Title: Memahami Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 2): Akal Sebagai Kemampuan Memahami dan Menangkap Makna
Pendahuluan
Pada pembahasan sebelumnya, Imam
Al-Harits Al-Muhasibi menjelaskan bahwa hakikat akal adalah gharizah
atau fitrah yang Allah tanamkan dalam diri manusia. Akal bukanlah ilmu itu
sendiri, melainkan kemampuan dasar yang dengannya manusia dapat memperoleh ilmu
dan mengenali kebenaran.
Namun, Al-Muhasibi kemudian
menjelaskan bahwa terdapat dua makna lain yang sering disebut sebagai
"akal" dalam bahasa Arab, Al-Qur'an, hadis, dan pembicaraan para
ulama. Salah satu makna tersebut adalah al-fahm (pemahaman).
Menurut beliau, masyarakat Arab
sering menyebut kemampuan memahami dan menangkap makna sebagai akal, karena
kemampuan tersebut lahir dari akal yang telah Allah karuniakan kepada manusia.
Dengan demikian, pembahasan kali ini
membawa kita kepada pertanyaan penting:
Mengapa pemahaman disebut sebagai
akal?
Akal dan Pemahaman: Hubungan yang Tidak Terpisahkan
Imam Al-Muhasibi berkata:
"Salah satu dari dua makna
tersebut adalah pemahaman untuk menangkap makna yang dimaksud."
Yang dimaksud dengan pemahaman di
sini bukan sekadar mendengar kata-kata, melainkan kemampuan menangkap makna
yang terkandung di dalamnya.
Seseorang mungkin mendengar nasihat
yang sama dengan orang lain. Namun tidak semua orang memahami pesan yang
terkandung di balik nasihat tersebut.
Demikian pula ketika membaca
Al-Qur'an. Ada yang hanya membaca huruf-hurufnya, sementara ada yang mampu
menangkap petunjuk, hikmah, dan pelajaran yang terkandung di dalamnya.
Kemampuan memahami inilah yang oleh
masyarakat Arab sering disebut sebagai akal.
Memahami Tidak Hanya Melalui Pendengaran
Al-Muhasibi menjelaskan bahwa
pemahaman mencakup seluruh pengalaman manusia.
Beliau menyebutkan bahwa manusia memahami
sesuatu melalui:
- apa yang didengar,
- apa yang dilihat,
- apa yang disentuh,
- apa yang dirasakan,
- apa yang dicium,
- serta berbagai pengalaman hidup lainnya.
Akal berfungsi mengolah seluruh
informasi tersebut sehingga melahirkan pemahaman yang benar.
Karena itu seseorang bisa memiliki
pendengaran yang baik, tetapi tidak memahami.
Bisa pula memiliki penglihatan yang
sempurna, namun gagal menangkap pelajaran dari apa yang dilihatnya.
Akal yang sehat menjadikan
pengalaman sebagai sumber pelajaran, bukan sekadar peristiwa yang berlalu
begitu saja.
Perintah Allah kepada Nabi Musa: Dengarkan dan Pahami
Untuk menguatkan penjelasannya,
Al-Muhasibi mengutip tafsir firman Allah kepada Nabi Musa:
﴿فَاسْتَمِعْ
لِمَا يُوحَى﴾
"Maka dengarkanlah apa yang
akan diwahyukan." (QS. Thaha: 13)
Dalam sebagian tafsir disebutkan
bahwa makna ayat tersebut adalah:
"Pahamilah dan tangkaplah apa
yang Aku sampaikan kepadamu."
Ini menunjukkan bahwa mendengar saja
belum cukup. Yang dituntut adalah memahami pesan yang terkandung di dalam wahyu.
Karena itu dalam banyak ayat
Al-Qur'an, Allah tidak hanya memerintahkan manusia untuk mendengar, tetapi juga
untuk berpikir, merenung, dan menggunakan akalnya.
Orang Beriman dan Orang Sesat Sama-Sama Bisa Memahami
Salah satu poin menarik yang dijelaskan
Al-Muhasibi adalah bahwa kemampuan memahami tidak hanya dimiliki oleh
orang-orang beriman.
Beliau menjelaskan bahwa pemahaman
dalam makna ini dapat dimiliki oleh:
- orang beriman,
- orang kafir,
- ahli kitab,
- orang saleh,
- bahkan orang yang durhaka.
Seseorang bisa memahami kebenaran
tetapi tetap menolaknya.
Ia mengetahui sesuatu itu benar,
namun memilih mengikuti hawa nafsunya.
Inilah sebabnya mengapa pemahaman
semata tidak otomatis menghasilkan hidayah.
Pemahaman adalah pintu masuk menuju
kebenaran, sedangkan penerimaan terhadap kebenaran membutuhkan ketundukan hati.
Ahli Kitab yang Memahami tetapi Menolak
Imam Al-Muhasibi kemudian mengutip
beberapa ayat Al-Qur'an yang menunjukkan bahwa sebagian Ahli Kitab sebenarnya
memahami kebenaran Nabi Muhammad ﷺ.
Allah berfirman:
﴿يَسْمَعُونَ
كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ
يَعْلَمُونَ﴾
"Mereka mendengar firman Allah,
lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, padahal mereka
mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 75)
Ayat ini menunjukkan bahwa mereka
telah memahami kebenaran tersebut, namun tetap melakukan penyimpangan.
Allah juga berfirman:
﴿يَعْرِفُونَهُ
كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ﴾
"Mereka mengenalnya sebagaimana
mereka mengenal anak-anak mereka sendiri." (QS. Al-Baqarah: 146)
Mereka mengetahui ciri-ciri Nabi
terakhir dengan sangat jelas. Namun sebagian dari mereka tetap menolak karena
kesombongan, kepentingan dunia, atau fanatisme golongan.
Dari sini kita belajar bahwa masalah
terbesar manusia sering kali bukan kurangnya pemahaman, melainkan kurangnya
ketundukan terhadap kebenaran.
Mengapa Pemahaman Disebut Akal?
Al-Muhasibi menjelaskan alasan
bahasa Arab menyebut pemahaman sebagai akal.
Menurut beliau, sesuatu yang
dipahami seolah-olah telah "diikat" oleh akal sehingga tidak lepas
dari ingatan dan penguasaan seseorang.
Kata "akal" dalam bahasa
Arab memiliki makna dasar "mengikat" atau "menahan".
Karena itu orang Arab mengatakan:
- عقل البعير (mengikat unta),
- اعقل شاتك (ikat kambingmu),
- اعتقل لسانه (lisannya tertahan).
Semua ungkapan tersebut menunjukkan
makna pengendalian dan pengikatan.
Ketika seseorang memahami suatu
makna, seakan-akan ia telah mengikat makna tersebut di dalam pikirannya.
Karena itulah pemahaman dinamakan
akal.
Akal Mengikat Makna Sebagaimana Tali Mengikat Unta
Perumpamaan yang digunakan
Al-Muhasibi sangat indah.
Sebagaimana seekor unta tidak akan
lari jika kakinya diikat, demikian pula sebuah makna tidak akan hilang jika
telah diikat oleh akal.
Orang yang memahami suatu pelajaran
benar-benar akan mampu:
- mengingatnya,
- menjelaskan kembali,
- menerapkannya,
- dan mengambil manfaat darinya.
Sebaliknya, orang yang hanya
mendengar tanpa memahami ibarat seseorang yang membiarkan untanya tanpa ikatan.
Informasi masuk, tetapi segera menghilang.
Karena itu para ulama salaf sangat
menekankan pemahaman dibanding sekadar hafalan.
Pelajaran Penting dari Pembahasan Ini
Dari penjelasan Imam Al-Muhasibi,
terdapat beberapa pelajaran penting:
1.
Pemahaman adalah buah dari akal
Pemahaman bukan hakikat akal, tetapi
hasil yang lahir dari akal yang berfungsi dengan baik.
2.
Mengetahui belum tentu menerima
Banyak orang memahami kebenaran
tetapi tidak mengikutinya karena hawa nafsu, kesombongan, atau kepentingan
dunia.
3.
Akal berfungsi mengikat ilmu
Ilmu yang tidak dipahami mudah
hilang. Akal yang sehat menjadikan ilmu menetap dan berpengaruh dalam
kehidupan.
4.
Hidayah lebih dari sekadar pengetahuan
Seseorang bisa mengetahui yang
benar, tetapi belum tentu mendapat taufik untuk mengamalkannya.
Kesimpulan
Menurut Imam Al-Muhasibi, salah satu
makna akal yang dikenal dalam bahasa Arab adalah kemampuan memahami dan
menangkap makna. Pemahaman disebut akal karena ia merupakan buah dari akal
dan berfungsi mengikat pengetahuan dalam diri manusia.
Namun, pemahaman saja tidak cukup
untuk menyelamatkan seseorang. Banyak orang mengetahui kebenaran tetapi tetap
berpaling darinya. Karena itu, akal yang sempurna bukan hanya memahami
kebenaran, melainkan juga menerima, mengamalkan, dan tunduk kepadanya.
Semakin baik seseorang menggunakan
akalnya untuk memahami petunjuk Allah, semakin dekat pula ia kepada hidayah dan
kebijaksanaan yang sejati.
Pesan
Moral
Akal yang paling berharga bukanlah
yang mampu memenangkan perdebatan, melainkan yang mampu memahami kebenaran lalu
tunduk kepadanya. Banyak orang mengetahui jalan yang
benar, tetapi hanya sedikit yang bersedia menempuhnya.
Referensi:
وَأما الاثنتان اللَّتَان
جوزتهما اللُّغَة فِي الْكتاب وَالسّنة وتراجع أهل الْمعرفَة فِيمَا بَينهم
بِالتَّسْمِيَةِ
فجوزتهما اللُّغَة على حَقِيقَة
الْمَعْنى بِأَن سمتهما عقلا إِذْ كَانَا عَن الْعقل لَا عَن غَيره
فإحداهما الْفَهم لإصابة
الْمَعْنى وَهُوَ الْبَيَان لكل مَا سمع من الدُّنْيَا وَالدّين أَو مس أَو ذاق
أَو شم فَسَماهُ الْخلق عقلا وَسموا فَاعله عَاقِلا
وَقد رُوِيَ فِي التَّفْسِير لما
قَالَ الله تَعَالَى لمُوسَى عليه السلام ﴿فاستمع لما يُوحى﴾ قيل اعقل مَا أَقُول
لَك
وَهَذِه خصْلَة يشْتَرك فِيهَا
أهل غريزة الْعقل الَّتِي خلفهَا الله فيهم من أهل الْهدى وَأهل الضَّلَالَة من
بعض أهل الْكتاب لما تقدم عِنْدهم من أهل الدّين
ويجتمع عَلَيْهَا أهل كل إِيمَان
وضلال فِي أُمُور الدُّنْيَا خَاصَّة والمطيع والعاصي وَهُوَ فهم الْبَيَان
وَقَالَ الله عز وجل فِي مَا
يعيب بِهِ أهل الْكتاب فَقَالَ
﴿يسمعُونَ كَلَام الله ثمَّ
يحرفونه من بعد مَا عقلوه وهم يعلمُونَ﴾
وَقَالَ عز وجل ﴿يعرفونه كَمَا
يعْرفُونَ أَبْنَاءَهُم﴾
وَقَالَ ﴿؟﴾ يعلمُونَ أَنه الْحق
من رَبهم
وَقَالَ ﴿يعلمُونَ أَنه منزل من
رَبك بِالْحَقِّ﴾
فالفهم وَالْبَيَان يُسمى عقلا
لِأَنَّهُ عَن الْعقل كَانَ
فَيَقُول الرجل للرجل
أعقلت مَا رَأَيْت أَو سَمِعت
فَيَقُول نعم يَعْنِي أَنِّي قد
فهمت وتبينت
وَالْعرب إِنَّمَا سمت الْفَهم
عقلا لِأَن مَا فهمته فقد قيدته بعقلك وضبطته كَمَا الْبَعِير قد عقل أَي أَنَّك
قد قيدت سَاقه إِلَى فَخذيهِ
وَقَالُوا اعتقل لِسَان فلَان
أَي استمسك
وَيُقَال اعقل شَاتك إِذا حبستها
وَهُوَ أَن يضع رجله بَين نوفها وفخذها وَيُقَال اعتقل رجل فلَان إِذا صارعه
Sumber;
الكتاب: ماهية
العقل ومعناه واختلاف الناس فيه
المؤلف: الحارث
بن أسد المحاسبي، أبو عبد الله (ت ٢٤٣هـ)
Baca juga:
Hakikat AkalMenurut Imam Al-Muhasibi: Apakah Akal Itu Ilmu, Cahaya, atau Fitrah?
%20Akal%20Sebagai%20Kemampuan%20Memahami%20dan%20Menangkap%20Makna.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar