Dalam khazanah sejarah Arab kuno,
banyak ditemukan nasihat para raja dan pemimpin yang diwariskan kepada generasi
setelah mereka. Salah satu wasiat yang menarik untuk dikaji adalah wasiat Tubba'
bin Amr Dzi al-Adz'ar, salah seorang raja besar dari kalangan Taba'ah (para
raja Himyar di Yaman), kepada putranya yang bernama Hasan Malik Yakrib.
Wasiat ini bukan sekadar petuah
seorang ayah kepada anaknya, melainkan juga pelajaran berharga tentang hakikat
kepemimpinan, pentingnya tanggung jawab, dan cara mempertahankan kekuasaan
dengan bijaksana. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap relevan hingga
hari ini, baik bagi pemimpin negara, pemimpin organisasi, maupun setiap orang
yang memikul amanah dalam kehidupannya.
Siapakah Tubba' bin Amr Dzi al-Adz'ar?
Menurut riwayat yang dinukil dari
Ali bin Muhammad, dari kakeknya Ad-Di'bal bin Ali, Tubba' bin Amr Dzi al-Adz'ar
adalah salah satu raja besar dari dinasti Tubba'. Ia mewariskan kerajaan kepada
putranya, Hasan Malik Yakrib, yang disebut sebagai raja kedua dari
kalangan Taba'ah setelahnya.
Sebelum menyerahkan tampuk
kekuasaan, sang raja memberikan nasihat yang sangat mendalam tentang makna
kerajaan dan kepemimpinan.
Kerajaan adalah Sebuah Keahlian
Tubba' berkata kepada putranya:
"Wahai anakku, sesungguhnya
kerajaan adalah sebuah keterampilan (profesi), dan raja adalah pelakunya."
Ungkapan ini mengandung makna yang
luar biasa. Sang raja tidak memandang kekuasaan sebagai hak istimewa semata,
melainkan sebagai sebuah pekerjaan yang membutuhkan kemampuan, ketekunan, dan
tanggung jawab.
Dalam pandangannya, seorang raja
tidak berbeda dengan seorang pengrajin yang harus menguasai pekerjaannya. Jika
seorang pengrajin bekerja dengan baik, hasil karyanya akan dihargai oleh
manusia. Demikian pula seorang pemimpin; jika ia menjalankan tugasnya dengan
baik, rakyat akan menghormatinya dan pemerintahannya akan kokoh.
Sebaliknya, apabila seorang pemimpin
meremehkan amanah yang berada di tangannya, maka kekuasaan itu akan hilang
sebagaimana seorang pengrajin kehilangan keahliannya karena malas dan lalai.
Pentingnya Menunaikan Amanah Kepemimpinan
Tubba' melanjutkan nasihatnya:
"Jika pelakunya menjalankan
pekerjaannya dengan benar, manusia akan menghargainya, urusannya menjadi kuat,
dan ia memperoleh harta serta kemuliaan."
Kalimat ini menunjukkan bahwa
keberhasilan seorang pemimpin tidak lahir dari keberuntungan semata.
Keberhasilan merupakan buah dari kerja keras, ketekunan, dan kesungguhan dalam
mengelola amanah.
Dalam kehidupan modern, prinsip ini
dapat diterapkan dalam berbagai bidang:
- Pemimpin perusahaan harus mengelola organisasinya
dengan profesional.
- Guru harus mengajar dengan penuh tanggung jawab.
- Orang tua harus mendidik anak-anaknya dengan baik.
- Pejabat harus melayani masyarakat dengan amanah.
Siapa pun yang menjalankan tugasnya
dengan sungguh-sungguh akan memperoleh kepercayaan dan penghormatan dari orang
lain.
Bahaya Meremehkan Tanggung Jawab
Tubba' juga memperingatkan putranya
tentang akibat buruk dari kelalaian.
Beliau berkata bahwa apabila seorang
raja meremehkan tugasnya dan tidak menunaikan hak-hak kepemimpinan sebagaimana
mestinya, maka kerajaan akan lepas dari tangannya dan manfaat kekuasaan akan
hilang darinya.
Lebih dari itu, ia akan mendapatkan
dua kerugian besar:
- Kehilangan kekuasaan dan manfaatnya.
- Mendapatkan celaan dan kehinaan.
Inilah hukum kehidupan yang berlaku
sepanjang zaman. Banyak kerajaan runtuh, perusahaan bangkrut, dan organisasi
hancur bukan karena kurangnya sumber daya, melainkan karena para pemimpinnya
mengabaikan tanggung jawab.
Setiap Orang Akan Memanen Hasil Perbuatannya
Dalam akhir nasihatnya, Tubba' mengingatkan
putranya:
"Setiap jiwa memperoleh apa
yang telah diusahakannya dan menanggung akibat dari apa yang
dikerjakannya."
Kalimat ini sejalan dengan prinsip
keadilan yang diajarkan dalam banyak tradisi keagamaan dan moral.
Manusia tidak akan mendapatkan hasil
tanpa usaha. Demikian pula kesalahan dan kelalaian yang dilakukan seseorang
pada akhirnya akan kembali kepada dirinya sendiri.
Karena itu, seorang pemimpin
hendaknya tidak menyalahkan keadaan, rakyat, atau bawahannya ketika terjadi
kegagalan. Ia harus terlebih dahulu melakukan introspeksi terhadap dirinya
sendiri.
Syair Tubba' tentang Kepemimpinan
Setelah memberikan nasihat, Tubba'
melantunkan beberapa bait syair yang menggambarkan perjalanan hidup dan
pengalamannya dalam memimpin kerajaan.
Teks
Syair
Aku senantiasa memegang kerajaan
setelah ayahku,
Mengaturnya setelah para leluhur dan nenek moyangku.
Aku menjaga segala kebaikannya
dengan seluruh kemampuanku,
Melindunginya sepanjang hidupku, dan meneguhkannya untuk anak cucuku.
Aku telah memberikan kepadamu
berbagai perumpamaan tentang kerajaan,
Dan engkau telah mengetahui bagaimana aku mengelola urusannya.
Maka lakukanlah apa yang selama ini
aku lakukan dalam kerajaan,
Niscaya engkau akan memperoleh petunjuk melalui nasihatku, wahai Hasan.
Makna Syair Tubba'
Syair tersebut mengandung beberapa
pesan penting.
1.
Kepemimpinan adalah Amanah Warisan
Tubba' menyadari bahwa kerajaan yang
berada di tangannya bukanlah hasil jerih payahnya seorang diri. Ia menerima
warisan dari ayah dan leluhurnya.
Karena itu, ia merasa berkewajiban
menjaga dan mengembangkannya sebelum menyerahkannya kepada generasi berikutnya.
2.
Menjaga Lebih Sulit daripada Memperoleh
Dalam syairnya, Tubba' menegaskan
bahwa ia terus menjaga kerajaan dengan seluruh kemampuan yang dimiliki.
Sering kali memperoleh suatu
kedudukan lebih mudah daripada mempertahankannya. Banyak orang berhasil meraih
jabatan, tetapi tidak mampu menjaganya karena kurangnya integritas dan
kemampuan.
3.
Pentingnya Belajar dari Pengalaman
Tubba' tidak hanya memberikan teori
kepada putranya. Ia menunjukkan bahwa Hasan telah menyaksikan sendiri bagaimana
dirinya memimpin kerajaan.
Ini mengajarkan bahwa pengalaman
merupakan guru terbaik. Seorang pemimpin muda harus belajar dari orang-orang
yang lebih berpengalaman sebelum mengambil keputusan besar.
4.
Mengikuti Jejak yang Baik
Nasihat terakhir dalam syair
tersebut adalah agar Hasan mengikuti prinsip-prinsip kepemimpinan yang telah
terbukti berhasil.
Ini bukan berarti menolak pembaruan,
tetapi mengambil hikmah dari pengalaman generasi sebelumnya dan
mengembangkannya sesuai kebutuhan zaman.
Siapakah Hasan yang Menerima Wasiat Ini?
Dalam sebagian riwayat disebutkan
bahwa Hasan yang dimaksud adalah Hasan al-Aqran.
Dikisahkan bahwa ia wafat di wilayah
Maghrib (Afrika Utara). Setelah kematiannya, kekuasaan berpindah kepada Ifriqis,
yang dikenal sebagai raja ketiga dari kalangan Taba'ah.
Sebagian ahli sejarah menyebut
namanya sebagai Ifriqisy. Terdapat perbedaan pendapat mengenai pelafalan
namanya, namun semuanya merujuk kepada tokoh yang sama.
Kisah Ifriqis dan Penamaan Afrika
Beberapa riwayat kuno menyebutkan
bahwa Ifriqis adalah tokoh yang membangun sebuah kota di wilayah Maghrib yang
kemudian dikenal dengan nama Ifriqiyah.
Nama tersebut dinisbatkan kepada
dirinya. Dari sinilah muncul salah satu pendapat sejarah yang mengaitkan nama
wilayah Afrika Utara dengan nama Ifriqis.
Meskipun para sejarawan modern
memiliki pandangan yang berbeda mengenai asal-usul nama Afrika, riwayat ini
tetap menjadi bagian menarik dari warisan sejarah Arab klasik.
Pelajaran Berharga dari Wasiat Tubba' bin Amr
Dari wasiat singkat ini, kita dapat
mengambil sejumlah hikmah penting:
1.
Kepemimpinan adalah keterampilan yang harus dipelajari.
2.
Kekuasaan bukan hak istimewa, melainkan amanah.
3.
Kesungguhan dalam bekerja menghasilkan kemuliaan dan keberhasilan.
4.
Kelalaian akan membawa kehancuran dan penyesalan.
5.
Setiap manusia akan menuai hasil dari perbuatannya sendiri.
6.
Pengalaman generasi terdahulu merupakan sumber pelajaran yang sangat berharga.
7.
Menjaga amanah lebih sulit daripada mendapatkannya.
Penutup
Wasiat Tubba' bin Amr kepada
putranya Hasan merupakan salah satu nasihat kepemimpinan yang sarat makna.
Dengan perumpamaan sederhana bahwa kerajaan adalah sebuah keterampilan dan raja
adalah pelakunya, beliau mengajarkan bahwa keberhasilan seorang pemimpin
bergantung pada kesungguhan dalam menjalankan amanah.
Pesan ini tetap relevan sepanjang
masa. Setiap orang yang diberi tanggung jawab—baik sebagai pemimpin keluarga,
guru, pengusaha, pejabat, maupun pemimpin masyarakat—harus menyadari bahwa
amanah hanya akan bertahan di tangan mereka yang menjaganya dengan ilmu, kerja
keras, dan integritas.
Karena pada akhirnya, sebagaimana
diingatkan oleh Tubba' bin Amr, setiap jiwa akan memperoleh hasil dari apa yang
diusahakannya dan akan menanggung akibat dari apa yang dikerjakannya.
Referensi:
وصية تبع بن عمرو
وحدّثني علي بن محمد، عن جده الدعبل بن علي، أن التبع
بن عمرو ذي الأذعار وصى ابنه حسان ملك يكرب، وهو الثاني من التبابعة، فقال له: يا
بني، إن الملك صنعة والملك صانع، فإن قام الصانع حق قيامه على صنعته استجادها
الناس له، واستحكم أمره فيها فكسب بها المال والجاه وكانت له عدة وذخيرة. وإن
استهان بها ولم يقم حق قيامه عليها ذهبت الصنعة عن يده، وانقطعت منافعها عنه،
واكتسب الذم لنفسه والحرمان، وكل نفس لها ما كسبت وعليها ما اكتسبت.
وأنشأ يقول: «من البسيط»
ما زِلتُ بعدَ أبي بالمُلكِ مُنفرِدًا ... أسُوسُهُ
بعد أسلافي وأجداديْ
أَحميْ محاسِنَهُ جهدي وأكلؤُهُ ... دَهرِيْ وأحكمهُ
بعديْ لأولاديْ
وقدْ ضربتُ لكَ الأمثالَ فِيهِ وقدْ ... عَرفَتَ في
المُلكِ إصداريْ وإيراديْ
فاعمَلْ بما لم أَزَلْ مُذْ كُنتُ أَعمَلُهُ ... في
المُلكِ يرشِدكَ يا حَسَّانُ إرشاديْ
ويقال: إن حسان هو الأقرن. توفي بأرض المغرب، فولي
الملك بعده إفريقيس. ويقال: إنه اسمه إفريقيش، كل ذلك قد قيل. ويقال إنه هو الذي
بنى بالمغرب مدينة، يقال لها إفريقية، منسوبة إلى اسمه. وهو الثالث من التبابعة.
Sumber :
ـ[وصايا الملوك وأبناء الملوك من ولد قحطان بن هود]ـ
المؤلف: دعبل بن علي الخزاعي الشاعر المشهور (المتوفى:
٢٤٦هـ)
رواية: علي محمد بن دعبل الخزاعي
Baca juga:
Wasiat Raja Ifriqis
kepada As'ad Abu Karib: Rahasia Keadilan dan Kejayaan Kerajaan Tubba'

Tidak ada komentar:
Posting Komentar