Title: Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 3): Akal Sebagai Bashirah yang Mengantarkan kepada Ma'rifatullah
Pendahuluan
Apakah orang yang cerdas otomatis
disebut berakal?
Menurut Imam Al-Harits Al-Muhasibi,
jawabannya belum tentu.
Seseorang mungkin memiliki kemampuan
memahami yang luar biasa, hafal banyak ilmu, bahkan mampu menjelaskan berbagai
persoalan dengan rinci. Namun semua itu belum mencapai puncak makna akal yang
sesungguhnya.
Dalam kitab Mahiyyatul 'Aql wa
Ma'nāhu wa Ikhtilāfin Nās Fīhi, Al-Muhasibi menjelaskan makna ketiga dari
akal, yaitu bashirah (pandangan hati) dan ma'rifah (pengenalan mendalam)
yang membuat seseorang memahami nilai segala sesuatu dalam perspektif dunia dan
akhirat.
Inilah tingkatan akal yang
melahirkan ketakwaan.
Akal Adalah Kemampuan Menilai Nilai Hakiki Segala Sesuatu
Al-Muhasibi berkata:
"Makna ketiga adalah bashirah
dan pengetahuan tentang besarnya nilai berbagai perkara yang bermanfaat dan
yang berbahaya di dunia dan akhirat."
Menurut beliau, tidak semua manusia
mampu melihat hakikat sesuatu.
Sebagian orang hanya melihat
penampilan luar.
Mereka menganggap harta sebagai
keberhasilan, jabatan sebagai kemuliaan, dan kenikmatan dunia sebagai tujuan
hidup.
Sebaliknya, orang yang memiliki
bashirah mampu melihat hakikat di balik semua itu.
Ia memahami:
- mana yang bermanfaat bagi akhiratnya,
- mana yang membahayakan agamanya,
- mana yang mendekatkannya kepada Allah,
- dan mana yang menjauhkannya dari rahmat-Nya.
Inilah yang disebut Al-Muhasibi
sebagai akal dalam makna yang lebih tinggi.
Akal yang Mengantarkan kepada Pengenalan terhadap Allah
Menurut Al-Muhasibi, puncak fungsi
akal adalah:
"Memahami Allah."
Seseorang yang benar-benar berakal
akan semakin mengenal:
- keagungan Allah,
- luasnya rahmat Allah,
- besarnya nikmat Allah,
- dahsyatnya azab Allah,
- serta agungnya pahala yang dijanjikan-Nya.
Semakin dalam pengenalannya kepada
Allah, semakin besar pula pengaruhnya terhadap kehidupannya.
Karena itu akal bukan sekadar alat
berpikir, melainkan jalan menuju ma'rifatullah.
Mengenal Allah Melahirkan Pengagungan kepada-Nya
Al-Muhasibi menjelaskan sebuah
rantai spiritual yang sangat indah.
Ketika seseorang mengenal kebesaran
Allah, maka ia akan:
- Mengagungkan Allah.
- Memuliakan Allah.
- Merasakan kewibawaan dan keagungan-Nya.
- Malu untuk bermaksiat kepada-Nya.
- Bersegera dalam ketaatan.
- Menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
Semua ini berawal dari akal yang
benar.
Karena itu para ulama salaf sering
mengatakan bahwa akar ketakwaan adalah ma'rifatullah.
Semakin seseorang mengenal Allah,
semakin besar pula ketaatannya.
Akal yang Benar Melahirkan Semangat Menuntut Ilmu
Menurut Al-Muhasibi, orang yang
memahami nilai keselamatan akhirat akan terdorong untuk mencari ilmu.
Beliau menjelaskan bahwa ketika
seseorang memahami pentingnya keselamatan dari azab dan pentingnya meraih
pahala Allah, maka ia akan:
- serius menuntut ilmu,
- berusaha memahami agama,
- memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur'an,
- dan semakin bersemangat mengenal Allah.
Dengan kata lain, ilmu bukan tujuan
akhir.
Ilmu adalah sarana untuk mengenal
Allah dengan lebih baik.
Dari Ilmu Menuju Bashirah
Al-Muhasibi menggambarkan perjalanan
akal sebagai berikut:
Ilmu → Pemahaman → Bashirah →
Ma'rifah → Ketakwaan
Seseorang memulai dengan belajar.
Kemudian ia memahami.
Pemahaman tersebut melahirkan
bashirah atau pandangan hati.
Bashirah melahirkan ma'rifah kepada
Allah.
Ma'rifah melahirkan rasa takut,
harap, cinta, dan kerinduan kepada-Nya.
Inilah perjalanan akal yang sempurna
menurut Al-Muhasibi.
Seakan-Akan Melihat dengan Mata Kepala
Salah satu kalimat paling indah
dalam pembahasan ini adalah ketika Al-Muhasibi menjelaskan keadaan seorang
hamba yang telah mencapai tingkat bashirah.
Beliau menggambarkannya sebagai
orang yang:
"Seakan-akan menyaksikan semua
itu dengan mata kepalanya."
Maksudnya bukan melihat secara
fisik.
Namun keyakinannya terhadap janji
Allah begitu kuat sehingga seolah-olah ia melihat surga dan neraka di
hadapannya.
Ia yakin akan:
- pahala Allah,
- azab Allah,
- hari kebangkitan,
- hisab,
- dan kehidupan akhirat.
Keyakinan seperti ini menjadikan
ibadah terasa hidup dan bermakna.
Mengapa Ini Disebut Akal?
Al-Muhasibi memberikan jawaban yang
sangat menarik.
Beliau mengatakan bahwa keadaan ini
disebut akal karena:
- dengan akal seseorang mencari kebenaran,
- dengan akal seseorang memahami kebenaran,
- dengan akal seseorang berpegang teguh kepada kebenaran,
- dan dengan akal seseorang menjauhi segala sesuatu yang
merusak kebenaran tersebut.
Jadi akal bukan hanya alat memahami
informasi.
Akal adalah sarana yang mengubah
ilmu menjadi kesadaran hidup.
Makna "Telinga yang Mendengar dengan Baik"
Untuk menguatkan penjelasannya,
Al-Muhasibi mengutip firman Allah:
﴿وَتَعِيَهَا
أُذُنٌ وَاعِيَةٌ﴾
"Dan agar diperhatikan oleh
telinga yang mau memahami." (QS. Al-Haqqah: 12)
Beliau menjelaskan bahwa yang
dimaksud bukan sekadar mendengar suara.
Tetapi:
"Telinga yang memahami apa yang
didengarnya dari Allah."
Banyak orang mendengar ayat yang
sama.
Namun hanya sedikit yang benar-benar
menangkap pesan yang terkandung di dalamnya.
Mereka bukan sekadar mendengar
dengan telinga, tetapi juga dengan hati dan akalnya.
Ciri Orang yang Benar-Benar Berakal
Berdasarkan penjelasan Al-Muhasibi,
orang yang benar-benar berakal memiliki ciri-ciri berikut:
1.
Mengagungkan Allah
Ia selalu memandang Allah sebagai
Zat Yang Maha Agung.
2.
Takut dan berharap kepada Allah
Rasa takutnya tidak membuat putus
asa, dan harapannya tidak membuatnya lalai.
3.
Gemar menuntut ilmu
Ia memahami bahwa ilmu adalah jalan
menuju keselamatan.
4.
Cepat dalam ketaatan
Ia tidak suka menunda-nunda amal
saleh.
5.
Menjauhi maksiat
Karena sadar akan akibat buruknya di
dunia dan akhirat.
6.
Memiliki pandangan akhirat
Ia menilai segala sesuatu
berdasarkan manfaatnya bagi kehidupan abadi.
Kesimpulan
Menurut Imam Al-Muhasibi, tingkatan
tertinggi akal bukanlah kecerdasan intelektual, melainkan bashirah dan
ma'rifah kepada Allah. Akal yang sempurna membuat seseorang mampu melihat
hakikat segala sesuatu, memahami nilai dunia dan akhirat, serta menyadari
kebesaran Allah dan dahsyatnya hari pembalasan.
Dari akal seperti inilah lahir rasa
takut kepada Allah, semangat menuntut ilmu, ketekunan beribadah, dan kerinduan
kepada surga. Karena itu, ukuran orang berakal dalam Islam bukanlah banyaknya
informasi yang dimiliki, melainkan seberapa jauh ilmunya membawanya semakin
dekat kepada Allah.
Pesan Moral
Akal yang paling mulia bukan yang
mampu mengetahui banyak hal, tetapi yang mampu mengenal Allah dengan lebih
dalam. Sebab ketika seseorang benar-benar mengenal Tuhannya, seluruh hidupnya
akan berubah menjadi perjalanan menuju keridaan-Nya.
Referensi:
وَالْمعْنَى الثَّالِث هُوَ البصيرة والمعرفة بتعظيم
قدر الْأَشْيَاء النافعة والضارة ١٠٧ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَة وَمِنْه الْعقل
عَن الله تَعَالَى
فَمن ذَلِك أَن تعظم مَعْرفَته وبصيرته بعظيم قدر الله
تَعَالَى وبقدر نعمه وإحسانه وبعظيم قدر ثَوَابه وعقابه لينال بِهِ النجَاة من
الْعقَاب وَالظفر بالثواب
فَإِذا كَانَ لله مُعظما كَانَ لله مجلا هايبا
وَإِذا كَانَ لله مجلا هايبا كَانَ مِنْهُ مستحيا
وَإِلَى الله طَاعَته مسارعا ولمساخطه مجانبا
وَإِذا كَانَ مُعظما لما ينَال بِهِ النجَاة من
الْعقَاب وَالظفر بالثواب عني بِطَلَب الْعلم وَرغب فِي الْفَهم وَالْعقل عَن الله
عز وجل أَكثر همته
وَإِذا عني بِطَلَب الْعلم بذلك اسْتدلَّ بِهِ على عظم
قدر الْمولى وَقدر ثَوَابه وعقابه
وَإِذا اسْتدلَّ على ذَلِك أبْصر وَفهم حقائق مَعَاني
الْبَيَان
فَإِذا فهم عقل عَظِيم قدر الله تَعَالَى وَعرضه على
الله سُبْحَانَهُ وعقابه وثوابه
وَإِذا عظم قدر ذَلِك هاب الله وَفرق وَرَجا وَرغب
واشتاق فَكَأَنَّمَا يعاين ذَلِك كرأي الْعين فَكَانَ عَن الله تَعَالَى عَاقِلا
وَسمي ذَلِك مِنْهُ عقلا إِذْ كَانَ بِالْعقلِ طلب ذَلِك وبالعقل فهم ذَلِك
وبالعقل لزم ذَلِك وبالعقل جَانب مَا يُزِيلهُ عَن ذَلِك
فَهَذَا الَّذِي عقل عَن ربه
ألم تسمعه عز وجل يَقُول وَتَعيهَا ﴿أذن وَاعِيَة﴾
قَالَ أذن عقلت عَن الله تَعَالَى يَعْنِي عقل عَن
الله مَا سَمِعت أذنَاهُ مِمَّا قَالَ وَأخْبر
فَهَذَا هُوَ الْعقل
Sumber;
الكتاب: ماهية
العقل ومعناه واختلاف الناس فيه
المؤلف: الحارث
بن أسد المحاسبي، أبو عبد الله (ت ٢٤٣هـ)
Baca juga:
%20Akal%20Sebagai%20Bashirah%20yang%20Mengantarkan%20kepada%20Ma'rifatullah.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar