Jangan Sia-Siakan Umur: Nasihat Ulama tentang Ilmu, Waktu, dan Kesibukan yang Bermanfaat

Pendahuluan

Di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah ilmu. Dengan ilmu seseorang dapat membedakan antara kebenaran dan kesesatan, manfaat dan mudarat, serta jalan menuju kebahagiaan dan jalan menuju kebinasaan. Karena itulah para ulama sepanjang sejarah menempatkan ilmu sebagai harta paling berharga yang harus dicari dan dijaga.

Namun ironisnya, banyak manusia justru menghabiskan tenaga, waktu, dan pikirannya untuk berbagai kesibukan yang tidak memberikan manfaat berarti. Mereka rela berjam-jam mengejar hiburan, permainan, dan kesenangan sementara, tetapi merasa berat untuk meluangkan waktu mempelajari ilmu yang dapat mengangkat derajatnya di dunia dan akhirat.

Dalam nasihat yang sangat mendalam ini, seorang ulama menjelaskan bagaimana manusia sering salah dalam menentukan prioritas hidup. Ada yang mengorbankan umur demi perkara-perkara remeh, padahal jika kesungguhan yang sama diarahkan kepada ilmu, niscaya ia akan memperoleh kemuliaan, ketenangan jiwa, dan kebahagiaan yang jauh lebih besar.

Tulisan ini akan mengupas hikmah tersebut serta menjelaskan mengapa ilmu merupakan investasi terbaik yang dapat dimiliki seorang Muslim sepanjang hidupnya.

Terjemahan Teks

"Untuk mendapatkan manfaat yang telah kami sebutkan, para raja yang lemah justru melelahkan diri mereka dengan permainan catur, dadu, minuman keras, nyanyian, menunggang kuda untuk berburu, dan berbagai kesibukan sia-sia lainnya yang hanya mendatangkan mudarat di dunia dan akhirat tanpa memberikan manfaat yang sesungguhnya.

Seandainya seorang alim merenungkan perjalanan waktu yang telah dilaluinya, lalu memperhatikan bagaimana ilmu telah menyelamatkannya dari kehinaan akibat dikuasai orang-orang bodoh, menyelamatkannya dari kesedihan karena tidak mengetahui hakikat berbagai perkara, serta memberinya kebahagiaan karena tersingkap baginya berbagai urusan yang tersembunyi dari orang lain, niscaya ia akan semakin banyak memuji Allah Azza wa Jalla, semakin bangga dengan ilmu yang dimilikinya, dan semakin bersemangat untuk menambah ilmu tersebut.

Barang siapa menyibukkan dirinya dengan ilmu yang rendah sementara ia mampu mempelajari ilmu yang lebih tinggi, maka ia seperti orang yang menanam jagung di tanah yang sangat subur untuk gandum, atau seperti orang yang menanam pohon yang tidak bernilai di tempat yang sangat cocok untuk tumbuhnya kurma dan zaitun."

Ilmu atau Hiburan? Pilihan yang Menentukan Masa Depan

Setiap manusia diberi modal yang sama oleh Allah, yaitu waktu. Namun yang membedakan manusia satu dengan lainnya adalah bagaimana waktu tersebut digunakan.

Ada orang yang menghabiskan hidupnya untuk mengejar ilmu, memperbaiki diri, dan memberi manfaat kepada sesama. Sebaliknya, ada pula yang menghabiskan hari-harinya dalam kesenangan sementara yang tidak memberikan manfaat berarti.

Dalam nasihat yang sangat berharga ini, seorang ulama mengingatkan bahwa banyak orang rela menghabiskan tenaga, pikiran, bahkan hartanya demi hiburan dan kesenangan yang tidak membawa keuntungan hakiki. Padahal jika usaha tersebut diarahkan kepada ilmu, niscaya mereka akan memperoleh kemuliaan dunia dan akhirat.

Kesibukan yang Menguras Umur Tanpa Hasil

Penulis menyebut beberapa bentuk kesibukan yang banyak melalaikan manusia pada zamannya, seperti:

  • Permainan yang berlebihan
  • Perjudian
  • Minuman keras
  • Hiburan yang melalaikan
  • Berburu sekadar untuk kesenangan
  • Berbagai aktivitas sia-sia lainnya

Meskipun bentuk hiburan zaman sekarang berbeda, hakikatnya tetap sama.

Hari ini manusia mungkin menghabiskan berjam-jam untuk:

  • Media sosial tanpa tujuan
  • Menonton konten yang tidak bermanfaat
  • Bermain gim sepanjang hari
  • Mengikuti gosip dan sensasi
  • Perdebatan yang tidak menghasilkan kebaikan

Masalahnya bukan sekadar waktu yang hilang, tetapi juga kesempatan yang terbuang.

Waktu yang berlalu tidak akan pernah kembali. Setiap jam yang dihabiskan tanpa manfaat berarti berkurangnya kesempatan untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah.

Mengapa Ilmu Lebih Berharga daripada Hiburan?

Banyak hiburan hanya memberikan kesenangan sesaat. Setelah selesai, manusia kembali pada kegelisahan yang sama.

Berbeda dengan ilmu.

Semakin banyak ilmu yang diperoleh, semakin besar manfaat yang dirasakan.

Ilmu:

  • Menambah pemahaman
  • Menguatkan iman
  • Menenangkan hati
  • Membantu mengambil keputusan
  • Membuka jalan rezeki
  • Meninggikan derajat seseorang

Karena itu para ulama memandang ilmu sebagai investasi terbaik yang dapat dimiliki manusia.

Semua harta bisa hilang, tetapi ilmu akan tetap melekat pada pemiliknya dan terus memberikan manfaat sepanjang hidup.

Renungkan Berapa Banyak Kehinaan yang Dihindarkan oleh Ilmu

Salah satu poin yang sangat mendalam dalam teks ini adalah ajakan untuk merenungkan manfaat ilmu yang sering tidak disadari.

Seorang alim diminta untuk melihat kembali perjalanan hidupnya.

Berapa banyak kesalahan yang berhasil dihindarinya karena ilmu?

Berapa banyak keputusan yang menjadi benar karena ilmu?

Berapa banyak kehinaan yang tidak menimpanya karena ilmu?

Orang yang tidak memiliki ilmu sering kali menjadi korban kebodohan orang lain. Ia mudah tertipu, mudah dipermainkan, dan tidak mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

Sebaliknya, ilmu memberikan perlindungan.

Ia menjadi cahaya yang membantu seseorang melihat jalan yang benar ketika orang lain masih kebingungan.

Ilmu Membuka Tabir yang Tertutup bagi Banyak Orang

Penulis juga menjelaskan bahwa ilmu menyingkap berbagai hakikat yang tersembunyi dari kebanyakan manusia.

Orang awam melihat sesuatu hanya dari permukaannya.

Namun orang yang berilmu mampu melihat:

  • Sebab di balik suatu peristiwa
  • Hikmah di balik ujian
  • Dampak dari sebuah keputusan
  • Konsekuensi suatu tindakan

Karena itu para ulama sering mampu memberikan pandangan yang lebih bijaksana dibandingkan kebanyakan manusia.

Mereka tidak hanya melihat apa yang tampak di depan mata, tetapi juga memahami apa yang berada di baliknya.

Inilah salah satu kenikmatan ilmu yang sangat besar.

Semakin Berilmu, Semakin Banyak Bersyukur

Nasihat ini juga mengajarkan bahwa ilmu seharusnya melahirkan rasa syukur.

Ketika seseorang menyadari betapa banyak manfaat yang diperolehnya dari ilmu, ia akan semakin memuji Allah.

Ia menyadari bahwa:

  • Kemampuan memahami ilmu adalah karunia
  • Kesempatan belajar adalah nikmat
  • Guru-guru yang mengajarinya adalah anugerah
  • Waktu yang digunakan untuk belajar adalah keberkahan

Karena itu para ulama tidak pernah merasa cukup dengan ilmu yang mereka miliki.

Semakin tinggi ilmu mereka, semakin besar pula keinginan untuk terus belajar.

Mereka memahami bahwa lautan ilmu Allah tidak memiliki batas.

Bahaya Menyibukkan Diri dengan Ilmu yang Kurang Penting

Bagian terakhir dari teks ini mengandung peringatan yang sangat tajam.

Tidak semua ilmu memiliki kedudukan yang sama.

Ada ilmu yang manfaatnya besar dan ada pula ilmu yang manfaatnya terbatas.

Karena itu seseorang harus mampu menentukan prioritas.

Penulis memberikan perumpamaan yang indah.

Orang yang mampu mempelajari ilmu tinggi tetapi justru menyibukkan diri dengan ilmu yang rendah diibaratkan seperti petani yang menanam jagung di tanah terbaik yang sebenarnya sangat cocok untuk menghasilkan gandum berkualitas tinggi.

Kerugiannya bukan karena jagung tidak berguna.

Kerugiannya karena ia kehilangan hasil yang jauh lebih besar.

Prioritaskan Ilmu yang Mendekatkan kepada Allah

Para ulama selalu mengajarkan pentingnya mendahulukan ilmu yang paling bermanfaat.

Di antara ilmu yang paling utama adalah:

Ilmu Tauhid

Mengenal Allah dengan benar dan memahami hak-hak-Nya.

Ilmu Al-Qur'an

Memahami petunjuk hidup yang diturunkan Allah kepada manusia.

Ilmu Hadis

Mempelajari sunnah Nabi sebagai pedoman kehidupan.

Ilmu Akhlak

Membentuk karakter yang mulia dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Ilmu Fikih

Memahami cara beribadah dan bermuamalah sesuai syariat.

Setelah fondasi ini kuat, seseorang dapat memperluas pengetahuannya ke bidang lain yang bermanfaat.

Cara Menggunakan Waktu dengan Bijak

Agar tidak terjebak dalam kesibukan yang sia-sia, beberapa langkah berikut dapat dilakukan:

Tetapkan Tujuan Hidup

Orang yang memiliki tujuan akan lebih mudah menjaga waktunya.

Sisihkan Waktu Belajar Setiap Hari

Meskipun hanya 30 menit, konsistensi akan menghasilkan perubahan besar.

Kurangi Aktivitas yang Tidak Bermanfaat

Evaluasi kebiasaan harian dan kurangi hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat.

Pilih Lingkungan yang Mendukung

Berteman dengan orang-orang yang mencintai ilmu akan membantu menjaga semangat belajar.

Fokus pada Ilmu yang Paling Penting

Dahulukan ilmu agama dan ilmu yang memberikan manfaat nyata bagi kehidupan.

Penutup

Nasihat ulama ini mengingatkan bahwa umur adalah modal yang sangat berharga. Banyak orang menghabiskan hidupnya untuk kesibukan yang tidak memberikan manfaat, sementara ilmu menawarkan kemuliaan, ketenangan, dan petunjuk menuju kebahagiaan dunia serta akhirat.

Ilmu menyelamatkan manusia dari kehinaan, membuka tabir berbagai hakikat, dan mengantarkan pemiliknya kepada rasa syukur yang lebih dalam kepada Allah.

Karena itu, jangan biarkan hari-hari berlalu tanpa belajar. Gunakan masa muda, kesehatan, dan kesempatan yang ada untuk mengumpulkan ilmu yang bermanfaat. Sebab waktu yang digunakan untuk mencari ilmu tidak pernah menjadi kerugian, tetapi merupakan investasi terbaik yang akan terus memberikan keuntungan sepanjang hidup hingga akhirat.

Wallahu a‘lam.

Teks Asli :

وَفِي مثله أتعب ضعفاء الْمُلُوك أنفسهم فتشاغلوا عَمَّا ذكرنَا بالشطرنج والنرد وَالْخمر والأغاني وركض الدَّوَابّ فِي طلب الصَّيْد وَسَائِر الفضول الَّتِي تعود بالمضرة فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَة وَأما فَائِدَة فَلَا فَائِدَة لَو تدبر الْعَالم فِي مُرُور ساعاته مَاذَا كَفاهُ الْعلم من الذل بتسلط الْجُهَّال وَمن الْهم بمغيب الْحَقَائِق عَنهُ وَمن الْغِبْطَة بِمَا قد بَان لَهُ وَجهه من الْأُمُور الْخفية عَن غَيره لزاد حمدا لله عز وجل وغطبة بِمَا لَدَيْهِ من الْعلم ورغبة فِي الْمَزِيد مِنْهُ من شغل نَفسه بِأَدْنَى الْعُلُوم وَترك أَعْلَاهَا وَهُوَ قَادر عَلَيْهِ كَانَ كزارع الذّرة فِي الأَرْض الَّتِي يجود فِيهَا الْبر وكغارس الشُّعَرَاء حَيْثُ يزكو النّخل وَالزَّيْتُون

Judul Kitab: Al-Akhlaq wa As-Siyar Fi Mudāwāt an-Nufūs (Akhlak dan Perjalanan Hidup dalam Mengobati Jiwa)

Penulis: Ali bin Ahmad bin Sa'id bin Hazm al-Andalusi al-Qurthubi az-Zhahiri (Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa'id bin Hazm al-Andalusi al-Qurthubi az-Zhahiri, wafat tahun 456 H)

Baca juga:

Keutamaan Ilmu Menurut Ulama: Mengapa Menuntut IlmuMenjadi Kewajiban bagi Setiap Muslim?

Tafsir Akhlak Qur’an dan Hadits Menurut Ibnu Hazm: MenahanHawa Nafsu, Kunci Surga dan Ketenangan Jiwa

AdabMenyebarkan Ilmu: Kapan Harus Mengajar dan Mengapa Ilmu Tertinggi Adalah yangMendekatkan kepada Allah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apakah Cinta Akan Memudar Karena Terlalu Sering Bersama? Ini Jawaban Ulama Klasik

Pendahuluan Salah satu anggapan yang sering beredar di tengah masyarakat adalah bahwa cinta akan memudar apabila dua orang terlalu lama ...