Pendahuluan
Salah satu pertanyaan penting dalam
pembahasan Asmaul Husna adalah: Apakah nama-nama Allah sudah ada
sejak azali, ataukah nama-nama itu baru muncul ketika bahasa diciptakan?
Pertanyaan ini bukan sekadar
persoalan bahasa, tetapi juga berkaitan dengan akidah tentang keazalian
Allah dan sifat-sifat-Nya. Sebagian ulama khawatir bahwa jika nama dipahami
sebagai lafaz, berarti nama-nama Allah baru ada setelah bahasa diciptakan. Di
sisi lain, menyatakan bahwa nama adalah zat Allah juga menimbulkan persoalan
lain.
Dalam Al-Maqshad Al-Asna,
Imam Al-Ghazali memberikan jawaban yang sangat seimbang. Beliau membedakan
antara lafaz nama, makna nama, dan hakikat Allah sehingga
persoalan ini menjadi jelas tanpa menimbulkan pertentangan dengan prinsip
tauhid.
Sumber Nasihat
Kitab: Al-Maqshad Al-Asna fi Syarh Ma'ani Asma'illah Al-Husna
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
Al-Ghazali (450–505 H), yang bergelar Hujjatul
Islam, merupakan salah satu ulama terbesar dalam sejarah Islam. Dalam kitab
Al-Maqshad Al-Asna, beliau menjelaskan makna nama-nama Allah dengan
pendekatan bahasa Arab, ilmu kalam, dan logika sehingga persoalan-persoalan
akidah dapat dipahami secara runtut dan mendalam.
Tema
Keazalian Nama-Nama Allah: Perbedaan
antara Lafaz, Makna, dan Ilmu Allah Menurut Imam Al-Ghazali
Terjemahan Lengkap
Jika dikatakan:
"Sesungguhnya orang-orang yang
berpendapat bahwa nama adalah musamma terdorong mengatakan demikian karena
mereka khawatir apabila mengatakan bahwa nama adalah lafaz yang menunjukkan
makna berdasarkan kesepakatan bahasa, maka akan timbul konsekuensi bahwa Allah
Yang Mahamulia tidak memiliki nama pada zaman azali, sebab ketika itu belum ada
lafaz dan belum ada orang yang melafazkannya. Padahal lafaz adalah sesuatu yang
baru (hadis)."
Maka kami menjawab:
Kekhawatiran seperti itu sebenarnya
lemah dan mudah dijawab.
Dapat dikatakan bahwa makna-makna
nama telah tetap sejak azali, sedangkan lafaz nama belum ada.
Sebab nama-nama itu berupa bahasa
Arab, bahasa asing, dan bahasa-bahasa lainnya, sementara semuanya merupakan
sesuatu yang baru.
Hal ini berlaku pada setiap nama
yang menunjukkan zat Allah atau sifat-sifat-Nya.
Misalnya nama Al-Quddus, maka
Allah telah memiliki sifat kesucian sejak azali.
Demikian pula nama Al-'Alim,
Allah telah bersifat Maha Mengetahui sejak azali.
Kami telah menjelaskan sebelumnya
bahwa segala sesuatu memiliki tiga tingkatan keberadaan.
Pertama, keberadaan di alam nyata.
Dalam kaitannya dengan zat dan sifat
Allah, keberadaan ini bersifat azali.
Kedua, keberadaan di dalam pikiran.
Keberadaan ini bersifat baru, karena
pikiran manusia sendiri merupakan makhluk yang baru.
Ketiga, keberadaan di dalam lisan.
Inilah nama-nama yang berupa lafaz,
dan keberadaan ini juga baru karena bahasa dan lisan merupakan makhluk.
Adapun apabila yang dimaksud dengan
keberadaan dalam pikiran adalah sesuatu yang diketahui oleh Allah, maka hal itu
juga bersifat azali.
Sebab Allah telah ada sejak azali.
Allah juga telah mengetahui sejak
azali bahwa Dia ada dan Maha Mengetahui.
Dengan demikian, keberadaan-Nya
tetap dalam zat-Nya sendiri sekaligus tetap dalam ilmu-Nya.
Demikian pula nama-nama yang kelak
akan Dia ilhamkan kepada hamba-hamba-Nya dan Dia ciptakan dalam pikiran serta
lisan mereka, semuanya telah diketahui oleh Allah sejak azali.
Dengan penafsiran inilah dapat
dikatakan bahwa nama-nama Allah telah ada sejak azali.
Artikel Pengembangan
Mengapa
Persoalan Ini Muncul?
Sebagian ulama berpendapat bahwa isim
adalah lafaz.
Namun jika nama hanyalah lafaz,
muncul pertanyaan:
Bagaimana keadaan nama-nama Allah
sebelum manusia, bahasa Arab, dan seluruh makhluk diciptakan?
Bukankah ketika itu belum ada suara,
huruf, maupun bahasa?
Inilah persoalan yang ingin dijawab
Imam Al-Ghazali.
Membedakan
Lafaz dan Makna
Imam Al-Ghazali memberikan solusi
yang sangat elegan.
Beliau menjelaskan bahwa yang baru
adalah lafaz, sedangkan makna yang ditunjuk oleh lafaz tersebut telah
ada sejak azali.
Contohnya:
Nama Al-'Alim dalam bahasa
Arab memang baru ada ketika bahasa Arab diciptakan.
Namun sifat Maha Mengetahui
yang ditunjuk oleh nama tersebut telah dimiliki Allah tanpa permulaan.
Begitu pula nama Al-Quddus.
Lafaznya merupakan bagian dari
bahasa.
Tetapi sifat Mahasuci yang
ditunjuknya adalah sifat azali Allah.
Tiga
Tingkatan Keberadaan
Imam Al-Ghazali kembali menggunakan
teori tiga tingkatan keberadaan yang telah beliau jelaskan sebelumnya.
Pertama, keberadaan nyata (fi al-a'yan).
Ini adalah keberadaan hakiki suatu
objek.
Dalam hal Allah, keberadaan zat dan
sifat-Nya bersifat azali.
Kedua, keberadaan dalam pikiran (fi al-adhhan).
Pada manusia, pengetahuan ini
bersifat baru karena manusia diciptakan.
Namun dalam ilmu Allah sendiri,
seluruh pengetahuan itu telah ada sejak azali.
Ketiga, keberadaan dalam lisan (fi al-lisan).
Inilah bentuk nama-nama yang berupa
kata dan bahasa.
Karena bahasa adalah makhluk, maka
lafaz-lafaz tersebut juga bersifat baru.
Nama-Nama
Allah Telah Diketahui Allah Sejak Azali
Imam Al-Ghazali menambahkan
penjelasan yang sangat indah.
Walaupun lafaz Asmaul Husna baru
diucapkan oleh para nabi dan manusia setelah penciptaan, seluruh nama itu telah
diketahui Allah sejak azali.
Allah telah mengetahui bahwa Dia
akan mengajarkan nama-nama tersebut kepada hamba-hamba-Nya.
Allah juga mengetahui bahasa yang
akan Dia ciptakan serta lafaz-lafaz yang akan digunakan manusia untuk
memuji-Nya.
Karena semuanya telah berada dalam
ilmu Allah yang azali, maka dengan pengertian ini dapat dikatakan bahwa
nama-nama Allah telah ada sejak azali.
Harmoni
antara Bahasa dan Akidah
Melalui penjelasan ini, Imam
Al-Ghazali berhasil mempertemukan dua sisi yang tampaknya bertentangan.
Di satu sisi, beliau mengakui bahwa
bahasa, huruf, dan lafaz merupakan makhluk yang baru.
Di sisi lain, beliau menegaskan
bahwa sifat-sifat Allah yang menjadi makna dari nama-nama tersebut adalah
azali.
Dengan demikian, tidak perlu
mengatakan bahwa nama adalah zat Allah hanya untuk mempertahankan
keazalian-Nya.
Cukup dibedakan antara lafaz,
makna, dan ilmu Allah, maka persoalan menjadi jelas.
Hikmah
Beberapa pelajaran penting dari
pembahasan ini adalah:
- Lafaz Asmaul Husna merupakan bagian dari bahasa yang
diciptakan Allah sehingga bersifat baru.
- Makna yang dikandung oleh nama-nama Allah adalah
sifat-sifat-Nya yang azali dan tidak berpermulaan.
- Allah telah mengetahui seluruh nama yang akan diajarkan
kepada para hamba-Nya sejak azali.
- Membedakan antara lafaz dan makna merupakan kunci untuk
memahami persoalan akidah dengan benar.
- Keazalian Allah tidak bergantung pada keberadaan
bahasa, tetapi pada zat, sifat, dan ilmu-Nya yang tidak bermula.
- Penjelasan Imam Al-Ghazali menunjukkan bahwa ketelitian
dalam menggunakan istilah mampu menghindarkan kesalahpahaman dalam
memahami Asmaul Husna.
Penutup
Melalui pembahasan ini, Imam
Al-Ghazali memberikan jawaban yang sangat cermat terhadap salah satu persoalan
klasik dalam ilmu kalam. Beliau menjelaskan bahwa lafaz nama-nama Allah
memang baru karena bahasa merupakan makhluk, tetapi makna yang dikandung
oleh nama-nama tersebut telah tetap sejak azali sebagai sifat-sifat Allah yang
sempurna. Bahkan seluruh nama yang kelak akan diucapkan oleh para hamba
telah diketahui Allah dalam ilmu-Nya yang azali.
Dengan membedakan antara lafaz,
makna, dan ilmu Allah, Imam Al-Ghazali berhasil menjaga kemurnian tauhid
sekaligus memberikan penjelasan yang logis dan mudah dipahami. Pembahasan ini
mengajarkan bahwa ketelitian dalam memahami istilah bukan hanya memperkaya
ilmu, tetapi juga memperkokoh keyakinan kepada kesempurnaan Allah dan keagungan
Asmaul Husna.
Teks Arab :
فَإِن قيل إِنَّمَا اضْطر الْقَائِلين بِأَن الِاسْم هُوَ
الْمُسَمّى إِلَى القَوْل بِهِ الحذر
من أَن يَقُولُوا الِاسْم هُوَ اللَّفْظ الدَّال بالاصطلاح
فيلزمهم القَوْل بِأَن الله عز وجل لم يكن لَهُ اسْم فِي الْأَزَل إِذْ لم يكن لفظ
وَلَا لافظ فَإِن اللَّفْظ حَادث فَنَقُول هَذِه ضَرُورَة ضَعِيفَة يهون دَفعهَا
إِذْ يُقَال مَعَاني الْأَسْمَاء كَانَت ثَابِتَة فِي الْأَزَل وَلم تكن
الْأَسْمَاء لِأَن الْأَسْمَاء عَرَبِيَّة وعجمية وَكلهَا حَادِثَة وَهَذَا فِي كل
اسْم يرجع إِلَى معنى الذَّات أَو صفة الذَّات مثل القدوس فَإِنَّهُ كَانَ بِصفة
الْقُدس فِي الْأَزَل وَمثل الْعَالم فَإِنَّهُ كَانَ عَالما فِي الْأَزَل
فَإنَّا قد بَينا أَن الْأَشْيَاء لَهَا ثَلَاث مَرَاتِب
فِي الْوُجُود
أَحدهَا فِي الْأَعْيَان وَهَذَا الْوُجُود مَوْصُوف بالقدم
فِيمَا يتَعَلَّق بِذَات الله عز وجل وَصِفَاته
وَالثَّانِي فِي الأذهان وَهَذَا الْوُجُود حَادث إِذْ
كَانَت الأذهان حَادِثَة
وَالثَّالِث فِي اللِّسَان وَهِي الْأَسْمَاء وَهَذَا
الْوُجُود أَيْضا حَادث بحدوث اللِّسَان
نعم نُرِيد بالثابت فِي الأذهان الْمَعْلُوم وَهِي أَيْضا
إِذا أضيفت إِلَى ذَات الله عز وجل كَانَت قديمَة لِأَن الله عز وجل مَوْجُود
وعالم فِي الْأَزَل وَكَانَ يعلم أَنه مَوْجُود وعالم فَكَانَ وجوده ثَابتا فِي
نَفسه وَفِي علمه أَيْضا وَكَانَت الْأَسْمَاء الَّتِي سيلهمها عباده ويخلقها فِي
أذهانهم وألسنتهم أَيْضا مَعْلُومَة عِنْده فَبِهَذَا التَّأْوِيل يجوز أَن يُقَال
كَانَت الْأَسْمَاء فِي الْأَزَل
Baca juga:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar