Apakah Allah Disifati sebagai Al-Khaliq? Penjelasan Imam Al-Ghazali tentang Sifat Idhafiyah dalam Islam

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa Al-Khaliq adalah sifat Allah. Simak pembahasan sifat idhafiyah dan bantahan terhadap kekeliruan ahli kalam

Pendahuluan

Dalam pembahasan mengenai Asmaul Husna, Imam Al-Ghazali tidak hanya menjelaskan makna setiap nama Allah, tetapi juga mengkritisi kekeliruan logika yang muncul dalam sebagian perdebatan ilmu kalam. Salah satunya adalah anggapan bahwa nama Al-Khaliq tidak menunjukkan sifat bagi Allah karena berkaitan dengan hubungan antara Allah dan makhluk.

Menurut Imam Al-Ghazali, pendapat tersebut lahir dari kesalahan memahami sifat idhafiyah (relasional). Beliau menegaskan bahwa hubungan seperti "mencipta", "menjadi ayah", atau "memberi rezeki" tetap merupakan sifat bagi subjeknya, meskipun maknanya hanya dapat dipahami melalui hubungan dengan pihak lain. Penjelasan ini menjadi salah satu argumentasi penting dalam memahami nama-nama Allah secara benar.

Sumber

Kitab: Al-Maqshad Al-Asna fi Syarh Ma'ani Asma'illah Al-Husna

Pengarang: Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (wafat 505 H)

Penulis

Imam Abu Hamid Al-Ghazali dikenal sebagai Hujjatul Islam, seorang ulama besar yang menguasai berbagai disiplin ilmu seperti akidah, fikih, ushul fikih, logika, filsafat, dan tasawuf. Dalam Al-Maqshad Al-Asna, beliau menjelaskan makna Asmaul Husna dengan analisis bahasa dan logika yang sangat mendalam sehingga menjadi rujukan penting dalam kajian akidah Islam.

Tema

Sifat Idhafiyah sebagai Sifat Allah: Penjelasan Imam Al-Ghazali tentang Nama Al-Khaliq

Terjemahan Lengkap

Adapun perkataan bahwa Al-Khaliq tidak memiliki sifat yang berasal dari penciptaan, dan Al-Katib tidak memiliki sifat yang berasal dari penulisan, maka pendapat itu tidak benar.

Dalil bahwa keduanya memiliki sifat tersebut ialah karena sifat itu terkadang dapat ditetapkan dan pada kesempatan lain dapat dinafikan.

Hubungan (idhafah) merupakan sifat bagi sesuatu yang disandari kepadanya. Sifat itu dapat ditetapkan ataupun dinafikan sebagaimana sifat putih, meskipun putih bukan termasuk sifat hubungan.

Misalnya seseorang telah mengenal Zaid dan Bakar. Kemudian ia mengetahui bahwa Zaid adalah ayah Bakar. Dengan pengetahuan itu ia pasti memperoleh pengetahuan baru.

Pengetahuan baru tersebut pasti berkaitan dengan suatu sifat atau sesuatu yang disifati.

Jelas bukan zat Zaid yang baru diketahui, melainkan suatu sifat yang melekat padanya.

Sifat itu bukan sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi merupakan sifat bagi Zaid.

Dengan demikian, hubungan-hubungan (idhafat) termasuk jenis sifat bagi pihak yang memiliki hubungan tersebut.

Hanya saja, maknanya tidak dapat dipahami kecuali dengan membandingkan dua hal.

Namun keadaan itu tidak mengeluarkannya dari kedudukannya sebagai sifat.

Seandainya ada orang berkata:

"Allah Yang Mahamulia tidak disifati sebagai Pencipta."

maka ia menjadi kafir.

Sebagaimana apabila ia berkata:

"Allah tidak disifati sebagai Yang Maha Mengetahui."

maka ia juga kafir.

Orang yang berpendapat demikian terjatuh dalam kekeliruan karena para ahli kalam tidak memasukkan hubungan (idhafah) ke dalam kategori aksiden ('aradh).

Padahal ketika mereka ditanya:

"Apa yang dimaksud dengan aksiden?"

Mereka menjawab:

"Sesuatu yang ada pada suatu tempat dan tidak berdiri sendiri."

Kemudian apabila ditanya:

"Apakah hubungan (idhafah) dapat berdiri sendiri?"

Mereka menjawab:

"Tidak."

Lalu ketika ditanya lagi:

"Apakah hubungan itu ada atau tidak ada?"

Mereka menjawab:

"Ada."

Sebab mereka tidak mungkin mengatakan bahwa hubungan ayah-anak (ubuwwah) itu tidak ada.

Jika hubungan ayah-anak tidak ada, tentu di dunia ini tidak akan ada seorang ayah.

Apabila ditanya lagi:

"Apakah hubungan itu berdiri sendiri?"

Mereka menjawab:

"Tidak."

Dengan demikian mereka terpaksa mengakui bahwa hubungan itu benar-benar ada pada suatu subjek dan tidak berdiri sendiri.

Mereka juga mengakui bahwa aksiden adalah sesuatu yang ada pada suatu tempat.

Namun setelah itu mereka justru kembali mengingkari bahwa hubungan termasuk aksiden.

Artikel Pengembangan

Apa Itu Sifat Idhafiyah?

Imam Al-Ghazali menjelaskan adanya sifat yang disebut idhafiyah, yaitu sifat yang dipahami melalui hubungan dengan sesuatu yang lain.

Misalnya:

  • ayah terhadap anak,
  • guru terhadap murid,
  • pemilik terhadap barang miliknya.

Hubungan-hubungan tersebut bukan benda yang berdiri sendiri.

Namun semuanya benar-benar ada.

Karena itu hubungan termasuk sifat yang melekat pada subjeknya.

Mengapa "Al-Khaliq" Merupakan Sifat Allah?

Sebagian orang beranggapan bahwa karena mencipta selalu berkaitan dengan makhluk, maka nama Al-Khaliq bukan sifat Allah.

Imam Al-Ghazali membantahnya.

Menurut beliau, Allah benar-benar disifati sebagai Pencipta.

Sifat tersebut memang dipahami melalui hubungan Allah dengan makhluk, tetapi tetap merupakan sifat yang melekat pada Dzat Allah.

Sama seperti seseorang disebut ayah karena memiliki anak.

Hubungan dengan anak tidak menghilangkan kenyataan bahwa "ayah" adalah sifat baginya.

Contoh Zaid sebagai Ayah Bakar

Imam Al-Ghazali menggunakan contoh yang sangat sederhana.

Seseorang mungkin telah mengenal:

  • Zaid,
  • Bakar.

Namun ketika ia mengetahui:

"Zaid adalah ayah Bakar."

Ia memperoleh pengetahuan baru.

Yang baru diketahui bukan zat Zaid.

Bukan pula zat Bakar.

Yang diketahui adalah hubungan di antara keduanya.

Hubungan tersebut benar-benar ada dan menjadi sifat bagi Zaid.

Dengan contoh ini, Imam Al-Ghazali menunjukkan bahwa hubungan merupakan sesuatu yang nyata, bukan sekadar anggapan.

Kritik terhadap Sebagian Ahli Kalam

Imam Al-Ghazali kemudian mengkritik inkonsistensi sebagian ahli kalam.

Mereka mendefinisikan 'aradh (aksiden) sebagai sesuatu yang:

  • ada,
  • tidak berdiri sendiri,
  • berada pada suatu subjek.

Ketika ditanya mengenai hubungan ayah-anak, mereka mengakui bahwa hubungan itu:

  • benar-benar ada,
  • tidak berdiri sendiri,
  • berada pada subjek.

Secara logis, hubungan tersebut memenuhi definisi aksiden.

Namun anehnya, mereka tetap menolak memasukkan hubungan ke dalam kategori aksiden.

Menurut Imam Al-Ghazali, penolakan ini menunjukkan adanya inkonsistensi dalam penggunaan istilah.

Hubungannya dengan Asmaul Husna

Pembahasan ini memiliki dampak besar dalam memahami nama-nama Allah.

Nama seperti:

  • Al-Khaliq,
  • Ar-Razzaq,
  • Al-Muhyi,
  • Al-Mumit,

semuanya menunjukkan Dzat Allah yang memiliki hubungan tertentu dengan makhluk-Nya.

Hubungan tersebut bukan sesuatu yang terpisah dari Allah.

Sebaliknya, ia merupakan sifat yang menunjukkan kesempurnaan-Nya.

Karena itu, menolak penyifatan Allah sebagai Al-Khaliq berarti menolak salah satu nama Allah yang telah ditegaskan dalam Al-Qur'an dan Sunnah.

Hikmah

Beberapa pelajaran penting dari penjelasan Imam Al-Ghazali ini adalah:

  • Hubungan (idhafah) merupakan salah satu bentuk sifat yang benar-benar ada.
  • Nama Al-Khaliq adalah sifat Allah yang menunjukkan kesempurnaan-Nya sebagai Pencipta.
  • Sifat relasional tidak kehilangan statusnya sebagai sifat hanya karena dipahami melalui hubungan dengan makhluk.
  • Logika yang konsisten sangat penting dalam memahami istilah-istilah akidah.
  • Asmaul Husna tidak hanya menunjukkan Dzat Allah, tetapi juga sifat-sifat kesempurnaan-Nya.
  • Ketelitian Imam Al-Ghazali mengajarkan pentingnya menyelaraskan definisi, logika, dan dalil syariat agar tidak terjatuh pada kontradiksi.

Penutup

Melalui pembahasan ini, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa sifat-sifat relasional seperti Al-Khaliq tetap merupakan sifat yang benar bagi Allah. Walaupun maknanya dipahami melalui hubungan antara Allah dan makhluk-Nya, hubungan tersebut tidak mengurangi kedudukannya sebagai sifat yang melekat pada Dzat Allah. Sebaliknya, hubungan itu menunjukkan kesempurnaan rububiyah dan kekuasaan-Nya.

Kritik Imam Al-Ghazali terhadap sebagian ahli kalam juga memberikan pelajaran berharga bahwa ketidakkonsistenan dalam mendefinisikan istilah dapat menimbulkan kekeliruan dalam memahami akidah. Oleh karena itu, mempelajari Asmaul Husna tidak cukup dengan mengetahui arti katanya, tetapi juga memerlukan pemahaman yang tepat mengenai hubungan antara nama, sifat, dan Dzat Allah sebagaimana dijelaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah.

Teks Arab :

وَأما قَوْله إِن الْخَالِق لَا وصف لَهُ من الْخلق وَالْكَاتِب لَا وصف لَهُ من الْكِتَابَة فَلَيْسَ كَذَلِك وَالدَّلِيل على أَن لَهُ وَصفا مِنْهُ أَنه يُوصف بِهِ مرّة وينفى عَنهُ أُخْرَى وَالْإِضَافَة وصف للمضاف يَنْفِي وَيثبت كالبياض الَّذِي لَيْسَ بمضاف فَمن عرف زيدا وبكرا ثمَّ عرف أَن زيدا أَب لبكر فقد عرف شَيْئا لَا محَالة وَهَذَا الشَّيْء إِمَّا وصف أَو مَوْصُوف وَلَيْسَ هُوَ ذَات الْمَوْصُوف بل هُوَ وصف وَلَيْسَ وَصفا قَائِما بِنَفسِهِ بل هُوَ وصف لزيد فالإضافات من قبيل

الْأَوْصَاف للمضافات إِلَّا أَن مضمونها لَا يعقل إِلَّا بِالْقِيَاسِ بَين شَيْئَيْنِ وَذَلِكَ لَا يُخرجهَا عَن كَونهَا أوصافا

وَلَو قَالَ الْقَائِل لَيْسَ الله عز وجل مَوْصُوفا بِكَوْنِهِ خَالِقًا كفر كَمَا لَو قَالَ لَيْسَ مَوْصُوفا بِكَوْنِهِ عَالما كفر وَلَكِن إِنَّمَا وَقع هَذَا الْقَائِل فِي هَذَا الْخبط لِأَن الْإِضَافَة عِنْد الْمُتَكَلِّمين غير مَعْدُودَة فِي جملَة الْأَعْرَاض مَعَ أَنهم إِذا قيل لَهُم مَا معنى الْعرض قَالُوا إِنَّه الْمَوْجُود فِي مَحل لَا يقوم بِنَفسِهِ وَإِذا قيل لَهُم هَل الْإِضَافَة تقوم بِنَفسِهَا قَالُوا لَا وَإِذا قيل لَهُم هَل الْإِضَافَة مَوْجُودَة أم لَا قَالُوا نعم إِذْ لَا يُمكنهُم أَن يَقُولُوا الْأُبُوَّة مَعْدُومَة إِذْ لَو كَانَت الْأُبُوَّة مَعْدُومَة لم يكن فِي الْعَالم أَب وَإِذا قيل لَهُم الْأُبُوَّة تقوم بِنَفسِهَا قَالُوا لَا فيضطرون إِلَى الِاعْتِرَاف بِأَنَّهَا مَوْجُودَة فِي مَحل وَأَنَّهَا لَا تقوم بِنَفسِهَا بل تقوم فِي مَحل ويعترفون بِأَن الْعرض عبارَة عَن مَوْجُود فِي مَحل ثمَّ يعودون وَيُنْكِرُونَ أَنه عرض

Baca juga:

Makna Nama Al-Khaliq Menurut Imam Al-Ghazali: ApakahMenunjukkan Zat Allah atau Sifat-Nya?

Koreksi Imam Al-Ghazali tentang Isim dan Musamma:Perbedaan Hakikat Zat dan Makna Nama

Apakah Isim Tidak Sama dan Tidak Berbeda dengan Musamma?Jawaban Tegas Imam Al-Ghazali tentang Nama, Sifat, dan Zat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perbedaan Nasihat dan Namimah: Sekilas Mirip, Tetapi Sangat Berbeda

Pendahuluan Salah satu persoalan yang sering membingungkan banyak orang adalah membedakan antara nasihat dan namimah (adu domba). Keduan...