Pendahuluan
Di antara peninggalan sastra Arab
kuno yang sarat dengan hikmah adalah wasiat para tokoh tua kepada anak-anak
mereka menjelang akhir kehidupan. Wasiat semacam ini bukan sekadar ungkapan
perasaan seorang ayah, tetapi rangkuman pengalaman panjang yang ditempa oleh
perjalanan hidup, kepemimpinan, dan pergantian zaman.
Dalam riwayat berikut, diceritakan
seorang tokoh besar dari Yaman bernama Dzu Ru'ain (ذو
رعين) yang telah mencapai usia sangat lanjut. Setelah
penglihatannya melemah, langkahnya menjadi pendek, dan pendengarannya
berkurang, ia mengumpulkan keluarga serta anak-anaknya untuk menyampaikan pesan
terakhir. Wasiat tersebut berisi ajakan agar mereka menjaga kehormatan
keluarga, menjauhi kebodohan, serta menjadikan akal sebagai jalan menuju
kemuliaan.
Terjemahan Lengkap
Ali bin Muhammad meriwayatkan
kepadaku dari kakeknya, Ad-Di'bal bin Ali, bahwa Dzu Ru'ain, yang
bernama Yarim bin Zaid bin Sahl bin 'Amr bin Qais bin Mu'awiyah bin Jasym
bin 'Abd Syams, suatu ketika mengumpulkan keluarga dan anak-anaknya.
Saat itu ia telah mencapai usia yang
sangat tua. Penglihatannya telah melemah, langkahnya menjadi pendek, dan
pendengarannya pun tidak lagi sekuat dahulu. Lalu ia berkata kepada mereka,
"Wahai anak-anakku, sungguh aku
telah menghafal berbagai wasiat para pendahulu dari leluhurku. Aku telah
menempuh jalan yang ditempuh ayah-ayah dan kakek-kakekku. Pengalaman hidup
telah memberiku pelajaran, baik ketika muda maupun ketika tua, berupa adab dan
tambahan pengetahuan yang dengannya seseorang dapat memperbaiki kehidupan dunia
serta penghidupannya sesuai dengan kebutuhannya. Dengannya pula kemuliaan,
kebanggaan, dan akhlak mulia tetap hidup. Semua itu bahkan lebih banyak
daripada apa yang diwariskan kepadaku oleh ayah dan kakekku."
Kemudian ia melantunkan syair
berikut.
Syair
(Bahr al-Wāfir)
Apabila kini aku tak lagi mampu
bangkit dengan sigap,
dan kalian melihat keadaanku seperti sekarang ini, wahai anak-anakku.
Usia tua telah menghampiriku,
beratnya perjalanan malam telah melemahkanku,
hingga aku menjadi sasaran rapuhnya zaman.
Masa muda telah meninggalkanku,
tulang-belulangku menjadi ringkih,
dan aku tak lagi mampu berdiri kecuali dengan kedua tanganku sebagai
penopang.
Tulang betisku kini laksana ranting
yang kering,
sementara kedua lututku terus diliputi getaran.
Yang paling menggelapkan
penglihatanku
adalah kedua alis yang telah turun menutupi mata karena usia.
Namun, keturunan Qahtan tidak pernah
mencela namaku
setiap kali jasa-jasa Dzu Ru'ain disebutkan.
Aku tumbuh bersama para raja,
dan di tengah mereka aku mengatur berbagai urusan negeri-negeri yang luas.
Aku dahulu menjadi tiang penyangga
bagi kaumku,
menjadi perhiasan mereka dalam berbagai peristiwa tanpa membawa cela sedikit
pun.
Wahai anak-anak dan
saudara-saudaraku, apabila hari kematianku tiba
dan kalian menyaksikan saat kepergianku bersama orang-orang yang hadir,
tempuhlah jalan hidupku di tengah
keluarga dan kabilah,
agar mereka tetap memuji kalian setelah aku tiada.
Janganlah kalian terburu-buru
melakukan kebodohan sehingga tersesat,
seperti orang yang jatuh dalam kesesatan tanpa arah.
Sesungguhnya akal adalah kunci
seluruh kemuliaan,
sedangkan kebodohan merupakan aib yang sama sekali bukan perhiasan.
Artikel Pengembangan
Pengalaman
Hidup Adalah Warisan yang Lebih Berharga daripada Harta
Dzu Ru'ain tidak memulai nasihatnya
dengan membicarakan kekayaan atau kekuasaan, melainkan pengalaman hidup. Ia
menegaskan bahwa perjalanan panjang usia telah memberinya adab, kebijaksanaan,
dan ilmu yang jauh lebih berharga daripada sekadar warisan materi.
Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman
yang dipadukan dengan ilmu akan melahirkan hikmah. Seseorang boleh mewariskan
harta kepada anak-anaknya, tetapi yang lebih penting adalah mewariskan cara
berpikir, prinsip hidup, dan akhlak mulia.
Kemuliaan
Tidak Lahir dari Nasab Semata
Walaupun Dzu Ru'ain berasal dari
keturunan bangsawan dan hidup bersama para raja, ia tidak menyuruh anak-anaknya
berbangga dengan garis keturunan.
Sebaliknya, ia berpesan agar mereka
meneladani amal baik yang telah menjaga nama keluarganya. Ini menunjukkan bahwa
kehormatan keluarga dipertahankan melalui perilaku, bukan sekadar silsilah.
Dalam Islam pun kemuliaan seseorang
diukur dengan ketakwaan dan amal salehnya, bukan semata-mata keturunannya.
Gambaran
Penuaan yang Sangat Menyentuh
Syair tersebut menggambarkan proses
menua dengan sangat realistis.
- Langkah menjadi pendek.
- Tulang melemah.
- Lutut bergetar.
- Penglihatan tertutup oleh alis yang mengendur.
- Masa muda pergi tanpa dapat dipanggil kembali.
Penggambaran ini mengingatkan bahwa
kekuatan fisik hanyalah titipan sementara. Karena itu, masa muda hendaknya
dimanfaatkan untuk menanam amal, ilmu, dan akhlak sebelum datang kelemahan yang
tidak dapat dihindari.
Menjaga
Nama Baik Setelah Orang Tua Wafat
Salah satu pesan terindah dalam
wasiat ini adalah:
"Tempuhlah jalanku agar
keluarga tetap memuji kalian setelah aku tiada."
Seorang ayah sejati tidak sekadar
berharap dikenang, tetapi berharap anak-anaknya mampu meneruskan nilai-nilai
yang telah ia perjuangkan. Nama baik keluarga bukan dipelihara dengan
kebanggaan kosong, melainkan dengan akhlak, amanah, dan kontribusi kepada
masyarakat.
Akal
sebagai Kunci Seluruh Kemuliaan
Penutup syair menjadi inti dari
seluruh nasihat:
"Sesungguhnya akal adalah kunci
seluruh kemuliaan, sedangkan kebodohan adalah aib."
Akal dalam tradisi Islam bukan hanya
kecerdasan intelektual, tetapi kemampuan membedakan yang benar dan yang salah,
mempertimbangkan akibat suatu perbuatan, serta mengendalikan hawa nafsu.
Dengan akal yang dibimbing oleh ilmu
dan agama, seseorang akan memperoleh kehormatan. Sebaliknya, kebodohan akan
menyeret manusia kepada kehinaan, meskipun ia memiliki kedudukan atau harta
yang melimpah.
Hikmah
- Pengalaman hidup merupakan guru terbaik apabila
disertai dengan perenungan.
- Warisan paling berharga dari orang tua adalah ilmu,
adab, dan kebijaksanaan.
- Kemuliaan keluarga dijaga melalui akhlak, bukan sekadar
kebanggaan terhadap keturunan.
- Masa muda adalah kesempatan yang tidak akan kembali,
sehingga harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
- Nama baik seseorang akan terus hidup melalui amal saleh
yang diteruskan oleh generasi berikutnya.
- Akal yang sehat merupakan pintu menuju seluruh bentuk
kemuliaan.
- Kebodohan adalah sumber kehinaan yang merusak
kehormatan seseorang maupun keluarganya.
Penutup
Wasiat Dzu Ru'ain memperlihatkan
bahwa perubahan fisik akibat usia tidak mengurangi nilai kebijaksanaan
seseorang. Justru pada masa senja kehidupan, pengalaman yang panjang berubah
menjadi mutiara hikmah yang layak diwariskan kepada generasi berikutnya.
Nasihatnya mengajarkan bahwa kemuliaan tidak diwarisi secara otomatis melalui
nasab atau kekayaan, melainkan dipelihara dengan akal yang lurus, ilmu yang
bermanfaat, dan akhlak yang mulia. Oleh karena itu, siapa pun yang ingin
meninggalkan warisan terbaik bagi anak-anaknya hendaknya menanamkan adab,
kebijaksanaan, serta teladan kehidupan yang baik, karena itulah bekal yang akan
terus hidup bahkan setelah dirinya tiada.
Referensi:
وحدّثني علي بن محمد، عن جده الدعبل بن علي، أن ذا
رعين واسمه يريم بن زيد بن سهل بن عمرو بن قيس بن معاوية بن جشم بن عبد شمس أقبل
على أهل بيته وولده، وكان عُمِّر عمرًا طويلًا حتى ضعف بصره وقصر خطاه وكلَّ سمعه،
فقال لهم: يا بني، قد حفظت من وصايا الأوائل من أسلافي، وسلكت مسلك آبائي وأجدادي،
وأفادني الدهر بالكبر والشباب من الأدب والزيادة في المعرفة ما يصلح به المرء
دنياه ومعيشته فيما اشتهى فيها، وما يحيي به المآثر والمفاخر والمكارم أكثر مما
أورثني الآباء والأجداد من ذلك.
وأنشأ يقول: «من الوافر»
لئن أمسيتُ لا آلو نهوضًا ... وأنَّي يا بنيَّ كما
تروني
كبرتُ وهدّني مرُّ الليالي ... وصرتُ من الزَّمانِ إلى
الرمين
وودّعني الشبابُ ودقَّ عظمي ... فلستُ أنوءُ إلا
باليدينِ
وأصبحَ كالمُبيردِ عظمُ ساقي ... ولازمني ارتعاشُ
الركبتينِ
وأظلَم ما على عينيَّ مما ... تهدّلَ من سُقوطِ
الحاجبينِ
فما ذمَّتْ بنو قحطان يومًا ... إذا ذكرتْ مساعي ذي
رُعينِ
نشأتُ مع الملوكِ وكنتُ فيهم ... أسوسُ لهم أمورَ
الخافقينِ
وكنتُ لمعشري إذ كنتُ ركنًا ... وزينًا في الحوادثِ
غيرَ شينِ
بنيَّ وإخوتي إن حانَ يوميْ ... وشاهدتمْ مع الأشهادِ
حيني
سبيلي في العشيرةِ فاسلكوهُ ... لتحمدهُ العشيرةُ بعد
عيني
ولا تسمُوا لمجهلةٍ فتغووُا ... غوايةَ ساقطٍ ما بينَ
بينِ
فإنَّ العقلَ مفتاحُ المعالي ... وإن الجهلَ شينُ غيرُ
زينِ
Sumber :
ـ[وصايا الملوك وأبناء الملوك من ولد قحطان بن هود]ـ
المؤلف: دعبل بن علي الخزاعي الشاعر المشهور (المتوفى:
٢٤٦هـ)
رواية: علي محمد بن دعبل الخزاعي
Baca juga:
Yusuf Dzu Nuwas:Rahasia Kekuatan Kerajaan dan Pentingnya Persatuan dalam Kepemimpinan
Wasiat Dzu Ru'ain
Menjelang Akhir Hayat: Hikmah Usia Tua, Akal, dan Kemuliaan Keturunan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar