Salah satu pembahasan yang paling
menarik dalam kitab Al-Maqshad Al-Asna adalah penjelasan Imam Al-Ghazali
mengenai jenis-jenis isim (nama) berdasarkan makna yang dikandungnya.
Tidak semua nama memiliki fungsi yang sama. Ada nama yang langsung menunjukkan hakikat
atau esensi suatu benda, dan ada pula nama yang hanya menunjukkan sifat
atau hubungan yang dimiliki oleh sesuatu.
Perbedaan ini sangat penting,
terutama ketika memahami nama-nama Allah (Asmaul Husna). Sebab, kesalahan
membedakan antara nama yang menunjukkan zat dan nama yang menunjukkan sifat
dapat menimbulkan kekeliruan dalam memahami akidah. Pada bagian ini, Imam
Al-Ghazali menguraikan pembagian tersebut dengan pendekatan logika dan bahasa
Arab yang sangat sistematis.
Sumber
Kitab: Al-Maqshad Al-Asna fi Syarh Ma'ani Asma'illah Al-Husna
Bab: Pembagian Makna Isim: Nama Hakikat dan Nama Sifat
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
Al-Ghazali At-Thusi (450–505 H)
Tema
Perbedaan Isim yang Menunjukkan
Hakikat, Sifat, dan Hubungan Menurut Imam Al-Ghazali
Terjemahan Lengkap
Kemudian isim yang berasal dari kata
turunan (musytaq) terbagi menjadi dua macam.
Pertama, isim yang menunjukkan sifat yang melekat pada musamma
(yang dinamai), seperti 'alim (orang yang berilmu) dan abyadh (yang
putih).
Kedua, isim yang menunjukkan hubungan atau keterkaitan dengan
sesuatu yang lain yang tidak terpisahkan darinya, seperti khaliq (Pencipta)
dan katib (penulis).
Adapun batasan bagian pertama (yaitu
nama yang menunjukkan hakikat) ialah setiap nama yang menjadi jawaban atas
pertanyaan:
"Apakah hakikatnya?" (ما هو؟)
Misalnya, ketika ditunjukkan
seseorang lalu ditanyakan:
"Apakah dia?"
Perhatikan, pertanyaan ini berbeda
dengan:
"Siapakah dia?"
Jawabannya adalah:
"Ia adalah manusia."
Jika dijawab:
"Ia adalah hewan,"
maka jawaban itu belum menjelaskan
hakikatnya secara sempurna, karena hakikat manusia tidak hanya terdiri dari
sifat hewan semata, melainkan hewan yang berakal.
Kata manusia merupakan nama
bagi hewan yang berakal.
Apabila sebagai jawaban disebutkan:
- putih,
- tinggi,
- alim,
- penulis,
maka semua itu bukan jawaban yang
benar.
Sebab kata putih hanya
menunjukkan sesuatu yang memiliki sifat putih tanpa menjelaskan apakah benda
itu.
Demikian pula alim, hanya
menunjukkan sesuatu yang memiliki ilmu tanpa menjelaskan hakikatnya.
Begitu juga katib, hanya
menunjukkan sesuatu yang melakukan kegiatan menulis tanpa menerangkan hakikat
zatnya.
Memang dapat dipahami bahwa penulis
biasanya adalah manusia, tetapi pemahaman itu diperoleh melalui dalil lain di
luar makna lafaz tersebut.
Demikian pula apabila ditunjukkan
suatu warna lalu ditanyakan:
"Apakah ini?"
Jawabannya adalah:
"Putih."
Jika dijawab:
"Yang bercahaya,"
atau
"yang memantulkan cahaya,"
maka itu bukan jawaban yang tepat.
Karena pertanyaan "Apakah
ini?" menuntut penjelasan tentang hakikat dan esensi sesuatu, sedangkan
kata bercahaya hanya menunjukkan sesuatu yang memiliki sifat bercahaya
tanpa menjelaskan hakikatnya.
Dengan demikian, pembagian makna
nama-nama ini adalah pembagian yang benar.
Boleh pula diungkapkan secara
sederhana bahwa:
sebuah nama terkadang menunjukkan
zat, dan terkadang menunjukkan selain zat.
Namun ungkapan ini hanya boleh
digunakan sebagai penyederhanaan.
Sebab jika tidak dijelaskan bahwa
yang dimaksud dengan "selain zat" adalah selain hakikat
atau esensi yang menjadi jawaban pertanyaan "apa itu?", maka
ungkapan tersebut menjadi tidak tepat.
Hal itu karena kata 'alim
tetap menunjukkan suatu zat yang memiliki ilmu.
Berbeda dengan kata 'ilm (ilmu)
yang hanya menunjukkan ilmu semata tanpa menunjukkan zat yang memilikinya.
Artikel Pengembangan
Pertanyaan "Apa Itu?" Menurut Logika Islam
Imam Al-Ghazali menggunakan satu
metode yang sangat terkenal dalam ilmu mantik, yaitu pertanyaan:
ما
هو؟ (Apa hakikatnya?)
Pertanyaan ini tidak bertujuan
mengetahui nama seseorang.
Yang ingin diketahui adalah hakikat
sesuatu.
Misalnya ketika seseorang ditunjuk
lalu ditanya:
"Apakah dia?"
Jawaban yang benar ialah:
"Manusia."
Bukan:
- tinggi,
- pintar,
- putih,
- penulis.
Karena semua itu hanyalah sifat yang
melekat pada manusia.
Mengapa "Manusia" Lebih Tepat daripada
"Hewan"?
Manusia memang termasuk hewan.
Namun menurut Imam Al-Ghazali,
jawaban "hewan" belum sempurna.
Sebab manusia memiliki pembeda
utama, yaitu akal.
Oleh karena itu definisi yang
lengkap adalah:
Hewan yang berakal.
Kata insan telah mencakup
keseluruhan hakikat tersebut.
Inilah yang disebut nama yang
menunjukkan mahiyah (esensi).
Isim Musytaq Tidak Menjelaskan Hakikat
Kata seperti:
- alim,
- penulis,
- putih,
- tinggi,
tidak menjelaskan apa hakikat
sesuatu.
Semuanya hanya menjelaskan salah
satu sifat.
Misalnya kata alim.
Lafaz ini tidak memberitahu apakah
yang dimaksud manusia, malaikat, atau makhluk lainnya.
Yang diketahui hanyalah bahwa ada
sesuatu yang memiliki ilmu.
Begitu pula katib hanya
menunjukkan adanya pelaku yang melakukan aktivitas menulis.
Perbedaan "'Alim" dan "'Ilm"
Di akhir pembahasan, Imam Al-Ghazali
memberikan perbedaan yang sangat penting.
Kata:
'Alim
menunjukkan:
- suatu zat,
- sekaligus sifat ilmu yang melekat padanya.
Sedangkan kata:
'Ilm
hanya menunjukkan ilmu itu sendiri.
Ia tidak menunjukkan siapa pemilik
ilmu tersebut.
Perbedaan kecil ini menjadi dasar
penting dalam memahami hubungan antara nama, sifat, dan zat.
Relevansinya dengan Asmaul Husna
Penjelasan ini memiliki hubungan
yang sangat erat dengan nama-nama Allah.
Misalnya nama:
- Al-'Alim
- Al-Khaliq
- Ar-Razzaq
Nama-nama tersebut bukan sekadar
menyebut sifat secara abstrak, tetapi menunjukkan Dzat Allah yang
memiliki sifat ilmu, mencipta, dan memberi rezeki secara sempurna.
Karena itu, Asmaul Husna selalu
mengandung dua unsur sekaligus:
- menunjukkan Dzat Allah,
- menunjukkan sifat kesempurnaan-Nya.
Inilah salah satu alasan mengapa
Imam Al-Ghazali terlebih dahulu membahas teori isim sebelum menjelaskan satu
per satu nama Allah.
Hikmah
Beberapa pelajaran penting dari
pembahasan ini adalah:
- Pertanyaan "Apa itu?" bertujuan
mengetahui hakikat sesuatu, bukan sekadar sifatnya.
- Isim yang menunjukkan hakikat berbeda dengan isim yang
hanya menunjukkan sifat atau hubungan.
- Nama seperti insan menunjukkan esensi, sedangkan
'alim hanya menunjukkan sifat yang melekat pada suatu zat.
- Memahami perbedaan antara zat dan sifat sangat penting
dalam ilmu akidah.
- Asmaul Husna menunjukkan Dzat Allah sekaligus sifat-sifat
kesempurnaan-Nya.
- Ketelitian Imam Al-Ghazali dalam membedakan makna lafaz
menunjukkan pentingnya logika dalam memahami ajaran Islam.
Penutup
Melalui pembahasan ini, Imam
Al-Ghazali menjelaskan bahwa setiap isim memiliki cara penunjukan yang berbeda.
Ada yang langsung menunjukkan hakikat suatu benda, ada yang hanya menunjukkan
sifat yang melekat padanya, dan ada pula yang menunjukkan hubungan tertentu.
Perbedaan tersebut bukan sekadar kajian bahasa, tetapi menjadi dasar penting
dalam memahami hubungan antara nama, zat, dan sifat.
Bagi seorang Muslim, pemahaman ini
sangat berharga ketika mempelajari Asmaul Husna. Nama-nama Allah tidak hanya
menyebut sifat-sifat yang sempurna, tetapi juga menunjuk kepada Dzat Allah Yang
Mahamulia. Dengan memahami metode yang diajarkan Imam Al-Ghazali, kita dapat
menghayati makna nama-nama Allah secara lebih mendalam, ilmiah, dan sesuai
dengan prinsip akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Teks Arab :
ثمَّ الْمُشْتَقّ يَنْقَسِم وماهيته وَهِي أَسمَاء
الْأَنْوَاع إِلَى مَا لَيست مُشْتَقَّة كَقَوْلِك إِنْسَان وَعلم وَبَيَاض وَمَا
هُوَ مُشْتَقّ إِلَى مَا يدل على وصف حَال فِي الْمُسَمّى كالعالم والأبيض وَإِلَى
مَا يدل على إِضَافَة لَهُ إِلَى غير مفارق كالخالق وَالْكَاتِب
وحد الْقسم الأول كل اسْم يُقَال فِي جَوَاب مَا هُوَ
فَإِنَّهُ إِذا أُشير إِلَى شخص آدَمِيّ وَقيل مَا هُوَ لَيْسَ كَقَوْل من هُوَ
فَجَوَابه أَن يُقَال إِنْسَان فَلَو قيل حَيَوَان لم يكن قد ذكر تَمام
الْمَاهِيّة لِأَنَّهُ لَيْسَ تتقوم ماهيته بِمُجَرَّد الحيوانية لِأَنَّهُ هُوَ
هُوَ بِأَنَّهُ حَيَوَان عَاقل لَا بِأَنَّهُ حَيَوَان فَقَط وَلَفظ الْإِنْسَان
اسْم للحيوان الْعَاقِل فَلَو قيل بدل الْإِنْسَان أَبيض أَو طَوِيل أَو عَالم أَو
كَاتب لم يكن جَوَابا لِأَن مَفْهُوم الْأَبْيَض شَيْء مُبْهَم لَهُ وصف الْبيَاض
مَا يدْرِي مَا ذَلِك الشَّيْء وَمَفْهُوم الْعَالم شَيْء مُبْهَم لَهُ وصف الْعلم
وَمَفْهُوم الْكَاتِب شَيْء مُبْهَم لَهُ فعل الْكِتَابَة نعم يجوز أَن يفهم أَن
الْكَاتِب إِنْسَان وَلَكِن من أُمُور خَارِجَة وأدلة زَائِدَة على مَفْهُوم
اللَّفْظ وَكَذَلِكَ إِذا أُشير إِلَى لون وَقيل مَا هُوَ فَجَوَابه أَنه بَيَاض
فَلَو ذكر اسْما مشتقا فَقَالَ مشرق أَو مفرق لضوء الْبَصَر لم يكن جَوَابا لِأَن
الْمَطْلُوب بقولنَا مَا هُوَ حَقِيقَة الذَّات وماهيتها الَّتِي بهَا هِيَ مَا
هِيَ والمشرق شَيْء مُبْهَم لَهُ الْإِشْرَاق والمفرق شَيْء مُبْهَم لَهُ
التَّفْرِيق
فَهَذَا التَّقْسِيم فِي مَدْلُول الْأَسَامِي ومفهومها صَحِيح وَيجوز أَن يعبر عَن هَذَا بِأَن الِاسْم قد يدل على الذَّات وَقد يدل على غير الذَّات وَيكون ذَلِك على سَبِيل المساهلة فِي الْإِطْلَاق فَإِن قَوْلنَا يدل على غير الذَّات إِن لم يُفَسر بِأَنا أردنَا بِهِ غير الْمَاهِيّة المقولة فِي جَوَاب مَا هُوَ لم يَصح فَإِن الْعَالم يدل على ذَات لَهُ الْعلم فقد دلّ على الذَّات أَيْضا فَفرق بَين أَن يَقُول عَالم وَبَين أَن يَقُول علم لِأَن الْعَالم يدل على ذَات لَهُ الْعلم وَلَفظ الْعلم لَا يدل إِلَّا على الْعلم
Baca juga:
Pembagian Isim Menurut Imam Al-Ghazali: Mana yangMenunjuk Zat dan Mana yang Menunjuk Sifat?
Koreksi Imam Al-Ghazali tentang Isim dan Musamma:Perbedaan Hakikat Zat dan Makna Nama

Tidak ada komentar:
Posting Komentar