Pendahuluan
Dalam rangkaian wasiat para raja
keturunan Qahtan bin Hud, terdapat nasihat yang penuh hikmah dari Abrahah Dzu
Al-Manar kepada putranya, Amr Dzu Al-Adz'ar. Wasiat ini menggunakan perumpamaan
yang sangat menarik: kerajaan diibaratkan sebagai ladang pertanian, sedangkan
raja adalah pengelola yang bertanggung jawab atas pertumbuhan dan
keberhasilannya.
Melalui perumpamaan tersebut,
Abrahah menjelaskan bahwa kejayaan sebuah kerajaan tidak lahir secara
kebetulan. Sebagaimana tanaman membutuhkan air, perawatan, dan perlindungan
agar menghasilkan panen yang baik, demikian pula sebuah negara membutuhkan
kepemimpinan yang bijaksana, perhatian yang berkelanjutan, dan kepedulian
terhadap rakyatnya.
Wasiat ini menjadi salah satu
pelajaran penting tentang manajemen, kepemimpinan, dan tanggung jawab yang
tetap relevan hingga masa kini.
Abrahah Dzu Al-Manar dan Warisan Kepemimpinan Himyar
Abrahah Dzu Al-Manar adalah putra
Al-Harits Ar-Ra'isy, salah seorang raja besar dalam sejarah Himyar. Ia dikenal
sebagai penguasa yang melakukan berbagai ekspedisi ke wilayah-wilayah jauh dan
membangun tanda-tanda jalan serta penunjuk arah bagi para pelancong dan
pasukan.
Karena jasanya memasang panji-panji,
mercusuar, dan penanda perjalanan di berbagai jalur penting, ia memperoleh
gelar Dzu Al-Manar yang berarti "Pemilik Penanda atau Mercusuar."
Ketika masa pemerintahannya
mendekati akhir, ia mempersiapkan putranya, Amr Dzu Al-Adz'ar, untuk meneruskan
kepemimpinan yang telah diwariskan turun-temurun sejak zaman para leluhur
mereka.
Kerajaan Adalah Ladang yang Harus Dirawat
Nasihat utama Abrahah kepada
putranya dimulai dengan sebuah perumpamaan yang sangat mendalam.
Ia mengatakan bahwa kerajaan adalah
sebuah tanaman, sedangkan raja adalah pengelola yang bertanggung jawab atas
tanaman tersebut.
Seorang pengelola yang baik akan:
- Menyirami tanaman ketika membutuhkannya.
- Menanam bibit-bibit unggul untuk meningkatkan hasil
panen.
- Memelihara dan merawat tanaman secara berkelanjutan.
- Melindunginya dari gangguan hewan dan burung yang dapat
merusaknya.
Jika semua itu dilakukan dengan
baik, maka hasil panen akan melimpah, tanah menjadi subur, dan sang pengelola
akan dipuji oleh banyak orang.
Perumpamaan ini menggambarkan bahwa
keberhasilan suatu negara sangat bergantung pada perhatian pemimpinnya terhadap
berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Bahaya Pemimpin yang Lalai
Abrahah juga mengingatkan putranya
tentang akibat buruk dari kelalaian.
Menurutnya, jika seorang pengelola
tidak memperhatikan tanamannya, tidak menyiraminya, tidak melindunginya, dan
tidak merawatnya dengan baik, maka berbagai kerusakan akan terjadi.
Tanaman akan:
- Layu karena kekeringan.
- Rusak karena gulma.
- Dimakan burung.
- Dihancurkan oleh hewan ternak.
Akibatnya, tidak ada hasil panen
yang dapat dibanggakan.
Dalam konteks kepemimpinan,
kelalaian seorang penguasa dapat menyebabkan:
- Melemahnya ekonomi masyarakat.
- Hilangnya keamanan dan ketertiban.
- Menurunnya kepercayaan rakyat.
- Rusaknya persatuan dan stabilitas negara.
Karena itu, seorang pemimpin tidak
boleh merasa puas hanya karena berhasil mencapai kejayaan pada suatu masa. Ia
harus terus menjaga dan mengembangkan apa yang telah dimilikinya.
Setiap Orang Akan Menuai Apa yang Ditanamnya
Salah satu pesan penting dalam syair
Abrahah adalah bahwa setiap manusia pada akhirnya akan memanen hasil dari apa
yang ia tanam.
Menurutnya, seseorang akan dikenal
berdasarkan hasil pekerjaannya.
Jika yang ditanam adalah keburukan,
maka keburukan pula yang akan dikenang orang.
Sebaliknya, jika yang ditanam adalah
kebaikan, maka nama baik dan pujian akan mengikuti dirinya.
Prinsip ini berlaku dalam seluruh
aspek kehidupan.
Seorang pemimpin yang menanam
keadilan akan memanen loyalitas rakyat.
Seorang pemimpin yang menanam
kezaliman akan menuai kebencian dan penolakan.
Demikian pula dalam keluarga,
pendidikan, bisnis, dan kehidupan sosial.
Apa yang dilakukan hari ini akan
menentukan hasil yang diperoleh di masa depan.
Kemuliaan Dicapai dengan Memberi Manfaat
Dalam syairnya, Abrahah menegaskan
bahwa orang yang menyebarkan kemuliaan melalui pemberian dan kebaikannya akan
dikenal sebagai sosok yang mulia dan dermawan.
Kedermawanan yang dimaksud tidak
hanya berupa harta benda.
Kedermawanan juga mencakup:
- Memberikan bantuan kepada yang membutuhkan.
- Menolong masyarakat menghadapi kesulitan.
- Menyediakan kesempatan bagi orang lain untuk
berkembang.
- Menjaga hak-hak rakyat.
Pemimpin yang memberikan manfaat
kepada banyak orang akan memperoleh penghormatan yang lebih besar daripada
pemimpin yang hanya mengandalkan kekuasaan.
Menjaga Hubungan dengan Keluarga dan Kerabat
Selain berbicara tentang
pemerintahan, Abrahah juga mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan
keluarga dan kerabat.
Ia berpesan kepada putranya agar
senantiasa menyambung silaturahmi dan melindungi keluarganya.
Menurutnya, keluarga merupakan salah
satu sumber kekuatan terbesar bagi seorang pemimpin.
Dengan dukungan keluarga dan
kerabat, seseorang akan lebih kuat menghadapi berbagai tantangan.
Sebaliknya, perpecahan dalam
keluarga sering kali menjadi awal munculnya kelemahan yang lebih besar dalam
suatu pemerintahan.
Nasihat ini menunjukkan bahwa
keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh hubungan dengan
rakyat, tetapi juga oleh kemampuannya menjaga keharmonisan di lingkungan
terdekatnya.
Amr Dzu Al-Adz'ar dan Awal Kemunculan Para Tubba'
Setelah menerima wasiat ayahnya, Amr
Dzu Al-Adz'ar melanjutkan kepemimpinan kerajaan.
Riwayat menyebutkan bahwa ia
melakukan perjalanan dan ekspedisi ke berbagai wilayah di timur maupun barat.
Keberanian dan kekuatan pasukannya
begitu terkenal sehingga banyak bangsa yang memilih menghindar ketika mendengar
kedatangannya.
Mereka merasa takut dan gentar
sebelum pertempuran terjadi.
Karena itulah ia memperoleh gelar
Dzu Al-Adz'ar, yang berarti "Pemilik Ketakutan" atau "Yang
Membuat Musuh Gentar."
Dalam tradisi sejarah Himyar, Amr
Dzu Al-Adz'ar juga dikenal sebagai ayah dari para Tubba' pertama, yaitu garis
raja-raja besar yang kemudian memainkan peranan penting dalam sejarah Arab
Selatan.
Pelajaran Kepemimpinan dari Wasiat Abrahah Dzu Al-Manar
Wasiat Abrahah mengandung sejumlah
prinsip kepemimpinan yang sangat berharga.
1.
Kepemimpinan Membutuhkan Perawatan Berkelanjutan
Keberhasilan tidak cukup diraih
sekali, tetapi harus dijaga dan dikembangkan setiap waktu.
2.
Rakyat Adalah Aset Utama Kerajaan
Sebagaimana tanaman merupakan sumber
hasil panen, rakyat adalah sumber kekuatan dan kemakmuran negara.
3.
Kelalaian Akan Menghancurkan Keberhasilan
Apa yang tidak dirawat dengan baik
lambat laun akan rusak dan hilang.
4.
Setiap Orang Akan Menuai Hasil Perbuatannya
Kebaikan akan menghasilkan kebaikan,
sedangkan keburukan akan mendatangkan akibat buruk.
5.
Kedermawanan Melahirkan Kemuliaan
Pemimpin yang banyak memberi manfaat
akan lebih dihormati daripada pemimpin yang hanya mengandalkan kekuasaan.
6.
Keluarga Adalah Pilar Kekuatan
Menjaga hubungan baik dengan
keluarga dan kerabat merupakan bagian penting dari stabilitas kepemimpinan.
Penutup
Wasiat Abrahah Dzu Al-Manar kepada
putranya, Amr Dzu Al-Adz'ar, merupakan salah satu warisan kebijaksanaan yang
sangat berharga dalam tradisi raja-raja Himyar. Dengan mengibaratkan kerajaan
sebagai ladang pertanian, ia mengajarkan bahwa keberhasilan pemerintahan
bergantung pada perhatian, perawatan, keadilan, dan kepedulian terhadap rakyat.
Pesan tersebut tetap relevan hingga
saat ini. Dalam organisasi, perusahaan, komunitas, maupun keluarga, setiap
amanah yang diberikan kepada seseorang harus dipelihara dengan penuh tanggung
jawab. Sebab sebagaimana tanaman yang dirawat akan menghasilkan panen melimpah,
kepemimpinan yang dijalankan dengan baik akan melahirkan kemakmuran,
kehormatan, dan warisan yang dikenang sepanjang masa.
Referensi:
وحدّثني علي بن محمد، عن جده الدعبل بن علي أن أبرهة
ذا المنار وصى ابنه عمرًا ذا الأذعار بن أبرهة ذي المنار، فقال له: يا بني، إن
الملك زرع، والملك قيِّمٌ ملك الزرع، فإن أحسن القيم قيامه عليه في سقائه عند
حاجته إليه، وفي إجلابه غرائب النبات مما نبته وتعاهده إياه بالكرم وحمايته عن
المؤذيات من البهائم والطير زكا حصاده، وكثر محصوله، وحمد القيم، واستكرمت الأرض،
وإن كان القيم غير متفقد لذلك الزرع ولا متيقظ لمثابرته على سقياه وكرمه وحمايته
وحفظه أوهنه العطش، وأيبسه الخلى، وأكلته الطير، وداسته البهائم، فلا الزرع زاك،
ولا الأرض معمورة، ولا القيم محمود.
ثم أنشأ يقول:
يا عمروُ إنَّكَ ما جهلتَ وصيَّتي ... إيَّاكَ فاحفظها
فإنَّكَ ترشُدُ
يا عمروُ لا واللهِ ما سادَ الورى ... فيما مضى إلا
المعينُ المُرفِدُ
كلُّ امرئٍ يا عمرو حاصدُ زرعِهِ ... والزَّرعُ شيءٌ
لا محالةَ يُحصَدُ
إن كانَ مذمُومًا فيعرفُ دُونَهُ ... بالذَّم فيه
الزَّارعُ المُتقلِّدُ
أو كانَ محمودًا فَتُحمدُ أَرضُهُ ... والزَّرعُ
والزَّرَّاع كلٌ يحمدُ
يا عمروُ من نشرَ العلا بنوالِهِ ... كَرَمًا يُقالُ
له الجواد السيدُ
يا عمرُو أنتَ لكَ المهابةُ والعُلا ... في النَّاسِ
والمُلكُ اللقاحُ الأتلدُ
واصِلْ ذوي القُربى وحُطهُم إنَّهمْ ... بِهِمُ
تَغَمُّ الأبعدينَ وتصمدُ
قال علي بن محمد: قال الدعبل بن علي: فيقال أن عمرًا
ذا الأذعار بن أبرهة ذي المنار بن الرائش بن قيس بن صيفي بن سبأ الأصغر خرج يطوف
للإعمال من شرق البلاد وغربها، فكان لا يسمع به قوم إلا وولوا الأدبار رهبة منه
خائفين مذعورين، فلذلك سمي عمرًا ذا الأذعار وهو أبو التُبَّع الأول.
Sumber :
ـ[وصايا الملوك وأبناء الملوك من ولد قحطان بن هود]ـ
المؤلف: دعبل بن علي الخزاعي الشاعر المشهور (المتوفى:
٢٤٦هـ)
رواية: علي محمد بن دعبل الخزاعي
Baca juga:
Wasiat Zar'ah bin Ka'ab: Pentingnya Musyawarah, Keadilan, dan Nasihat dalam Kepemimpinan
Wasiat Amr Dzu
Al-Adz'ar: Rahasia Kepemimpinan, Persatuan, dan Pembagian Kekuasaan dalam
Kerajaan Himyar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar