Pendahuluan
Dalam banyak pandangan manusia,
orang yang rajin beribadah sering kali dianggap telah mencapai tingkat
kesalehan yang tinggi. Namun menurut Imam Al-Muhasibi, salah satu tanda paling
jelas dari kesempurnaan akal justru bukan merasa banyak beramal, melainkan
merasa bahwa seluruh amal yang dilakukan masih sangat sedikit dibandingkan hak
Allah yang wajib ditunaikan.
Semakin seseorang mengenal Allah,
memahami kebesaran-Nya, menyadari luasnya nikmat-Nya, serta menghayati
dahsyatnya pahala dan siksa-Nya, maka semakin kecil pula dirinya di hadapan
Allah. Ia tidak akan tertipu oleh amalnya sendiri dan tidak akan memandang
dirinya sebagai orang yang telah berhasil.
Pada bagian ini, Imam Al-Muhasibi
menjelaskan salah satu buah tertinggi dari akal yang benar: lahirnya kerendahan
hati, rasa syukur yang mendalam, dan hilangnya rasa bangga terhadap amal diri
sendiri.
Menyadari Kebesaran Allah dan Besarnya Nikmat-Nya
Imam Al-Muhasibi menjelaskan bahwa
orang yang berakal akan memahami betapa agungnya Allah, betapa besar pahala
yang dijanjikan-Nya, dan betapa dahsyat siksa yang diperingatkan-Nya.
Ia juga memahami bahwa nikmat Allah
yang diberikan kepada seluruh makhluk sangatlah banyak dan tidak terhitung.
Bahkan seluruh penghuni langit dan bumi sekalipun, jika mereka beribadah
sepanjang umur dunia dengan seluruh kemampuan mereka, tetap tidak akan mampu
menunaikan syukur yang layak atas nikmat Allah.
Kesadaran ini membuat seorang mukmin
memahami siapa sebenarnya Tuhan yang ia sembah. Ia mengetahui:
- Betapa agung Dzat yang disembahnya.
- Betapa besar pahala yang sedang ia harapkan.
- Betapa mengerikan azab yang sedang ia hindari.
- Betapa banyak nikmat yang wajib ia syukuri.
Semua ini membuat pandangannya
terhadap dirinya berubah secara total.
Menyadari Bahwa Syukur Itu Sendiri Adalah Nikmat Allah
Salah satu pemikiran mendalam yang
diangkat oleh Imam Al-Muhasibi adalah bahwa kemampuan bersyukur pun sebenarnya
berasal dari Allah.
Seorang hamba tidak hanya menerima
nikmat berupa kesehatan, harta, ilmu, dan iman. Bahkan ketika ia mengucapkan
syukur kepada Allah, kemampuan untuk bersyukur itu sendiri merupakan karunia
Allah yang baru.
Artinya, setiap syukur membutuhkan
syukur berikutnya.
Semakin seseorang memikirkan hakikat
ini, semakin ia sadar bahwa dirinya tidak akan pernah mampu membalas seluruh
nikmat Allah dengan sempurna.
Karena itu, orang yang berakal tidak
pernah tertipu oleh amalnya sendiri. Ia justru melihat bahwa semua kebaikan
yang ia lakukan merupakan taufik dan anugerah dari Allah.
Semakin Mengenal Allah, Semakin Kecil Amal yang Terlihat
Menurut Imam Al-Muhasibi, ketika
seorang hamba benar-benar memahami:
- Kebesaran Allah,
- Luasnya rahmat-Nya,
- Banyaknya nikmat-Nya,
- Besarnya pahala-Nya,
- Dahsyatnya azab-Nya,
maka ia akan memandang seluruh jerih
payah dan ibadahnya sebagai sesuatu yang sangat kecil.
Ia tidak akan merasa telah banyak
berbuat.
Ia tidak akan menganggap dirinya lebih
baik daripada orang lain.
Ia tidak akan terpesona oleh amalnya
sendiri.
Sebaliknya, ia akan merasa bahwa apa
yang telah ia lakukan masih sangat jauh dari hak Allah yang seharusnya ia
tunaikan.
Inilah salah satu perbedaan besar
antara orang yang mengenal Allah dengan orang yang hanya mengenal amal.
Bahaya Merasa Cukup dengan Amal
Banyak orang tertipu oleh amal
mereka sendiri. Mereka melihat banyaknya ibadah yang dilakukan lalu merasa aman
dari murka Allah.
Padahal para ulama salaf justru
semakin takut ketika amal mereka bertambah.
Mengapa?
Karena semakin besar pengetahuan
seseorang tentang Allah, semakin ia menyadari bahwa:
- Amalnya penuh kekurangan.
- Niatnya tidak selalu sempurna.
- Syukurnya belum memadai.
- Hak Allah jauh lebih besar daripada yang mampu ia tunaikan.
Karena itu, orang yang berakal tidak
bergantung kepada amalnya. Ia bergantung kepada rahmat Allah.
Ia tetap beramal dengan
sungguh-sungguh, tetapi hatinya tidak bersandar pada amal tersebut.
Kerendahan Hati sebagai Buah Akal
Kesimpulan yang dapat diambil dari
penjelasan Imam Al-Muhasibi adalah bahwa akal yang benar akan melahirkan
tawadhu'.
Semakin tinggi ma'rifat seseorang
kepada Allah, semakin rendah pandangannya terhadap dirinya sendiri.
Ia tidak sibuk menghitung amalnya.
Ia tidak sibuk mencari pengakuan
manusia.
Ia tidak membanggakan ilmu, ibadah,
atau pengorbanannya.
Sebaliknya, ia selalu merasa:
- Masih banyak kekurangan.
- Masih sedikit bersyukur.
- Masih jauh dari kesempurnaan.
- Sangat membutuhkan ampunan Allah.
Inilah akhlak para nabi, para sahabat,
dan para wali Allah sepanjang sejarah.
Pelajaran Penting dari Bagian Ini
Dari penjelasan Imam Al-Muhasibi,
terdapat beberapa pelajaran berharga:
- Semakin mengenal Allah, semakin besar rasa hormat
kepada-Nya.
- Nikmat Allah tidak mungkin dihitung, apalagi dibalas
secara sempurna.
- Kemampuan bersyukur juga merupakan nikmat dari Allah.
- Orang yang berakal tidak tertipu oleh amalnya sendiri.
- Ma'rifatullah melahirkan kerendahan hati dan rasa takut
kepada Allah.
- Amal yang banyak tidak boleh melahirkan kesombongan.
- Keselamatan seorang hamba terletak pada rahmat Allah,
bukan semata-mata pada amalnya.
Penutup
Dalam pandangan Imam Al-Muhasibi,
ukuran kecerdasan seorang mukmin bukanlah banyaknya informasi yang ia ketahui,
melainkan sejauh mana pengetahuan tersebut membuatnya semakin mengenal Allah.
Ketika ma'rifat kepada Allah bertambah, seorang hamba akan semakin menyadari
betapa agung Tuhannya dan betapa kecil dirinya.
Karena itulah para ulama yang paling
dalam ilmunya justru menjadi manusia yang paling rendah hati. Mereka tidak
membanggakan amal, tidak merasa aman dari murka Allah, dan tidak pernah
berhenti memohon ampunan-Nya.
Inilah salah satu tanda terbesar
dari akal yang hidup: semakin dekat kepada Allah, semakin hilang rasa bangga
terhadap diri sendiri, dan semakin besar kebutuhan kepada rahmat-Nya.
Referensi:
وعقل عَن الله تَعَالَى عَظِيم قدره وَقدر مَا يطْلب
من ثَوَابه وَمَا يخَاف من عِقَابه وعظيم الأيادي وَكَثْرَة النَّعيم عِنْده وَأَن
جَمِيع خلقه من أهل سمواته وأرضه لَو دأبوا جَمِيعًا واجتهدوا عمر الدُّنْيَا
كلهَا وأبدا مَا أَدّوا شكر نعمه وَلَا أَدّوا مَا يحِق فِي عَظمته فَكيف بالحلول
فِي جواره والنجاة من عَذَابه
فقد عقل أَي رب يعبد وَأي ثَوَاب يطْلب وَمن أَي
عِقَاب وَعَذَاب يهرب وَأي نعيم يشْكر وَالشُّكْر أَيْضا مِمَّن هُوَ وَمن من بِهِ
فَلَمَّا عقل ذَلِك كُله عَن ربه اسْتَقل واستصغر
جَمِيع دؤوبه واجتهاده لعَظيم مَا عقل من جَمِيع ذَلِك
Sumber;
الكتاب: ماهية
العقل ومعناه واختلاف الناس فيه
المؤلف: الحارث
بن أسد المحاسبي، أبو عبد الله (ت ٢٤٣هـ)
Baca juga:
Hakikat Akal
Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 9): Akal yang Membaca Tanda-Tanda Kebesaran
Allah di Alam Semesta
Hakikat Akal
Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 10): Akal yang Melahirkan Rahmat kepada Sesama
Hakikat Akal
Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 12): Akal yang Melahirkan Muhasabah, Rasa
Takut, dan Kerendahan Hati
%20Semakin%20Mengenal%20Allah,%20Semakin%20Merasa%20Kurang%20dalam%20Ibadah.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar