Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 4): Mengapa Orang Cerdas Belum Tentu Berakal di Hadapan Allah?


Title: Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 4): Mengapa Orang Cerdas Belum Tentu Berakal di Hadapan Allah?

Pendahuluan

Dalam pandangan umum, orang yang pandai berbicara, cakap berhitung, atau ahli dalam berbagai bidang ilmu sering dianggap sebagai orang yang berakal. Namun Imam Al-Harits Al-Muhasibi mengajarkan bahwa ukuran akal dalam Islam jauh lebih dalam daripada sekadar kecerdasan intelektual.

Seseorang bisa sangat cerdas dalam urusan dunia, tetapi gagal memahami tujuan hidupnya. Ia mampu mengelola bisnis, menghitung keuntungan, dan menguasai berbagai keterampilan, namun tetap lalai terhadap akhirat.

Karena itu Al-Muhasibi membedakan antara akal yang memahami penjelasan (bayān) dan akal yang benar-benar memahami Allah dan petunjuk-Nya.

Pembahasan ini menjadi sangat penting di zaman modern ketika kecerdasan sering diukur dari gelar, jabatan, dan kemampuan teknis semata.

Ada Orang yang Memiliki Akal tetapi Tidak Berakal tentang Allah

Al-Muhasibi menjelaskan bahwa seseorang bisa memiliki fitrah akal yang normal dan mampu memahami berbagai persoalan kehidupan, tetapi tetap tidak disebut berakal dalam hubungannya dengan Allah.

Beliau berkata bahwa orang seperti ini:

  • memiliki akal sebagai fitrah,
  • mampu memahami penjelasan dan informasi,
  • tetapi tidak menggunakan akalnya untuk mengenal Allah dan mengambil pelajaran dari petunjuk-Nya.

Karena itu ia tetap memikul tanggung jawab dan hujjah di hadapan Allah.

Dengan kata lain, masalahnya bukan karena tidak memiliki akal, tetapi karena tidak menggunakan akal pada tujuan yang semestinya.

Al-Qur'an Menyebut Mereka Memiliki Hati tetapi Tidak Memahami

Untuk menjelaskan hal ini, Al-Muhasibi mengutip firman Allah:

"Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami."

Ayat ini menunjukkan bahwa alat untuk memahami sebenarnya telah diberikan.

Mereka memiliki:

  • hati,
  • pendengaran,
  • penglihatan,
  • dan akal.

Namun semua itu tidak digunakan untuk merenungi ayat-ayat Allah.

Akibatnya mereka tetap berada dalam kesesatan meskipun memiliki sarana untuk mendapatkan hidayah.

Memahami Informasi Belum Tentu Memahami Kebenaran

Salah satu poin penting yang ditekankan Al-Muhasibi adalah bahwa memahami informasi berbeda dengan menerima kebenaran.

Beliau mengutip firman Allah tentang sebagian Ahli Kitab:

"Mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, padahal mereka mengetahuinya."

Mereka memahami isi wahyu.

Mereka mengetahui kebenaran.

Mereka mengenali tanda-tanda kenabian.

Namun mereka tetap mengubah dan menolaknya.

Ini menunjukkan bahwa pengetahuan semata tidak cukup.

Kebenaran baru memberi manfaat apabila disertai ketundukan hati.

Ada yang Tidak Memahami karena Taklid dan Kesombongan

Al-Muhasibi kemudian menjelaskan kelompok lain yang berbeda.

Mereka bukan seperti Ahli Kitab yang memahami lalu menolak.

Mereka bahkan tidak berusaha memahami sejak awal.

Penyebabnya adalah:

  • fanatik kepada tradisi,
  • mengikuti tokoh secara membabi buta,
  • kagum terhadap pendapat sendiri,
  • enggan menerima kebenaran yang berbeda.

Mereka mendengar ayat-ayat Allah, tetapi tidak mau merenungkannya.

Karena itulah Allah menggambarkan sebagian kaum musyrik:

"Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi."

Bukan karena mereka tidak memiliki akal, melainkan karena mereka tidak menggunakan akalnya untuk mencari kebenaran.

Bahaya Kagum terhadap Pendapat Sendiri

Menurut Al-Muhasibi, salah satu penghalang terbesar dalam menggunakan akal adalah al-i'jāb bir-ra'yi (kagum terhadap pendapat sendiri).

Ketika seseorang terlalu yakin bahwa dirinya selalu benar, ia kehilangan kemampuan untuk belajar.

Ia tidak lagi mencari kebenaran.

Yang dicarinya hanyalah pembenaran.

Karena itu Allah berfirman:

"Mereka mengira bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya."

Orang yang terjebak dalam kesombongan intelektual sering merasa dirinya paling benar, padahal justru semakin jauh dari petunjuk.

Ketika Keburukan Terlihat Indah

Al-Qur'an juga menggambarkan kondisi yang lebih berbahaya:

"Apakah orang yang dihiasi keburukan amalnya sehingga ia memandangnya sebagai sesuatu yang baik?"

Inilah puncak kesesatan.

Bukan hanya melakukan kesalahan.

Tetapi menganggap kesalahan sebagai kebenaran.

Bukan hanya tersesat.

Tetapi merasa sedang berada di jalan yang benar.

Pada tahap ini seseorang sulit menerima nasihat karena seluruh kesalahannya tampak indah di matanya.

Cerdas dalam Dunia, Lalai terhadap Akhirat

Al-Muhasibi kemudian mengutip firman Allah:

"Mereka mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap akhirat mereka lalai."

Ayat ini menggambarkan fenomena yang sangat relevan hingga saat ini.

Banyak orang:

  • ahli dalam perdagangan,
  • pakar teknologi,
  • mahir mengelola keuangan,
  • sukses membangun karier,

tetapi tidak memahami perkara yang paling penting bagi keselamatan dirinya di akhirat.

Mereka mengenal dunia secara rinci, tetapi tidak mengenal tujuan hidupnya sendiri.

Tafsir Hasan Al-Bashri: Ahli Menghitung tetapi Tidak Pandai Shalat

Al-Muhasibi meriwayatkan penjelasan dari Al-Hasan Al-Bashri mengenai ayat tersebut.

Beliau berkata:

"Salah seorang dari mereka mampu membolak-balik dirham di atas kukunya lalu memberitahukan beratnya, tetapi ia tidak pandai melaksanakan shalat."

Ungkapan ini sangat dalam maknanya.

Seseorang bisa menjadi ahli dalam urusan teknis yang sangat rumit, namun gagal memahami perkara yang menentukan nasib abadinya.

Ini bukan kritik terhadap ilmu dunia.

Melainkan kritik terhadap ketimpangan prioritas hidup.

Mengapa Mereka Tidak Memahami Akhirat?

Menurut Al-Muhasibi, penyebab utamanya bukan karena kurang cerdas.

Justru mereka sangat cerdas.

Masalahnya adalah mereka mencurahkan seluruh perhatian untuk dunia, tetapi tidak memberikan perhatian yang sama terhadap akhirat.

Mereka memikirkan:

  • keuntungan dan kerugian bisnis,
  • strategi kehidupan,
  • keamanan masa depan dunia,

namun tidak memikirkan:

  • keselamatan akhirat,
  • pahala dan dosa,
  • surga dan neraka,
  • serta perjumpaan dengan Allah.

Seandainya mereka mencari manfaat akhirat sebagaimana mereka mencari manfaat dunia, niscaya mereka akan memahami petunjuk Allah.

Akal Sejati adalah Akal yang Mengantarkan kepada Keselamatan

Dari seluruh pembahasan ini, Al-Muhasibi ingin menegaskan bahwa akal yang dipuji dalam Islam bukan sekadar kemampuan berpikir.

Akal sejati adalah akal yang:

  • menerima kebenaran,
  • merenungi ayat-ayat Allah,
  • tidak terhalang oleh kesombongan,
  • tidak terjebak dalam taklid buta,
  • serta mampu melihat manfaat dan bahaya dalam kehidupan akhirat.

Kecerdasan dunia tanpa kesadaran akhirat hanyalah sebagian kecil dari fungsi akal yang Allah berikan kepada manusia.

Kesimpulan

Imam Al-Muhasibi menjelaskan bahwa seseorang dapat memiliki kecerdasan, pemahaman, dan kemampuan luar biasa dalam urusan dunia, tetapi belum tentu berakal di hadapan Allah. Akal yang sesungguhnya adalah akal yang mengantarkan pemiliknya kepada kebenaran, ketundukan kepada Allah, dan kesadaran akan kehidupan akhirat.

Kesombongan terhadap pendapat sendiri, fanatisme kepada tradisi, dan kelalaian terhadap akhirat dapat menghalangi seseorang dari manfaat akalnya. Karena itu, ukuran kecerdasan dalam Islam bukan hanya seberapa banyak yang diketahui, tetapi sejauh mana pengetahuan tersebut membimbing seseorang menuju keselamatan di sisi Allah.

Hikmah dan Pelajaran

  • Tidak semua orang pintar adalah orang yang berakal dalam pandangan Islam.
  • Pengetahuan tanpa ketundukan dapat berubah menjadi hujjah yang memberatkan.
  • Kesombongan intelektual adalah salah satu penghalang terbesar menuju kebenaran.
  • Akal yang sehat akan mendorong seseorang memikirkan akhirat sebagaimana ia memikirkan dunia.
  • Semakin seseorang mengenal Allah, semakin sempurna fungsi akalnya.

Artikel Bersambung

Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 5): Empat Golongan Manusia Berdasarkan Cara Mereka Menggunakan Akal

Referensi:

وَمن زَالَ عَن ذَلِك وَمَعَهُ غريزة الْعقل الَّتِي فرق الله تَعَالَى بهَا بَين الْعُقَلَاء والمجانين فَهُوَ غير عَاقل عَن الله عز وجل وَهُوَ عَاقل للْبَيَان الَّذِي لَزِمته من أَجله الْحجَّة
وَقد وصف الله عز وجل هَذَا فِي كِتَابه عَن رجال وسما لَهُم عقلا فَقَالَ تَعَالَى ﴿لَهُم قُلُوب لَا يفقهُونَ بهَا﴾ يَعْنِي عَنهُ
وَقَالَ الله عز وجل ﴿وَجَعَلنَا لَهُم سمعا وأبصارا وأفئدة﴾ يَعْنِي عقولا ﴿فَمَا أغْنى عَنْهُم سمعهم وَلَا أَبْصَارهم وَلَا أفئدتهم من شَيْء إِذْ كَانُوا يجحدون بآيَات الله﴾ ثمَّ سمى بعض الْكفَّار من أهل الْكتاب عَاقِلا للْبَيَان الَّذِي لزمتهم بِهِ الْحجَّة ﴿يحرفونه من بعد مَا عقلوه وهم يعلمُونَ﴾
فَأخْبر أَنهم لَا يعْقلُونَ يَعْنِي عَنهُ وَعَن مَا قَالَ من عَظِيم قدره الْمُبين عَنهُ

ثمَّ قَالَ ﴿يحرفونه من بعد مَا عقلوه﴾ يَعْنِي عقل الْبَيَان
وَآخَرُونَ لَهُم عقول الغرايز لَا يعْقلُونَ الْبَيَان وَلَا الْمُبين عَنهُ بالفهم لَهُ إِلَّا أَنهم يسمعُونَ بلغَة يعرفونها كلَاما لَا يعْقلُونَ مَعَانِيه بالفهم لَهُ كمشركي الْعَرَب فَقَالَ ﴿إِن هم إِلَّا كالأنعام بل هم أضلّ سَبِيلا﴾
فَلم يعقلوا مَا قَالَ عز وجل لإعجابهم برأيهم ولتقليدهم آبَاءَهُم وكبراءهم وَقد كَانَت لَهُم عقول غرايز يعْقلُونَ بهَا أَمر دنياهم
وَلَو تركُوا الْإِعْجَاب بِالرَّأْيِ وتقليد الكبراء ثمَّ تدبروا لعقلوا مَا قَالَ الله وَلَكِن أعجبوا بآرائهم وقلدوا كبراءهم
فَقَالَ عز وجل ﴿وهم يحسبون أَنهم يحسنون صنعا﴾
وَقَالَ جلّ ثَنَاؤُهُ ﴿أَفَمَن زين لَهُ سوء عمله فَرَآهُ حسنا﴾
وَقَالَ ﴿وَيَحْسبُونَ أَنهم على شَيْء أَلا إِنَّهُم هم الْكَاذِبُونَ﴾
فَلم يعقلوا مَا قيل لَهُم كَمَا عقله المحرفون للسان بَعْدَمَا عقلوه

فهم يعلمُونَ أَمر دنياهم
ودقايق مَعَايشهمْ أدق فِي الغموض من أَعْلَام الدّين فَقَالَ الله جلّ وَعز ﴿يعلمُونَ ظَاهرا من الْحَيَاة الدُّنْيَا وهم عَن الْآخِرَة هم غافلون﴾
قَالَ حَدثنِي عَفَّان قَالَ حَدثنَا صَخْر بن جوَيْرِية عَن الْحسن فِي قَوْله تَعَالَى ﴿يعلمُونَ ظَاهرا من الْحَيَاة الدُّنْيَا﴾ قَالَ
لَا جرم وَالله لقد بلغ من علم أحدهم بدنياه أَنه يقلب الدِّرْهَم على ظفره ويخبرك بوزنه وَمَا يحسن يُصَلِّي
قَالَ حَدثنِي عَفَّان قَالَ حَدثنَا شُعْبَة عَن شَرْقي فِي

قَوْله ﴿يعلمُونَ ظَاهرا من الْحَيَاة الدُّنْيَا﴾ فَذكر الخراز والخياط وَنَحْوهمَا فَأخْبر الله تَعَالَى أَنهم يعْقلُونَ أَمر دنياهم وَلَو تدبروا وَتركُوا التَّقْلِيد والإعجاب بالآراء لعقلوا أَمر آخرتهم كَمَا عقلوا أَمر دنياهم حِين عنوا بِطَلَب مَنَافِعهَا فِي العواقب وَدفع مضارها فِي العواقب

Sumber;

الكتاب: ماهية العقل ومعناه واختلاف الناس فيه

المؤلف: الحارث بن أسد المحاسبي، أبو عبد الله (ت ٢٤٣هـ)

Baca juga:

Memahami HakikatAkal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 2): Akal Sebagai Kemampuan Memahami danMenangkap Makna

Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 3): Akal Sebagai Bashirah yang Mengantarkan kepada Ma'rifatullah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar