Pendahuluan
Di antara penyakit amper yang paling
merusak adalah namimah, yaitu kebiasaan mengadu domba dengan memindahkan
perkataan seseorang kepada orang lain untuk menimbulkan kerusakan, permusuhan,
atau kebencian. Banyak hubungan keluarga retak, persahabatan hancur, dan
masyarakat terpecah bukan karena fakta yang nyata, melainkan karena berita yang
dibawa oleh para pengadu domba.
Para ulama sejak dahulu telah
memperingatkan bahaya perilaku ini. Mereka tidak hanya melihat dampaknya
terhadap individu, tetapi juga kerusakan besar yang ditimbulkannya dalam
kehidupan amper. Salah satu ulama yang membahas masalah ini secara tajam adalah
Ibnu Hazm, yang menganggap pengadu domba sebagai salah satu karakter terburuk
yang dapat dimiliki seseorang.
Tidak Ada yang Lebih Buruk daripada Pengadu Domba
Menurut Ibnu Hazm, di antara seluruh
jenis manusia yang buruk, pengadu domba termasuk yang paling berbahaya. Sebab
namimah bukan sekadar kebiasaan berbicara tentang orang lain, melainkan sifat
yang menunjukkan kerusakan karakter dan keburukan tabiat.
Orang yang gemar mengadu domba
biasanya tidak puas hanya dengan mengetahui suatu berita. Ia merasa terdorong
untuk menyebarkannya, memindahkannya dari satu pihak ke pihak lain, dan sering
kali menambahkan unsur-unsur yang memperbesar dampaknya.
Akibatnya, sesuatu yang awalnya
kecil berubah menjadi masalah besar. Kesalahpahaman berkembang menjadi
permusuhan, dan hubungan yang sebelumnya baik berubah menjadi renggang.
Namimah Berasal dari Dusta
Salah satu poin penting yang
ditegaskan oleh Ibnu Hazm adalah bahwa namimah amper tidak mungkin dipisahkan
dari kebohongan.
Seorang pengadu domba jarang
menyampaikan berita secara utuh dan objektif. Dalam banyak kasus, ia menambah,
mengurangi, atau mengubah sebagian informasi agar lebih menarik atau lebih
mampu memancing reaksi.
Karena itu, namimah dianggap sebagai
cabang dari dusta. Bahkan dapat dikatakan bahwa setiap pengadu domba pada
hakikatnya adalah pendusta, meskipun terkadang ia mencampurkan sedikit
kebenaran ke dalam cerita yang disebarkannya.
Ketika seseorang terbiasa membawa
berita dari sana-sini, sangat sulit baginya untuk tetap jujur sepenuhnya. Ia
akan tergoda untuk membesar-besarkan cerita, menambah bumbu, atau menyembunyikan
bagian yang tidak sesuai dengan tujuan yang diinginkannya.
Mengapa Dusta Menghapus Banyak Kebaikan?
Ibnu Hazm mengungkapkan pandangan
yang sangat tegas tentang kebohongan. Beliau menyatakan bahwa dirinya dapat
memaklumi berbagai kekurangan manusia, meskipun kekurangan itu besar. Selama
seseorang masih memiliki akhlak yang baik dan tidak dikenal sebagai pendusta,
maka masih ada ruang untuk memaafkan dan berbaik sangka kepadanya.
Namun ketika seseorang dikenal suka
berdusta, maka kebiasaan itu menghapus banyak kebaikan yang dimilikinya.
Alasannya sederhana. Banyak dosa
dapat disembunyikan dan ditinggalkan melalui taubat yang tulus. Seorang pelaku
maksiat mungkin menyesal lalu memperbaiki dirinya. Akan tetapi, dusta memiliki
sifat yang berbeda. Sekali seseorang dikenal sebagai pendusta, kepercayaan
orang lain akan sangat sulit kembali.
Karena itulah kejujuran menjadi
salah satu modal terbesar dalam kehidupan manusia. Tanpa kejujuran, ilmu,
kedudukan, kekayaan, bahkan reputasi yang baik sekalipun dapat kehilangan
nilainya.
Sulitnya Pendusta Meninggalkan Kebiasaan Buruknya
Salah satu pengamatan yang
disampaikan Ibnu Hazm adalah bahwa beliau belum pernah mengetahui seorang
pendusta yang benar-benar meninggalkan kebiasaan berdustanya untuk selamanya.
Dusta sering kali berubah menjadi
kebiasaan. Awalnya seseorang berbohong untuk menutupi kesalahan kecil. Setelah
itu ia berbohong untuk mempertahankan kebohongan sebelumnya. Lambat laun, dusta
menjadi bagian dari perilakunya sehari-hari.
Karena itu, seseorang yang terbiasa
berdusta biasanya akan mengulangi perbuatannya ketika menghadapi situasi yang
serupa. Kebiasaan tersebut menjadi karakter yang sulit dihilangkan kecuali
dengan usaha besar, kejujuran kepada diri sendiri, dan taubat yang
sungguh-sungguh.
Kapan Sebuah Pertemanan Layak Ditinggalkan?
Ibnu Hazm menjelaskan bahwa beliau
tidak pernah memutus hubungan dengan seseorang hanya karena kekurangan
tertentu. Akan tetapi, ketika terbukti bahwa seseorang sengaja berdusta, maka
beliau memilih menjauh darinya.
Sikap ini bukan didorong oleh
kebencian pribadi, melainkan karena hilangnya kepercayaan. Hubungan yang sehat
tidak dapat dibangun di atas kebohongan. Ketika perkataan seseorang tidak lagi
dapat dipercaya, maka hubungan tersebut kehilangan salah satu fondasi
terpentingnya.
Ini menjadi pelajaran penting bahwa
menjaga kejujuran jauh lebih mudah daripada berusaha memulihkan kepercayaan
yang telah rusak.
Ciri yang Sering Menyertai Pendusta
Menurut pengamatan para ulama,
kebiasaan berdusta jarang berdiri sendiri. Sering kali ia disertai sifat-sifat
buruk lainnya seperti iri hati, suka memfitnah, gemar memecah belah hubungan,
atau mencari keuntungan dengan mengorbankan orang lain.
Bukan berarti setiap orang yang
pernah berbohong pasti memiliki semua sifat tersebut. Namun kebiasaan berdusta
yang terus-menerus sering menjadi tanda adanya kerusakan yang lebih dalam pada
karakter seseorang.
Karena itu, Islam sangat menekankan
pentingnya menjaga lisan dan membiasakan diri berkata benar dalam segala
keadaan.
Pelajaran yang Dapat Diambil
Ada beberapa pelajaran penting dari
pembahasan ini:
- Jangan mudah mempercayai orang yang dikenal suka
membawa berita dari satu pihak ke pihak lain.
- Kejujuran adalah fondasi utama kepercayaan.
- Namimah amper selalu berkaitan dengan kebohongan.
- Menjaga lisan lebih mudah daripada memperbaiki
kerusakan yang ditimbulkannya.
- Kepercayaan yang hilang akibat dusta sangat sulit
dipulihkan.
Penutup
Pengadu domba dan pendusta merupakan
dua sifat yang saling berkaitan. Keduanya merusak hubungan, menghancurkan
kepercayaan, dan menebarkan permusuhan di tengah masyarakat. Karena itu,
seorang Muslim hendaknya menjaga lisannya, memastikan kebenaran setiap berita
yang disampaikan, dan menjauhi kebiasaan membawa cerita yang dapat menimbulkan
kerusakan.
Kejujuran bukan hanya akhlak yang
mulia, tetapi juga fondasi bagi seluruh hubungan yang sehat. Sebaliknya, dusta
dan namimah adalah jalan yang membawa kepada hilangnya kepercayaan, rusaknya
persaudaraan, dan jatuhnya kehormatan seseorang di hadapan manusia maupun di sisi
Allah.
Referensi:
وما في جميع الناس شر من
الوشاة، وهم النمامون، وإن النميمة لطبع يدل على نتن الأصل، ورداءة الفرع، وفساد
الطبع، وخبث النشأة، ولابد لصاحبه من الكذب؛ والنميمة فرع من فروع الكذب ونوع من
أنواعه، وكل نمام كذاب، وما أحببت كذابًا قط، وإني لأسامح في إخاء كل ذي عيب وإن
كان عظيمًا، واكل أمره إلى خالقه عز وجل، وآخذ ما ظهر من أخلاقه حاشا من أعلمه
يكذب، فهو عندي ماح لكل محاسنه، وذلك لان كل ذنب فهو يتوب عنه صاحبه وكل ذام فقد
يمكن الاستتار به والتوبة منه، حاشا الكذب فلا سبيل إلى الرجعة عنه ولا إلى كتمانه
حيث كان.
وما رأيت قط ولا أخبرني من
رأى كذابًا ترك الكذب ولم يعد إليه، ولا بدأت قط بقطيعة ذي معرفة إلا أن أطلع له
على الكذب، فحينئذ أكون أنا القاصد إلى مجانبته والمتعرض لمتاركته، وهي سمة ما
رأيتها قط في أحد إلا وهو مزنون إليه بشر في نفسه، مغموز عليه لعاهة سوء في ذاته،
نعود بالله من الخذلان.
Sumber:
الكتاب: طوق الحمامة في
الألفة والألاف
المؤلف: أبو محمد علي بن أحمد
بن سعيد بن حزم الأندلسي القرطبي الظاهري (ت ٤٥٦هـ)
Baca juga:
Tiga Jenis Pengadu Domba dalam Cinta: Bahaya yang Mengintai di BalikHubungan
Fitnah yang Menghancurkan Cinta: Ketika Ketulusan Dituduh SebagaiKepura-Puraan
Dusta Adalah Akar Segala Keburukan dan Jalan Menuju Kerusakan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar