Pendahuluan
Di antara rangkaian wasiat para raja
keturunan Qahtan bin Hud, terdapat nasihat yang sangat penting dari Amr Dzu
Al-Adz'ar kepada kedua putranya, Tubba' dan Rufaidah. Wasiat ini berbicara
tentang hakikat kepemimpinan, pentingnya persatuan, serta bahaya perebutan
kekuasaan dalam sebuah kerajaan.
Amr Dzu Al-Adz'ar dikenal sebagai
salah satu raja besar Himyar yang berhasil memperluas pengaruh kerajaannya
hingga ke berbagai wilayah. Karena kewibawaan dan kekuatannya, banyak bangsa
merasa takut dan gentar ketika mendengar kedatangannya. Dari situlah ia
memperoleh gelar Dzu Al-Adz'ar, yaitu "yang membuat musuh ketakutan."
Menjelang akhir masa pemerintahannya,
ia menyampaikan pesan yang menjadi fondasi kestabilan kerajaan selama
bertahun-tahun setelah wafatnya.
Hakikat Kekuasaan Menurut Amr Dzu Al-Adz'ar
Dalam wasiatnya, Amr menjelaskan
bahwa kepemimpinan bukan sekadar kehormatan atau warisan keluarga.
Menurutnya, kerajaan membutuhkan
banyak unsur penting seperti:
- Kewaspadaan dalam mengambil keputusan.
- Kemampuan mengatur urusan rakyat.
- Ketegasan dalam menghadapi masalah.
- Kesabaran dalam menghadapi berbagai keadaan.
- Keberanian membela negara.
- Kecakapan menghadapi musuh.
Semua unsur tersebut harus dimiliki
oleh seorang pemimpin agar kerajaan dapat berjalan dengan baik.
Karena itu, ia menegaskan bahwa
tidak semua orang memahami bagaimana cara memimpin sebuah negara dan menjaga
stabilitas kekuasaan.
Perumpamaan Kerajaan sebagai Batu Penggiling
Untuk menjelaskan pandangannya, Amr
menggunakan sebuah perumpamaan yang sangat menarik.
Ia mengatakan bahwa kerajaan
bagaikan batu penggiling yang berputar pada satu poros.
Selama poros itu satu, batu
penggiling akan terus berputar dengan baik.
Namun apabila ditambahkan poros
kedua, maka batu penggiling akan berhenti dan tidak dapat berfungsi sebagaimana
mestinya.
Melalui perumpamaan ini, Amr ingin
menjelaskan bahwa kepemimpinan tertinggi tidak dapat dijalankan oleh dua orang yang
memiliki kedudukan sama.
Apabila terdapat dua pusat kekuasaan
dalam satu kerajaan, maka perselisihan dan perebutan pengaruh akan sulit
dihindari.
Akibatnya, negara akan kehilangan
arah dan stabilitas.
Mahkota Tidak Dapat Dipakai Dua Kepala
Amr kemudian menyampaikan sebuah
ungkapan yang sangat terkenal.
Ia berkata bahwa satu mahkota tidak
akan pernah cukup untuk dua kepala.
Sebagaimana dua pedang tidak dapat
ditempatkan dalam satu sarung, demikian pula dua penguasa tidak dapat memegang
kekuasaan tertinggi secara bersamaan.
Ungkapan ini menunjukkan pemahaman
mendalam tentang pentingnya kejelasan struktur kepemimpinan.
Dalam sebuah organisasi, keluarga,
perusahaan, maupun negara, pembagian peran yang jelas jauh lebih efektif
daripada persaingan kekuasaan yang tidak berujung.
Wasiat kepada Rufaidah untuk Taat kepada Tubba'
Setelah menetapkan Tubba' sebagai
penerus kerajaan, Amr secara khusus berpesan kepada putranya yang lain,
Rufaidah.
Ia meminta Rufaidah untuk menerima
keputusan tersebut dan mendukung kepemimpinan saudaranya.
Dalam syair yang disampaikannya, Amr
menjelaskan bahwa Tubba' akan memimpin kerajaan, sedangkan Rufaidah akan
menjadi pendukung utama yang membantu menjaga kekuatan negara.
Menurutnya, kerja sama kedua saudara
itu akan menghasilkan kemuliaan yang besar bagi keduanya.
Tubba' akan memperoleh kejayaan
sebagai raja, sementara Rufaidah akan memperoleh kehormatan sebagai penopang
utama kerajaan.
Pesan ini menunjukkan bahwa
keberhasilan tidak selalu harus dicapai melalui posisi tertinggi. Seseorang
dapat memperoleh kemuliaan melalui kerja sama, loyalitas, dan kontribusi yang
tulus.
Persatuan Lebih Kuat daripada Persaingan
Dalam syairnya, Amr juga menegaskan
bahwa dua putra pemimpin yang bersatu dalam satu tujuan akan lebih mudah meraih
keberhasilan.
Ketika keduanya memiliki pandangan
yang sama dan saling mendukung, mereka mampu mencapai apa yang mereka inginkan
dengan lebih mudah dibandingkan jika saling bersaing.
Nasihat ini menunjukkan bahwa
persatuan merupakan salah satu sumber kekuatan terbesar dalam kepemimpinan.
Banyak kerajaan runtuh bukan karena
musuh dari luar, melainkan karena konflik internal yang terjadi di antara
anggota keluarga penguasa sendiri.
Sebaliknya, banyak kerajaan bertahan
lama karena para pemimpinnya mampu menjaga persaudaraan dan kerja sama.
Tubba' Menjadi Raja dan Rufaidah Menjadi Menteri
Riwayat menyebutkan bahwa setelah
wafatnya Amr Dzu Al-Adz'ar, Tubba' naik takhta sebagai raja.
Sementara itu, Rufaidah menerima
amanah sebagai menteri utama kerajaan.
Pembagian tugas tersebut berjalan
sesuai dengan wasiat ayah mereka.
Tubba' menangani urusan pemerintahan
dan kepemimpinan tertinggi negara.
Rufaidah membantu menjalankan
berbagai urusan kerajaan sebagai penasihat dan pembantu utama raja.
Keduanya hidup dalam keharmonisan selama
bertahun-tahun dan tidak pernah menyelisihi pesan yang diwariskan oleh ayah
mereka.
Masa Kejayaan Tubba' Pertama
Riwayat menyebutkan bahwa Tubba'
menjalankan pemerintahan dengan sangat baik.
Ia mengikuti jejak ayahnya dalam
menegakkan keadilan dan menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat.
Kewibawaannya begitu besar sehingga
ia memperoleh tingkat ketaatan rakyat yang belum pernah dicapai oleh para
penguasa sebelumnya.
Keberhasilannya tidak hanya terletak
pada kekuatan militer, tetapi juga pada kemampuannya menciptakan stabilitas dan
kesejahteraan bagi rakyat.
Karena itu, namanya dikenang sebagai
salah satu raja terbesar dalam sejarah Himyar.
Tubba' dalam Pujian Para Penyair
Salah satu penyair pada masanya,
Al-Mautsaban bin Dzi Harits, menggambarkan keagungan Tubba' melalui syair yang
memuji kekuasaannya.
Menurut penyair tersebut, kekuasaan
Tubba' di bumi bagaikan cahaya matahari yang menyinari seluruh penjuru langit.
Ia digambarkan sebagai:
- Raja yang terpuji dalam pemerintahannya.
- Pemimpin yang mulia dan dermawan.
- Penguasa yang menghidupkan kembali kemakmuran rakyat.
- Raja yang memiliki pasukan kuat dan disegani.
- Pemimpin yang menerima penghormatan dan upeti dari
berbagai negeri.
Syair-syair tersebut menunjukkan
besarnya pengaruh Tubba' dalam ingatan masyarakat Arab kuno.
Pelajaran Kepemimpinan dari Wasiat Amr Dzu Al-Adz'ar
Wasiat ini mengandung banyak hikmah
yang tetap relevan hingga sekarang.
1.
Kepemimpinan Membutuhkan Struktur yang Jelas
Sebuah organisasi akan berjalan
lebih baik apabila setiap orang memahami tugas dan tanggung jawabnya.
2.
Dua Pusat Kekuasaan Menimbulkan Konflik
Ketidakjelasan otoritas sering
menjadi penyebab utama perselisihan dan perpecahan.
3.
Persatuan Lebih Bernilai daripada Ambisi Pribadi
Kerja sama yang baik dapat
menghasilkan keberhasilan yang jauh lebih besar daripada persaingan.
4.
Kesetiaan Adalah Pilar Stabilitas
Loyalitas kepada pemimpin yang sah
membantu menjaga ketertiban dan keberlangsungan organisasi.
5.
Jabatan Bukan Satu-satunya Jalan Menuju Kemuliaan
Seseorang dapat memperoleh
kehormatan melalui peran pendukung yang dijalankan dengan baik dan penuh
tanggung jawab.
6.
Keadilan Melahirkan Ketaatan
Tubba' memperoleh dukungan rakyat
karena pemerintahannya didasarkan pada keadilan dan kebaikan.
Penutup
Wasiat Amr Dzu Al-Adz'ar kepada
Tubba' dan Rufaidah merupakan salah satu pelajaran kepemimpinan yang paling
berharga dalam tradisi raja-raja Himyar. Melalui perumpamaan sederhana namun
mendalam, ia menjelaskan bahwa kerajaan hanya dapat berjalan baik apabila
memiliki satu pusat kepemimpinan yang jelas, didukung oleh orang-orang yang
loyal dan mampu bekerja sama.
Keberhasilan Tubba' dan Rufaidah
dalam menjalankan pesan tersebut membuktikan bahwa persatuan, pembagian tugas
yang tepat, serta kesetiaan kepada tujuan bersama merupakan fondasi utama bagi
lahirnya pemerintahan yang kuat dan stabil.
Nilai-nilai ini tetap relevan hingga
sekarang, baik dalam keluarga, organisasi, perusahaan, maupun pemerintahan.
Sebab di mana pun terdapat kepemimpinan, di sana dibutuhkan kejelasan peran, persatuan
hati, dan kesediaan untuk bekerja bersama demi kebaikan yang lebih besar.
Referensi:
وحدّثني علي بن محمد، عن جده الدعبل بن علي، أن عمرًا
ذا الأذعار وصى ابنيه تبعًا ورفيدة فقال لهما: غيركما يجهل الملك وسياسته ورعايته
وكلاءته وما يحتاج إليه الملك من التيقظ والتدبير والحزم والحلم والموالجة
والمحاماة والمناوأة، وما الملك إلا رحى تدور على قطب، فإن جعل لها مع ذلك القطب
قطب آخر وقفت الرحى منها. وهذا لتعلما أن الملك لا يستوي لاثنين إلا أن يكون
أحدهما المقتدي والآخر المقتدى به. وقد علمتما أن التاج لا يسع الرأسين، ولا يجمع
الرأسان في تاج أبدًا، كما لا يصلح السيفان في غمد.
ثم أنشأ يقول شعرًا يأمر فيه ابنه رفيدة بطاعة أخيه
تبع بن عمرو ذي الأذعار وهو التبع الأول:
رُفيدةُ لا تعصِ أباكَ فإنَّهُ ... رأى رأيهُ أن يُعطي
المُلكَ تُبَّعَا
ليُعطيكَ الخيلَ المُغيرةَ تُبَّعٌ ... فترعى لهُ
المُلكَ اللَّقاحَ المُمنَّعا
ينالُ بكَ العليَا وأنتَ كمِثلِهِ ... تنالُ به طودًا
من العِزِّ ميفعا
وتصبحُ ركنًا دُونهُ ووزيرَهُ ... منيعًا ويُمسي
مؤئلًا لكَ مفزعا
فما عَزَمَ ابنا سيِّدٍ وتعاضدا ... على سَبَبٍ رأيًا
هُما فيهِ أجمعا
وقاما لهُ إلا ونالاهُ جهرةً ... وفازا بِهِ منْ دونِ
من ذاقهُ معا
قال علي بن محمد: قال الدعبل بن علي: فيقال إن تبع بن
عمرو ذي الأذعار ولي الملك بعد أبيه، وقلد أخاه رفيدة بن عمرو الوزارة، فكان إلى
التبع ما يكون إلى الملك، وكان إلى رفيدة ما يكون إلى الوزير، فبقيا في ذلك دهرًا
طويلًا على وصيته أبيهما عمرو ذي الأذعار، وسار الملك تبع في الناس سيرة أبيه ذي
الأذعار، وبسط العدل والإحسان في الأرض، ورزق من الهيبة، وأعطي من الطاعة ما لم
يعط أحد قبله. وهو الذي يقول فيه الموثبان بن ذي حارث: «من السريع»
مَنْ ذا الذي يسألُ عن تُبَّعٍ ... كأنَّهُ لم يدْرِ
ما تُبَّعُ
وتُبَّعٌ في الأرضِ سُلطَانُهُ ... كالشَّمسِ في
آفاقها تسطعُ
المَلِكُ المحمُودُ في مُلكِهِ ... والماجِدُ المُهرُ
الذي يَمرَعُ
قد ملكَ النَّاس فأحياهُمُ ... ناهيكَ من تُبَّعٍ
مُستمتعُ
ذُو الغارةِ السَّوداءِ تجري لهُ ... أوارد العُصْم
فلا تُمنعُ
وَخَيلُهُ مُرسلَةٌ في العدا ... زُهوًا رِعالًا
تمرَعُ
إتاوةُ الأرضِ وَمَنْ حلَّها ... طوعًا إلى تُبَّعٍ
تُدفعُ
ما رَفَعَ التُبَّعُ لم يُوهِهِ ... مُوهٍ وما أوهاهُ
لا يُرفَعُ
Sumber :
ـ[وصايا الملوك وأبناء الملوك من ولد قحطان بن هود]ـ
المؤلف: دعبل بن علي الخزاعي الشاعر المشهور (المتوفى:
٢٤٦هـ)
رواية: علي محمد بن دعبل الخزاعي
Baca juga:
Wasiat Raja Tubba' bin Amr kepada
Putranya Hasan: Rahasia Kepemimpinan dan Menjaga Kekuasaan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar