Kapan Seseorang Disebut Benar-Benar Berakal Menurut Imam Al-Muhasibi?

Kapan Seseorang Disebut Berakal?

Salah satu pertanyaan penting dalam pembahasan akal menurut Imam Al-Harits Al-Muhasibi adalah:

Kapan seseorang layak disebut benar-benar berakal di sisi Allah?

Pertanyaan ini sangat penting karena banyak orang memiliki kecerdasan, pengetahuan, dan kemampuan berpikir yang tinggi, tetapi belum tentu termasuk golongan yang disebut sebagai 'aqil (orang yang berakal) dalam pengertian syariat.

Al-Muhasibi memberikan jawaban yang sangat mendalam dan berbeda dari pemahaman umum tentang kecerdasan.

Jawaban Imam Al-Muhasibi: Orang Berakal Adalah Orang Beriman dan Takut kepada Allah

Beliau berkata:

"Seseorang disebut berakal tentang Allah apabila ia seorang mukmin yang takut kepada Allah."

Dengan kata lain, ukuran utama akal bukanlah kecerdasan intelektual, kemampuan berbicara, banyaknya informasi yang dimiliki, atau luasnya wawasan duniawi.

Ukuran akal yang sebenarnya adalah:

  • keimanan,
  • rasa takut kepada Allah,
  • dan kesediaan untuk menaati-Nya.

Semakin kuat hubungan seseorang dengan Allah, semakin sempurna akalnya menurut ukuran syariat.

Akal Harus Melahirkan Ketaatan

Imam Al-Muhasibi kemudian menjelaskan tanda yang membuktikan bahwa seseorang benar-benar berakal.

Beliau menyebutkan bahwa orang tersebut:

  • melaksanakan perintah Allah,
  • menjalankan kewajiban yang dibebankan kepadanya,
  • menjauhi larangan Allah,
  • dan menghindari perkara yang dimurkai-Nya.

Inilah bukti nyata bahwa akalnya bekerja sebagaimana mestinya.

Sebab tujuan akal bukan sekadar mengetahui kebenaran, melainkan mengarahkan manusia untuk mengikuti kebenaran tersebut.

Ilmu Tanpa Amal Belum Menunjukkan Kesempurnaan Akal

Banyak orang mengetahui hukum-hukum agama.

Mereka mengetahui:

  • kewajiban shalat,
  • haramnya riba,
  • pentingnya kejujuran,
  • kewajiban menutup aurat,
  • dan berbagai ajaran Islam lainnya.

Namun jika pengetahuan itu tidak diikuti dengan ketaatan, maka akal belum menjalankan fungsi tertingginya.

Menurut Al-Muhasibi, akal yang benar harus menghasilkan perubahan perilaku.

Karena itu semakin seseorang memahami Allah, seharusnya semakin besar pula dorongannya untuk taat.

Mengapa Rasa Takut kepada Allah Menjadi Ukuran Akal?

Rasa takut kepada Allah (khasy-yah) bukanlah ketakutan yang negatif.

Sebaliknya, ia lahir dari:

  • pengenalan terhadap kebesaran Allah,
  • pemahaman tentang keadilan-Nya,
  • kesadaran akan hari pembalasan,
  • dan keyakinan terhadap surga serta neraka.

Orang yang benar-benar memahami semua itu akan berhati-hati dalam setiap perbuatannya.

Ia sadar bahwa setiap amal akan dipertanggungjawabkan.

Karena itulah Al-Muhasibi menjadikan rasa takut kepada Allah sebagai salah satu tanda utama akal yang hidup.

Orang yang Sengaja Bermaksiat Tidak Disebut Berakal Tentang Allah

Imam Al-Muhasibi memberikan penegasan yang sangat kuat.

Beliau mengatakan bahwa:

Tidak layak disebut berakal tentang Allah orang yang sengaja bertekad untuk melakukan perkara yang dimurkai Allah lalu terus-menerus melakukannya tanpa taubat.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa ada perbedaan antara:

Mengetahui Kebenaran

dan

Menggunakan Akal untuk Mengikuti Kebenaran

Seseorang mungkin mengetahui bahwa suatu perbuatan adalah dosa.

Ia memahami ancaman Allah terhadap dosa tersebut.

Namun jika ia tetap memilih melakukannya secara sengaja, terus-menerus, dan tanpa penyesalan, maka ia belum menggunakan akalnya sebagaimana mestinya.

Akal dan Hawa Nafsu: Dua Kekuatan yang Sering Bertentangan

Dalam banyak karya Al-Muhasibi, akal sering digambarkan berhadapan dengan hawa nafsu.

Akal mengajak manusia kepada:

  • ketaatan,
  • kesabaran,
  • ketakwaan,
  • dan keselamatan akhirat.

Sedangkan hawa nafsu mengajak kepada:

  • kesenangan sesaat,
  • syahwat,
  • kelalaian,
  • dan kemaksiatan.

Ketika seseorang lebih memilih hawa nafsunya daripada petunjuk Allah yang telah diketahuinya, maka pada saat itu fungsi akalnya sedang dikalahkan oleh dorongan nafsu.

Kecerdasan Tidak Selalu Sama dengan Akal

Salah satu pelajaran penting dari pembahasan Al-Muhasibi adalah bahwa kecerdasan dan akal bukanlah hal yang sama.

Seseorang bisa saja:

  • ahli bisnis,
  • profesor,
  • ilmuwan,
  • pemimpin,
  • atau tokoh berpengaruh.

Namun jika pengetahuan tersebut tidak membawanya kepada ketaatan kepada Allah, maka ia belum mencapai derajat "berakal" dalam makna yang paling tinggi.

Sebaliknya, seorang muslim sederhana yang:

  • mengenal Allah,
  • takut kepada-Nya,
  • menjaga kewajiban,
  • dan menjauhi larangan-Nya,

dapat memiliki akal yang lebih sempurna di sisi Allah dibanding orang yang jauh lebih cerdas secara intelektual.

Hubungan Akal, Iman, dan Amal

Dari penjelasan Al-Muhasibi terlihat bahwa terdapat hubungan yang sangat erat antara tiga hal:

1. Akal

Akal membantu manusia memahami kebenaran.

2. Iman

Iman membuat manusia menerima kebenaran tersebut.

3. Amal

Amal adalah bukti nyata bahwa kebenaran itu telah meresap ke dalam hati.

Ketiganya saling berkaitan.

Akal tanpa iman tidak akan menghasilkan petunjuk.

Iman tanpa amal belum sempurna.

Sedangkan amal yang benar lahir dari iman dan pemahaman yang benar.

Pelajaran untuk Kehidupan Modern

Di zaman modern, ukuran keberhasilan sering kali dihubungkan dengan:

  • gelar akademik,
  • kekayaan,
  • jabatan,
  • popularitas,
  • dan kemampuan intelektual.

Namun Al-Muhasibi mengingatkan bahwa ukuran tersebut tidak cukup untuk menilai kualitas akal seseorang.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

  • Apakah ilmu kita membuat kita semakin dekat kepada Allah?
  • Apakah pengetahuan kita membuat kita semakin takut kepada-Nya?
  • Apakah pemahaman kita mendorong kita untuk meninggalkan dosa?

Jika jawabannya ya, maka ilmu tersebut telah menjadi cahaya bagi akal.

Jika tidak, maka ilmu itu belum memberikan manfaat sebagaimana mestinya.

Kesimpulan

Menurut Imam Al-Muhasibi, seseorang disebut benar-benar berakal apabila ia beriman kepada Allah, memiliki rasa takut kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Akal bukan sekadar kemampuan berpikir atau kecerdasan intelektual, tetapi kemampuan memahami kebenaran lalu tunduk kepadanya.

Karena itu orang yang terus-menerus memilih kemaksiatan dengan sengaja tanpa taubat tidak layak disebut berakal tentang Allah, meskipun ia memiliki kecerdasan yang tinggi dalam urusan dunia.

Hikmah dan Pesan Moral

Akal yang paling mulia bukanlah akal yang mampu menguasai dunia, melainkan akal yang mampu menuntun pemiliknya menuju keridaan Allah. Sebab kecerdasan sejati bukan diukur dari banyaknya pengetahuan, tetapi dari sejauh mana pengetahuan itu mengantarkan seseorang kepada iman, ketakwaan, dan ketaatan.

Referensi:

قلت فَمَتَى يُسمى الرجل عَاقِلا عَن الله تَعَالَى
قَالَ إِذا كَانَ مُؤمنا خَائفًا من الله عز وجل
وَالدَّلِيل على ذَلِك أَن يكون قَائِما بِأَمْر الله الَّذِي أوجب عَلَيْهِ الْقيام بِهِ مجانبا لما كره وَنَهَاهُ عَنهُ فَإِذا كَانَ كَذَلِك اسْتحق أَن يُسمى عَاقِلا عَن الله
بل لِأَنَّهُ لَا يُسمى عَاقِلا عَن الله من يعزم على الْقيام بسخطه

فَأَقَامَ على ذَلِك مصرا غير تايب

Sumber;

الكتاب: ماهية العقل ومعناه واختلاف الناس فيه

المؤلف: الحارث بن أسد المحاسبي، أبو عبد الله (ت ٢٤٣هـ)

Baca juga:

Hakikat AkalMenurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 5): Empat Golongan Manusia Berdasarkan CaraMereka Menggunakan Akal

Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 4): Mengapa Orang Cerdas Belum Tentu Berakaldi Hadapan Allah?

Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 6): Kapan Seseorang Mencapai Kesempurnaan Akal?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kapan Seseorang Disebut Benar-Benar Berakal Menurut Imam Al-Muhasibi?

Kapan Seseorang Disebut Berakal? Salah satu pertanyaan penting dalam pembahasan akal menurut Imam Al-Harits Al-Muhasibi adalah: Kapan ...