Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 10): Akal yang Melahirkan Rahmat kepada Sesama

Pendahuluan

Dalam pembahasan sebelumnya, Imam Al-Muhasibi menjelaskan bahwa akal yang benar akan mengantarkan seorang hamba kepada ma'rifatullah, rasa takut kepada Allah, cinta kepada-Nya, serta kesungguhan dalam mencari ilmu dan ketaatan.

Namun, kesempurnaan akal menurut beliau tidak berhenti pada hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Akal yang benar juga akan melahirkan sikap kasih sayang terhadap sesama manusia. Semakin seseorang memahami sifat-sifat Allah, terutama rahmat dan kasih sayang-Nya, semakin besar pula rasa belas kasih yang tumbuh dalam dirinya kepada makhluk.

Pada bagian ini, Imam Al-Muhasibi menjelaskan bahwa salah satu buah terbesar dari akal yang mengenal Allah adalah lahirnya sifat rahmah (kasih sayang), sebagaimana yang dicontohkan oleh para nabi dan orang-orang saleh.

Allah Memulai Segalanya dengan Rahmat

Imam Al-Muhasibi menjelaskan bahwa orang yang berakal akan memahami satu hakikat agung: Allah memulai hubungan-Nya dengan hamba-hamba-Nya melalui rahmat, karunia, dan kebaikan.

Padahal Allah telah mengetahui sejak azali bahwa banyak manusia akan bermaksiat dan melanggar perintah-Nya. Namun pengetahuan Allah tentang kemaksiatan mereka tidak menghalangi-Nya untuk tetap melimpahkan nikmat, kasih sayang, dan karunia.

Inilah yang dipahami oleh orang yang benar-benar mengenal Allah.

Ia menyadari bahwa Tuhannya adalah Dzat Yang Maha Pengasih, yang mendahulukan rahmat sebelum hukuman dan mendahulukan karunia sebelum pembalasan.

Karena itulah, hati seorang mukmin yang berakal akan dipenuhi oleh kelembutan, kasih sayang, dan keinginan untuk berbuat baik kepada manusia.

Para Rasul Adalah Teladan Rahmat

Imam Al-Muhasibi kemudian menunjukkan bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah para rasul.

Salah satu sebab kemuliaan mereka adalah karena mereka memiliki kasih sayang yang luar biasa kepada umat manusia.

Mereka:

  • Mengajak manusia menuju keselamatan.
  • Memperingatkan mereka dari kebinasaan.
  • Menanggung gangguan dan penderitaan.
  • Tetap memberi nasihat meskipun dicaci dan ditolak.

Mereka tidak membalas keburukan dengan keburukan.

Mereka tidak berhenti menginginkan kebaikan bagi kaumnya meskipun disakiti.

Hal ini menunjukkan bahwa rahmat merupakan salah satu sifat paling agung yang dicintai Allah.

Pelajaran dari Nabi Nuh dan Nabi Hud

Imam Al-Muhasibi mengutip kisah Nabi Nuh dan Nabi Hud yang menghadapi penghinaan dari kaumnya.

Kaum Nabi Nuh berkata:

"Sesungguhnya kami memandangmu berada dalam kesesatan yang nyata."

Sementara kaum Nabi Hud berkata:

"Sesungguhnya kami memandangmu berada dalam kebodohan."

Meskipun demikian, kedua nabi tersebut tidak membalas penghinaan dengan kemarahan.

Mereka tetap menjawab dengan kelembutan, menyampaikan risalah Allah, dan terus mengharapkan keselamatan bagi kaumnya.

Mereka tidak berkata:

"Karena kalian menghina kami, maka kami tidak peduli lagi terhadap kalian."

Sebaliknya, mereka terus berdakwah dengan penuh kasih sayang.

Inilah akhlak para nabi yang lahir dari pengenalan yang mendalam terhadap Allah.

Kasih Sayang Nabi Ibrahim kepada Orang yang Bermaksiat

Imam Al-Muhasibi juga mengutip doa Nabi Ibrahim:

"Barang siapa mengikutiku maka sesungguhnya ia termasuk golonganku, dan barang siapa mendurhakaiku maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Doa ini menunjukkan kelembutan hati seorang nabi.

Bahkan terhadap orang-orang yang bermaksiat, Nabi Ibrahim masih memohon agar mereka mendapatkan ampunan dan rahmat Allah.

Beliau tidak tergesa-gesa mendoakan kebinasaan mereka.

Ini menunjukkan bahwa orang yang mengenal Allah akan lebih suka berharap kebaikan bagi manusia daripada berharap kehancuran mereka.

Akhlak Nabi Muhammad dalam Menghadapi Gangguan

Salah satu contoh paling agung dari rahmat adalah akhlak Rasulullah .

Imam Al-Muhasibi menyebutkan riwayat tentang seorang nabi yang dilukai oleh kaumnya hingga wajahnya berdarah. Sambil mengusap darah dari wajahnya, ia berdoa:

"Ya Allah, ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui."

Doa ini sangat terkenal sebagai gambaran akhlak para nabi.

Alih-alih membalas dendam, mereka justru memohon ampunan bagi orang yang menyakiti mereka.

Rahmat mengalahkan kemarahan.

Kasih sayang mengalahkan dendam.

Begitulah buah dari akal yang mengenal Allah.

Abu Bakar dan Kemuliaan Rahmat

Imam Al-Muhasibi juga mengingatkan tentang sabda Nabi mengenai keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Rasulullah menyebut Abu Bakar sebagai orang yang paling penyayang di antara umat ini.

Hal ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan hanya banyaknya ilmu atau ibadah, tetapi juga besarnya kasih sayang yang ia miliki kepada sesama.

Semakin tinggi ma'rifat seseorang kepada Allah, semakin lembut pula hatinya kepada manusia.

Tanda Orang yang Berakal Menurut Al-Muhasibi

Menurut Imam Al-Muhasibi, ketika seseorang memahami rahmat Allah dan memahami betapa Allah mencintai sifat tersebut, maka rahmat akan menjadi karakter yang melekat dalam dirinya.

Di antara ciri-cirinya:

1. Mencintai Orang-Orang Saleh

Ia bergembira melihat kebaikan orang lain.

Ia mencintai orang-orang yang taat kepada Allah dan berharap mereka terus bertambah baik.

Tidak ada rasa iri dalam hatinya.

2. Mengasihani Pelaku Maksiat

Ia tidak senang melihat manusia terjatuh dalam dosa.

Ia merasa prihatin terhadap mereka.

Ia berharap mereka mendapatkan hidayah dan kembali kepada Allah.

3. Berdakwah dengan Kasih Sayang

Jika memiliki kesempatan, ia mengajak manusia menuju Allah dengan kelembutan.

Tujuannya bukan memenangkan perdebatan atau mencari pengikut.

Tujuannya adalah menyelamatkan manusia dari kebinasaan.

4. Dermawan kepada Orang Miskin

Imam Al-Muhasibi menjelaskan bahwa orang yang berakal tidak menahan hartanya dari orang-orang fakir.

Ia melihat harta sebagai amanah dari Allah.

Karena itu, ia mudah berbagi dan membantu orang lain.

5. Tidak Mudah Kesal Ketika Diminta Bantuan

Orang yang dipenuhi rahmat tidak merasa terganggu ketika ada orang yang meminta pertolongan.

Selama mampu membantu, ia akan melakukannya dengan lapang dada.

Ia memahami bahwa Allah mencintai hamba yang membantu sesama.

6. Mudah Memaafkan

Salah satu tanda terbesar dari akal yang sempurna adalah kemampuan memaafkan.

Ketika disakiti, ia tidak terburu-buru membalas.

Ia lebih suka memberi maaf karena memahami betapa besar ampunan Allah kepada dirinya.

Melihat Semua Muslim Sebagai Keluarga

Imam Al-Muhasibi menggambarkan sebuah keadaan hati yang sangat indah.

Orang yang mengenal Allah memandang kaum muslimin seperti keluarganya sendiri:

  • Orang tua dipandang seperti ayahnya.
  • Anak-anak dipandang seperti anaknya.
  • Teman sebayanya dipandang seperti saudaranya.

Karena itu, ia menginginkan kebaikan bagi mereka sebagaimana ia menginginkan kebaikan bagi dirinya sendiri.

Ia tidak senang melihat mereka menderita.

Ia tidak senang melihat mereka tersesat.

Ia tidak senang melihat mereka celaka.

Kasih sayang menjadi sifat yang terus hidup di dalam hatinya.

Pelajaran Penting

Dari penjelasan Imam Al-Muhasibi, kita belajar bahwa ukuran kecerdasan dalam Islam bukan sekadar kemampuan berpikir, berdebat, atau menghafal ilmu.

Akal yang sejati adalah akal yang mengenal Allah.

Dan salah satu tanda terbesar bahwa seseorang benar-benar mengenal Allah adalah lahirnya rahmat kepada sesama manusia.

Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin lembut hatinya.

Semakin dalam ma'rifatnya kepada Allah, semakin besar kasih sayangnya kepada makhluk.

Karena para nabi adalah manusia yang paling mengenal Allah, mereka juga menjadi manusia yang paling penyayang kepada umat manusia.

Penutup

Dalam pandangan Imam Al-Muhasibi, rahmat merupakan buah langsung dari akal yang mengenal Allah. Orang yang memahami bahwa Allah mendahulukan rahmat, karunia, dan kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya akan berusaha meneladani sifat tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mencintai kaum muslimin, mengasihani orang yang tersesat, mudah memaafkan, senang membantu, dan tidak pernah berhenti menginginkan kebaikan bagi manusia. Inilah salah satu tanda paling nyata dari kesempurnaan akal menurut Imam Al-Muhasibi: semakin mengenal Allah, semakin besar pula kasih sayangnya kepada sesama.

Referensi:

وعقل عَن الله تَعَالَى أَنه ابْتَدَأَ عباده بِالرَّحْمَةِ والتفضل وَالْإِحْسَان بعد تَقْدِيم الْعلم مِنْهُ لَهُم أَنهم سيعصونه ويخالفون أمره فَلم يمنعهُ ذَلِك عَن ابتدائهم بِالنعَم والتحنن وَالرَّحْمَة وَالْإِحْسَان
وَجعل أفضل أوليائه عِنْده الرُّحَمَاء بخلقه المتحننين على عباده الناصحين لبريته وهم رسله الداعون الْعباد إِلَى نجاتهم والمحذرون لَهُم من هلكتهم المتحملون مِنْهُم الْأَذَى والمتحننون عَلَيْهِم بِالرَّحْمَةِ والنصح والإشفاق مَعَ أذاهم لَهُم وتكذيبهم إيَّاهُم واستهزائهم بهم لَا يكافئونهم بِمثل مَا نالوا مِنْهُم وَلَا يَنْصَرِفُونَ عَن الإشفاق عَلَيْهِم إِذْ سمعُوا الله جلّ ثَنَاؤُهُ يصفهم إِذْ قَالُوا لنوح ﴿إِنَّا لنراك فِي ضلال مُبين﴾

وَقَالُوا لهود ﴿إِنَّا لنراك فِي سفاهة﴾
ثمَّ وصف جوابهما فَقَالَ نوح ﴿لَيْسَ بِي ضَلَالَة وَلَكِنِّي رَسُول من رب الْعَالمين﴾ إِلَى قَوْله ﴿ولعلكم ترحمون﴾
وَوصف رد هود عَلَيْهِم فَقَالَ ﴿يَا قوم لَيْسَ بِي سفاهة وَلَكِنِّي رَسُول من رب الْعَالمين أبلغكم رسالات رَبِّي وَأَنا لكم نَاصح أَمِين﴾ إِلَى قَوْله ﴿لَعَلَّكُمْ تفلحون﴾ أَي تظفرون بِثَوَاب الله إِن قبلتم مني فَأخْبرهُم بعد تسفيههم لَهُ أَنه لم ينْصَرف من أجل ذَلِك عَن النَّصِيحَة لَهُم لَعَلَّهُم يفلحون
وَقَالَ إِبْرَاهِيم عليه السلام ﴿فَمن تَبِعنِي فَإِنَّهُ مني وَمن عَصَانِي فَإنَّك غَفُور رَحِيم﴾
وَقَالَ النَّبِي ﷺ وَوصف نَبيا من الْأَنْبِيَاء شجه قومه فَهُوَ يمسح الدَّم عَن وَجهه وَهُوَ يَقُول رب اغْفِر لقومي فَإِنَّهُم لَا يعلمُونَ
وَرُوِيَ أَن نوحًا عليه السلام كَانَ يخنقه قومه حَتَّى يغشى عَلَيْهِ فَإِذا أَفَاق قَالَ رب اغْفِر لقومي إِنَّهُم لَا يعلمُونَ

وَفضل النَّبِي ﷺ صديق هَذِه الْأمة عَلَيْهَا بِالرَّحْمَةِ لَهَا فَقَالَ أرْحم أمتِي بهَا أَبُو بكر
فَلَمَّا عقل عَن الله عز وجل ١١١ مَا ابْتَدَأَ الْعباد بِهِ من الرَّحْمَة وَأَنه خص أعظم خلقه عِنْده قدرا وفضله بهَا على جَمِيع الْعباد
ألزم قلبه رَحْمَة الْأمة فَأحب محسنهم وأشفق على مسيئهم ودعا إِلَى الله سُبْحَانَهُ إِذا أمكنه مدبرهم وَلم يدّخر مَالا عَن فقيرهم ففضل مَاله عَلَيْهِم مبذول والمواساة فِي قوته مِنْهُم المجهود من سَأَلَهُ مِنْهُم مَا يقدر عَلَيْهِ لم يتبرم بِطَلَبِهِ وَلم يضجر بإعطائه للرحمة الَّتِي لَهُم فِي قلبه وَمن آذاه وأساء إِلَيْهِ لم يجد فِي نَفسه كَرَاهِيَة للعفو والصفح عَنهُ يعدهم جَمِيعًا كأقرب الْخلق مِنْهُ كَبِيرهمْ مثل أَبِيه وصغيرهم كولده وقرنه كأخيه فَكل هَؤُلَاءِ يحب الْإِحْسَان إِلَيْهِم وَأَن لَا يُفَارق قلبه الشَّفَقَة عَلَيْهِم

Sumber;

الكتاب: ماهية العقل ومعناه واختلاف الناس فيه

المؤلف: الحارث بن أسد المحاسبي، أبو عبد الله (ت ٢٤٣هـ)

Baca juga:

Hakikat AkalMenurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 8): Ketika Akal Memandang Surga dan MeremehkanDunia

Hakikat AkalMenurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 9): Akal yang Membaca Tanda-Tanda KebesaranAllah di Alam Semesta

Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 11): Semakin Mengenal Allah, Semakin Merasa Kurang dalam Ibadah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Setia dalam Cinta: Nikmat Terbesar yang Sering Dilupakan Para Pecinta

Pendahuluan Ketika berbicara tentang cinta, kebanyakan orang hanya memikirkan dua tokoh utama: sang pecinta dan orang yang dicintai. Pad...