإن سلم من الريح لم يسلم أن يطفأ عند انقطاع الوقود عنه، فإن سلم من انقطاع الوقود لم يسلم من أن يطفأ عند احتراق الذبالة، ولا يؤمن عند احتراق الذبالة من مستوقد الصباح أن يطير المستوقد قلقًا؛ فلا النور ساطع، ولا المستوقد صحيح، ولا الذبالة سالمة، ولا الواقد محمود. ثم أنشأ يقول:

ضَربتُ لكَ الأمثالَ ياسرُ ينعمُ ... وأنتَ بما يُوحى إليكَ خبيرُ

وأنت غدًا للمُلكِ مِنْ دونِ كُلِّ من ... يُحاولُ مُلكًا في البلادِ جديرُ

أَعِنْ واستَعِنْ ما دُمتَ للعِزِّ راكِبًا ... وفي كفِّكَ المُلكُ اللَّقاحُ جَريرُ

فإنِّيْ رأيتُ المُلكَ مِصبَاحَ سامرٍ ... إذا نالَهَ أمرٌ فليسَ ينيرُ

فإن لم يخنه بُؤسُهُ ووقُودُهُ ... ويسلمَ مِنْ ريحٍ عليهِ تدورُ

يُضِيُء ومِنْ تحتِ الظَّلامِ سِرَاجُهُ ... يُضيءُ له الديجور فهو بصيرُ

قال علي بن محمد: قال الدعبل بن علي: فيقال إن ياسر ينعم بن تبع بن زيد بن ذي الأذعار بن ذي المنار بن الرائش بن قيس بن صيفي بن سبأ الأصغر ثبت بعد أبيه على وصايا آبائه وأجداده، وحفظها، وعمل بها في سياسة الملك ما ثبته بين الناس، ولم يتعد سيرة أسلافه وسنن أوائله.

Sumber :

ـ[وصايا الملوك وأبناء الملوك من ولد قحطان بن هود]ـ

المؤلف: دعبل بن علي الخزاعي الشاعر المشهور (المتوفى: ٢٤٦هـ)

رواية: علي محمد بن دعبل الخزاعي

Baca juga:

Wasiat Raja Ifriqis kepada As'ad Abu Karib: Rahasia Keadilan dan Kejayaan Kerajaan Tubba'

Wasiat Abrahah Dzu Al-Manar kepada Amr Dzu Al-Adz'ar: Kepemimpinan Ibarat Petani yang Merawat Tanamannya

Wasiat Yasar Yan'um kepada Syammar Dzul Janah: Rahasia Kepemimpinan Raja Tubba' Terbesar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Maulid Simthudduror Makna Pesantren

Download Kitab PDF : Maulid Simthudduror Makna Pesantren | Google Drive Download Kitab PDF : Maulid Simthudduror Ma...