Pendahuluan
Dalam pembahasan sebelumnya, Imam
Al-Muhasibi menjelaskan bahwa akal yang benar akan mengantarkan seorang hamba
kepada ma'rifatullah, rasa takut kepada Allah, cinta kepada-Nya, serta
kesungguhan dalam mencari ilmu dan ketaatan.
Namun, kesempurnaan akal menurut
beliau tidak berhenti pada hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Akal yang
benar juga akan melahirkan sikap kasih sayang terhadap sesama manusia. Semakin
seseorang memahami sifat-sifat Allah, terutama rahmat dan kasih sayang-Nya,
semakin besar pula rasa belas kasih yang tumbuh dalam dirinya kepada makhluk.
Pada bagian ini, Imam Al-Muhasibi
menjelaskan bahwa salah satu buah terbesar dari akal yang mengenal Allah adalah
lahirnya sifat rahmah (kasih sayang), sebagaimana yang dicontohkan oleh para
nabi dan orang-orang saleh.
Allah Memulai Segalanya dengan Rahmat
Imam Al-Muhasibi menjelaskan bahwa
orang yang berakal akan memahami satu hakikat agung: Allah memulai hubungan-Nya
dengan hamba-hamba-Nya melalui rahmat, karunia, dan kebaikan.
Padahal Allah telah mengetahui sejak
azali bahwa banyak manusia akan bermaksiat dan melanggar perintah-Nya. Namun
pengetahuan Allah tentang kemaksiatan mereka tidak menghalangi-Nya untuk tetap
melimpahkan nikmat, kasih sayang, dan karunia.
Inilah yang dipahami oleh orang yang
benar-benar mengenal Allah.
Ia menyadari bahwa Tuhannya adalah
Dzat Yang Maha Pengasih, yang mendahulukan rahmat sebelum hukuman dan
mendahulukan karunia sebelum pembalasan.
Karena itulah, hati seorang mukmin
yang berakal akan dipenuhi oleh kelembutan, kasih sayang, dan keinginan untuk
berbuat baik kepada manusia.
Para Rasul Adalah Teladan Rahmat
Imam Al-Muhasibi kemudian
menunjukkan bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah para rasul.
Salah satu sebab kemuliaan mereka
adalah karena mereka memiliki kasih sayang yang luar biasa kepada umat manusia.
Mereka:
- Mengajak manusia menuju keselamatan.
- Memperingatkan mereka dari kebinasaan.
- Menanggung gangguan dan penderitaan.
- Tetap memberi nasihat meskipun dicaci dan ditolak.
Mereka tidak membalas keburukan
dengan keburukan.
Mereka tidak berhenti menginginkan
kebaikan bagi kaumnya meskipun disakiti.
Hal ini menunjukkan bahwa rahmat
merupakan salah satu sifat paling agung yang dicintai Allah.
Pelajaran
dari Nabi Nuh dan Nabi Hud
Imam Al-Muhasibi mengutip kisah Nabi
Nuh dan Nabi Hud yang menghadapi penghinaan dari kaumnya.
Kaum Nabi Nuh berkata:
"Sesungguhnya kami memandangmu
berada dalam kesesatan yang nyata."
Sementara kaum Nabi Hud berkata:
"Sesungguhnya kami memandangmu
berada dalam kebodohan."
Meskipun demikian, kedua nabi
tersebut tidak membalas penghinaan dengan kemarahan.
Mereka tetap menjawab dengan
kelembutan, menyampaikan risalah Allah, dan terus mengharapkan keselamatan bagi
kaumnya.
Mereka tidak berkata:
"Karena kalian menghina kami,
maka kami tidak peduli lagi terhadap kalian."
Sebaliknya, mereka terus berdakwah
dengan penuh kasih sayang.
Inilah akhlak para nabi yang lahir
dari pengenalan yang mendalam terhadap Allah.
Kasih Sayang Nabi Ibrahim kepada Orang yang Bermaksiat
Imam Al-Muhasibi juga mengutip doa
Nabi Ibrahim:
"Barang siapa mengikutiku maka
sesungguhnya ia termasuk golonganku, dan barang siapa mendurhakaiku maka
sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Doa ini menunjukkan kelembutan hati
seorang nabi.
Bahkan terhadap orang-orang yang
bermaksiat, Nabi Ibrahim masih memohon agar mereka mendapatkan ampunan dan
rahmat Allah.
Beliau tidak tergesa-gesa mendoakan
kebinasaan mereka.
Ini menunjukkan bahwa orang yang
mengenal Allah akan lebih suka berharap kebaikan bagi manusia daripada berharap
kehancuran mereka.
Akhlak Nabi Muhammad ﷺ
dalam Menghadapi Gangguan
Salah satu contoh paling agung dari
rahmat adalah akhlak Rasulullah ﷺ.
Imam Al-Muhasibi menyebutkan riwayat
tentang seorang nabi yang dilukai oleh kaumnya hingga wajahnya berdarah. Sambil
mengusap darah dari wajahnya, ia berdoa:
"Ya Allah, ampunilah kaumku
karena mereka tidak mengetahui."
Doa ini sangat terkenal sebagai
gambaran akhlak para nabi.
Alih-alih membalas dendam, mereka
justru memohon ampunan bagi orang yang menyakiti mereka.
Rahmat mengalahkan kemarahan.
Kasih sayang mengalahkan dendam.
Begitulah buah dari akal yang
mengenal Allah.
Abu Bakar dan Kemuliaan Rahmat
Imam Al-Muhasibi juga mengingatkan
tentang sabda Nabi ﷺ mengenai keutamaan
Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Rasulullah ﷺ
menyebut Abu Bakar sebagai orang yang paling penyayang di antara umat ini.
Hal ini menunjukkan bahwa ukuran
kemuliaan seseorang bukan hanya banyaknya ilmu atau ibadah, tetapi juga
besarnya kasih sayang yang ia miliki kepada sesama.
Semakin tinggi ma'rifat seseorang
kepada Allah, semakin lembut pula hatinya kepada manusia.
Tanda Orang yang Berakal Menurut Al-Muhasibi
Menurut Imam Al-Muhasibi, ketika
seseorang memahami rahmat Allah dan memahami betapa Allah mencintai sifat
tersebut, maka rahmat akan menjadi karakter yang melekat dalam dirinya.
Di antara ciri-cirinya:
1.
Mencintai Orang-Orang Saleh
Ia bergembira melihat kebaikan orang
lain.
Ia mencintai orang-orang yang taat
kepada Allah dan berharap mereka terus bertambah baik.
Tidak ada rasa iri dalam hatinya.
2.
Mengasihani Pelaku Maksiat
Ia tidak senang melihat manusia
terjatuh dalam dosa.
Ia merasa prihatin terhadap mereka.
Ia berharap mereka mendapatkan hidayah
dan kembali kepada Allah.
3.
Berdakwah dengan Kasih Sayang
Jika memiliki kesempatan, ia
mengajak manusia menuju Allah dengan kelembutan.
Tujuannya bukan memenangkan
perdebatan atau mencari pengikut.
Tujuannya adalah menyelamatkan
manusia dari kebinasaan.
4.
Dermawan kepada Orang Miskin
Imam Al-Muhasibi menjelaskan bahwa
orang yang berakal tidak menahan hartanya dari orang-orang fakir.
Ia melihat harta sebagai amanah dari
Allah.
Karena itu, ia mudah berbagi dan
membantu orang lain.
5.
Tidak Mudah Kesal Ketika Diminta Bantuan
Orang yang dipenuhi rahmat tidak
merasa terganggu ketika ada orang yang meminta pertolongan.
Selama mampu membantu, ia akan
melakukannya dengan lapang dada.
Ia memahami bahwa Allah mencintai
hamba yang membantu sesama.
6.
Mudah Memaafkan
Salah satu tanda terbesar dari akal
yang sempurna adalah kemampuan memaafkan.
Ketika disakiti, ia tidak
terburu-buru membalas.
Ia lebih suka memberi maaf karena
memahami betapa besar ampunan Allah kepada dirinya.
Melihat Semua Muslim Sebagai Keluarga
Imam Al-Muhasibi menggambarkan
sebuah keadaan hati yang sangat indah.
Orang yang mengenal Allah memandang
kaum muslimin seperti keluarganya sendiri:
- Orang tua dipandang seperti ayahnya.
- Anak-anak dipandang seperti anaknya.
- Teman sebayanya dipandang seperti saudaranya.
Karena itu, ia menginginkan kebaikan
bagi mereka sebagaimana ia menginginkan kebaikan bagi dirinya sendiri.
Ia tidak senang melihat mereka
menderita.
Ia tidak senang melihat mereka
tersesat.
Ia tidak senang melihat mereka
celaka.
Kasih sayang menjadi sifat yang terus
hidup di dalam hatinya.
Pelajaran Penting
Dari penjelasan Imam Al-Muhasibi,
kita belajar bahwa ukuran kecerdasan dalam Islam bukan sekadar kemampuan
berpikir, berdebat, atau menghafal ilmu.
Akal yang sejati adalah akal yang
mengenal Allah.
Dan salah satu tanda terbesar bahwa
seseorang benar-benar mengenal Allah adalah lahirnya rahmat kepada sesama
manusia.
Semakin dekat seseorang kepada
Allah, semakin lembut hatinya.
Semakin dalam ma'rifatnya kepada
Allah, semakin besar kasih sayangnya kepada makhluk.
Karena para nabi adalah manusia yang
paling mengenal Allah, mereka juga menjadi manusia yang paling penyayang kepada
umat manusia.
Penutup
Dalam pandangan Imam Al-Muhasibi,
rahmat merupakan buah langsung dari akal yang mengenal Allah. Orang yang
memahami bahwa Allah mendahulukan rahmat, karunia, dan kasih sayang kepada
hamba-hamba-Nya akan berusaha meneladani sifat tersebut dalam kehidupan
sehari-hari.
Ia mencintai kaum muslimin,
mengasihani orang yang tersesat, mudah memaafkan, senang membantu, dan tidak
pernah berhenti menginginkan kebaikan bagi manusia. Inilah salah satu tanda
paling nyata dari kesempurnaan akal menurut Imam Al-Muhasibi: semakin mengenal
Allah, semakin besar pula kasih sayangnya kepada sesama.
Referensi:
وعقل عَن الله تَعَالَى أَنه ابْتَدَأَ عباده
بِالرَّحْمَةِ والتفضل وَالْإِحْسَان بعد تَقْدِيم الْعلم مِنْهُ لَهُم أَنهم
سيعصونه ويخالفون أمره فَلم يمنعهُ ذَلِك عَن ابتدائهم بِالنعَم والتحنن
وَالرَّحْمَة وَالْإِحْسَان
وَجعل أفضل أوليائه عِنْده الرُّحَمَاء بخلقه
المتحننين على عباده الناصحين لبريته وهم رسله الداعون الْعباد إِلَى نجاتهم
والمحذرون لَهُم من هلكتهم المتحملون مِنْهُم الْأَذَى والمتحننون عَلَيْهِم
بِالرَّحْمَةِ والنصح والإشفاق مَعَ أذاهم لَهُم وتكذيبهم إيَّاهُم واستهزائهم بهم
لَا يكافئونهم بِمثل مَا نالوا مِنْهُم وَلَا يَنْصَرِفُونَ عَن الإشفاق عَلَيْهِم
إِذْ سمعُوا الله جلّ ثَنَاؤُهُ يصفهم إِذْ قَالُوا لنوح ﴿إِنَّا لنراك فِي ضلال
مُبين﴾
وَقَالُوا لهود ﴿إِنَّا لنراك فِي سفاهة﴾
ثمَّ وصف جوابهما فَقَالَ نوح ﴿لَيْسَ بِي ضَلَالَة
وَلَكِنِّي رَسُول من رب الْعَالمين﴾ إِلَى قَوْله ﴿ولعلكم ترحمون﴾
وَوصف رد هود عَلَيْهِم فَقَالَ ﴿يَا قوم لَيْسَ بِي
سفاهة وَلَكِنِّي رَسُول من رب الْعَالمين أبلغكم رسالات رَبِّي وَأَنا لكم نَاصح
أَمِين﴾ إِلَى قَوْله ﴿لَعَلَّكُمْ تفلحون﴾ أَي تظفرون بِثَوَاب الله إِن قبلتم
مني فَأخْبرهُم بعد تسفيههم لَهُ أَنه لم ينْصَرف من أجل ذَلِك عَن النَّصِيحَة
لَهُم لَعَلَّهُم يفلحون
وَقَالَ إِبْرَاهِيم عليه السلام ﴿فَمن تَبِعنِي
فَإِنَّهُ مني وَمن عَصَانِي فَإنَّك غَفُور رَحِيم﴾
وَقَالَ النَّبِي ﷺ وَوصف نَبيا من الْأَنْبِيَاء شجه
قومه فَهُوَ يمسح الدَّم عَن وَجهه وَهُوَ يَقُول رب اغْفِر لقومي فَإِنَّهُم لَا
يعلمُونَ
وَرُوِيَ أَن نوحًا عليه السلام كَانَ يخنقه قومه
حَتَّى يغشى عَلَيْهِ فَإِذا أَفَاق قَالَ رب اغْفِر لقومي إِنَّهُم لَا يعلمُونَ
وَفضل النَّبِي ﷺ صديق هَذِه الْأمة عَلَيْهَا
بِالرَّحْمَةِ لَهَا فَقَالَ أرْحم أمتِي بهَا أَبُو بكر
فَلَمَّا عقل عَن الله عز وجل ١١١ مَا ابْتَدَأَ الْعباد بِهِ من
الرَّحْمَة وَأَنه خص أعظم خلقه عِنْده قدرا وفضله بهَا على جَمِيع الْعباد
ألزم قلبه رَحْمَة الْأمة فَأحب محسنهم وأشفق على
مسيئهم ودعا إِلَى الله سُبْحَانَهُ إِذا أمكنه مدبرهم وَلم يدّخر مَالا عَن
فقيرهم ففضل مَاله عَلَيْهِم مبذول والمواساة فِي قوته مِنْهُم المجهود من
سَأَلَهُ مِنْهُم مَا يقدر عَلَيْهِ لم يتبرم بِطَلَبِهِ وَلم يضجر بإعطائه للرحمة
الَّتِي لَهُم فِي قلبه وَمن آذاه وأساء إِلَيْهِ لم يجد فِي نَفسه كَرَاهِيَة
للعفو والصفح عَنهُ يعدهم جَمِيعًا كأقرب الْخلق مِنْهُ كَبِيرهمْ مثل أَبِيه
وصغيرهم كولده وقرنه كأخيه فَكل هَؤُلَاءِ يحب الْإِحْسَان إِلَيْهِم وَأَن لَا
يُفَارق قلبه الشَّفَقَة عَلَيْهِم
Sumber;
الكتاب: ماهية
العقل ومعناه واختلاف الناس فيه
المؤلف: الحارث
بن أسد المحاسبي، أبو عبد الله (ت ٢٤٣هـ)
Baca juga:
Hakikat AkalMenurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 8): Ketika Akal Memandang Surga dan MeremehkanDunia
Hakikat Akal
Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 11): Semakin Mengenal Allah, Semakin Merasa
Kurang dalam Ibadah
%20Akal%20yang%20Melahirkan%20Rahmat%20kepada%20Sesama.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar