Pendahuluan
Sejarah bangsa Arab kuno menyimpan
banyak kisah penuh hikmah dari para pemimpin, raja, dan tokoh besar yang
meninggalkan warisan nasihat kepada generasi setelah mereka. Salah satu di
antaranya adalah wasiat Dzu Ru'ain, seorang tokoh terpandang dari
keturunan Himyar yang dikenal memiliki umur panjang dan pengalaman hidup yang
sangat luas.
Menjelang akhir hayatnya, ketika
usia telah melemahkan tubuhnya dan pendengarannya mulai berkurang, Dzu Ru'ain
mengumpulkan keluarga serta anak-anaknya. Ia kemudian menyampaikan petuah
berharga yang merangkum pengalaman hidup, kebijaksanaan para leluhur, dan
pelajaran yang diperolehnya selama bertahun-tahun memimpin dan bergaul dengan
para raja.
Wasiat ini bukan hanya catatan
sejarah, tetapi juga pelajaran kehidupan yang tetap relevan bagi generasi masa
kini.
Siapakah Dzu Ru'ain?
Dzu Ru'ain bernama lengkap Yarim
bin Zaid bin Sahl bin Amr bin Qais bin Mu'awiyah bin Jushm bin Abdu Syams.
Ia termasuk tokoh besar dari kalangan Himyar yang hidup dalam masa kejayaan
kerajaan-kerajaan Arab Selatan.
Menurut riwayat, ia diberi umur yang
sangat panjang hingga mengalami berbagai fase kehidupan: masa muda, masa
kejayaan, masa kepemimpinan, hingga masa tua yang penuh pengalaman.
Karena panjangnya usia tersebut, ia
mengaku memperoleh pelajaran yang jauh lebih banyak daripada sekadar warisan
yang diterimanya dari para leluhur.
Pengalaman Adalah Guru Terbaik
Ketika mengumpulkan anak-anaknya,
Dzu Ru'ain berkata:
"Aku telah menjaga wasiat para
leluhurku dan menempuh jalan para ayah dan kakekku."
Namun ia menambahkan bahwa
pengalaman hidup telah memberinya tambahan ilmu, adab, dan pengetahuan yang
bahkan melampaui apa yang diwariskan oleh nenek moyangnya.
Pesan ini mengajarkan bahwa warisan
keluarga memang penting, tetapi pengalaman hidup juga merupakan sekolah yang
sangat berharga.
Seseorang yang mau belajar dari
perjalanan hidupnya akan memperoleh kebijaksanaan yang tidak ditemukan dalam
teori semata.
Ketika Usia Tua Datang
Dalam syairnya, Dzu Ru'ain
menggambarkan kondisi fisiknya yang mulai melemah akibat usia.
Ia berkata bahwa malam-malam yang
panjang telah menggerogoti kekuatannya dan menjadikannya semakin dekat dengan
kematian.
Gambaran tersebut sangat menyentuh
karena menunjukkan kenyataan yang akan dihadapi setiap manusia.
Tanda-Tanda
Penuaan yang Dirasakannya
Dalam syairnya ia menyebut beberapa
perubahan yang terjadi pada dirinya:
- Tulang-tulang mulai melemah.
- Langkah kaki tidak lagi kuat.
- Penglihatan berkurang.
- Lutut mulai bergetar.
- Pendengaran tidak lagi setajam dahulu.
- Alis yang menua mulai menutupi pandangan mata.
Gambaran ini menunjukkan bahwa
kekuatan fisik manusia tidak akan bertahan selamanya.
Betapa pun gagah seseorang pada masa
mudanya, suatu saat ia akan menghadapi fase kelemahan dan ketergantungan.
Kemuliaan Tidak Diukur dari Kekuatan Fisik
Meskipun tubuhnya melemah, Dzu
Ru'ain tidak menyesali masa tuanya.
Sebaliknya, ia merasa bangga karena
selama hidupnya telah meninggalkan jejak kebaikan.
Ia berkata bahwa kaum Qahtan tidak
pernah mencela namanya ketika mengenang jasa-jasanya.
Hal ini menunjukkan bahwa kemuliaan
seseorang tidak diukur dari kekuatan fisiknya, tetapi dari manfaat yang
ditinggalkannya bagi masyarakat.
Nama baik akan tetap hidup meskipun
tubuh telah lemah dan usia terus bertambah.
Hidup Bersama Para Raja dan Pemimpin
Dzu Ru'ain mengenang masa mudanya
ketika ia hidup dan bergaul bersama para raja.
Ia mengatakan:
"Aku tumbuh bersama para raja
dan mengatur berbagai urusan mereka."
Pengalaman tersebut menjadikannya
sosok yang matang dalam memandang kehidupan.
Ia memahami bahwa kekuasaan,
kemewahan, dan kejayaan hanyalah bagian sementara dari perjalanan manusia.
Yang benar-benar berharga adalah
kebijaksanaan dan amal baik yang ditinggalkan setelah seseorang pergi.
Menjadi Penopang Kaum dan Keluarga
Dalam syairnya, Dzu Ru'ain juga
mengingat bagaimana dirinya pernah menjadi sandaran bagi kaumnya.
Ia berkata bahwa dahulu ia adalah:
- Penopang masyarakat.
- Kebanggaan keluarga.
- Tempat meminta nasihat.
- Tokoh yang dihormati saat menghadapi berbagai
peristiwa.
Pesan ini mengajarkan bahwa
seseorang hendaknya berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi lingkungannya.
Sebaik-baik manusia adalah yang
paling banyak memberi manfaat kepada orang lain.
Wasiat untuk Anak-Anak dan Keluarganya
Bagian terpenting dari pidato Dzu
Ru'ain adalah nasihat yang ia berikan kepada anak-anaknya menjelang wafat.
Ia berkata:
"Wahai anak-anakku dan
saudara-saudaraku, apabila hari kematianku tiba dan kalian menyaksikan saat
itu, maka ikutilah jalan yang telah kutempuh."
Ini merupakan ajakan untuk
melanjutkan tradisi kebaikan yang telah dibangun oleh para leluhur.
Menurut Dzu Ru'ain, kemuliaan
keluarga tidak dapat dipertahankan kecuali dengan menjaga nilai-nilai yang
telah diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Pentingnya Menjaga Nama Baik Keluarga
Dzu Ru'ain berharap agar keluarganya
tetap menjalani kehidupan yang membuat mereka dihormati oleh masyarakat.
Ia ingin agar setelah wafatnya, orang-orang
tetap memuji keluarganya karena akhlak dan perilaku mereka.
Pesan ini sangat penting pada zaman
sekarang.
Banyak orang sibuk membangun
kekayaan, tetapi lupa membangun reputasi yang baik bagi dirinya dan
keluarganya.
Padahal nama baik adalah warisan
yang nilainya jauh lebih besar daripada harta benda.
Jangan Mengikuti Jalan Kebodohan
Salah satu nasihat paling tegas
dalam wasiat tersebut adalah:
"Janganlah kalian mengikuti
kebodohan sehingga tersesat sebagaimana orang yang jatuh dalam kesesatan."
Dzu Ru'ain memahami bahwa banyak
kehancuran berawal dari keputusan yang diambil tanpa pertimbangan akal dan
ilmu.
Kebodohan sering membuat seseorang:
- Mudah tertipu.
- Cepat marah.
- Sulit menerima nasihat.
- Mengambil keputusan yang merugikan.
Karena itu ia memperingatkan
keluarganya agar menjauhi segala bentuk kebodohan.
Akal Adalah Kunci Kemuliaan
Nasihat terakhir Dzu Ru'ain
merupakan inti dari seluruh wasiatnya.
Ia berkata:
"Sesungguhnya akal adalah kunci
segala kemuliaan, sedangkan kebodohan adalah aib yang tidak membawa
keindahan."
Kalimat ini mengandung pelajaran
yang sangat mendalam.
Akal yang sehat akan membantu
seseorang:
- Membedakan yang benar dan salah.
- Mengambil keputusan yang tepat.
- Menjaga kehormatan dirinya.
- Membangun hubungan yang baik dengan orang lain.
- Meraih kesuksesan dunia dan akhirat.
Sebaliknya, kebodohan akan membawa
seseorang kepada penyesalan dan kerugian.
Pelajaran Berharga dari Wasiat Dzu Ru'ain
Dari kisah ini terdapat banyak
hikmah yang dapat dipetik:
1.
Pengalaman hidup adalah sumber kebijaksanaan.
Ilmu tidak hanya diperoleh dari
buku, tetapi juga dari perjalanan hidup yang panjang.
2.
Masa muda tidak akan berlangsung selamanya.
Setiap manusia akan menghadapi masa
tua dan kelemahan.
3.
Nama baik lebih berharga daripada kekuatan fisik.
Jejak kebaikan akan dikenang jauh
lebih lama daripada kemegahan dunia.
4.
Jadilah orang yang bermanfaat.
Kemuliaan seseorang terletak pada
manfaat yang diberikannya kepada orang lain.
5.
Hormati warisan para leluhur.
Nilai-nilai baik yang diwariskan
keluarga harus dijaga dan diteruskan.
6.
Jauhi kebodohan.
Banyak kerusakan dalam hidup berasal
dari keputusan yang lahir dari kebodohan.
7.
Akal adalah kunci kemuliaan.
Dengan akal dan ilmu, seseorang
dapat mencapai kehormatan dan kesuksesan.
Penutup
Wasiat Dzu Ru'ain merupakan salah
satu mutiara hikmah yang diwariskan oleh tokoh-tokoh Arab kuno kepada generasi
setelah mereka. Melalui pengalaman hidup yang panjang, ia menyadari bahwa
kemuliaan sejati tidak terletak pada kekuasaan, kekuatan fisik, atau usia muda,
melainkan pada akal, ilmu, akhlak, dan manfaat yang diberikan kepada sesama.
Pesan-pesan tersebut tetap relevan
hingga hari ini. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, manusia tetap
membutuhkan akal yang jernih, kebijaksanaan dalam bertindak, serta komitmen
untuk menjaga kehormatan diri dan keluarga. Sebab, sebagaimana diingatkan oleh
Dzu Ru'ain, akal adalah kunci segala kemuliaan, sedangkan kebodohan hanya akan
membawa kepada kehinaan dan penyesalan.
Referensi:
وحدثني علي بن محمد، عن جده الدعبل بن علي، أن ذا مقار
أقبل على عشيرته وولده، فقال لهم: ما الاثنان منكم وإن قرب أمرهما مثل الواحد وإن
عظم أمره، اجتمعوا تعزُّوا، ولا تتفرقوا فتذِلُّوا، فإن القداح واحدها يهون كسره،
والاثنان منها يصعب أمرهما وكسرهما، والثلاثة منها يمتنع عن الكسر، ثم أنشأ يقول:
«من البسيط»
ما يغلِبُ الواحدُ الاثنينِ في سببٍ ... ولا يحيدُ عن
النَّجدِ الضعيفانِ
ما ساعدٌ أبدًا كالساعدينِ وإنْ ... لم يبلُغاهُ ولا
كالقدحِ قدحانِ
فردُ الرِّجالِ ذليلٌ لا نصيرَ له ... وذُو الشَّراكة
في عزٍّ وسلطانِ
إن القِداح إذا لا ويتهُنَّ معًا ... عزَّتْ ولما
تحُكْ فيها الذِّراعانِ
ولا تقرَّ إذا ما إن فرَقتَ لها ... تحتَ الرَّواجبِ
من مثنى ووحِدانِ
هاتا ضزبتُ لكُمْ قومي بِها مثلًا ... وقد عِلمتم
لكُمْ سِرِّيْ وإعلاني
أُوصيكُمُ بالَّذي ما للرِّجال بهِ ... أوصى الأوائِلُ
من أملاكِ قحطانِ
Sumber :
ـ[وصايا الملوك وأبناء الملوك من ولد قحطان بن هود]ـ
المؤلف: دعبل بن علي الخزاعي الشاعر المشهور (المتوفى:
٢٤٦هـ)
رواية: علي محمد بن دعبل الخزاعي
Baca juga:
Yusuf Dzu Nuwas:Rahasia Kekuatan Kerajaan dan Pentingnya Persatuan dalam Kepemimpinan
Wasiat Dzu Jawal:
Rahasia Persatuan, Kepemimpinan, dan Kemuliaan Sebuah Kaum

Tidak ada komentar:
Posting Komentar