Pendahuluan
Salah satu pembahasan paling
mendalam dalam ilmu akidah adalah hubungan antara zat Allah dan sifat-sifat-Nya.
Apakah ilmu, qudrah, hayat, dan sifat-sifat Allah merupakan zat-Nya sendiri,
ataukah berbeda dari zat-Nya? Persoalan ini telah menjadi bahan diskusi panjang
di kalangan ulama ilmu kalam.
Dalam Al-Maqshad Al-Asna,
Imam Al-Ghazali memberikan penjelasan yang sangat teliti mengenai penggunaan
istilah "ghair" (selain atau berbeda). Beliau menegaskan bahwa
mengakui adanya perbedaan makna antara zat dan sifat tidak berarti menetapkan
adanya tuhan lain atau merusak keesaan Allah. Yang dimaksud hanyalah perbedaan
konsep dan definisi, bukan pemisahan wujud.
Sumber
Kitab: Al-Maqshad Al-Asna fi Syarh Ma'ani Asma'illah Al-Husna
Pengarang: Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (w. 505 H)
Penulis
Imam Abu Hamid Al-Ghazali dikenal
sebagai Hujjatul Islam, seorang ulama besar yang berhasil memadukan ilmu
fikih, usul fikih, tasawuf, filsafat, dan ilmu kalam. Dalam kitab Al-Maqshad
Al-Asna, beliau menjelaskan makna nama-nama Allah dengan pendekatan bahasa,
logika, dan akidah sehingga pembahasannya menjadi sangat sistematis dan mudah
dipahami oleh para penuntut ilmu.
Tema
Makna "Ghair" antara Zat
dan Sifat Allah Menurut Imam Al-Ghazali
Terjemahan Lengkap
Barang siapa memahami pembahasan
ini, maka ia akan mengetahui bahwa apabila seseorang menetapkan bagi Allah
'Azza wa Jalla sifat qudrah (kekuasaan) dan ilmu yang merupakan
tambahan atas zat dalam pengertian makna, maka ia telah menetapkan sesuatu yang
berbeda dari zat, dan ia juga menetapkan adanya makna perbedaan (ghairiyyah),
meskipun ia tidak mengucapkan lafaz "berbeda" karena berhenti pada
batas yang ditetapkan syariat.
Bagaimana mungkin tidak demikian,
padahal apabila dijelaskan definisi ilmu, maka ilmu Allah termasuk di dalam
definisi itu, sedangkan qudrah-Nya dan zat-Nya tidak termasuk di dalam definisi
tersebut.
Sesuatu yang berada di luar suatu
definisi, bagaimana mungkin tidak berbeda dengan sesuatu yang berada di dalam
definisi itu?
Bagaimana mungkin seorang yang
mendefinisikan ilmu, ketika qudrah tidak masuk dalam definisi ilmu, lalu
berkata:
"Tidak menjadi masalah apabila
qudrah berada di luar definisi ilmu, karena aku memang sedang mendefinisikan
ilmu. Qudrah berbeda dari ilmu sehingga aku tidak berkewajiban memasukkannya ke
dalam definisi ilmu."
Demikian pula zat yang memiliki ilmu
berbeda dari ilmu itu sendiri, sehingga tidak wajib memasukkan zat ke dalam
definisi ilmu.
Barang siapa mengingkari ucapan
bahwa sesuatu yang berada di dalam suatu definisi berbeda dari sesuatu yang
berada di luar definisi tersebut, dan menganggap penggunaan kata "ghair"
dalam hal ini mustahil, maka ia termasuk orang yang belum memahami makna kata ghair.
Menurutku, sebenarnya bukan karena
ia tidak memahami maknanya, sebab makna kata itu sudah jelas.
Akan tetapi, boleh jadi lisannya
mengucapkan sesuatu yang sebenarnya ditolak oleh akalnya sendiri, sementara
hatinya membenarkan kebalikannya.
Tujuan argumentasi ilmiah yang
bersifat demonstratif bukanlah menundukkan lisan manusia, melainkan meyakinkan
akal agar mengakui kebenaran dalam batinnya, baik ia mengungkapkannya dengan
lisan maupun tidak.
Artikel Pengembangan
Perbedaan
Zat dan Sifat Bukan Berarti Ada Dua Tuhan
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa
istilah "berbeda" sering disalahpahami.
Sebagian orang mengira bahwa jika
ilmu Allah berbeda dari zat Allah, berarti ada dua entitas yang terpisah.
Padahal yang dimaksud hanyalah perbedaan
makna dan konsep, bukan perpecahan dalam wujud Allah.
Allah tetap Esa tanpa sekutu.
Namun, ketika manusia menjelaskan
sifat-sifat-Nya, setiap sifat memiliki pengertian yang berbeda.
Ilmu bukan qudrah.
Qudrah bukan iradah.
Iradah bukan hayat.
Masing-masing mempunyai makna
tersendiri.
Dalil
dari Definisi
Imam Al-Ghazali menggunakan metode
logika yang sangat sederhana.
Misalnya, ketika seseorang
mendefinisikan ilmu, definisi itu hanya mencakup hakikat ilmu.
Definisi tersebut tidak mencakup
qudrah.
Apalagi zat Allah.
Karena itu, sesuatu yang berada di
luar definisi pasti berbeda secara konsep dengan sesuatu yang berada di dalam
definisi.
Perbedaan inilah yang beliau maksud
dengan ghairiyyah.
Mengapa
Sebagian Orang Menolak Istilah "Ghair"?
Menurut Imam Al-Ghazali, penolakan
itu lebih banyak disebabkan oleh kekhawatiran terhadap penyimpangan akidah.
Mereka takut jika mengatakan sifat
berbeda dari zat, orang akan memahami bahwa Allah tersusun dari beberapa
bagian.
Karena itulah sebagian ulama memilih
diam dan tidak menggunakan istilah tersebut demi menjaga lafaz yang digunakan
dalam akidah.
Namun secara makna, mereka tetap
mengakui adanya perbedaan konsep antara zat dan sifat.
Tujuan
Logika adalah Meyakinkan Akal
Kalimat penutup Imam Al-Ghazali
merupakan salah satu ungkapan yang sangat indah dalam ilmu kalam.
Beliau menegaskan bahwa tujuan
dialog ilmiah bukanlah memenangkan perdebatan atau memaksa lawan bicara
mengucapkan suatu kalimat.
Yang lebih penting adalah agar akal
menerima kebenaran.
Seseorang mungkin enggan mengucapkan
istilah tertentu karena alasan kehati-hatian.
Namun apabila akalnya telah memahami
hakikat persoalan, maka tujuan ilmu sebenarnya telah tercapai.
Pelajaran
Metodologis dari Imam Al-Ghazali
Pembahasan ini juga mengajarkan
metode berpikir yang sangat penting.
Sebelum menolak atau menerima suatu
istilah, seseorang harus memahami makna istilah tersebut.
Sering kali perselisihan terjadi
bukan karena berbeda keyakinan, melainkan karena menggunakan kata yang sama
dengan makna yang berbeda.
Imam Al-Ghazali mengajarkan agar
istilah dijelaskan terlebih dahulu, kemudian barulah diberikan penilaian.
Pendekatan ini menjadikan pembahasan
akidah lebih jernih, ilmiah, dan jauh dari kesalahpahaman.
Hikmah
Beberapa pelajaran penting dari
pembahasan ini antara lain:
- Perbedaan antara zat dan sifat Allah adalah perbedaan
makna, bukan perbedaan wujud.
- Definisi suatu konsep menunjukkan batas maknanya;
sesuatu di luar definisi berarti berbeda secara konseptual.
- Menggunakan istilah ghair memerlukan ketelitian
agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam akidah.
- Perdebatan ilmiah seharusnya bertujuan menjelaskan
kebenaran, bukan sekadar memenangkan argumen.
- Ketelitian dalam memahami istilah merupakan kunci untuk
menghindari kekeliruan dalam ilmu kalam.
- Imam Al-Ghazali menunjukkan bahwa logika yang benar
dapat memperkuat pemahaman terhadap tauhid, bukan melemahkannya.
Penutup
Dalam pembahasan ini, Imam
Al-Ghazali memperlihatkan kedalaman analisisnya mengenai hubungan antara zat
dan sifat Allah. Beliau menjelaskan bahwa mengakui adanya perbedaan makna
antara sifat dan zat bukanlah penyimpangan akidah, melainkan konsekuensi logis
dari cara manusia memahami dan mendefinisikan konsep-konsep tersebut. Perbedaan
itu tidak menunjukkan adanya pemisahan dalam diri Allah, tetapi hanya
menunjukkan bahwa setiap sifat memiliki pengertian yang khas.
Dengan pendekatan bahasa, logika,
dan akidah yang terpadu, Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa memahami istilah
secara tepat merupakan langkah awal untuk menjaga kemurnian tauhid. Dari sini kita
belajar bahwa ilmu yang benar tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga
menuntun akal untuk tunduk kepada kebenaran yang selaras dengan wahyu.
Teks Arab :
وَمن فهم هَذَا علم أَنه إِذا أثبت لله عز وجل وصف
الْقُدْرَة وَالْعلم زَائِدا على الذَّات فقد أثبت مَا هُوَ غير الذَّات وَأثبت
للغيرية معنى وَإِن لم يُطلقهُ لفظا توقفا إِلَى وُرُود التَّوْقِيف فَكيف لَا
وَإِذا ذكر حد الْعلم دخل فِيهِ علم الله عز وجل وَلم يدْخل فِيهِ قدرته وَلَا
ذَاته وَالْخَارِج عَن الْحَد كَيفَ لَا يكون غير الدَّاخِل فِي الْحَد وَكَيف لَا
يجوز لحاد الْعلم إِذا لم يدْخل فِي حَده الْقُدْرَة أَن يعْتَذر وَيَقُول لَا
يضرني خُرُوج الْقُدْرَة عَن الْحَد لِأَنِّي حددت الْعلم وَالْقُدْرَة غير الْعلم
فَلَا يلْزَمنِي إدخالها فِي حد الْعلم فَكَذَلِك الذَّات العالمة غير الْعلم
فَلَا يلْزَمنِي إدخالها فِي حد الْعلم فَمن استنكر قَول الْقَائِل الدَّاخِل فِي
الْحَد غير الْخَارِج مِنْهُ وأحال إِطْلَاق لفظ الْغَيْر هَاهُنَا كَانَ من جملَة
من لم يفهم معنى لفظ الْغَيْر وَمَا عِنْدِي أَنه لَا يفهم فَإِن معنى لفظ
الْغَيْر ظَاهر لَكِن عساه يَقُول بِلِسَانِهِ مَا ينبو عَنهُ عقله ويكذبه فِيهِ
سره وَلَيْسَ الْغَرَض من المحاجة البرهانية اقتناص الْأَلْسِنَة بل اقتناص
الْعُقُول لتعترف بَاطِنا بِمَا هُوَ الْحق أفْصح عَنهُ بِاللِّسَانِ أَو لم يفصح
Baca juga:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar