Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 9): Akal yang Membaca Tanda-Tanda Kebesaran Allah di Alam Semesta

Pendahuluan

Pada bagian sebelumnya, Imam Al-Muhasibi menjelaskan bagaimana akal yang sempurna membuat seorang mukmin merindukan surga, meremehkan dunia, dan menjadikan kehidupan dunia hanya sebagai bekal menuju akhirat.

Dalam pembahasan kali ini, beliau menguraikan salah satu fungsi tertinggi akal: membaca ayat-ayat Allah yang tersebar di seluruh alam semesta. Menurut beliau, akal yang sehat tidak berhenti pada pengamatan terhadap makhluk, tetapi menjadikan seluruh makhluk sebagai jalan untuk mengenal Sang Pencipta.

Dari pengamatan terhadap ciptaan, seorang mukmin akan sampai kepada ma'rifatullah, yaitu pengenalan yang semakin mendalam kepada Allah Ta'ala.

Akal yang Merenungkan Tanda-Tanda Kekuasaan Allah

Imam Al-Muhasibi menjelaskan bahwa orang yang benar-benar berakal akan memperhatikan berbagai tanda kekuasaan Allah dalam penciptaan dan pengaturan alam semesta.

Ia melihat:

  • Keteraturan alam.
  • Kesempurnaan penciptaan makhluk.
  • Ketelitian hukum-hukum kehidupan.
  • Keseimbangan yang luar biasa dalam seluruh ciptaan.

Semua itu menunjukkan bahwa alam ini tidak mungkin tercipta secara kebetulan.

Dari pengamatan tersebut, ia menyimpulkan bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan Yang Mahakuasa, Mahabijaksana, dan Maha Mengetahui.

Alam Semesta Menunjukkan Kesempurnaan Sifat Allah

Menurut Al-Muhasibi, orang yang berakal akan memahami bahwa kesempurnaan ciptaan menunjukkan kesempurnaan sifat Sang Pencipta.

Ia menyadari bahwa seluruh makhluk diciptakan:

Dengan kekuasaan yang sempurna

Tidak ada sesuatu pun yang mampu keluar dari kehendak dan kekuasaan Allah.

Dengan hikmah yang sempurna

Setiap ciptaan memiliki tujuan, manfaat, dan keteraturan yang menunjukkan kebijaksanaan Allah.

Dengan ilmu yang meliputi segala sesuatu

Tidak ada satu pun makhluk yang tercipta tanpa pengetahuan Allah.

Dengan pendengaran dan penglihatan yang sempurna

Allah mengetahui seluruh gerakan makhluk-Nya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Bahkan perkara-perkara yang paling halus dan paling tersembunyi sekalipun berada dalam pengawasan-Nya.

Seluruh Makhluk Menjadi Bukti Keagungan Allah

Ketika akal telah memahami hal tersebut, maka seluruh alam berubah menjadi sarana untuk mengenal Allah.

Imam Al-Muhasibi menggambarkan seolah-olah seluruh makhluk menjadi "mata pelajaran" yang mengajarkan kebesaran Tuhan.

Langit mengingatkannya kepada keagungan Allah.

Bumi mengingatkannya kepada kekuasaan Allah.

Pergantian siang dan malam mengingatkannya kepada hikmah Allah.

Kehidupan dan kematian mengingatkannya kepada kekuasaan Allah atas seluruh makhluk.

Karena itu, orang yang berakal tidak memandang alam hanya sebagai benda mati, tetapi sebagai ayat-ayat yang menunjukkan kebesaran Rabb semesta alam.

Buahnya: Hati Selalu Berdzikir kepada Allah

Menurut Imam Al-Muhasibi, ketika seseorang terus melihat tanda-tanda Allah dalam ciptaan-Nya, maka hatinya akan selalu terhubung dengan Allah.

Akibatnya:

  • Dzikir menjadi mudah.
  • Kelalaian berkurang.
  • Kehadiran Allah semakin terasa dalam hati.
  • Rasa pengawasan Allah semakin kuat.

Ia tidak lagi hidup dalam keadaan lalai, karena setiap hal yang dilihatnya mengingatkannya kepada Allah.

Inilah salah satu makna penting dari akal yang hidup.

Semakin Mengenal Allah, Semakin Merasa Belum Mengenal-Nya

Menariknya, Al-Muhasibi menjelaskan bahwa semakin tinggi ma'rifat seseorang kepada Allah, semakin ia menyadari keterbatasan dirinya.

Ia memahami bahwa:

  • Ilmu manusia sangat terbatas.
  • Hakikat kebesaran Allah tidak akan pernah dapat dijangkau sepenuhnya.
  • Tidak ada batas akhir dalam mengenal Allah.

Karena itu, orang yang benar-benar berakal tidak pernah merasa cukup dengan ilmu yang dimilikinya.

Sebaliknya, ia selalu ingin menambah pengetahuan tentang Allah, sifat-sifat-Nya, serta jalan-jalan yang mendekatkannya kepada-Nya.

Mengapa Menuntut Ilmu Lebih Utama daripada Banyak Amal Sunnah?

Salah satu poin menarik dalam pembahasan ini adalah penjelasan Al-Muhasibi mengenai keutamaan ilmu.

Beliau menjelaskan bahwa seorang hamba yang telah mengenal Allah akan lebih bersemangat menambah ilmu dan pemahaman agama daripada sekadar memperbanyak amal sunnah tanpa ilmu.

Mengapa demikian?

Karena ilmu yang benar akan melahirkan:

  • Pengagungan kepada Allah.
  • Rasa takut kepada-Nya.
  • Kecintaan kepada-Nya.
  • Semangat beribadah.
  • Ketekunan dalam ketaatan.

Sedangkan amal tanpa ilmu sering kali kehilangan arah dan tidak menghasilkan perubahan yang mendalam pada hati.

Karena itu, Al-Muhasibi menegaskan bahwa sedikit ma'rifat yang benar dapat menghasilkan pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan seorang mukmin.

Sedikit Ma'rifat Bisa Melahirkan Banyak Ketaatan

Menurut Imam Al-Muhasibi, satu pemahaman yang benar tentang Allah terkadang lebih berharga daripada banyak amal yang dilakukan tanpa penghayatan.

Ketika seseorang memahami kebesaran Allah:

  • Ia menjadi lebih takut berbuat dosa.
  • Ia lebih ikhlas dalam beramal.
  • Ia lebih sabar menghadapi ujian.
  • Ia lebih kuat dalam menjalankan perintah Allah.

Dengan kata lain, ma'rifat yang benar menjadi sumber dari berbagai amal saleh.

Karena itu para ulama salaf sangat menekankan pentingnya ilmu yang melahirkan rasa takut kepada Allah, bukan sekadar pengetahuan yang memenuhi pikiran.

Ciri Orang yang Akalnya Semakin Sempurna

Dari penjelasan Al-Muhasibi, terdapat beberapa tanda bahwa akal seseorang semakin matang dan sempurna:

1. Gemar merenungkan ciptaan Allah

Ia melihat alam sebagai bukti kebesaran Allah.

2. Mudah mengingat Allah

Setiap peristiwa mengingatkannya kepada Rabb-nya.

3. Tidak merasa cukup dengan ilmunya

Semakin belajar, semakin rendah hati.

4. Semangat menuntut ilmu agama

Ia menyadari bahwa ilmu adalah jalan menuju ma'rifatullah.

5. Ketaatannya semakin meningkat

Ilmu yang benar melahirkan amal yang benar.

Penutup

Menurut Imam Al-Muhasibi, salah satu tanda kesempurnaan akal adalah kemampuan membaca ayat-ayat Allah yang tersebar di seluruh alam semesta. Orang yang berakal tidak berhenti pada keindahan ciptaan, tetapi menjadikan seluruh ciptaan sebagai jembatan menuju pengenalan yang lebih dalam kepada Allah.

Semakin ia mengenal Rabb-nya, semakin besar rasa takut, cinta, dan pengagungannya kepada Allah. Karena itu, ia tidak pernah berhenti menuntut ilmu dan memperdalam ma'rifatullah, sebab ia menyadari bahwa mengenal Allah adalah perjalanan yang tidak memiliki batas akhir selama manusia masih hidup di dunia.

Referensi:

وعقل عَن الله تَعَالَى آيَاته فِي تَدْبيره وحكمته فِي آثَار صَنعته وَدَلَائِل حسن وَتَقْدِيره فَعلم أَنه بقدرة نَافِذَة قدرهَا وبحكمة كَامِلَة أتقنها وبعلم مُحِيط اخترعها وبسمع نَافِذ سمع حركاتها وببصر مدرك لَهَا دبر لطائف خلقهَا وغوامض كوامنها وَمَا وارته حجبها وسواترها
فاستدل بذلك أَنه الْإِلَه الْعَظِيم الَّذِي لَا إِلَه غَيره وَلَا رب سواهُ فَكَأَن جَمِيع الْأَشْيَاء عين يعْتَبر بهَا ويجل ويعظم لما يرى وَيسمع من مَوْلَاهُ وسيده فدام ذكره وزالت عَن الله عز وجل غفلته وعقل عَن الله تَعَالَى أَنه مَا يبلغهُ غَايَة الْعلم بِهِ وَلَا بلطائف

محابه والقرب إِلَيْهِ والفهم لما كَلمه بِهِ فَكَانَ مَعَ سَيّده اجْتِهَاده ودوام اشْتِغَاله بربه غير تَارِك وَلَا مُنْقَطع عَن طلب الازدياد من الْعلم بربه والتزيد فِي الْفِقْه عَنهُ أَعلَى فِي قلبه وَأعظم عِنْده قدرا من الازدياد من كثير أَعمال النَّوَافِل إِذْ عقل عَن ربه أَن أقل قَلِيل الْمعرفَة يُورث التَّعْظِيم والهيبة وَيبْعَث على الِاجْتِهَاد وَيُورث الطَّاعَات والشغل عَن جَمِيع الْعباد

Sumber;

الكتاب: ماهية العقل ومعناه واختلاف الناس فيه

المؤلف: الحارث بن أسد المحاسبي، أبو عبد الله (ت ٢٤٣هـ)

Baca juga:

Hakikat AkalMenurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 7): Buah Kesempurnaan Akal dalam KehidupanSeorang Mukmin

Hakikat AkalMenurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 8): Ketika Akal Memandang Surga dan MeremehkanDunia

Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 10): Akal yang Melahirkan Rahmat kepada Sesama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terjemah Imriti indonesia - Pego

Download Kitab PDF : Terjemah Imriti  indonesia - Pego Lengkap Gratis Beserta Preview Online Dan Link Melalui Google Drive Aqida...