Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 6): Kapan Seseorang Mencapai Kesempurnaan Akal?

Apa tanda kesempurnaan akal menurut Imam Al-Muhasibi? Simak penjelasan tentang tiga pilar utama akal yang sempurna: rasa takut kepada Allah, kuatnya keyakinan, dan pemahaman agama yang mendalam.

Pendahuluan

Jika seseorang telah disebut berakal karena beriman, takut kepada Allah, dan menjalankan perintah-Nya, lalu muncul pertanyaan yang lebih dalam:

Kapan seseorang dapat disebut memiliki akal yang sempurna?

Pertanyaan ini diajukan kepada Imam Al-Harits Al-Muhasibi dalam kitab Mahiyyatul ‘Aql wa Ma’nahu wa Ikhtilafun Nas Fihi. Jawaban beliau menunjukkan kedalaman pandangan Islam tentang akal yang jauh melampaui sekadar kecerdasan intelektual.

Menurut Al-Muhasibi, kesempurnaan akal bukanlah kemampuan mengetahui segala sesuatu. Sebab tidak ada makhluk yang mampu mencapai pengetahuan sempurna tentang Allah. Akan tetapi, ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa seseorang telah mencapai tingkat kematangan dan kesempurnaan akal dalam batas kemampuan manusia.

Tidak Ada Batas Akhir dalam Mengenal Allah

Imam Al-Muhasibi terlebih dahulu menjelaskan bahwa akal tentang Allah tidak memiliki batas akhir.

Beliau mengatakan bahwa manusia tidak mungkin mencapai pengetahuan yang sempurna tentang:

  • hakikat Dzat Allah,
  • seluruh sifat-Nya,
  • besarnya pahala surga,
  • maupun dahsyatnya siksa neraka.

Mengapa demikian?

Karena Allah adalah Dzat Yang Mahabesar dan Mahaluas. Pengetahuan makhluk selalu terbatas, sedangkan kesempurnaan Allah tidak terbatas.

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan mereka tidak akan dapat meliputi-Nya dengan ilmu." (QS. Thaha: 110)

Bahkan Nabi Muhammad yang merupakan manusia paling mulia tetap diperintahkan berdoa:

"Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu." (QS. Thaha: 114)

Ayat ini menunjukkan bahwa jalan menuju ilmu dan ma'rifat tidak pernah berhenti selama manusia hidup.

Bahkan Para Malaikat Mengakui Keterbatasan Mereka

Al-Muhasibi mengutip riwayat bahwa para malaikat pada Hari Kiamat akan berkata:

"Ya Rabb kami, kami belum beribadah kepada-Mu sebagaimana mestinya."

Padahal malaikat adalah makhluk yang selalu taat dan tidak pernah bermaksiat.

Jika para malaikat saja mengakui keterbatasannya dalam mengenal dan beribadah kepada Allah, maka manusia lebih pantas lagi untuk bersikap rendah hati.

Orang Paling Berakal Adalah Orang yang Menyadari Keterbatasannya

Salah satu pelajaran paling berharga dari pembahasan ini adalah bahwa semakin tinggi ilmu seseorang tentang Allah, semakin ia menyadari keterbatasan dirinya.

Menurut Al-Muhasibi, orang yang paling berakal dan paling mengenal Allah adalah mereka yang mengakui bahwa:

  • mereka tidak mampu memahami hakikat Allah secara sempurna,
  • mereka tidak mampu menghitung seluruh nikmat-Nya,
  • dan mereka tidak akan pernah mencapai batas akhir dalam mengenal-Nya.

Kesadaran akan keterbatasan inilah yang melahirkan kerendahan hati.

Sebaliknya, merasa telah mengetahui segala sesuatu merupakan tanda kurangnya pemahaman.

Apa yang Dimaksud Akal yang Sempurna?

Meskipun tidak ada kesempurnaan mutlak dalam mengenal Allah, Al-Muhasibi menjelaskan bahwa seseorang tetap dapat disebut memiliki akal yang sempurna dalam makna relatif.

Maksudnya adalah:

Ia telah mencapai tingkat kematangan yang dominan dalam sifat-sifat yang seharusnya dimiliki oleh orang berakal.

Menurut beliau, kesempurnaan akal tercapai apabila seseorang memiliki tiga karakter utama.

Pilar Pertama: Takut kepada Allah

Karakter pertama adalah al-khawf, yaitu rasa takut kepada Allah.

Takut kepada Allah bukan berarti putus asa atau pesimis.

Yang dimaksud adalah:

  • takut akan murka-Nya,
  • takut melakukan dosa,
  • takut kehilangan keridaan-Nya,
  • dan takut mendapatkan hukuman akibat kemaksiatan.

Rasa takut ini membuat seseorang selalu berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatannya.

Ia tidak meremehkan dosa, sekalipun dosa tersebut tampak kecil di mata manusia.

Mengapa Takut kepada Allah Sangat Penting?

Karena rasa takut berfungsi sebagai penjaga hati.

Ketika syahwat mengajak kepada maksiat, rasa takut kepada Allah akan mengingatkan:

"Allah melihatmu."

Ketika seseorang tergoda untuk melanggar batas, rasa takut itu menjadi rem yang menahannya.

Oleh sebab itu, semakin kuat rasa takut kepada Allah, semakin kuat pula akalnya dalam menjaga dirinya.

Pilar Kedua: Kuatnya Keyakinan kepada Allah

Karakter kedua adalah quwwatul yaqin atau kekuatan keyakinan.

Yakin berarti membenarkan dengan sepenuh hati segala yang Allah kabarkan.

Termasuk:

  • janji surga,
  • ancaman neraka,
  • hari kebangkitan,
  • hisab,
  • takdir,
  • dan seluruh berita gaib yang disampaikan dalam Al-Qur'an dan Sunnah.

Orang yang memiliki keyakinan kuat hidup seakan-akan melihat akhirat dengan mata kepala sendiri.

Karena itulah para salaf sering mengatakan:

"Seandainya tabir dibuka, keyakinanku tidak akan bertambah."

Bukan karena mereka melihat akhirat secara langsung, tetapi karena keyakinan mereka sudah begitu kuat.

Takut Saja Belum Cukup

Al-Muhasibi memberikan penjelasan yang sangat menarik.

Beliau mengatakan bahwa seseorang mungkin saja memiliki rasa takut kepada Allah, tetapi keyakinannya belum sempurna.

Karena itu beliau memisahkan antara rasa takut dan kekuatan keyakinan.

Mengapa?

Karena keyakinan yang kuat akan melahirkan banyak sifat mulia lainnya seperti:

  • tawakal,
  • cinta kepada Allah,
  • ridha terhadap ketetapan-Nya,
  • zuhud terhadap dunia,
  • dan ketenangan hati.

Semua itu tidak selalu lahir hanya dari rasa takut semata.

Pilar Ketiga: Pemahaman yang Mendalam terhadap Agama

Karakter ketiga adalah husnul bashar bid-din, yaitu pemahaman yang benar dan mendalam terhadap agama.

Maksudnya adalah memahami:

  • apa yang dicintai Allah,
  • apa yang dibenci-Nya,
  • apa yang diwajibkan,
  • apa yang dianjurkan,
  • serta perkara-perkara syubhat yang harus diwaspadai.

Orang yang memiliki pemahaman agama yang baik tidak hanya mengetahui hukum secara umum.

Ia juga memahami:

  • hikmah syariat,
  • prioritas amal,
  • adab dalam beragama,
  • dan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar.

Pentingnya Berhenti di Wilayah Syubhat

Al-Muhasibi secara khusus menyinggung kemampuan untuk berhenti ketika menghadapi perkara syubhat.

Syubhat adalah perkara yang tidak jelas antara halal dan haram.

Orang yang matang akalnya tidak terburu-buru mengikuti hawa nafsu.

Sebaliknya, ia memilih berhati-hati hingga memperoleh kejelasan.

Sikap seperti ini merupakan tanda kedalaman ilmu dan ketakwaan.

Tiga Pilar yang Melahirkan Akal Sempurna

Menurut Al-Muhasibi, apabila tiga hal berikut berkumpul dalam diri seseorang:

  1. Takut kepada Allah.
  2. Kuatnya keyakinan kepada Allah.
  3. Pemahaman agama yang mendalam.

Maka akalnya telah mencapai tingkat kesempurnaan yang mungkin diraih manusia.

Ketiganya saling melengkapi.

Tanpa rasa takut, ilmu bisa menjadi kesombongan.

Tanpa keyakinan, ilmu menjadi lemah dan tidak berpengaruh.

Tanpa pemahaman agama, semangat ibadah bisa kehilangan arah.

Karena itu ketiganya harus berjalan bersama.

Akal dalam Islam Bukan Sekadar Kecerdasan

Salah satu kesalahan besar di zaman modern adalah mengidentikkan akal dengan IQ atau kecerdasan akademik.

Padahal menurut Al-Muhasibi, seseorang bisa sangat cerdas dalam urusan dunia tetapi belum memiliki akal yang sempurna.

Akal yang sempurna adalah akal yang:

  • mengenal Allah,
  • takut kepada-Nya,
  • yakin kepada janji-Nya,
  • memahami agama-Nya,
  • dan menjadikan semua itu sebagai pedoman hidup.

Inilah akal yang akan mengantarkan seseorang kepada keselamatan dunia dan akhirat.

Kesimpulan

Menurut Imam Al-Muhasibi, tidak ada manusia yang mampu mencapai pengetahuan sempurna tentang Allah. Namun seseorang dapat disebut memiliki akal yang sempurna apabila ia memiliki tiga sifat utama: takut kepada Allah, keyakinan yang kuat terhadap Allah dan seluruh janji-Nya, serta pemahaman agama yang mendalam.

Kesempurnaan akal bukan terletak pada luasnya informasi yang dimiliki, melainkan pada sejauh mana pengetahuan itu melahirkan ketakwaan, keyakinan, dan ketaatan kepada Allah.

Hikmah dan Pesan Moral

Semakin dalam seseorang mengenal Allah, semakin ia menyadari betapa sedikit ilmu yang dimilikinya. Orang yang paling berakal bukanlah yang merasa paling tahu, melainkan yang paling takut kepada Allah, paling kuat keyakinannya, dan paling sungguh-sungguh berusaha memahami agama-Nya. Itulah jalan menuju kesempurnaan akal yang diajarkan oleh Imam Al-Muhasibi.

Referensi:

قلت فَمَتَى يُسمى الْعَاقِل عَن الله كَامِل الْعقل عَن الله تَعَالَى
قَالَ إِن الْعقل عَن الله تَعَالَى لَا غَايَة لَهُ لِأَنَّهُ لَا غَايَة لله عز وجل عِنْد الْعَاقِل بالتحديد بالإحاطة بِالْعلمِ بحقائق صِفَاته وَلَا بعظيم قدر ثَوَابه وَلَا عِقَابه إِذْ لم يعاينها
وَلَو عاين الله جلّ ثَنَاؤُهُ وتقدست أسماؤه بصفاته لما أحَاط بِهِ علما
وَلَكِن وَقد يَقع اسْم الْكَمَال على الْأَغْلَب فِي الْأَسْمَاء فِي الْعقل عَن الله تَعَالَى لَا الْعقل بالكمال الَّذِي لَا يحْتَمل الزِّيَادَة
أَلا ترَاهُ عز وجل يَقُول لرَسُوله ﷺ ﴿وَقل رب زِدْنِي علما﴾ وَقَالَ ﴿وَلَا يحيطون بِهِ علما﴾
وَرُوِيَ عَن الْمَلَائِكَة أَنَّهَا تَقول يَوْم الْقِيَامَة رب مَا عبدناك حق عبادتك
فَلَا أحد يُسَاوِي الله عز وجل فِي الْعلم بِنَفسِهِ فَيعرف عَن عَظمته تَعَالَى كَمَال صِفَاته كَمَا يعلم الله عز وجل عَن نَفسه

فأعظم العاقلين عِنْده العارفين عقلا عَنهُ وَمَعْرِفَة بِهِ الَّذين أقرُّوا بِالْعَجزِ أَنهم لَا يبلغون فِي الْعقل والمعرفة كنه مَعْرفَته
وَلَكِن قد يُسمى كَامِلا فِي الْعقل عَن الله ١٠٩ فِي مَا غلب عَلَيْهِ من الْأَفْعَال الَّتِي كَانَت عَن الْعَاقِل كَامِلا من كَانَت فِيهِ ثَلَاث خلال
الْخَوْف مِنْهُ وَالْقِيَام بأَمْره وَقُوَّة الْيَقِين بِهِ وَبِمَا قَالَ ووعد وتوعد
وَحسن الْبَصَر بِدِينِهِ بالفقه عَنهُ فِيمَا أحب وَكره من علم مَا أَمر بِهِ وَندب إِلَيْهِ وَالْوُقُوف عِنْد الشُّبُهَات الَّتِي سمى الله الْوُقُوف عَنْهَا رسوخا فِي الْعلم بِهِ
فَإِذا اجْتمع الْخَوْف مِنْهُ وَقُوَّة الْيَقِين بِهِ وَبِمَا قَالَ ووعد وتوعد وَحسن الْبَصَر بدين الله وَالْفِقْه فِي الدّين فقد كمل قُوَّة عقله
وَإِن كَانَ الْخَوْف من الله هُوَ من قُوَّة الْيَقِين بالوعيد فَإِنَّهُ قد يكون خَائفًا وَلَا يكون مَعَه الْيَقِين الْقوي الَّذِي ينَال بِهِ الرضى والتوكل والمحبة والزهد

فَمن ثمَّ قُلْنَا الْخَوْف من الله وَقُوَّة الْيَقِين وَالْبَصَر بِالدّينِ لِأَنَّهُ قد يكون قوي الْيَقِين وَلَيْسَ يحسن الْبَصَر بِالدّينِ وَيكون بَصيرًا بِالدّينِ لَا خَائفًا وَلَا قوي الْيَقِين
وجماع هَذِه الثَّلَاث الْخِصَال قُوَّة الْيَقِين وَحسن الْبَصَر بِالدّينِ
وَإِنَّمَا زِدْنَا ذكر الْخَوْف وَإِن كَانَ من الْيَقِين لِأَنَّهُ قد يكون خَائفًا وَلَيْسَ بِالْقَوِيّ الْيَقِين فِي كَمَال مَا قَالَ الله عز وجل مِمَّا وصف بِهِ نَفسه من قدره وجلاله وعظمته وَمَا وعد وتوعد وحذر وَرَجا وأنعم وابتلى بِهِ

Sumber;

الكتاب: ماهية العقل ومعناه واختلاف الناس فيه

المؤلف: الحارث بن أسد المحاسبي، أبو عبد الله (ت ٢٤٣هـ)

Baca juga:

Hakikat AkalMenurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 5): Empat Golongan Manusia Berdasarkan CaraMereka Menggunakan Akal

Kapan Seseorang Disebut Benar-Benar Berakal MenurutImam Al-Muhasibi?

Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 7): Buah Kesempurnaan Akal dalam Kehidupan Seorang Mukmin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

قرة العيون – فى نكاح الشرعى

Download Kitab PDF : قرة العيون – فى نكاح الشرعى Makna Pesantren Lengkap Gratis Beserta Preview Online Dan Link Melalui Google Drive ...