Pendahuluan
Keadilan merupakan fondasi utama dalam
kepemimpinan Islam. Seorang pemimpin tidak dinilai dari besarnya kekuasaan yang
dimiliki, melainkan dari sejauh mana ia menegakkan keadilan dan menjaga amanah
yang Allah titipkan kepadanya. Dalam At-Tabr al-Masbūk fī Naṣīḥat al-Mulūk,
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Tusi melanjutkan penjelasannya
tentang kemuliaan kepemimpinan yang adil dengan mengutip beberapa hadis Nabi ﷺ. Nasihat ini menunjukkan bahwa pemimpin
yang adil memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah, sedangkan pemimpin
yang zalim termasuk golongan yang paling dibenci oleh-Nya.
Sumber:
Kitab: At-Tabr al-Masbūk fī Naṣīḥat al-Mulūk
Bab: وأصول العدل والإنصاف عشرة – الأصل الأول (Sepuluh Dasar Keadilan – Dasar Pertama)
Tema :
Kemuliaan Pemimpin yang Adil dan
Bahaya Kezaliman dalam Kepemimpinan
Terjemahan Lengkap
Rasulullah ﷺ
juga bersabda:
"Manusia yang paling dicintai
Allah dan paling dekat kedudukannya dengan-Nya adalah pemimpin yang adil.
Sedangkan manusia yang paling dibenci Allah dan paling jauh dari-Nya adalah
pemimpin yang zalim."
Beliau ﷺ
juga bersabda:
"Demi Zat yang jiwa Muhammad
berada di tangan-Nya, sungguh amal seorang pemimpin yang adil diangkat ke
langit setara dengan amal seluruh rakyatnya. Setiap salat yang ia kerjakan
menyamai pahala tujuh puluh ribu salat."
Apabila demikian besarnya keutamaan
tersebut, maka tidak ada nikmat yang lebih agung daripada ketika seorang hamba
diberi kedudukan sebagai pemimpin.
Satu saat dari umur seorang pemimpin
dapat menyamai seluruh umur orang lain apabila digunakan untuk menegakkan
keadilan.
Namun, siapa yang tidak mengetahui nilai
nikmat tersebut, lalu menyibukkan dirinya dengan kezaliman dan mengikuti hawa
nafsunya, maka dikhawatirkan Allah akan menjadikannya termasuk golongan
musuh-musuh-Nya.
Artikel Pengembangan
Imam Al-Ghazali melanjutkan
pembahasan tentang kepemimpinan dengan menjelaskan betapa besar kedudukan
seorang pemimpin yang menegakkan keadilan. Menurut beliau, keadilan bukan hanya
memberikan manfaat kepada masyarakat, tetapi juga menjadi sebab seorang
pemimpin memperoleh kedekatan dengan Allah.
Hadis pertama yang beliau kutip
menggambarkan dua keadaan yang saling bertolak belakang. Pemimpin yang adil
memperoleh kecintaan Allah, sedangkan pemimpin yang zalim menjadi orang yang
paling jauh dari rahmat-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan seorang
pemimpin bukanlah luas wilayah kekuasaannya atau lamanya masa jabatan,
melainkan kualitas keadilannya.
Selanjutnya, Imam Al-Ghazali
mengutip hadis yang menggambarkan besarnya pahala pemimpin yang adil. Inti
pesan hadis tersebut adalah bahwa dampak amal seorang pemimpin tidak hanya
dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh masyarakat yang dipimpinnya.
Ketika ia membuat kebijakan yang adil, menjaga keamanan, menegakkan hukum, dan
melindungi hak rakyat, manfaatnya menyebar kepada banyak orang. Karena itulah
pahala kepemimpinan yang adil digambarkan sangat besar.
Perlu diketahui bahwa para ulama
hadis berbeda pendapat mengenai tingkat kekuatan sanad beberapa riwayat yang
menyebutkan rincian keutamaan tertentu, seperti angka-angka pahala dalam teks
di atas. Namun, makna umum yang menegaskan besarnya keutamaan pemimpin yang
adil didukung oleh banyak hadis sahih lainnya yang mendorong penegakan keadilan
dan mencela kezaliman.
Imam Al-Ghazali kemudian
mengingatkan bahwa jabatan adalah nikmat yang sangat besar. Nikmat ini bukan
diukur dari kemudahan memperoleh penghormatan, melainkan dari luasnya
kesempatan untuk berbuat kebaikan. Seorang pemimpin dapat memperbaiki kehidupan
ribuan bahkan jutaan orang melalui keputusan yang adil. Sebaliknya, satu
keputusan yang zalim dapat mendatangkan penderitaan bagi banyak manusia dan
menjadi beban berat pada Hari Kiamat.
Nasihat ini tidak hanya ditujukan
kepada para raja pada masa Imam Al-Ghazali. Siapa pun yang memegang amanah
kepemimpinan—baik dalam keluarga, lembaga pendidikan, organisasi, perusahaan,
maupun pemerintahan—hendaknya menyadari bahwa setiap kewenangan adalah
kesempatan untuk mendekat kepada Allah melalui keadilan, bukan untuk memenuhi
kepentingan pribadi.
Hikmah
- Pemimpin yang adil termasuk orang yang paling dicintai
Allah.
- Kezaliman menjauhkan seorang pemimpin dari rahmat
Allah.
- Keadilan memberikan manfaat yang luas sehingga
pahalanya sangat besar.
- Jabatan adalah amanah yang harus digunakan untuk
melayani masyarakat.
- Mengikuti hawa nafsu dalam memimpin dapat mengantarkan
kepada kebinasaan.
- Seorang pemimpin hendaknya melihat kekuasaan sebagai
kesempatan berbuat kebajikan, bukan sebagai sarana mencari keuntungan
pribadi.
- Semakin besar pengaruh seseorang, semakin besar pula
tanggung jawab moral dan spiritualnya.
- Kepemimpinan yang adil menjadi investasi amal yang
terus memberi manfaat bagi banyak orang.
Penutup
Dalam lanjutan dasar pertama tentang
keadilan, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa pemimpin yang adil memiliki
kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah, sedangkan pemimpin yang zalim
menghadapi ancaman yang sangat berat. Amanah kepemimpinan merupakan nikmat yang
tidak ternilai karena melalui jabatan tersebut seseorang dapat menghadirkan
kemaslahatan bagi banyak manusia. Oleh sebab itu, setiap pemimpin hendaknya
menjaga dirinya dari kezaliman, mengendalikan hawa nafsu, dan menjadikan
keadilan sebagai prinsip utama dalam setiap keputusan. Dengan demikian,
kepemimpinan tidak hanya membawa manfaat bagi masyarakat, tetapi juga menjadi
jalan menuju keridaan Allah dan kebahagiaan di akhirat.
Teks Arab :
وقال عليه الصلاة والسلام: (أحب
الناس إلى الله تعالى وأقربهم إليه السلطان العادل، وأبغضهم إليه وأبعدهم منه
السلطان الجائر) .وقال عليه الصلاة والسلام: (والذي نفس محمد بيده إنه ليرفع
للسلطان العادل إلى السماء من العمل مثل عمل جملة الرعية، وكل صلاة يصلّيها تعدل
سبعين ألف صلاة) .
فإذا كان كذلك فلا نعمة أجلّ من أن
يعطى العبد درجة السلطنة ويجعل ساعة من عمره بجميع عمر غيره، ومن لم يعرف قدر هذه
النعمة واشتغل بظلمه وهواه يخاف عليه أن يجعله الله من جملة أعدائه.
Baca juga:
10 Dasar Keadilan Menurut Imam Al-Ghazali: Memahami AmanahKepemimpinan dalam Islam (Bagian 1)
Keadilan kepada Manusia Menurut Imam Al-Ghazali: AmalTerbaik Seorang Pemimpin di Hadapan Allah
Bahaya Kekuasaan Menurut Imam Al-Ghazali: Amanah,Keadilan, dan Ancaman bagi Pemimpin Zalim

Tidak ada komentar:
Posting Komentar