Cinta Membentuk Selera—Mengapa Kita Menganggap Indah Apa yang Mengingatkan pada Orang yang Dicintai?

Meta Description: Mengapa cinta membuat seseorang melihat segala sesuatu menjadi lebih indah? Simak penjelasan tentang bagaimana orang yang dicintai mampu memengaruhi selera, perasaan, dan cara pandang manusia.

Pendahuluan

Di antara pengamatan psikologis paling tajam dari Ibnu Hazm adalah bahwa cinta tidak hanya memilih seseorang; cinta juga membentuk standar keindahan kita. Setelah seseorang benar-benar mencintai, ia sering kali tidak lagi menilai rupa, suara, atau gerak-gerik secara netral. Ciri yang tadinya biasa saja berubah menjadi menawan karena melekat pada orang yang dicintai. Bahkan setelah hubungan berakhir, preferensi itu kerap tetap bertahan.

Inilah inti bab “Orang yang mencintai suatu sifat sehingga tidak lagi menyukai selainnya yang berbeda darinya”: cinta dapat mengubah peta selera estetika seseorang secara mendalam dan tahan lama.

Cinta sebagai Kekuasaan atas Jiwa

Ibnu Hazm membuka bab ini dengan gambaran yang sangat kuat: cinta memiliki hukum, kerajaan, dan kekuasaan atas jiwa. Ia mampu melunakkan yang keras dan menggoyahkan yang tampak tetap. Ini bukan hiperbola sastra semata. Dalam pengalaman manusia sehari-hari, kita memang sering melihat orang yang rasional, terdidik, dan tajam penilaiannya berubah total dalam urusan cinta.

Poin pentingnya: cinta tidak selalu menghapus kemampuan berpikir, tetapi ia mengubah pusat gravitasi penilaian. Seseorang masih tahu bahwa masyarakat umum menganggap ciri tertentu kurang ideal, namun hatinya tetap memilih ciri itu karena terhubung dengan kenangan, keakraban, dan pengalaman emosional yang kuat.

Dari Preferensi Menjadi “Tanda Pengenal Cinta”

Ibnu Hazm memberi contoh-contoh konkret:

  1. Seseorang mencintai perempuan dengan leher yang tidak jenjang, lalu tidak lagi mengagumi leher jenjang sebagaimana lazimnya orang lain.
  2. Seseorang jatuh cinta pada gadis bertubuh agak pendek, lalu perempuan tinggi kehilangan daya tarik baginya.
  3. Seseorang terpikat pada perempuan bermulut kecil, lalu bentuk mulut lain terasa kurang menarik.

Yang menarik, Ibnu Hazm menegaskan bahwa orang-orang ini bukan orang bodoh. Mereka termasuk kalangan yang cerdas, beradab, dan tajam pemahamannya. Jadi perubahan selera itu bukan akibat kurang pengetahuan, melainkan akibat ikatan emosional yang mengakar.

Dalam bahasa modern, kita bisa menyebutnya sebagai associative preference: otak mengaitkan ciri tertentu dengan pengalaman cinta yang sangat kuat, lalu memberi “nilai emosional” tinggi pada ciri tersebut.

Pengakuan Pribadi Ibnu Hazm: Rambut Pirang yang Tak Terlupakan

Bagian paling jujur dari bab ini adalah pengakuan Ibnu Hazm tentang dirinya sendiri. Ia menceritakan bahwa pada masa muda ia mencintai seorang budak perempuan berambut pirang. Sejak itu, ia tidak lagi menyukai rambut hitam, betapapun indahnya menurut ukuran umum.

“Aku merasakan kecenderungan itu melekat pada tabiatku sejak waktu tersebut; jiwaku tidak mau berpaling darinya.”

Ia bahkan menambahkan bahwa ayahnya mengalami kecenderungan serupa. Di sini Ibnu Hazm membuka kemungkinan bahwa sebagian preferensi memang bisa menjadi campuran antara pengalaman pribadi, kebiasaan, dan mungkin kecenderungan keluarga atau budaya.

Tradisi Keluarga dan Selera Dinasti

Ibnu Hazm lalu mengamati para khalifah keturunan Bani Umayyah, khususnya keturunan Abd al-Rahman III (al-Nasir). Menurut pengamatannya, mereka cenderung mengutamakan perempuan pirang dan banyak di antara mereka sendiri berambut pirang serta bermata terang karena garis keturunan ibu-ibu mereka.

Beliau menyebut beberapa nama khalifah yang pernah dilihat atau didengar keterangannya, seperti al-Hakam II (al-Mustansir), Hisham II al-Mu'ayyad, Muhammad al-Mahdi, dan Abd al-Rahman al-Murtada. Ia bahkan menghubungkan kecenderungan itu dengan puisi Abd al-Malik ibn Marwan ibn Abd al-Rahman ibn Marwan, yang banyak memuji perempuan berambut pirang.

Poin pentingnya bukan apakah pirang “lebih indah”, melainkan bahwa selera estetika sering dibentuk oleh sejarah keluarga, lingkungan, dan pengalaman cinta yang berulang.

Yang Paling Mengherankan Menurut Ibnu Hazm

Ibnu Hazm mengatakan bahwa yang paling membuatnya kagum bukanlah orang yang sejak awal memang menyukai ciri tertentu. Yang benar-benar mengherankan adalah:

Orang yang semula menilai dengan ukuran objektif, lalu setelah dikuasai cinta, berubah total sehingga sifat yang dulu ia anggap kurang baik menjadi favoritnya, dan selera lamanya lenyap—padahal ia masih sadar bahwa dulu ia mengakui keunggulan sifat lain.

Ini adalah deskripsi luar biasa tentang bagaimana emosi dapat menata ulang prioritas estetika tanpa sepenuhnya menghapus pengetahuan lama. Seseorang masih tahu bahwa masyarakat menganggap ciri A lebih ideal daripada ciri B, tetapi hatinya tetap memilih B karena B terhubung dengan cinta.

Apakah Ini Rasional?

Ibnu Hazm tidak menyebutnya irasional. Ia menyebutnya dominasi cinta atas jiwa. Dalam pengalaman manusia, banyak keputusan estetika memang tidak murni hasil logika. Musik yang mengingatkan kita pada seseorang terasa lebih indah. Tempat yang pernah menjadi lokasi pertemuan terasa lebih berharga. Aroma tertentu membangkitkan kerinduan. Begitu pula ciri fisik tertentu.

Jadi yang berubah bukan sekadar penilaian intelektual, melainkan jaringan makna emosional yang melekat pada objek tersebut.

Cinta, Memori, dan Kebiasaan

Bab ini juga memberi petunjuk penting tentang hubungan cinta dan memori. Ketika seseorang lama hidup bersama orang yang dicintai, otaknya membangun asosiasi berulang:

Pengalaman

Makna emosional

Wajah tertentu

Rasa aman, rindu, kebahagiaan

Warna rambut tertentu

Keintiman dan kenangan

Suara atau cara bicara tertentu

Kehadiran orang yang dicintai

Bentuk tubuh tertentu

Pengalaman bersama

Setelah asosiasi itu mengakar, preferensi dapat bertahan bahkan ketika hubungan telah berakhir. Inilah sebabnya sebagian orang bertahun-tahun kemudian masih tertarik pada tipe wajah, warna rambut, atau gaya bicara yang mengingatkan mereka pada cinta pertama.

Mengapa Ini Relevan Hari Ini?

Di era media sosial, banyak orang mengira selera dibentuk murni oleh standar publik: tren kecantikan, algoritma, influencer, atau budaya populer. Ibnu Hazm mengingatkan bahwa pengalaman pribadi sering jauh lebih kuat daripada standar umum.

Dua orang bisa hidup dalam budaya yang sama, melihat iklan yang sama, dan mengenal standar kecantikan yang sama, tetapi jatuh cinta pada tipe yang sangat berbeda karena sejarah emosional mereka berbeda.

Pelajaran ini penting agar kita tidak mudah meremehkan selera orang lain. Apa yang tampak “biasa” bagi kita mungkin memiliki makna emosional yang sangat dalam bagi orang lain.

Batas yang Perlu Dijaga

Meski demikian, ada bahaya jika preferensi emosional dijadikan ukuran mutlak untuk menilai seluruh manusia. Cinta dapat membentuk selera, tetapi ia tidak boleh membuat kita menolak kebaikan, akhlak, atau nilai yang lebih penting. Seseorang boleh menyukai tipe tertentu, namun tidak bijak jika menganggap semua selain tipe itu tidak layak dihargai.

Ibnu Hazm sendiri menulis bab ini sebagai pengamatan tentang kekuasaan cinta, bukan sebagai aturan bahwa setiap orang harus mempertahankan preferensi sempit sepanjang hidupnya.

Penutup

Bab ini menyimpan satu pelajaran besar: cinta tidak hanya memilih objek yang dicintai; ia membentuk cara kita melihat keindahan itu sendiri. Setelah hati benar-benar terpaut, ciri yang melekat pada orang yang dicintai dapat berubah menjadi standar kecantikan pribadi yang bertahan lama. Karena itu manusia sering kali tidak jatuh cinta pada “yang paling indah menurut semua orang”, melainkan pada “yang paling bermakna bagi hatinya”.

Dan di situlah kekuatan cinta yang paling halus: ia mengubah bukan hanya siapa yang kita cintai, tetapi juga apa yang kita anggap indah.

Pesan moral

Jangan menganggap selera manusia sepenuhnya ditentukan oleh standar umum. Cinta, kenangan, dan kebersamaan dapat membentuk preferensi yang sangat pribadi. Karena itu, hormatilah perbedaan selera, jangan mudah meremehkan pilihan orang lain, dan jangan pula menjadikan ketertarikan emosional sebagai satu-satunya ukuran nilai seseorang. Keindahan yang bertahan paling lama sering kali bukan yang paling dipuji banyak orang, melainkan yang paling dalam jejaknya di hati.

Kata bijak

“Cinta yang kuat bukan hanya memilih seseorang; ia mengajari hati melihat keindahan pada apa yang melekat padanya.”

Catatan penting tentang syair di akhir kutipan

Pada bagian penutup teks Arab, Ibnu Hazm membela rambut pirang sebagai preferensi pribadinya dan menulis bait yang merendahkan warna hitam/gelap serta mengaitkannya dengan citra neraka dan pakaian duka. Itu adalah ungkapan polemis dan subjektif dalam konteks syair cinta abad pertengahan, bukan penilaian faktual tentang manusia atau warna kulit. Saya tidak menerjemahkan bait-bait tersebut secara harfiah karena memuat generalisasi merendahkan yang tidak layak dijadikan nilai normatif modern. Inti argumen bab ini tetap sama tanpa bagian itu: cinta dapat membentuk preferensi estetika pribadi secara sangat kuat dan bertahan lama.

Referensi:

باب من أحب صفة لم يستحسن بعدها غيرها مما يخالفها

واعلم أعزك الله إن للحب حكمًا على النفوس، ماضيًا، وسلطانًا قاضيًا، وأمرًا لا يخالف، وحدًا لا يعصى، وملكًا لا يتعدى، وطاعة لا تصرف، ونفاذًا لا يرد، وأنه ينقض المرر، ويحل المبرم، ويحلل الجامد، ويخل الثابت، ويحل الشغاف، ويحل الممنوع.

ولقد شاهدت كثيرًا من الناس لا يهتمون في تمييزهم، ولا يخاف عليهم سقوط في معرفتهم، ولا اختلال بحسن اختيارهم، ولا تقصير في حدسهم، قد وصفوا أحبابًا لهم في بعض صفاتهم بما ليس بمستحسن عند الناس ولا يرضى في الجمال، فصارت هجيراهم، وعرضة لأهوائهم، ومنتهى استحسانهم، ثم مضى أولئك إما بسلو أو بين أو هجر أو بعض عوارض الحب، وما فارقهم استحسان تلك الصفات ولا بان عنهم تفضيلها على ما هو أفضل منها في الخليقة، ولا مالوا إلى سواها؛ بل صارت تلك الصفات المستجادة عند الناس مهجورة عندهم وساقطة لديهم إلى أن فارقوا الدنيا وانقضت اعمارهم، حنينًا منهم إلى من فقدوه، وألفه لمن صحبوه.

وما أقول إن ذلك كان تصنعًا لكن طبعًا حقيقيًا واختيارًا لا يدخل فيه، ولا يرون سواه، ولا يقولون في طي عقدهم بغيره.

وإني لأعرف من كان في جيد حبيبه بعض الوقص فما استحسن أغيد ولا غيداء بعد ذلك؛ وأعرف من كان أول علاقته بجارية مائلة إلى القصر فما أحب طويلة بعد هذا؛ وأعرف أيضًا من هوي جارية في فمها فوه لطيف فلقد كان يتقذر كل فم صغير ويذمه ويكرهه الكراهية الصحيحة.

وما أصف عن منقوصي الحظوظ في العلم والأدب لكن عن أوفر الناس قسطًا في الادراك، وأحقهم باسم الفهم والدراية.

وعني أخبرك أني أحببت في صباي جارية لي شقراء الشعر فما استحسن من ذلك الوقت سوداء الشعر، ولو أنه على الشمس أو على صورة الحسن نفسه، وإني لأجد هذا في أصل تركيبي من ذلك الوقت، لا تواتيني نفسي على سواه ولا تحب غيره البتة، وهذا العارض بعينه عرض لأبي رضي الله عنه وعلى ذلك جرى إلى أن وافاه أجله.

وأما جماعة خلفاء بني مروان - رحمهم الله - ولا سيما ولد الناصر منهم، فكلهم مجبولون على تفضيل الشقرة، لا يختلف في ذلك منهم مختلف، وقد رأيناهم ورأينا من رآهم من لدن دولة الناصر إلى الآن فما منهم إلا أشقر، نزاعًا إلى أمهاتهم، حتى قد صار ذلك فيهم خلقة، حاشا سليمان الظافر رحمه الله، فإني رأيته أسود اللمة واللحية.

وأما الناصر والحكم المستنصر رضي الله عنهما فحدثني الوزير أبي رحمه الله وغيره انهما كانا أشقرين أشهلين، وكذلك هشام المؤيد ومحمد المهدي وعبد الرحمن المرتضى رحمهم الله، فإني قد رأيتهم مرارًا ودخلت عليهم فرأيتهم شقرًا شهلًا، وهكذا أولادهم وإخوتهم وجميع أقاربهم، فلا أدري أذلك استحسان مركب في جميعهم أم لرواية كانت عند أسلافهم في ذلك فجروا عليها.

وهذا ظاهر في شعر عبد الملك بن مروان بن عبد الرحمن بن مروان بن أمير المؤمنين الناصر وهو المعروف بالطليق، وكان أشعر أهل الأندلس في زمانهم وأكثر تغزله بالشقر، وقد رأيته وجالسته.

وليس من العجب فيمن أحب قبيحًا ثم لم يصحبه ذلك في سواه فقد وقع من ذلك، ولا في من طبع مذ كان على تفضيل الأدنى، ولكن في من كان ينظر بعين الحقيقة ثم غلب عليه هوى عارض بعد طول بقائه في الجمام فأحاله عما عهدته نفسه حوالة صارت له طبعًا، وذهب طبعه الأول وهو يعرف فضل ما كان عليه أولًا، فإذا رجع إلى نفسه وجدها تأبى إلا الأدنى، فأعجب لهذا التغلب الشديد والتسلط العظيم.

وهو أصدق في المحبة حقًا ممن يتحلى بشيم قوم ليس منهم، ويدعي غريزة لا تقبله، فيزعم أنه يتخير من يحب.

أما لو شغل المحب بصيرته، وأطاح فكرته، وأجحف بتمييزه، لحال بينه وبين التخير والارتياد.

وفي ذلك أقول شعرًا منه: [من البسيط] منهم فتى كان في محبوبه وقص ... كأنما الغيد في عينيه جنان وكان منبسطًا في فضل خبرته ... بحجة حقها في القول تبيان إن المها وبها الأمثال سائرة ... لا ينكر الحسن فيها الدهر إنسان وقص فليس بها عنقاء واحدة ... وهل تزان بطول الجيد بعران وآخر كان في محبوبه فوه ... يقول حسبي في الأفواه غزلان وثالث كان في محبوبه قصر ... يقول إن ذوات الطول غيلان وأقول أيضًا: [من الطويل] يعيبونها عندي بشقرة شعرها ... فقلت لهم هذا الذي زانها عندي يعيبون لون النور والتبر ضلة ... لرأي جهول في الغواية ممتد وهل عاب لون النرجس الغض عائب ... ولون النجوم الزاهرات على البعد وأبعد خلق الله من كل حكمة ... مفضل جرم فاحم اللون مسود

به وصفت ألوان أهل جهنم ... ولبسة باك مثكل الأهل محتد ومذ لاحت الرابات سودًا تيقنت ... نفوس الورى أن لا سبيل إلى الرشد

Sumber:

الكتاب: طوق الحمامة في الألفة والألاف

المؤلف: أبو محمد علي بن أحمد بن سعيد بن حزم الأندلسي القرطبي الظاهري (ت ٤٥٦هـ)

Baca juga:

Cinta yang Tumbuh Perlahan: Mengapa Perasaan yang Datang Lambat Justru Lebih Bertahan?

Bahasa Rahasia Para Pecinta: Ketika Hati Berbicara Melalui Sindiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

شرح التحرير على تحفة الطلاب - 3

Aqidah Tafsir Matan Hadits Syarh Hadits Ushul Fiqih Fiqih Hanafi Fiqih Maliki Fiqih Syafi'i Fiqih H...