Pendahuluan
Ilmu merupakan salah satu nikmat
terbesar yang Allah anugerahkan kepada manusia. Dengannya seseorang dapat
mengenal Tuhannya, memperbaiki amalnya, serta membimbing dirinya menuju
kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena itulah Islam sangat menganjurkan umatnya
untuk menuntut ilmu dan menyebarkannya kepada orang lain.
Namun para ulama juga mengingatkan
bahwa tidak semua ilmu layak disampaikan kepada setiap orang dalam kondisi yang
sama. Sebagaimana obat harus diberikan kepada pasien yang tepat dengan dosis
yang sesuai, demikian pula ilmu memerlukan hikmah dalam penyampaiannya.
Dalam nasihat yang sangat dalam ini,
seorang ulama menjelaskan tiga pelajaran penting: pentingnya menempatkan ilmu
pada tempatnya, buruknya sifat kikir ilmu, dan keutamaan memilih ilmu yang
paling mulia, yaitu ilmu yang mendekatkan manusia kepada Allah Ta'ala.
Terjemahan
"Menyebarkan ilmu kepada orang
yang bukan ahlinya dapat merusak mereka, sebagaimana engkau memberi madu dan
makanan manis kepada orang yang sedang mengalami demam dan peradangan, atau
sebagaimana engkau memperdengarkan aroma kasturi dan ambar kepada orang yang
sedang sakit kepala akibat dominasi empedu.
Orang yang kikir terhadap ilmu lebih
hina daripada orang yang kikir terhadap harta. Sebab orang yang kikir terhadap
harta hanya khawatir hartanya habis, sedangkan orang yang kikir terhadap ilmu
telah kikir terhadap sesuatu yang tidak akan habis karena dibagikan dan tidak
akan berkurang meskipun diberikan kepada orang lain.
Setiap orang secara alami cenderung
kepada suatu jenis ilmu tertentu. Sekalipun ilmu itu lebih rendah dibandingkan
ilmu yang lain, janganlah ia menyibukkan dirinya dengan selain ilmu tersebut.
Jika tidak, ia akan seperti orang yang menanam kelapa di Andalusia atau menanam
zaitun di India, dan semua itu tidak akan menghasilkan dengan baik.
Ilmu yang paling mulia adalah ilmu
yang mendekatkanmu kepada Penciptamu dan membantumu mencapai
keridaan-Nya."
Mengapa Tidak Semua Ilmu Harus Disampaikan kepada Setiap
Orang?
Salah satu kesalahpahaman yang
sering terjadi adalah anggapan bahwa semua ilmu harus disampaikan kepada siapa
saja tanpa mempertimbangkan kondisi pendengarnya.
Para ulama tidak pernah memahami
penyebaran ilmu dengan cara seperti itu.
Mereka menyadari bahwa manusia
memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Ada ilmu yang cocok untuk pemula,
ada yang cocok untuk penuntut ilmu tingkat lanjut, dan ada pula pembahasan yang
memerlukan fondasi keilmuan yang kuat sebelum dipelajari.
Karena itu, hikmah dalam mengajar
menjadi bagian penting dari dakwah dan pendidikan Islam.
Perumpamaan Madu untuk Orang Sakit
Penulis memberikan perumpamaan yang
sangat indah.
Madu pada dasarnya adalah makanan
yang bermanfaat. Namun dalam kondisi tertentu, madu bisa membahayakan orang
yang sedang mengalami gangguan kesehatan tertentu.
Demikian pula minyak wangi yang
harum dapat menjadi gangguan bagi orang yang sedang mengalami sakit kepala
berat.
Perumpamaan ini menunjukkan bahwa
masalahnya bukan pada madu atau minyak wanginya, melainkan pada kondisi
penerimanya.
Begitu pula dengan ilmu.
Suatu ilmu mungkin benar dan
bermanfaat, tetapi jika disampaikan kepada orang yang belum siap memahaminya,
justru dapat menimbulkan:
- Kesalahpahaman
- Kebingungan
- Perdebatan yang tidak perlu
- Penyimpangan dalam memahami agama
Karena itulah para ulama salaf
sangat memperhatikan kesiapan murid sebelum menyampaikan suatu pembahasan.
Pentingnya Menyampaikan Ilmu Sesuai Tingkatan
Dalam pendidikan Islam, proses
belajar berlangsung secara bertahap.
Seorang murid biasanya memulai dari:
- Dasar-dasar akidah.
- Bacaan Al-Qur'an.
- Fikih ibadah.
- Akhlak dan adab.
- Cabang-cabang ilmu yang lebih mendalam.
Metode bertahap ini menjaga
pemahaman agar tumbuh secara kokoh.
Sebaliknya, jika seseorang langsung
diberikan pembahasan yang rumit tanpa dasar yang kuat, ia bisa kehilangan arah
dan gagal memahami ilmu tersebut secara benar.
Karena itu para ulama mengatakan:
"Letakkan ilmu pada tempatnya
dan sampaikan sesuai kadar akal manusia."
Kikir Ilmu Lebih Buruk daripada Kikir Harta
Setelah menjelaskan bahaya
menyampaikan ilmu kepada orang yang tidak tepat, penulis beralih kepada sisi
lain yang juga berbahaya, yaitu menyembunyikan ilmu dari orang yang memang
berhak menerimanya.
Menurut beliau, orang yang kikir
ilmu lebih buruk daripada orang yang kikir harta.
Mengapa?
Karena harta akan berkurang ketika
diberikan.
Sementara ilmu justru bertambah
ketika diajarkan.
Seorang guru yang mengajarkan ilmu
tidak kehilangan ilmunya. Bahkan sering kali pemahamannya menjadi semakin kuat
karena proses mengajar tersebut.
Ilmu adalah satu-satunya kekayaan
yang semakin berkembang ketika dibagikan.
Tanda-Tanda Kikir Ilmu
Sifat kikir ilmu dapat muncul dalam
berbagai bentuk, di antaranya:
- Enggan mengajarkan ilmu kepada yang membutuhkan.
- Menyembunyikan pengetahuan karena takut tersaingi.
- Tidak mau membimbing generasi penerus.
- Merasa terganggu ketika orang lain menjadi pandai.
Sikap seperti ini bertentangan
dengan akhlak para nabi dan ulama.
Para pewaris ilmu yang sejati justru
merasa bahagia ketika melihat orang lain memperoleh manfaat dari ilmu yang mereka
ajarkan.
Setiap Orang Memiliki Kecenderungan Keilmuan
Penulis juga menjelaskan bahwa
manusia memiliki bakat dan kecenderungan yang berbeda.
Ada yang mudah memahami fikih.
Ada yang unggul dalam hadis.
Ada yang kuat dalam bahasa Arab.
Ada yang menonjol dalam pendidikan
dan dakwah.
Perbedaan ini merupakan bagian dari
hikmah Allah dalam menciptakan manusia.
Karena itu seseorang perlu mengenali
potensi dirinya agar dapat berkembang secara optimal dalam bidang yang sesuai
dengan kemampuannya.
Perumpamaan Menanam Kelapa di Andalusia
Penulis memberikan perumpamaan yang
unik.
Menanam kelapa di Andalusia atau
menanam zaitun di India pada masa itu merupakan pekerjaan yang tidak sesuai
dengan kondisi alam setempat.
Akibatnya hasil yang diperoleh tidak
maksimal.
Demikian pula dalam menuntut ilmu.
Ketika seseorang memaksakan diri
pada bidang yang sama sekali tidak sesuai dengan bakat dan kemampuannya, ia
sering kali mengalami kesulitan yang berlebihan dan tidak menghasilkan manfaat
yang optimal.
Sebaliknya, jika ia mengembangkan
potensi yang telah Allah berikan kepadanya, hasilnya akan jauh lebih baik.
Ilmu yang Paling Mulia adalah Ilmu yang Mendekatkan kepada
Allah
Puncak nasihat dalam teks ini
terletak pada kalimat terakhir.
Penulis menegaskan bahwa ilmu yang
paling mulia bukanlah ilmu yang mendatangkan popularitas, jabatan, atau
kekayaan.
Ilmu yang paling mulia adalah:
Ilmu yang mendekatkan manusia kepada
Allah dan membantunya meraih keridaan-Nya.
Inilah ukuran utama kemuliaan ilmu
dalam Islam.
Semakin besar peran suatu ilmu
dalam:
- Mengenalkan Allah kepada manusia,
- Memperbaiki ibadah,
- Membersihkan hati,
- Menumbuhkan ketakwaan,
- Mengarahkan kepada amal saleh,
maka semakin tinggi pula
kedudukannya.
Ciri-Ciri Ilmu yang Bermanfaat
Para ulama menjelaskan bahwa ilmu
yang bermanfaat memiliki beberapa tanda:
Menambah
Ketakwaan
Ilmu yang benar membuat seseorang
semakin takut kepada Allah.
Mendorong
Amal Saleh
Ilmu bukan hanya menambah
pengetahuan, tetapi juga memperbaiki perilaku.
Menumbuhkan
Kerendahan Hati
Semakin berilmu, semakin sadar akan
keterbatasan diri.
Membawa
Manfaat bagi Orang Lain
Ilmu yang baik tidak berhenti pada
diri sendiri, tetapi juga memberi manfaat kepada masyarakat.
Hikmah yang Dapat Diambil
Dari nasihat ini kita dapat
mengambil beberapa pelajaran penting:
- Ilmu harus disampaikan dengan hikmah dan kepada orang
yang tepat.
- Tidak semua pembahasan cocok untuk semua kalangan.
- Menyembunyikan ilmu dari yang berhak menerimanya adalah
sifat tercela.
- Ilmu tidak akan berkurang karena diajarkan.
- Setiap orang memiliki bakat dan kecenderungan keilmuan
yang berbeda.
- Ilmu terbaik adalah ilmu yang mendekatkan manusia
kepada Allah.
Penutup
Ilmu adalah amanah besar yang harus
dijaga dan disebarkan dengan penuh kebijaksanaan. Menyampaikan ilmu kepada
orang yang belum siap dapat menimbulkan kerusakan, tetapi menyembunyikannya
dari orang yang membutuhkan juga merupakan kesalahan besar.
Seorang Muslim hendaknya meneladani
para ulama yang mengajarkan ilmu dengan hikmah, membagikannya dengan ikhlas,
dan selalu menjadikan keridaan Allah sebagai tujuan utama.
Pada akhirnya, kemuliaan suatu ilmu
tidak diukur dari banyaknya pengikut, tingginya kedudukan, atau luasnya
popularitas, melainkan dari sejauh mana ilmu tersebut mendekatkan seseorang
kepada Allah Ta'ala dan membimbingnya menuju keselamatan di dunia serta
akhirat.
Wallahu
a‘lam.
Teks
Asli :
نشر الْعلم
عِنْد من لَيْسَ من أَهله مُفسد لَهُم كإطعامك الْعَسَل والحلواء من بِهِ احتراق
وَحمى أَو كتشميمك الْمسك والعنبر لمن بِهِ صداع من احتدام الصَّفْرَاء الباخل
بِالْعلمِ ألأم من الباخل بِالْمَالِ لِأَن الباخل بِالْمَالِ أشْفق من فنَاء مَا
بِيَدِهِ والباخل بِالْعلمِ بخل بِمَا لَا يفنى على النَّفَقَة وَلَا يُفَارِقهُ
مَعَ الْبَذْل من مَال بطبعه إِلَى علم مَا وَإِن كَانَ أدنى من غَيره فَلَا
يشغلها بسواه فَيكون كغارس النارجيل بالأندلس وكغارس الزَّيْتُون بِالْهِنْدِ وكل
ذَلِك لَا ينجب أجل الْعُلُوم مَا قربك من خالقك تَعَالَى وَمَا أعانك على
الْوُصُول إِلَى رِضَاهُ
Judul Kitab: Al-Akhlaq wa As-Siyar Fi Mudāwāt
an-Nufūs (Akhlak dan Perjalanan Hidup dalam Mengobati Jiwa)
Penulis: Ali bin
Ahmad bin Sa'id bin Hazm al-Andalusi al-Qurthubi az-Zhahiri (Abu Muhammad Ali
bin Ahmad bin Sa'id bin Hazm al-Andalusi al-Qurthubi az-Zhahiri, wafat tahun
456 H)
Baca juga:
Jangan Sia-Siakan Umur: Nasihat Ulama tentang Ilmu,Waktu, dan Kesibukan yang Bermanfaat
Keutamaan Ilmu Menurut Ulama: Mengapa Menuntut IlmuMenjadi Kewajiban bagi Setiap Muslim?
RahasiaHidup Tenang Menurut Ibnu Hazm: Lihat Dunia ke Bawah, Lihat Agama ke Atas

Tidak ada komentar:
Posting Komentar