Koreksi Imam Al-Ghazali tentang Isim dan Musamma: Perbedaan Hakikat Zat dan Makna Nama

Imam Al-Ghazali mengoreksi konsep isim dan musamma dengan membedakan mafhum isim dan hakikat zat. Simak penjelasan lengkapnya

Pendahuluan

Ketelitian Imam Al-Ghazali dalam membahas ilmu akidah dan bahasa tampak jelas ketika beliau tidak hanya mengkritik pendapat para ulama lain, tetapi juga memperbaiki redaksi yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Dalam pembahasan mengenai hubungan antara isim (nama) dan musamma (yang dinamai), beliau menunjukkan bahwa satu kalimat yang tampak benar masih memerlukan penyempurnaan agar sesuai dengan kaidah logika dan makna bahasa.

Pada bagian ini, Imam Al-Ghazali menjelaskan dua koreksi penting terhadap ungkapan yang berbunyi, "isim terkadang merupakan zat musamma." Menurut beliau, kalimat tersebut masih mengandung dua kekeliruan mendasar. Agar maknanya benar, istilah-istilah yang digunakan harus diperbaiki sehingga sesuai dengan hakikat yang dimaksud.

Sumber

Kitab: Al-Maqshad Al-Asna fi Syarh Ma'ani Asma'illah Al-Husna

Bab: Koreksi terhadap Pemahaman Isim dan Mafhum Isim

Penulis

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali At-Thusi (450–505 H)

Tema

Dua Koreksi Imam Al-Ghazali terhadap Ungkapan "Isim Adalah Musamma"

Terjemahan Lengkap

Ucapan:

"Isim terkadang merupakan zat musamma."

masih mengandung dua kekeliruan dan memerlukan dua perbaikan.

Perbaikan pertama ialah mengganti kata "isim" dengan "mafhum isim" (makna yang dipahami dari isim).

Perbaikan kedua ialah mengganti kata "zat" dengan "hakikat atau mahiyah zat."

Dengan demikian, ungkapan yang benar adalah:

"Makna yang dipahami dari suatu isim terkadang menunjukkan hakikat dan mahiyah zat, dan terkadang menunjukkan selain hakikat tersebut."

Artikel Pengembangan

Ketelitian Bahasa Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali terkenal sangat teliti dalam menggunakan istilah.

Beliau tidak membiarkan sebuah ungkapan dipakai hanya karena terdengar benar. Setiap kata harus sesuai dengan makna yang dimaksud.

Menurut beliau, kalimat:

"Isim adalah zat musamma."

tidak tepat secara ilmiah.

Bukan karena maksudnya sepenuhnya salah, tetapi karena redaksinya masih kurang akurat.

Koreksi Pertama: Bukan Isim, tetapi Mafhum Isim

Perbaikan pertama sangat penting.

Yang menunjukkan hakikat sesuatu bukanlah lafaz isim, melainkan mafhum isim, yaitu makna yang dipahami dari lafaz tersebut.

Sebagai contoh:

Kata "manusia" hanyalah rangkaian huruf dan bunyi.

Huruf-huruf itu sendiri tentu bukan hakikat manusia.

Yang menunjukkan hakikat manusia adalah makna yang dipahami ketika lafaz tersebut didengar.

Karena itu Imam Al-Ghazali mengganti kata isim menjadi mafhum isim.

Koreksi Kedua: Bukan Zat, tetapi Hakikat Zat

Perbaikan berikutnya juga sangat mendasar.

Menurut Imam Al-Ghazali, istilah zat terlalu umum.

Yang dimaksud dalam pembahasan ini sebenarnya adalah:

mahiyah (hakikat atau esensi) suatu zat.

Mengapa demikian?

Karena sebuah nama terkadang menjelaskan hakikat sesuatu.

Namun pada kesempatan lain, nama itu hanya menjelaskan salah satu sifatnya.

Dengan mengganti kata zat menjadi mahiyah zat, pembahasan menjadi jauh lebih tepat.

Mahiyah dalam Ilmu Mantik

Istilah mahiyah berarti hakikat terdalam suatu benda, yaitu jawaban atas pertanyaan:

"Apakah sesuatu itu?" (ما هو؟)

Misalnya:

Ketika seseorang ditanya:

"Apakah manusia itu?"

Jawabannya bukan:

  • putih,
  • tinggi,
  • alim.

Melainkan:

Hewan yang berakal.

Jawaban inilah yang menjelaskan mahiyah manusia.

Nama yang Menunjukkan Hakikat dan Nama yang Menunjukkan Sifat

Setelah kedua koreksi tersebut dilakukan, pembagian nama menjadi semakin jelas.

Ada nama yang menunjukkan:

  • hakikat sesuatu,
  • esensi benda,
  • jenis suatu makhluk.

Ada pula nama yang hanya menunjukkan:

  • sifat,
  • keadaan,
  • hubungan tertentu.

Misalnya:

Insan menunjukkan hakikat manusia.

Sedangkan:

  • alim,
  • penulis,
  • putih,

hanya menunjukkan sifat tertentu tanpa menjelaskan hakikat zatnya.

Relevansinya dengan Asmaul Husna

Mengapa Imam Al-Ghazali sangat teliti?

Karena pembahasan ini menjadi dasar memahami nama-nama Allah.

Ketika kita menyebut:

  • Al-'Alim
  • Al-Qadir
  • Ar-Rahman

yang dimaksud bukan sekadar bunyi lafaz.

Lafaz tersebut memiliki mafhum, yaitu makna yang menunjukkan Dzat Allah beserta sifat-sifat kesempurnaan-Nya.

Jika seseorang tidak membedakan antara lafaz, makna, dan hakikat, maka ia mudah keliru dalam memahami Asmaul Husna.

Hikmah

Beberapa pelajaran penting dari pembahasan Imam Al-Ghazali ini adalah:

  • Ketelitian dalam menggunakan istilah merupakan bagian dari metode ilmiah Islam.
  • Lafaz berbeda dengan makna yang dipahami dari lafaz tersebut.
  • Mahiyah adalah hakikat suatu benda, bukan sekadar keberadaan zatnya.
  • Tidak semua nama menunjukkan hakikat; sebagian hanya menunjukkan sifat atau hubungan.
  • Memahami perbedaan antara isim dan mafhum isim sangat penting dalam ilmu akidah.
  • Asmaul Husna harus dipahami berdasarkan makna yang ditunjukkan, bukan hanya bunyi lafaznya.

Penutup

Melalui penjelasan singkat namun padat ini, Imam Al-Ghazali menunjukkan keluasan ilmunya dalam memadukan logika, bahasa Arab, dan akidah. Beliau memperbaiki dua istilah yang tampak sederhana, tetapi memiliki pengaruh besar terhadap ketepatan berpikir. Menurut beliau, yang benar bukanlah mengatakan bahwa isim terkadang merupakan zat musamma, melainkan bahwa mafhum isim terkadang menunjukkan hakikat (mahiyah) zat, dan terkadang menunjukkan sesuatu selain hakikat tersebut.

Koreksi ini memperlihatkan bahwa memahami Asmaul Husna tidak cukup hanya menghafal nama-nama Allah. Seorang Muslim juga perlu memahami bagaimana nama itu menunjuk kepada makna, bagaimana makna berkaitan dengan sifat-sifat Allah, dan bagaimana seluruhnya tetap mengarah kepada Dzat Allah Yang Mahasempurna tanpa mencampuradukkan antara lafaz, makna, dan hakikat.

Teks Arab :

فَقَوله الِاسْم قد يكون ذَات الْمُسَمّى فِيهِ خللان وَيحْتَاج فِيهِ إِلَى إصلاحين

أَحدهمَا أَن يُبدل الِاسْم بِمَفْهُوم الِاسْم

وَالْآخر أَن يُبدل الذَّات بماهية الذَّات فَيُقَال مَفْهُوم الِاسْم قد يكون حَقِيقَة الذَّات وماهيتها وَقد يكون غير الْحَقِيقَة

Baca juga:

Isim Jamid dan Isim Musytaq Menurut Imam Al-Ghazali:Perbedaan Nama Zat dan Nama Sifat dalam Islam

Pembagian Isim Menurut Imam Al-Ghazali: Mana yangMenunjuk Zat dan Mana yang Menunjuk Sifat?

Makna Nama Al-Khaliq Menurut Imam Al-Ghazali: Apakah Menunjukkan Zat Allah atau Sifat-Nya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketika Persahabatan Hancur karena Fitnah dan Dusta: Pengalaman Berharga Ibnu Hazm

Pendahuluan Salah satu dampak paling menyakitkan dari kebohongan dan adu domba adalah rusaknya hubungan antara orang-orang yang sebelumn...