Malik bin Zaid bin Kahlan merupakan
salah satu tokoh penting dalam sejarah bangsa Arab Selatan yang melanjutkan
tradisi pemerintahan keturunan Kahlan bin Saba. Dalam berbagai riwayat kuno
disebutkan bahwa ia berhasil mengelola wilayah-wilayah perbatasan kerajaan
serta menyiapkan generasi penerus yang kelak melahirkan kabilah-kabilah besar
Arab, seperti Hamdan dan Madhhij. Wasiat dan kebijakan Malik bin Zaid
menunjukkan bagaimana para pemimpin Arab kuno membangun kekuasaan melalui
kepemimpinan, loyalitas, dan penataan wilayah yang teratur.
Pendahuluan
Sejarah Arab
kuno tidak hanya menyimpan kisah tentang kerajaan dan peperangan, tetapi juga
mewariskan berbagai nasihat kepemimpinan yang menjadi pedoman bagi generasi
berikutnya. Salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam tradisi tersebut
adalah Malik bin Zaid bin Kahlan, seorang pemimpin dari keturunan Kahlan yang
dipercaya mengelola wilayah-wilayah perbatasan Kerajaan Himyar pada masanya.
Dalam riwayat
yang dinukil oleh Ali bin Muhammad dari kakeknya, Di'bal bin Ali, diceritakan
bagaimana Malik bin Zaid mempersiapkan putra-putranya untuk memimpin
daerah-daerah strategis di Jazirah Arab. Kebijakan tersebut bukan sekadar
pembagian kekuasaan, tetapi merupakan upaya membangun stabilitas politik,
memperkuat keamanan wilayah, serta menjaga kesinambungan pemerintahan yang
telah diwariskan oleh para leluhurnya.
Dari kisah ini
lahir nama-nama besar yang kelak menjadi nenek moyang kabilah-kabilah terkenal
Arab, seperti Rabi'ah bin Malik yang dikenal sebagai leluhur Hamdan dan Adad
bin Malik yang menjadi leluhur Madhhij. Oleh
karena itu, wasiat Malik bin Zaid bukan hanya bernilai historis, tetapi juga
mengandung pelajaran berharga tentang kepemimpinan, delegasi tugas, loyalitas,
dan pentingnya mempersiapkan generasi penerus.
Malik bin Zaid dan Tanggung Jawab Menjaga Wilayah Kerajaan
Setelah menerima amanah dari
ayahnya, Zaid bin Kahlan, Malik bin Zaid meneruskan tugas mengelola
wilayah-wilayah perbatasan kerajaan yang berada di bawah kekuasaan keturunan
Kahlan. Tugas tersebut tidak hanya mencakup pengumpulan upeti dan pengawasan
daerah, tetapi juga menjaga keamanan, mengatur pasukan, serta memastikan
loyalitas penduduk kepada pemerintahan pusat.
Pada masa itu, kerajaan memerlukan
pemimpin-pemimpin daerah yang kuat agar wilayah yang luas tetap berada dalam
kendali. Karena itulah Malik bin Zaid mulai mengangkat putra-putranya untuk
memimpin daerah-daerah penting.
Pengangkatan Rabi'ah bin Malik ke Wilayah Al-Ajwaf
Salah satu kebijakan penting Malik
bin Zaid adalah mengutus putranya, Rabi'ah bin Malik, ke wilayah
Al-Ajwaf bersama pasukan berkuda, prajurit, dan perlengkapan militer.
Rabi'ah dikenal dalam sejarah Arab
sebagai leluhur besar kabilah Hamdan, salah satu kabilah terkemuka di
Yaman yang kemudian memainkan peran penting dalam sejarah Islam.
Sebelum keberangkatannya, Malik bin
Zaid memberikan surat resmi kepada penduduk Al-Ajwaf. Dalam surat tersebut
ditegaskan bahwa Rabi'ah adalah wakil sah kerajaan yang harus ditaati oleh
seluruh penduduk wilayah tersebut.
Penduduk diperintahkan untuk:
- Mendengar dan menaati perintah Rabi'ah.
- Menyerahkan upeti yang menjadi kewajiban mereka.
- Menjaga ketertiban dan keamanan wilayah.
- Tetap setia kepada pemerintahan pusat.
Apabila mereka menolak, kerajaan telah
menyiapkan pasukan yang mampu menegakkan kekuasaan dan memulihkan ketertiban.
Wilayah Al-Ajwaf dan Jejak Kaum Terdahulu
Riwayat tersebut juga menyebut bahwa
penduduk Al-Ajwaf tinggal di dataran dan pegunungan yang diyakini sebagai
tempat sisa-sisa kaum kuno yang disebut sebagai Ad kecil.
Konon, bekas pemukiman, makam, dan
peninggalan mereka masih dapat ditemukan di kawasan pegunungan dan lembah pada
masa penulis riwayat tersebut hidup.
Keterangan ini menunjukkan bagaimana
bangsa Arab kuno memandang wilayah-wilayah mereka sebagai tempat yang sarat
sejarah dan peninggalan peradaban masa lampau.
Pengutusan Adad bin Malik ke Najran dan Sekitarnya
Setelah menyelesaikan urusan
Rabi'ah, Malik bin Zaid kembali mengutus putranya yang lain, yaitu Adad bin
Malik, menuju wilayah:
- Najran
- Tatslits
- Bisyah
- Asy-Syarum
- Al-Hanu
- Daerah-daerah sekitarnya
Adad berangkat bersama pasukan
berkuda dan perlengkapan militer yang cukup besar.
Kepada penduduk wilayah tersebut,
Malik bin Zaid mengirim surat yang berisi perintah agar mereka mengakui
kepemimpinan Adad dan memenuhi kewajiban yang telah ditetapkan oleh kerajaan.
Dalam surat tersebut disebutkan
bahwa selama matahari masih terbit dan malam masih datang, mereka harus tetap
menaati Adad sebagai pemimpin yang sah.
Adad bin Malik dan Lahirnya Kabilah Madhhij
Riwayat menyebutkan bahwa Adad bin
Malik berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Penduduk wilayah yang
dipimpinnya menerima kekuasaannya dan membayar upeti sebagaimana yang
diperintahkan.
Adad kemudian dikenal sebagai leluhur
besar kabilah Madhhij, salah satu konfederasi suku terbesar di Jazirah
Arab.
Dari keturunannya lahir berbagai
cabang kabilah yang tersebar luas di Yaman dan wilayah Arab lainnya.
Karena itu, pengangkatan Adad tidak
hanya memiliki arti politik, tetapi juga menjadi bagian penting dalam sejarah
perkembangan bangsa Arab.
Pentingnya Delegasi dalam Kepemimpinan
Kebijakan Malik bin Zaid menunjukkan
pemahaman yang mendalam tentang pentingnya delegasi dalam pemerintahan.
Seorang pemimpin tidak mungkin
mengelola seluruh wilayah sendirian.
Oleh sebab itu, ia harus:
- Memilih orang yang kompeten.
- Memberikan kewenangan yang jelas.
- Menetapkan tanggung jawab yang tegas.
- Memastikan adanya loyalitas kepada pemerintahan pusat.
Prinsip ini tetap relevan hingga
masa kini, baik dalam pemerintahan maupun organisasi modern.
Wafatnya Malik bin Zaid
Setelah menjalankan tugasnya selama
bertahun-tahun, Malik bin Zaid akhirnya wafat.
Kepergiannya meninggalkan duka bagi
banyak orang, termasuk Raja Ayman bin Al-Humaisa' bin Himyar, yang selama
ini menjadi penguasa pusat kerajaan.
Menurut riwayat, Ayman sangat
menghormati Malik karena kesetiaan, kebijaksanaan, dan kemampuannya dalam
mengelola wilayah kerajaan.
Ratapan Raja Ayman atas Wafatnya Malik
Dalam syair yang dinisbatkan kepada
Raja Ayman, ia mengungkapkan kesedihan mendalam atas wafatnya Malik.
Syair tersebut mengingatkan bahwa:
- Semua manusia akan kembali kepada kematian.
- Generasi akhir akan mengikuti generasi terdahulu.
- Sebagaimana bintang-bintang terbit dan tenggelam,
demikian pula manusia datang dan pergi.
- Air mata tidak dapat mengubah takdir yang telah
ditetapkan.
Ratapan ini menunjukkan hubungan
yang erat antara raja dan para pembantunya dalam pemerintahan Arab kuno.
Nabat bin Malik Melanjutkan Amanah Ayahnya
Setelah Malik wafat, tugas-tugasnya
diteruskan oleh putranya yang bernama Nabat bin Malik.
Nabat mengambil alih seluruh
tanggung jawab yang sebelumnya diemban ayahnya, termasuk:
Mengelola
Wilayah Perbatasan
Ia mengawasi daerah-daerah yang
berada di bawah kekuasaan keturunan Kahlan.
Mengatur
Pasukan Kerajaan
Nabat bertanggung jawab memastikan
kesiapan militer untuk menjaga keamanan wilayah.
Mengawasi
Para Pejabat Daerah
Seluruh gubernur dan pemimpin lokal
tetap berada di bawah pengawasannya.
Menjaga
Loyalitas kepada Raja
Sebagaimana ayahnya, Nabat tetap
setia kepada Raja Ayman bin Al-Humaisa'.
Dengan demikian, kesinambungan
pemerintahan dapat terjaga tanpa gejolak besar.
Pelajaran Kepemimpinan dari Wasiat Malik bin Zaid
Kisah Malik bin Zaid mengandung
banyak pelajaran berharga.
1.
Pemimpin Harus Menyiapkan Generasi Penerus
Keberhasilan sebuah pemerintahan
tidak hanya ditentukan oleh pemimpin saat ini, tetapi juga oleh kualitas
penerusnya.
2.
Delegasi Adalah Kunci Keberhasilan
Tugas besar harus dibagi kepada
orang-orang yang memiliki kemampuan dan integritas.
3.
Loyalitas Menjaga Stabilitas
Hubungan yang baik antara pemerintah
pusat dan daerah menjadi fondasi kekuatan negara.
4.
Kekuatan Harus Diimbangi Kebijaksanaan
Pasukan dan kekuasaan diperlukan,
tetapi keberhasilan sejati lahir dari kepemimpinan yang adil dan bijaksana.
5.
Warisan Terbesar Adalah Keteladanan
Nama Malik tetap dikenang bukan
hanya karena kekuasaannya, tetapi karena kemampuannya membangun sistem yang
dapat diteruskan oleh generasi berikutnya.
Penutup
Wasiat Malik bin Zaid bin Kahlan
merupakan salah satu catatan berharga dalam sejarah Arab kuno. Melalui
kebijakan-kebijakannya, kita dapat melihat bagaimana para pemimpin masa lalu
membangun pemerintahan yang terorganisasi, memperluas wilayah kekuasaan, serta
mempersiapkan generasi penerus yang mampu menjaga stabilitas negara.
Kisah ini juga menunjukkan bahwa
kepemimpinan yang baik tidak hanya diukur dari luasnya wilayah yang dikuasai,
tetapi dari kemampuan seorang pemimpin dalam membangun loyalitas, menegakkan
amanah, dan meninggalkan warisan yang bermanfaat bagi generasi sesudahnya.
Referensi:
وصية زيد بن كهلان
وحدّثني علي بن محمد، عن جده الدعبل بن علي، أن مالك
بن زيد بن كهلان جرد ابنه ربيعة بن مالك - وهو جد همدان - في الخيل والرجال
والعدد، وعقد له الولاية على من معه، وكتب له كتابًا إلى ساكن الأجواف أهل سهولها
وجبالها، وهم بقية عاد الصغرى التي تعرف إلى اليوم قبورهم وآثارهم في الجبال
والسهول بها. وكان كتابه لربيعة بن مالك: باسمك اللهم،
إلى ساكِنِ الأجوافِ من أيمَن العُلا ... ومِنْ مالك
القيلِ بن زيدِ بنِ كهلانِ
رَبيعةُ لا يُعصَى لديِهم ويُتَّقى ... ربيعةُ ما غالى
بِهِ الملوانِ
وَيُجبَى إليهِ الخرجُ عِندَ وُجُوبِهِ ... على طاعةٍ
تُرضِيهِ مِنهُمْ وإذعانِ
وإلاَّ فلا يلحونَ إلاَّ نُفُوسَهُمْ ... إذا
داسَتهُمُ رجلي هُناكَ وفُرساني
قال: فلما فرغ من تجهيز ولده الربيعة بن مالك جرد ابنه
أدد بن مالك إلى الأعراض والأسواد من نجران وتثليث والشَّروم وبيشة والحنو وما
حولها من البلاد المسكونة في الخيل والعدد. وكتب له إلى ساكنها، وهم بقايا إرم بن
حام بن نوح النبي ﷺ، آثارهم بها إلى اليوم، وقبورهم تعرف بالإرميات، وذلك أنها
مبنية على هيئة الآكام والقنان. وكان كتابه الذي كتب لأدد إليهم حيث يقول: «من
الرمل»
باسمِكَ اللهُمَّ مِنْ أيمنَها بنِ ... مالكِ الخيلِ
إلى الحَيِّ إرمْ
لِسَاكنِ الأسوادِ والأعراضِ منْ ... بطنِ نجرانٍ إلى
ما حَيثُ هُمْ
أن يُطيعُوا أُددًا بينهُم ... ما نهارٌ لاحَ أو ليلٌ
هَجَمْ
ويُوفُّوا أُددًا مسألةً ... من ثِمارِ النَّخل
والخُور النَّعمْ
أو فلا يلحَونَ يومًا غيرهُم ... إنْ علاهُم قَسطلانٌ
مُدْلَهِمْ
قال: فسار أدد بن مالك بن زيد بن كهلان حتى نزل فيما
بينهم واليًا عليهم، فسمعوا له وأطاعوا، ودفعوا إليه إتاوتهم، وهو أبو مذحج.
ثم إن مالك بن زيد بن كهلان توفي، وولي ابنه نبت بن
مالك ما كان يتولاه أبوه مالك بن زيد بن كهلان في طاعة الملك أيمن بن الهميسع بن
حمير.
قال علي بن محمد: قال الدعبل بن علي: فيقال: إن أيمن
بن الهميسع رثى مالكًا بهذه الأبيات، وأنشأ يقول:
تولَّيتَ عَنَّي مالِك غَيرَ قافلِ ... وإنِّي غَدًَا
لا شَكَّ نحوكَ قافِلُ
أواخِرُنَا لا شكَّ أنَّ مصيرَهُمْ ... مصيرٌ إليهِ
صَارَ مِنَّا الأوائلُ
كَذلكُمُ تِلكَ النُّجُومُ إذا بدتْ ... طَوالِعُهُنَّ
التَّاليات الأوافلُ
فَلَو كانَ يجدي اليومَ شيئًا بُكاؤُنا ... لما رقأتْ
مِنَّا الدُّمُوعُ الهواملُ
سيَخلُفُكَ المأمُولُ نبتٌ وإنَّه ... لما قد كُنتَ
تَحمِلُ حاملُ
شمائِلُهُ الحُسنى شَمَائلُكِ الَّتِي ... إذا ذُكِرتْ
لم تعلُهُنَّ شمائِلُ
Sumber :
ـ[وصايا الملوك وأبناء الملوك من ولد قحطان بن هود]ـ
المؤلف: دعبل بن علي الخزاعي الشاعر المشهور (المتوفى:
٢٤٦هـ)
رواية: علي محمد بن دعبل الخزاعي
Baca juga:
Wasiat Kahlan binSaba: Pelajaran Kepemimpinan dan Tata Kelola Negara dari Arab Kuno
Wasiat Nabat bin
Malik: Sejarah Tsur bin Nabat, Kabilah Kindah, dan Kepemimpinan Keturunan
Kahlan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar