Pendahuluan
Jabatan dalam pandangan Islam bukan
sekadar kehormatan, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan
Allah. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula hisab yang
menantinya. Dalam At-Tabr al-Masbūk fī Naṣīḥat al-Mulūk, Abu Hamid
Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Tusi menyampaikan sebuah kisah yang
dinisbatkan kepada Umar ibn al-Khattab. Kisah ini menjadi pelajaran mendalam
tentang beratnya tanggung jawab seorang pemimpin, pejabat, aparat, maupun
setiap orang yang memegang amanah di tengah masyarakat.
Sumber Nasihat :
Kitab: At-Tabr al-Masbūk fī Naṣīḥat al-Mulūk
Bab: وأصول العدل والإنصاف عشرة – الأصل الأول (Sepuluh Dasar Keadilan – Dasar Pertama)
Penulis :
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
Al-Ghazali Ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M) adalah
ulama besar bergelar Hujjatul Islam. Dalam kitab At-Tabr al-Masbūk fī
Naṣīḥat al-Mulūk, beliau menghimpun berbagai ayat, hadis, dan kisah hikmah
sebagai nasihat bagi para pemimpin agar menjalankan amanah dengan penuh
keadilan dan ketakwaan.
Tema :
Beratnya Pertanggungjawaban Jabatan
dan Amanah Kepemimpinan di Hadapan Allah
Terjemahan Lengkap
Diriwayatkan bahwa pada suatu hari
Umar ibn al-Khattab mengikuti sebuah prosesi pemakaman.
Kemudian seorang laki-laki maju
untuk menyalatkan jenazah tersebut.
Setelah jenazah selesai dimakamkan,
orang itu meletakkan tangannya di atas kubur lalu berdoa:
"Ya Allah, jika Engkau
mengazabnya, maka itu adalah hak-Mu karena ia telah bermaksiat kepada-Mu. Namun
jika Engkau mengampuninya, maka sesungguhnya ia sangat membutuhkan
rahmat-Mu."
Kemudian ia berkata:
"Berbahagialah engkau, wahai
orang yang telah meninggal, apabila engkau bukan seorang pemimpin, bukan kepala
suatu kaum, bukan seorang pencatat atau sekretaris, bukan aparat atau pembantu
penguasa, dan bukan pula pemungut pajak."
Setelah mengucapkan kata-kata itu,
orang tersebut tiba-tiba menghilang dari pandangan manusia.
Maka Umar ibn al-Khattab
memerintahkan agar orang itu dicari, namun tidak ditemukan.
Lalu Umar berkata:
"Orang itu adalah Khidir
'alaihissalam."
Artikel Pengembangan
Kisah ini disampaikan Imam
Al-Ghazali sebagai pelengkap pembahasan tentang beratnya amanah kepemimpinan.
Beliau ingin menanamkan rasa takut kepada Allah bagi siapa saja yang memegang
jabatan, baik besar maupun kecil.
Doa yang diucapkan di atas kubur
mengandung pelajaran tentang keseimbangan antara keadilan dan rahmat Allah.
Seorang hamba layak mendapatkan hukuman atas dosanya, tetapi ia juga sangat
membutuhkan ampunan dan kasih sayang Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat
selamat hanya dengan mengandalkan amalnya sendiri.
Bagian yang paling menarik adalah
ucapan, "Berbahagialah jika engkau bukan seorang pemimpin, kepala,
aparat, ataupun pemungut pajak." Maksudnya bukan mencela profesi atau
jabatan tersebut, melainkan mengingatkan bahwa setiap jabatan membawa tanggung
jawab yang sangat besar. Semakin luas kewenangan seseorang, semakin berat pula
hisab yang akan dihadapinya.
Dalam konteks sejarah, jabatan
seperti kepala wilayah, aparat pemerintahan, juru tulis administrasi, maupun
pemungut pajak memiliki wewenang yang sangat besar terhadap masyarakat. Apabila
wewenang itu digunakan secara zalim, pelakunya akan memikul dosa yang berat.
Sebaliknya, apabila amanah dijalankan dengan adil, jabatan tersebut menjadi
jalan memperoleh pahala yang besar.
Penyebutan Khidr di akhir kisah merupakan
bagian dari riwayat yang dinukil Imam Al-Ghazali. Sebagian ulama menerima
kemungkinan perjumpaan dengan Khidir, sementara sebagian lainnya memiliki
pandangan yang berbeda mengenai status dan keberadaan beliau setelah masa para
nabi. Terlepas dari perbedaan tersebut, inti pesan kisah ini tetap terletak
pada nasihat moralnya, yaitu agar manusia tidak meremehkan amanah jabatan.
Pesan Imam Al-Ghazali sangat relevan
pada masa kini. Jabatan sebagai pejabat negara, hakim, kepala sekolah, pimpinan
perusahaan, aparat penegak hukum, bendahara, maupun pengelola dana publik bukan
sekadar posisi administratif, tetapi amanah yang akan dimintai
pertanggungjawaban oleh Allah. Semakin besar pengaruh seseorang terhadap
kehidupan orang lain, semakin besar pula kewajibannya untuk berlaku adil,
jujur, dan amanah.
Hikmah
- Jabatan merupakan amanah yang akan
dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
- Setiap bentuk kekuasaan membawa risiko hisab yang lebih
berat dibandingkan orang yang tidak memegang amanah.
- Rahmat Allah selalu menjadi harapan bagi setiap hamba
yang berdosa.
- Keadilan harus menjadi landasan dalam menjalankan
setiap jabatan.
- Kekuasaan yang disalahgunakan akan menjadi sebab
penyesalan pada Hari Kiamat.
- Semakin besar kewenangan seseorang, semakin besar pula
tanggung jawab moral dan spiritualnya.
- Kisah-kisah hikmah dalam kitab para ulama bertujuan
menumbuhkan rasa takut kepada Allah dan kesadaran akan pentingnya amanah.
- Jabatan seharusnya dipandang sebagai sarana beribadah
dan melayani masyarakat, bukan sebagai alat mencari kemuliaan dunia.
Penutup
Melalui kisah yang dinukil dari Umar
bin Khattab, Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa amanah kepemimpinan adalah
salah satu ujian terbesar dalam kehidupan manusia. Setiap jabatan, sekecil apa
pun, akan dipertanyakan oleh Allah pada Hari Kiamat. Karena itu, seorang muslim
hendaknya tidak mengejar kekuasaan demi kehormatan atau keuntungan pribadi,
tetapi memandangnya sebagai tanggung jawab yang harus dijalankan dengan penuh
kejujuran, keadilan, dan ketakwaan. Dengan kesadaran tersebut, jabatan akan
menjadi jalan menuju keridaan Allah, bukan sebab datangnya penyesalan di
akhirat.
Teks Arab :
ويروى أن عمر بن الخطاب رضي الله
عنه تبع يومًا جنازة فتقدم رجل فصلى عن الجنازة فلما دفن الميت وضع ذلك الرجل يده
على القبر وقال: اللهم إن عذبته فبحقك لأنه عصاك وأن رحمته فإنه فقير إلى رحمتك،
وطوبي لك أيها الميت إن لم تكن أميرًا أو عريفًا أو كابتًا أوعوانيًا أو جابيًا.
فلما تكلم بهذه الكلمات غاب شخصه عن عيون الناس فأمر عمر بطلبه فلم يوجد، فقال
عمر: هذا الخضر عليه السلام.
Baca juga:
Ancaman bagi Pemimpin Dzalim Menurut Imam Al-Ghazali: Hadis tentang Keadilan dan Amanah Kepemimpinan
Ancaman Berat bagi Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali:
Hadis tentang Amanah Jabatan dan Hisab di Hari Kiamat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar